
Pagi pagi buta Axel datang ke rumah Freya, penampilan pria itu terlihat santai dengan pakaian kasualnya, kaos putih panjang dan celana panjang.
tok
tok
tok
Cklek pintu di buka dari luar oleh Freya, Freya memasang wajah datarnya kearah Axel. "Untuk apa kamu datang ke mari? "
"Maafkan aku Fre!
"Lebih baik kamu pergi dan aku enggak butuh maaf kamu, jangan pernah muncul lagi di hadapanku. " Freya melirik jam tangannya, dia langsung ke luar setelah mengunci pintu dan berjalan melewati Axel begitu saja. Axel berdecak kesal dan bergegas menyusul Freya yang pergi duluan.
Freya masuk ke dalam bus, mengabaikan teriakan Axel yang memanggil namanya. Dia menyerah, dia tak akan lagi mengejar Axel dan tak mau merasakan sakit hati lagi. Di sisi Axel, pria itu hanya bisa mengumpat kesal karena gagal mendapatkan maaf dari Freya.
"Huft sudahlah, gadis polos itu besok juga enggak akan marah lagi. " Axel melajukan mobilnya kencang menuju ke tempat kekasihnya.
Berbeda dengan Aaron yang terus uring uringan, melihat penampilan kekasihnya yang sangat seksi. Pria itu mengurungkan niatnya untuk ke kantor, Aaron dan Zinnia berdebat, keduanya keras kepala dan tak ada yang mau mengalah. "Hanya aku sayang, yang berhak melihat lekuk tubuhmu dan kamu enggak boleh berpakaian seksi. " geram Aaron.
"Haish dasar mesum, lagian pakaian yang aku pakai ini tidak terlalu seksi. " sahut Zinnia.
"Tidak seksi apanya, ini menyembul. " dengusnya sambil menyentuh buah persik kekasihnya, rona merah menyembul di kedua pipi Zinnia. Setelah itu tangan Aaron turun ke bawah dan menyentuh paha Zinnia kemudian mengumpat kecil. Zinnia menghela nafas panjang, merapatkan tubuhnya ke tubuh Aaron. gadis itu mencium bibir sang kekasih, lalu melumaatnya pelan setelah itu mengerling nakal kearahnya. "Kamu pede banget ya Ar, aku 'kan belum nikah sama kamu wlek. " ledeknya dengan jahil.
"Ya sudah besok kita nikah terus uwu uwu, aku ingin Aaron junior cepat jadi. " celetuknya. Zinnia memukul dada Aaron dengan kesal, dia merasa malu dengan ucapan frontal sang kekasih. Aaron terkekeh, kedua tangannya merangkul pinggul gadisnya dengan posesif.
"Sejak kapan kulkas berjalan kayak kamu, jadi mesum kayak gini. " sindir Zinnia.
"Sejak sayang sama kamu. " Aaron langsung memagut bibir gadisnya dan Zinnia kini membalasnya dengan tak kalah panasnya. Setelah selesai berciuman, Zinnia menatap dalam kearah Aaron begitu juga sebaliknya. Gadis itu memeluk tubuh kekar sang kekasih, Aaron membalasnya kemudian melepasnya.
__ADS_1
"Sudah ah sebaiknya berangkat ke kantor sekarang juga. " Aaron meraih pinggangnya, keduanya bergegas ke luar dari mansion. Selama perjalanan, keduanya terlibat obrolan kecil dan sesekali Zinnia menjahili kekasihnya.
Zinnia sangat bersyukur bisa mengenal pria sebaik Aaron, tapi terkadang dirinya merasa tidak percaya diri berada di sisinya. Meski begitu dia sangat nyaman berada di dekat Aaron, sepertinya memang benar jika dirinya telah jatuh hati pada kekasihnya ini. Aaron sesekali meliriknya kemudian tersenyum simpul, kembali menatap lurus ke depan.
Sampai di area kantor, keduanya turun dari mobil dan bersama sama sama ke dalam. Aaron segera mengumpulkan karyawannya, lalu mengenalkan sosok Zinnia pada mereka semua. "Mulai sekarang Zinnia akan menjadi sekertarisku di kantor, selain itu dia juga merupakan calon istriku. "
Para karyawan langsung gempar, para wanita langsung bergosip ria mengenai ceo mereka dengan Zinnia. Setelah selesai para karyawan langsung bubar, Aaron mengajak gadisnya itu menuju ke ruangan barunya. "Sekarang ini ruangan kamu sweety, bagaimana menurut kamu? "
"Lumayan Ar, tapi aku tidak memiliki skil pengalaman sebagai sekertaris sayang. " rengeknya dengan manja. Aaron mengulum senyumnya, memeluk pinggang sang kekasih.
"Aku akan mengajarimu, asalkan kamu menciumku di sini. " Aaron tersenyum miring sambil menyentuh bibirnya, Zinnia berdecak sebal karena kekasihnya ini mencari kesempatan dalam kesempitan. Zinnia mengalungkan tangannya, segera saja mengecup mesra bibir seksi milik prianya ini. Tak menyiakan kesempatan, Aaron langsung memperdalam ciuman mereka.
Hah hah hah Ciuman mereka terlepas, Zinnia segera menghirup udara sebanyaknya setelah itu menenangkan dirinya. Aaron dan Zinnia langsung duduk di kursi, pria itu dengan sabar memberitahukan apa saja tugas dari sekertaris pada sang kekasih.
Di sisi lain Freya sibuk bekerja di sebuah Cafe, di sana dia menjadi pelayan, ternyata Cafe cukup ramai dengan pengunjung yang berdatangan. Meskipun lelah gadis itu tetap bersemangat mengantar makanan dan minuman ke para pelanggan. Setelah selesai dia kembali ke belakang, Tanisha sang pemilik Cafe menghampiri gadis itu. "Freya, kamu antar pesanan ini ke meja nomor 10 ya. "
"Freya, apa kamu benar Freya!
Freya menoleh, menaikkan sebelah alisnya menatap bingung kearah pria yang tersenyum hangat kearahnya. "Aku Kevin Salvatore Haidar, kamu lupa sama aku Fre!
"Kevin Salvatore Haidar, pria culun yang selalu menyendiri saat di sekolah dulu bukan. " cicitnya pelan. Kevin mengangguk lalu tersenyum manis kearah Freya. Freya menatap penampilan Kevin yang sangat berbeda sekarang, dia sangat tampan dengan rambut pendeknya dan setelan jasnya.
"Permisi tuan Kevin, siapa gadis di dekat Anda ini. " tanya salah satu kolega Kevin.
"Dia sahabat saya di sekolah tuan Emran, gadis polos dengan kebaikannya yang selalu membantu saya dulu. " Freya merasa sangat canggung dengan pujian Kevin padanya apalagi di depan klien Kevin.
"Sepertinya nona cantik ini pantas bersanding dengan anda tuan Kevin. " Kevin tersenyum tipis, matanya melirik kearah Freya yang sangat gugup dibuatnya.
"Maaf tuan tuan saya permisi dulu. " Freya membungkuk sebentar setelah itu pergi dari sana, Kevin tersenyum memperhatikan kepergian Freya.
__ADS_1
Setelah itu Kevin kembali mengobrol bersama tuan Emran dan tuan Rasyid, mengenai bisnis dan hubungan kerja sama mereka.
## sekitar jam 02.00 siang, Freya ke luar dari Cafe. Dia tertegun melihat sosok Kevin yang tengah menunggunya di luar, Kevin menoleh dan tersenyum kearahnya. Freyapun berjalan pelan kearahnya, Kevin memyimpan ponselnya dalam saku dan menatap lembut kearah Freya.
"Aku mau traktir kamu Fre, ikut aku ya dan nanti pulangnya aku antar. " ujar Kevin.
"Memangnya kamu ulang tahun. " pungkas Freya menatap heran kearah Kevin. Kevin tergelak, dia merasa gemas dengan Freya lalu diacaknya rambut Freya. Dia menarik tangan Freya lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil, setelah itu tancap gas.
"Oh ya bagaimana kabar Zinnia sekarang? "
"Dia baik baik saja Vin, sekarang Zi tinggal bersama kekasihnya. Hanya saja aku masih merasa bersalah padanya karena seorang pria aku memusuhi Zinnia. Zinnia sudah menasehati aku tapi akunya keras kepala. " Freya mengatakan semuanya pada Kevin, Kevin terdiam dan raut wajahnya seketika berubah namun dengan cepat pria itu mengatasinya.
Kevin sangat pandai menyembunyikan emosinya di balik wajah tenangnya, dia melirik sekilas kearah Zinnia. Dengan pandangan lurus ke depan, Freya terus berbicara, mengeluarkan seluruh unek unek dalam hatinya. "Ya katakan saja aku gadis tak tahu malu ya Vin menyukai seorang pria tapi meski di tolak tetap mengejarnya, sekarang aku menyesalinya. "
"Kamu enggak salah Fre, lagian cinta perlu di perjuangkan, tapi bukan berarti dengan cara yang salah yang pada akhirnya berubah menjadi obsesi. " sahut Kevin.
"Kamu banyak berubah ya Vin, tidak seperti dulu yang pendiam dan penyendiri. " Freya menoleh, tersenyum kearah Kevin dan Kevin membalasnya.
"Aku berubah karena seseorang Fre, dia gadis yang sangat berarti bagiku. " Kevin melirik Freya dengan tatapan sulit diartikan. Freya ikut senang mendengarnya jika Kevin menyukai seorang gadis.
"Kapan kapan ajaklah dia bertemu aku dan Zinnia. " Kevin mengangguk, dia kembali fokus menyetir mobilnya.
bersambung
JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMEN
LEMPAR 🥀
LEMPAR ☕
__ADS_1