Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC Part 19 Extra part 1


__ADS_3

Meira dan Aiden tengah menikmati peran mereka sebagai orang tua baru. Ya Meira melahirkan Puteri cantiknya dengan selamat, di beri nama Berliana Sasikirania. Parasnya yang cantik seperti Meira serta pipi bulatnya membuat bayi cantik itu terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Keluarga kecil Aaron dan Axel datang, menjenguk kelahiran si cantik ke dunia. Baby Berlin mendapatkan hadiah yang tak terduga dari paman dan bibi bibinya.Meira sempat terkejut dengan hadiah yang di berikan oleh kakak dan adik iparnya yang terlihat cukup fantastis untuk baby Berlin.


"Princessnya mami, akhirnya mami bisa menggendong kamu sayang setelah sembilan bulan kamu dalam perut mami. " gumam Meira dengan senyum merekahnya menatap bayi dalam dekapannya.


Meira menciumi pipi bulat puterinya, hatinya begitu bahagia melihat buah hatinya lahir ke dunia. Aiden melangkah mendekati istri dan anaknya, pria itu tampak begitu bahagia melihat dua orang tersayangnya.


"Maaf sayang, ternyata baby kita perempuan." ucap Meira pada sang suami.


"Kenapa berbicara seperti itu hemm, aku tak masalah perempuan atau laki laki sama saja asalkan kalian sehat. " ujar Aiden dengan senyuman tipisnya.


"Thanks Hubby, selama ini kamu selalu sabar menghadapiku!


"Itu sudah tugasku." Aiden menatap penuh cinta istri dan anaknya, pria itu mengecup singkat kening Meira. Setelah puterinya terlelap, Meira menaruh baby Berlin dalam box bayi.


tok


tok


"Nyonya, Nyonya Lily dan Tuan Ryan datang berkunjung. "


"Iya Bi kami akan turun. "


Meira menggendong puterinya, membawanya ke luar di susul Aiden. Mereka menemui Lily dan Ryan yang telah menunggu di ruang tamu. Dia memperlihatkan puterinya pada Lily, Lily memberikan selamat dan menyapa keponakan cantiknya.


"Berlin cantik banget kayak kamu kak. " puji Lily dengan senyum manisnya.


"Terimakasih Ly, oh ya Alana enggak kalian ajak ke sini? "


"Alana lagi sama neneknya. " bukan Lily yang menjawab namun Ryan. Meira mengangguk, membenahi posisi menggendongnya, agar Berlin terlihat nyaman. Lily merasakan iri, melihat Meira yang menggendong puterinya dan dia menginginkan hal yang sama. Bisa hamil, ngidam dan rasanya berjuang melahirkan buah hatinya ke dunia.


Diapun merasakan sesak, mengingat beberapa Minggu lalu dirinya kembali mengalami keguguran, penyebabnya karena stress. Ibunya Ryan mendesaknya untuk segera hamil, hal itu menjadi pemicu dirinya keguguran, Lily tidak mengetahui jika waktu itu dia hamil anak Ryan.

__ADS_1


Ryan paham akan perasaan istrinya, dia genggam jemari Lily dengan erat. Lily dengan kasar menepis tangan suaminya, sudah dua hari ini dia menjauhi Ryan setelah pertengkaran mereka yang lalu.


"Ly, kamu yang sabar ya dan tetap semangat, aku yakin kelak kamu pasti akan hamil lagi. " ucap Meira dengan tulus.


"Mau sampai kapan Kak, aku pusing setiap kali ibunya mas Ryan selalu mendesakku untuk hamil, aku capek kak dengarnya. " keluh Lily. Ryan menatap sendu wanitanya, terlihat jelas jika Lily begitu tertekan dengan keinginan ibunya.


"Mungkin jika mama meminta mas Ryan menikah lagi, aku akan mengizinkannya daripada mama terus mendesakku tanpa


henti. " gumam Lily dengan lirih.


"Lily. " geram Ryan tak suka dengan penuturan istrinya, Lily hanya diam mengabaikannya. Wanita itu benar benar lelah untuk saat ini, dia tak peduli jika Ryan kembali marah padanya.


"Kamu tenang dulu Lily, jangan terbawa


emosi. " tegur Meira. Meira begitu paham dengan perasaan Lily sekarang ini. Lily kini hanya bisa menghela nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Diapun bangkit, pergi dari sana tanpa peduli dengan suaminya. Meira menatap kepergian Lily dengan tatapan sendunya, kemudian beralih kearah Ryan.


"Ryan, sebaiknya kamu kasih tahu ibumu agar jangan terlalu menekan Lily. " ujar Meira dengan tegas.


Meira mendengus sebal, kembali menimang puteri kecilnya yang sempat menggeliat mendengar suara kerasnya. Dia juga berharap rumah tangga Ryan dan Lily selalu bahagia dan baik baik saja meski saat ini tengah diterpa badai.


"Ryan, sebaiknya kau di sini saja biarkan Lily tenang dulu. " ujar Aiden yang mulai buka suara. Ryan tak jadi menyusul istrinya, apa yang di katakan Aiden ada benarnya. tak lama Lily kembali, wajah wanita itu terlihat tenang dan Meira merasa lega melihatnya.


"Kalian mengobrolah dulu, aku akan ke kamar dan Lily ayo ikut aku. " Lily yang tanpa banya bicara hanya mengangguk, dia mengekori Meira dari belakang, meninggalkan para suami mereka.


"Sebagai kepala rumah tangga kau harus tegas Ryan pada ibumu, kau jangan selalu memaklumi sikap ibumu. Apa kau tak kasihan pada Lily, dia begitu tertekan pada sikap ibumu yang terus mendesaknya. " ujar Aiden.


"Selama menikah, aku melihat wajah Lily tak pernah bahagia bersama aku. " ungkap Ryan menatap lekat kearah Aiden. Aiden hanya diam, membiarkan Ryan mengeluarkan keluh kesahnya.


"Aku merasa gagal menjadi seorang suami bro, aku belum bisa membahagiakan Lily. "


"Sebaiknya minta maaflah pada istrimu, ajaklah dia honeymoon lagi atau pergi liburan berdua. " ujar Aiden memberikan sarannya pada sang sahabat. Ryan termenung, dia akan menuruti nasehat Aiden demi kebaikan rumah tangganya dengan Lily. Diapun bangkit, Ryan segera menghampiri istrinya lalu mengajaknya pulang.

__ADS_1


"Semoga permasalahan kalian cepat selesai." batin Aiden menatap kepergian Ryan dan Lily.


"Sayang ini kopi kamu. " Setelah menidurkan baby Berlin, Meira membuatkan kopi untuk suaminya. Aiden menyesap kopinya perlahan, lalu ditaruhnya di atas meja.


"Aku kasihan banget sama Lily, bee. Dari dulu dia selalu mendapat ujian berat dalam hidupnya, sebagai kakak sekaligus sahabatnya aku benar benar tak berguna. " gumam Meira lirih.


"Ssst jangan bicara seperti itu Amor, kita harus support Lily dan Ryan agar mereka bisa melalui ujian rumah tangga mereka!


Meira mengangguk kecil, dia bersandar di bahu suaminya. Aiden menciumi kepalanya dengan lembut, dia sangat bersyukur rumah tangganya kembali damai setelah beberapa waktu lalu. mendapat ujian. Dia berjanji akan lebih fokus pada keluarga kecilnya, dia tak akan membiarkan orang ketiga hadir dan merusak hubungan mereka.


"Berlin pasti bangga memiliki mami setegar dan sekuat kamu sayang!


"Puteri kecil kita juga bangga punya papi seperti kamu Bee. " sahutnya dengan senyuman manis di bibirnya.


"Minggu depan ulang tahun Galen, sebaiknya kita segera cari hadiah untuk keponakan tampan kita kalau tidak dia pasti akan


merajuk. " ujar Meira sambil tertawa. Aiden ikut tertawa mendengarnya, dia sangat tahu bagaimana sikap Galendra, putera dari Aaron dan Zinnia itu.


"Kamu enggak pengen anak laki laki sayang? " Aiden menaikturunkan alisnya, menatap lekat istrinya dengan senyum menggodanya. Meira memutar bola matanya, suaminya ini benar benar mesum.


"Modus, baby Berlin masih bayi dan kamu harus menahannya selama ddua bulan


sayang. " geram Meira.


"Yah gagal deh. " Meira terbahak, dia menatap lucu wajah masam suaminya. Aiden bersandar di sofa sambil melipat tangannya di dada, ya dia tengah merajuk saat ini.


"Sabar sayang. "


"Hm!


Pfttt

__ADS_1


tbc


__ADS_2