Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC PART 18 - BERTEMU MANTAN


__ADS_3

Tak tahan lagi, Lily memilih pergi tanpa berpamitan pada orang tua Ryan. Sudah cukup, meski tante Ratih tak mengatakan langsung padanya, tapi sangat jelas jika wanita paruh baya itu tidak menyukai dirinya.


Melihat kepergian sang kekasih, Ryan menatap tajam kearah sang ibu. "Bagaimanapun masa lalu Lily, aku tetap ingin dia yang menjadi istriku mami bukan Sofia. Ryan sangat kecewa sama mami, lagi lagi mami selalu ikut campur. " tegas Ryan berlalu pergi menyusul sang kekasih. Mami Ratih menatap nanar kepergian puteranya, apa yang dia lakukan hanya untuk masa depan Ryan semata.


Sampai di mansion, tanpa berkata apapun dia langsung bergegas masuk ke kamarnya. Lagi lagi helaan nafas berat, terdengar dari bibir Ryan, pria itu melangkah gontai menuju kekamarnya.


Hari berikutnya, pagi yang begitu cerah namun berbeda dengan suasana hati Lily. Wanita itu termenung di taman, kejadian semalam seakan terus berputar dalam kepalanya. Ya Lily tidak menyalahkan sikap mami Ratih, orang tua mana yang rela membiarkan anaknya, berhubungan dengan wanita yang tak memiliki hal berharga seperti dirinya.


"Sayang. " Ryan ke luar, menghampiri kekasihnya yang tengah melamun. Seperti biasa pria itu mencium puncak kepala Lily dengan lembut, Lily hanya diam tak meresponnya.


"Maafkan sikap mami semalam, aku tahu kamu enggak nyaman 'kan? " cecar Ryan menatap lekat wanitanya.


"Mas, apa sebaiknya kita akhiri hubungan kita saja. " ucap Lily tiba tiba.


"Tidak Lily, kita harus berjuang bersama, meyakinkan mami kalau kamu wanaita yang tepat untukku atau kita menikah saja besok lusa. " bujuk Ryan dengan nada lembutnya.


"Tapi mas Ryan.. " Ucapan Lily terhenti, Ryan menempelkan jarinya di depan bibir Lily agar berhenti bicara.


"Lusa kita menikah, itu keputusanku. " putus Ryan tak terbantah, Lily hanya bisa menuruti keputusan calon suaminya tersebut. Lagi lagi wanita itu menghela nafas kasar, bagaimana mungkin dirinya menikah dengan Ryan, tanpa restu orang tua sang kekasih.


"Jika kamu melakukan itu, aku yakin tante Ratih akan semakin tidak menyukaiku mas, pikirkan lagi keputusan ini. " sahut Lily dengan nada seriusnya.


"Aku tetap akan menikahimu besok lusa Ly, itu keputusan akhirku! " Ryan bangkit, pria itu kembali ke dalam mansion. Lily menghela nafas berat, menatap kepergian sang kekasih dengan sorot sendunya.


Di sisi Lain Meira tengah mengobrol bersama suaminya di ruang tengah, ponsel wanita itu berdering. " Siapa yang telepon Amor? "


"Lily Bee. " jawab Meira singkat.


Percakapan via telepon


"Halo Li, ada apa? "

__ADS_1


"Aku mau ngobrol sama kakak, aku otw nih ke rumah kamu kak Meira. " balas Lily.


"Kita ke temuan di mall aja ya soalnya kakak mau cari perlengkapan baby. " Sambungan terputus, Meira menaruh ponselnya di atas meja, lalu kembali fokus pada suaminya. Aiden lagi lagi mengusap perut sang istri, sesekali memainkan rambut Meira.


"Bee, cari perlengkapan baby yuk, aku mengajak ketemuan Lily di mall. " ujar Meira pada sang suami.


"Iya ayo kita berangkat, kasihan Lily nanti kalau kelamaan menunggu. " sahut Aiden. Aiden menuntun istrinya dengan hati hati, membanfu Meira masuk ke dalam mobil setelah itu tancap gas.


##


"Hai Lily. " Meira memeluk Lily sekilas, keduanya saling bertukar kabar kemudian kasuk ke dalam pusat perbelanjaan. Aiden mengikuti keduanya dari belakang, pria itu mendengus sebal, melihat istrinya yang kini mengabaikan dirinya.


"Baiklah kita belanja dulu setelah itu kita ngobrol okey. " ujar Meira yang diangguki oleh Lily. Mereka berdua pergi ke toko perlengkapan bayi, di sana Meira begitu antusias dalam memilih barang.


Setelah dua jam mereka ke luar dari mall, pergi ke sebuah Restauran yang letaknya dekat dengan mall. Meira menatap heran sekaligus bingung, melihat wajah sedih Lily. "Kalau ada masalah, cerita saja Ly jangan pendam sendiri!


"Begini kak kemarin mas Ryan ngajak aku ke aniv orang tuanya. " Lily mengatakan semua kejadian kemarin pada Meira dan juga Ryan. Meira tentu saja ikut sedih sekaligus merasa iba pada Lily.


"Aku harus apa kak, Mas Ryan memutuskan akan menikahiku meski tanpa restu orang tuanya. " gumam Lily dengan lirih. Meira melirik suaminya sekilas, lalu kembali menatap kearah Lily.


Lilypun terdiam, wajahnya nampak menunjukkan kesedihan yang dalam, Meira memahami perasaan Lily saat ini. "Ya sudah aku pergi ke toilet dulu ya kak. " pamit Lily. Wanita itu pergi meninggalkan Meira dan Aiden, Lily segera cuci muka. Tanpa sengaja dia menubruk seseorang, Lily menoleh dan terkejut. Dia tak menyangka akan bertemu dengan orang yang telah di lupakannya.


"Darren. " gumam Lily pelan.


"Hai Ly apa kabar. " sapa Darren dengan senyum canggungnya. Lilypun diam tak membalas sapaannnya, raut wajahnya berubah menjadi penuh kebencian kearah Darren. Lily berjalan melewatinya begitu saja, Darren segera mengejar mantan kekasihnya itu.


"Lily. " Ryan datang, berniat menjemput calon istrinya namun apa yang dia dapat. Dia melihat calon istrinya datang bersamaan dengan Darren, rivalnya hal itu membuatnya cemburu. Lily bergegas menghampiri Ryan, gadis itu langsung memeluk sang kekasih.


"Jangan salah paham mas, aku tidak sengaja bertemu dia tadi. " ungkap Lily menatap lekat wajah Ryan. Ryan menghela nafas panjang, pria itu mencium singkat bibir Lily, kemudian melirik sinis kearah Darren.


"Untuk apa kau mengikuti calon istriku? " geram Ryan.

__ADS_1


"Lily, maafkan perbuatanku yang memyakitimu Ly. " ucap Darren mengabaikan pertanyaan Ryan padanya. Lily berusaha menenangkan kekasihnya itu agar tak terpancing emosinya.


"Kak Meira, kak Aiden kami pergi dulu ya. " Lily menarik tangan Ryan, mengajak kekasihnya pergi. Darren menatap kepergian Lily dengan tatapan nanarnya.


"Darren, Darren apa kau belum puas menghancurkan hidup Lily. " pekik Meira kesal pada temannya itu. Darren terdiam, terlihat jelas jika dia tengah menyesali perbuatannya.


"Sebaiknya pergilah jauh, biarkan Lily bahagia bersama Ryan, karena Ryanlah yang selama ini membantunya untuk bangkit. " timpal Aiden yang sejak tadi hanya diam.


"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa!


"Kau. " geram Meira yang hendak menampar Darren namun di tahan Aiden suaminya. Wanita hamil itu menghela nafas kasar, tangannya terangkat dan mengusap perut buncitnya.


"Ssh. " ringis Meira.


"Sayang kamu kenapa hemm? " Aiden langsung panik, melihat istrinya meringis kesakitan. Meira menggeleng, wanita itu mengatur nafasnya setelah itu menatap sang suami.


"Aku enggak papa bee, mungkin aku terlalu marah marah, makanya berpengaruh pada perutku. "


"Sebaiknya kita pulang, mungkin kamu kelelahan dan juga stress, aku sudah bilang jangan marah marah dan juga memikirkan hal hal yang tak penting sayang. " ujar Aiden dengan nada dinginnya. Meira mengangguk pasrah, Aiden mengajaknya pergi meninggalkan restauran.


Selama perjalanan keduanya tak ada yang berbicara, Meira melirik suaminya yang fokus menyetir. Dia tidak berani, mengajak suaminya berbicara, mengingat Aiden marah padanya. Hingga sampai di rumah, keduanya masih tak berbicara. Meski marah, Aiden tetap membantu istrinya, menuntunnya menuju ke kamar.


"Bee maafkan aku. " Meira memeluk punggung suaminya, tak terlalu erat karena kehalang perut besarnya. Aiden mengusap wajahnya kasar, berbalik dan merengkuh posesif istrinya.


"Kamu dan calon anak kita adalah nyawaku sayang, aku enggak mau kalian kenapa


kenapa. " pungkas Aiden dengan nada lembutnya. Mata Meira berkaca kaca, Aiden memciumi kening dan bibir wanitanya, pria itu sangat mencintai Meira segenap jiwa dan raganya.


"Baiklah kita mandi bersama Amor. " Aiden membopong Meira, membawanya masuk ke kamar mandi. Keduanya berendam dalam aroma mawar yang telah di campur ke dalam bathtub. Meira bersandar di dada suaminya, membiarkan tangan Aiden mengusap perut besarnya.


"Bee, makasih ya kamu selalu sabar menghadapi aku yang keras kepala. " gumam Meira sambil mengeliat, merasakan geli kala Aiden mengecupi leher jenjangnya.

__ADS_1


"Hm. " Setelah puas berendam, lagi lagi Aiden membopongnya setelah membalut tubuh mereka dengan handuk. Dan sore itu diakhiri pergulatan panas di atas ranjang.


tbc


__ADS_2