
Binar mengajak Dika ketemuan, saat ini keduanya berada di sebuah Cafe. Dika tampak tersenyum sumringah, dia bisa melihat Binar lagi dan menatap gadis pujaannya sepuasnya. Sebelum bicara Binar berusaha menahan dirinya untuk tak mengumpati Dika. "Lihat ini, perhatikan baik baik Tuan Dika!
Binar menunjukkan cincin di jari manisnya, Dika menunjukkan raut tak sukanya. "Aku sudah menikah dengan mas Bara, jadi berhentilah berbuat hal hal nekat hanya demi merebut aku dari suamiku!
"Bi apa maksud kamu? "
"Jangan berpura pura bodoh Tuan Dika, bukankah pelaku yang menabrak suamiku adalah kau. " ujar Binar tanpa basa basi. Dika terkejut mendengarnya, namun wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
"Ya itu aku orangnya, aku tidak terima kamu menikah dengan pria itu Binar. " sahut Dika dengan sorot tajamnya.
"Kau benar benar keterlaluan, cinta tak bisa di paksa dan karena ulahmu suamiku menderita brengsek. " maki Binar melampiaskan emosinya yang meledak ledak.
"Tapi sejak awal aku sudah jatuh hati padamu Binar,please beri aku kesempatan. " desak Dika sambil memohon. Binar menggeleng, wanita itu bangkit dan bergegas pergi dari sana dan Dikapun tak tinggal diam.
"Lepaskan aku Dika, lepas. " Binar berusaha melepaskan cengkraman tangan Dika namun tak berhasil. Pria itu menyeretnya lalu mendorongnya ke dalam mobil. Binar benar benar panik, berusaha sekuat tenaga mendorongnya lalu ke luar.
Plak
"Jangan sentuh tubuhku dengan tanganmu. " desisnya dengan nada sinis. Dika tertawa mendengarnya, pria itu menyeringai kemudian berusaha ingin mencium Binar. Dari jauh Rifaya memotret keduanya, lalu mengirimnya pada Bara.
"Tunggu sebentar lagi hidupmu akan hancur Binar!
Binar segera memukulnya setelah itu melarikan diri dari cengkeraman Dika, dia merasa pria itu hanya terobsesi padanya. setelah masuk ke dalam taksi, Binarpun bernafas lega sekarang.
Binar memasuki mansion, dia melihat Bara yang telah menunggunya dengan sorot dinginnya. "Kemarilah, Aku ingin bicara dengan kamu Binar!
"Ada apa mas? " tanyanya setelah duduk di sofa sambil menatap sang suami.
__ADS_1
"Kau dari mana? "
"Aku.. " Binar merasa ragu untuk menjelaskan kejadian tadi pada suaminya.
"Bertemu pria lain di belakangku, bukankah begitu Binar. " Bara melempar foto kehadapan istrinya Binar terkejut dan melihat foto itu.
"Bukan seperti itu mas, hanya saja aku cuma ingin memastikan jika pelakunya adalah Dika. " jawab Binar dengan jujur.
"Kau lupa dengan statusmu hingga pergi seenaknya tanpa izinku Binar. ujar Bara dengan nada tinggi. Binar nampak ketakutan melihat kemarahan di wajah suaminya. Binar menghela nafas kasar, wanita itu terlihat berfikir bagaimana bisa suaminya mendapatkan foto itu.
"Maafkan aku mas, hanya saja aku hanya bertemu dengan Dika saja tanpa melakukan apapun, kau harus percaya sama aku mas Bara!
Bara mengatupkan bibirnya, memilih diam hal iti membuat Binar kecewa. Wanita itu menghembuskan nafas kasar, berusaha menenangkan dirinya. "Ya sudah kalau mas enggak percaya dan sekali lagi maafkan aku yang pergi tanpa pamit mas!
Tubuhnya terasa lelah,di tambah perdebatan suaminya membuat mood Binar menjadi buruk. Wanita itu bangkit, meninggalkan suaminya sendiri. Bara menatap kepergian istrinya itu dalam diam, tak berniat mengejarnya.
Binar memilih berendam dengan campuran mawar, dia berusaha rileks dan mencoba melupakan kejadian tadi. Sementara itu Bara memasuki kamarnya, mencari sosok istrinya namun dia tak menemukannya. Pria itu menuju ke kamar mandi dan masuk, memperhatikan istrinya yang tengah berendam. Bara melepas kaos dan celana panjang nya, lalu masuk ke dalam bathtube.
"Melihat suaminya hanya diam Binar semakin kesal dan sebal.
"Mas Bara lepas. " Binar menoleh, dia hendak berbicara namun bibirnya di sergap oleh Bara. Binar memukul dada suaminya agar berhenti, tak lama kemudian Bara mengakhiri ciumannya. Binar sempat menikmati ciuman suaminya, tapi mengingat perdebatan tadi kembali membuatnya kesal dan kecewa.
Binar buru buru bangkit, memakai bathrubenya kembali tanpa mempedulikan tubuh polosnya yang di pandangi suaminya. Setelah itu ke luar dari sana, Bara menghela nafas kasar dan memilih melanjutkan mandi di bawah shower.
Selesai berpakaian, Binar memilih berbaring di atas ranjang sambil membaca buku. Hatinya terlanjur sakit mendengar tuduhan suaminya, Bara meragukannya. Dia sembunyikan air matanya dari balik buku, Binar hanya bisa bersabar untuk saat ini. Bara ke luar, pria itu segera mengambil pakaian kemudian memakainya. Pria itu tengah mengamati apa yang di lakukan istrinya saat ini. "Sayang. " panggilnya pelan.
__ADS_1
"Cukup mas, aku lelah dan tak ingin berdebat lagi dengan mas Bara. " jawabnya tanpa menoleh. Barapun ke luar sambil membanting pintu, membuat Binar terkejut.
Hiks
Binar meletakkan bukunya, dia memeluk kedua kakinya sambil menangis. Dia merasa hubungannya dengan Bara seperti ada jarak semenjak suaminya itu amnesia. Binar mengambil ponselnya, menghubungi sang mertua.
"Sore mami, Adrian mana Mi? " tanya Binar dengan wajah cerianya.
"Adrian lagi tidur sore sayang, kecapekan main dan menemani si kecil Vega dan katanya Adrian minta adik. " jawab Mami di dalam ponsel. Binar terdiam mendengar penuturan mertuanya, diapun hanya mengiyakannya.
"Oh ya sudah mommy. " Setelah beberapa menit, Binar mengakhiri obrolannya dengan sang mertua. Dia menaruh ponselnya, bangkit lalu ke luar dari kamarnya. Binar pergi ke dapur mengambil minuman, setelah melepas dahaganya dia memilih pergi ke ruang tamu. Di sana tak menemukan sosok suaminya, sontak membuatnya lega.
Binar terdiam, teringat dengan pernyataan mommy mengenai Adrian yang menginginkan adik. Dia menghela nafas kasar, menyalakan televisi lalu mencari tayangan hiburan.
"Aku tahu aku salah mas, tapi bisakah mas percaya sama aku. " gumam Binar pelan. Binar lagi lagi menghela nafas kasar, dia masih saja terasa sesak mengingat perdebatan dirinya dengan sang suami. Bara ke luar dari ruangan kerjanya, menemukan sang istri yang tengah melamun.
Bara menghampirinya, duduk berhadapan dengan Binar. "Aku minta maaf karena tak percaya sama kamu sayang!
"Sudahlah mas jangan di bahas, percuma karena mas Bara tak percaya sama aku. Kau tahu mas jika Dika 'lah pelakunya, dia yang menyerang kita hingga mas amnesia. " sahutnya. Binar menjelaskan kejadiannya pada sang suami tanpa di tutupi apapun. Bara merasa teramat menyesal karena mudah marah dan menghakimi istrinya tanpa mendengar penjelasan dari Binar.
Bara memeluknya, berulang kali mengatakan maaf padanya. Binar hanya diam namun membalas pelukan dari sang suami. Pria itu melepas pelukannya, mencium kening Binar singkat. "Sekali lagi maafkan mas sayang!
"Aku juga minta maaf sayang. "
"Iya sayang,jadi kita baikan dan tandanya aku boleh minta hakku dong. " ledek Barayang mendapat pukulan di bahunya. Binar merengut sebal, bisa bisanya suaminya itu memikirkan hal berbau mesum di saat mereka baru baikan.
"Nanti malam, aku tagih sayang!
__ADS_1
"Hm. "
tbc