Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Season 3 Part 12


__ADS_3

"Bara, kapan kamu menikahi Binar? tanya Nyonya Vina pada puteranya.


"Satu minggu lagi mom. " jawab Bara sambil tersenyum. Nyonya Vina mengulum senyumnya, matanya melirik kearah Binar yang tengah menyuapi Adrian. Selesai sarapan, Barapun pergi ke kantor,mengingat ada meeting mendadak hari ini di susul orang tua Bara yang mengajak cucu mereka.


Setelah cukup lama mengamati, Rifaya diam diam datang menemui Binar. Gadis itu mengetuk pintu hingga tak lama Binarpun ke luar dari sana.


"Aku ingin berbicara sama kamu!


Binar mengikutinya hingga ke gazebo, dia menunggu apa yang ingin di katakan Rifaya padanya. "Kau tak malu, kau bukan siapa siapa Bara tetapi kenapa kau terus menerus menginap di mansionnya. " ucap Rifa dengan sinis.


"Lalu memangnya siapa kamu, kamu juga tak berhak ikut campur urusanku dan mas Bara. " balas Binar dengan tenang dibalas tatapan tajam oleh Rifaya. Dia langsung mengangkat tangannya, menunjuk cincin di jemarinya saat ini.


"Lihatlah baik baik, Mas Bara kemarin melamarmu dan artinya sekarang aku calon istrinya. " tegas Binar. Rifa sangat terkejut, gadis itu mengepalkan kedua tangannya. Dia melayangkan tangannya, Binar mencengkeram tangannya kuat lalu menghempasnya kasar.


"Selama ini aku diam, bukan berarti aku lemah dan takut padamu nona Rifaya. "


Rifaya tersenyum sinis sambil melipat tangannya di dada, menatap remeh gadis di hadapannya saat ini. "Kau yakin Bara mencintaimu, atau mungkin saja Bara hanya menganggapmu sebagai pelariannya semenjak istrinya meninggal. " sarkas Rifaya dengan ketus.


"Tentu saja yakin, Mas Bara selalu menciumku dan kemarin saja kami hampir saja bercinta jika aku tak menegurnya. Dia juga bilang ingin membangun rumah tangga dengan aku, membentuk keluarga kecil, aku,mas Bara Adrian dan adik adik Adrian kelak. " kekeh Binar dengan senyuman liciknya.


"Kau, dasar kau pelakor. " Rifaya menarik rambut Binar dengan kuat, Binar meringis kesakitan. Dia tak tinggal diam, Binar menampar Rifaya kemudian mendorongnya keras hingga keduanya sama sama terjatuh. Mereka saling menarik rambut satu sama lain.


"Cih, kau benar benar menjijikkan nona, mengejar ngejar pria seperti tak punya harga diri. " Binar tersenyum mengejek kearah Rifaya, Rifaya langsung mengumpatinya. Rifaya semakin emosi, melayangkan tangannya kemudian pergi begitu saja dan untungnya Binar membalas tamparannya.


"Ish sialan tuh gadis gila. " maki Binar kesal. Kepala maid datang menghampirinya, membantunya berdiri.

__ADS_1


"Nona tidak apa apa. "


"Iya Bi, hanya saja rambut dan pipiku terasa sakit. " keluh Binar.


"Sebaiknya nona duduk dulu, saya ambilkan es untuk membalus pipi nona yang bengkak. " Maid segera pergi dan tak lama kembali, menyeka pipi Binar yang sedikit membengkak.


"Ssh sakit Bibi. " ringis Binar yang benar benar merasakan sakit pada pipi dan rambutnya. Dia masih sangat kesal pada tingkah Rifaya yang benar benar nekat.


"Nona Binar, apa sebaiknya saya hubungi Tuan Bara nona? "


"Enggak usah Bi. " tolak Binar dengan halus. Maid mengangguk, meninggalkan Binar sendirian. Binar menghela nafas panjang, mengumpati kelakuan Rifa yang memancing emosinya.


Binar bangkit, ke luar dari mansion Bara dan meminta sopir mengantarkannya pulang. Selama perjalanan gadis itu terlihat murung, teringat ucapan Rifaya. Dia menepis pemikirannya, Binar sangat percaya pada Bara apapun yang terjadi.


Tak lama gadis itu turun dari mobil, berlari kecil memasuki kediaman sang mommy tercinta. Binar menemui sang kakak yang berada di ruang tamu. "Kak Elin, di mana mami dan papi?" tanya Binar.


"Eh tunggu, pipi kamu kenapa bisa bengkak gitu? " tanya Berlin dengan tatapan curiganya. Binar salah tingkah, dia merasa bingung untuk menjawabnya. Melihat sikap diam sang adik, Berlin semakin curiga padanya.


"Katakan Bi, siapa yang melakukannya? " desak Berlin.


"Rifaya kak, dia menampar dan menarik rambut aku tadi. " Binar menjelaskan siapa Rifaya pada kakaknya itu. Berlin terlihat geregetan setelah mendengar cerita adiknya, dia ingin sekali bertemu dengan Rifaya secepatnya untuk membuat perhitungan.


"Sudah kak, aku sudah balas dia dengan tamparan. " sahut Binar. Berlin tersenyum puas mendengar pernyataan Binar barusan. Gadis itu tersenyum kecut, teringat kisahnya dengan Daniel di masa lalu, di mana dulu dj awal pernikahan mereka, Daniel sempat menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Waktu itu Berlin sempat kecewa padanya, mengingat Berlin telah jatuh cinta pada Daniel di awal pertemuan mereka.


"Kok kakak melamun, apa yang kakak pikirkan?" tanya Binar. Berlin tersentak dari lamunannya, gadis itu menggeleng dan tersenyum tipis pada adiknya.

__ADS_1


"Kak, aku ke dapur ya mau buat jus. " Berlin mengangguk, membiarkan adiknya membuat jus. Sedangkan Daniel menemui istrinya di ruang tamu setelah selesai mengerjakan pekerjaannya yang dia bawa dari kantor ke rumah.


"Sayang kenapa wajah kamu murung? " tanya Daniel.


"Enggak papa mas, hanya teringat masa lalu. " jawab Berlin singkat. Daniel mencium bibir isterinya, menatap wanitanya dengan tatapan penuh cinta. Mengingat masa lalu, rasa bersalah itu kembali menyergap dirinya, namun dia sudah menyesali semuanya.


"Kita ke kamar yuk, mas pingin. " pinta Daniel.


"Tapi bagaimana dengan Binar mas. " ujar Berlin.


"Dia pasti ngerti kok. " Daniel menggendongnya menuju ke kamar, mereka berpapasan dengan Binar yang justru menggoda keduanya.


Di dalamkamar mereka tengah merengkuh kenikmatan bersama, Daniel menghujam istrinya dengan lembut mengingat Berlin tengah hamil besar. Setelah satu jam bergumul, keduanya yang masih berkeringat mengobrol membahas tentang hubungan Binar dan Bara. "Aku yakin Bara pasti bisa membahagiakan Binar,melihat bagaimana pria itu memperlakukan adikku dengan lembut.


"Mas Daniel, bisakah kamu cari tahu siapa Rifaya dan latar belakangnya, gadis itu berani beraninya menampar Binar. " ucap Berlin pada suaminya.


"Iya sayang, aku akan mencari tahu tentangnya. "


Daniel menciumi kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, begitu mencintai wanitanya beserta calon anak mereka. Dia sangat beruntung Berlin mau memaafkan kesalahan dirinya dulu. Berlin menikmati elusan tangan suaminya di atas perut besarnya. Dia begitu bahagia, semakin mencintai prianya yang terus memberikan kebahagiaan untuknya.


**


"Melihat kak Berlin bahagia bersama kak Daniel, aku turut senang melihatnya apalagi mereka sebentar lagi memiliki anak. " gumam Binar di sela sela kunyahannya memakan camilan. Binar mengambil ponselnya, menatap lekat foto mendiang daddy-nya yang dia simpan.


"Semoga Daddy bahagia di atas sana, aku, mami dan kak Berlin sudah menemukan kebahagiaan kami masing masing Dad. " ucap Binar lirih. Binar langsung menghapus cairan bening yang hampir menetes dari matanya,dia sudah bisa memaafkan dirinya akan kepergian sang daddy tercinta.

__ADS_1


"Doakan Binar ya Dad, semoga kelak Binar menjadi istri yang baik untuk mas Bara. " batin Binar penuh harap. Binar menyimpan ponselnya ke dalam tas, kembali mengunyah cemilannya sambil menonton acara televisi. Sesekali dirinya melirik kearah jam di dinding, setelah itu fokus ke depan.


tbc


__ADS_2