
LIKE, VOTE DAN KOMEN
"Pelan pelan hubby, aku lagi hamil. " protes Aletta pada suaminya. Morgan memperlambat gerakan pinggulnya, dia tidak ingin ambil resiko calon bayinya kenapa kenapa. Seusai bercinta keduanya masih dalam keadaan menyatu, Aletta menghapus peluh di wajah suaminya.
"Maaf, kamu pasti sangat lelah sementara kamu sedang hamil besar sayang. " gumam Morgan pada istrinya.
"Enggak papa sayang, aku mau bersih bersih ya. " Aletta melepas penyatuan mereka dan pergi ke kamar mandi. Setelah mereka mandi keduanya kembali mengobrol. Dia usap dada bidang sang suami, kemudian tersenyum padanya.
"Mau baby girl atau baby boy Hubby? "
"Baby Girl sayang, aku ingin dia cantik seperti kamu. " ungkap Morgan dengan senyum mengembang di bibirnya. Alettapun menanggapinya dengan senyuman manis, Morgan mengusap perut sang istri lembut.
Drt
drt
drt
Morgan mengambil ponselnya, lalu berb8cara di telepon dan ternyata mertualah yang menghubungi dirinya.
"Ya halo Dad Adam? "
"Daddy rindu sama cucu Daddy, kapan kalian kembali ke indonesia? "
"Secepatnya Daddy. " Morgan mengubah panggilan menjadi video call. Aletta langsung mengobrol dengan sang daddy, melepas rindunya pada pria paruh baya tersebut. Setelah selesai Morgan menaruh kembali ponselnya di atas meja.
"Seandainya ada mommy, keluarga besar kita akan terasa lengkap dan Daddy pasti tidak akan kesepian seperti sekarang. " Aletta terlihat murung, dia jadi merindukan mendiang mommynya. Morgan mengenggam tangan sang istri lalu di kecupnya pelan.
"Mommy pasti sedih di atas sana, melihatmu seperti ini. " bujuk Morgan.
"Kita ke luar yuk! Morgan membantu istrinya berdiri, lalu mengajaknya ke luar kamar. Suami istri itu kini berada di ruang tamu, Morgan mengupaskan buah untuk Aletta, kemudian menyuapinya.
__ADS_1
Aletta benar benar bersyukur, suaminya telah benar benar berubah. Morgan yang arogan, kejam dan dingin kini berubah hangat, lembut dan penuh perhatian. Pertemuan mereka yang awalnya kelam kini berubah manis dan begitu indah, meski perjuangan mereka tak mudah.
Keduanya terkejut melihat kedatangan keluarga besar Morgan. Orang tua Morgan serta adiknya datang berkunjung ke rumah mereka.
"Mami, Papi ada apa kalian kemari? "
"Letta, maafin sikap mami dan Alina selama ini sama kamu. " sesal Mami dengan raut wajah bersalahnya. Aletta terdiam, masih merasakan sesak dan sakit hati atas penghinaan mertuanya pada mendiang sang mommy.
"Mami boleh saja menghina Letta, tapi jangan mendiang mommy Melisa. Sejak kecil aku sudah kehilangan sosok ibu, tapi mami dengan teganya menghina mendiang mommy, hanya karena masa lalu mommy dulu. "
"Aletta sudah memaafkan mami dan Alina. " Aletta benar benar sekuat tenaga menahan tangisnya di depan keluarga sang suami. Mami terisak, melihat kebaikan hati menantunya yang selama ini dia hina dan rendahkan.
"Letta permisi! Aletta melepas gengaman tangan suaminya, wanita hamil itu bangkit dan memilih pergi ke Rooftop. Dia berusaha menghilangkan traumanya di masa lalu, di mana suaminya, mertua, serta adik iparnya tak pernah menganggapnya ada. Dulu dirinya dipandang rendah, di hina dan dianggap wanita murahan, yang berniat menggoda Morgan.
Hiks hiks hiks
Betapa tidak kejam, Morgan dulu bersikap tidak manusiawi pada Aletta. Dia membiarkan istrinya di jadikan pembantu oleh maminya, sering di hina, di kasari serta di rendahkan hingga Aletta berada di titik terendahnya waktu itu.
Grep
"Maafkan aku honey, maaf. Ampuni aku sayang ampuni suami brengsekmu ini. " mohon Morgan pada istrinya. Aletta mendongak, tangan wanita itu mengusap air mata sang suami.
"Hubby, aku minta satu hal darimu, boleh? "
"Apa sayang? "
"Biarkan aku pulang, aku ingin bersama keluargaku. Aku janji tidak akan kabur bersama putera kita Zane. " pinta Aletta. Morgan menggeleng, pria itu tidak setuju dengan permohonan istrinya. Dia tak akan sanggup berpisah dari istri dan anak anak mereka.
"No sayang, jangan tinggalin aku. Aku sangat mencintaimu istriku. " Aletta terenyuh, melihat suaminya yang menangisi dirinya. Wanita itu berhambur kepelukan suaminya, Morgan membalasnya sambil mengusap perut buncit Aletta. Morgan tak akan membiarkan belahan jiwanya pergi dari hidupnya, baginya Aletta, Zane dan calon baby kedua mereka adalah dunianya.
Dari jauh Alina menyaksikan kakak dan iparnya, gadis remaja itu menangis sesegukan menyesali perbuatannya dulu. Diapun berjalan kearah keduanya, Alina menghela nafas panjang lalu menatap kearah Aletta. "Kak Letta, maafin Alina kak maaf. "
__ADS_1
"Kakak sudah maafin kamu Alin, kakak hanya berpesan rubahlah sikapmu dan hormatilah orang lain. " Alin mengangguk, dia bernafas lega karena kakak iparnya mau memaafkan dirinya.
"Kak Morgan, kak Letta aku ke dalam dulu!
"Iya Alin. " Letta bersandar di dada suaminya,menikmati elusan tangan suaminya di atas perut buncitnya. Morgan begitu kagum pada istrinya, dia mau memaafkan orang orang yang menyakitinya dulu termasuk dirinya.
"Kita kembali ke dalam By, kita temui mami. " Morgan bangkit, pria itu membopong istrinya kembali ke dalam. Di ruang tamu, Aletta benar benar memaafkan ibu mertuanya itu. Dia tidak ingin memiliki dendam dalam hatinya, semua yang terjadi adalah takdir yang di gariskan Tuhan padanya.
🌸🌸
Sementara itu Aiden tengah di sibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Meira. Setelah fiting baju, Mereka mengajak si kecil jalan jalan dan keduanya sempat bertemu dengan Lollita, sahabat mendiang Saras. Di sana Meira di hadapkan dengan kedatangan Valerie yang mengatakan masih sayang pada Aiden.
"Batalkan pernikahanmu dengan Aiden, Aiden hanya milikku. Apa kamu tidak malu merebut Aiden dariku heh. " ucap Valerie.
"Aku tekankan, di sini tidak ada yang merebut Nona. Kau sendirilah yang meninggalkan Aiden, hanya demi pria lain. Dengarkan aku kau hanya masalaunya, dan aku tentu saja masa depannya!
Ck Mantan yang meresahkan!!!!
"Oh ya kau harus tahu, Aiden tidak mudah jatuh cinta dan mana mungkin dia move on dariku secepat itu. " Valerie menatap tak percaya dengan penuturan Meira barusan.
"Cepat bagaimana, empat tahun bukan waktu yang singkat. Kau hanya sebuah luka yang meski di sembuhkan, sedangkan aku obatnya yang telah menyembuhkan sakit hati calon suamiku, kebersamaan kami membuat kami jatuh cinta. " Meira melipat tangannya di dada, menatap sinis kearah Valerie yang terdiam mematung.
"Tidak, aku tidak percaya. Kamu pasti yang menggodanya bukan, aku yakin dasar wanita penggoda. " maki Valerie emosi.
Plak
Meira melayangkan tamparannya ke pipi Valerie, Valerie begitu shock dan menatap sinis kearah Meira. "Dengarkan baik baik, harusnya sadar diri karena ulahmu sendiri Aiden berubah, jadi jangan salahkan orang lain. " geram Meira.
"Pergi dari sini sebelum aku panggil security. " usir Meira.
"Sialan. " Valerie melenggang pergi meninggalkan kediaman Meira, Meira menghela nafas lega.
tbc
__ADS_1