Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Epson 143


__ADS_3

Hari yang di tunggu telah tiba, dengan tuxedo berwarna putih, Aaron menunggu mempelai wanitanya yang tengah bersiap siap. Zinnia datang di dampingi oleh Freya sahabatnya. Aaron meraih tangan mempelai wanita, lalu menghadap kearah pendeta.


"Saudara Aaron, bersediakah engkau mengambil saudari Zinnia menjadi istrimu? "


"Ya saya bersedia. "


"Saudari Zinnia, bersediakah engkau mengambil saudara Aaron sebagai suamim!


"Ya saya bersedia. "


"Mulai sekarang kalian resmi menjadi suami istri. " Aaron menyematkan cincin ke jari manis istrinya begitu juga dengan sebaliknya. Pria itu langsung memagut bibir wanitanya sekilas lalu melepaskannya. Tamu undangan bertepuk tangan meriah, suara siulan dari Aiden dan Axel meramaikan acara.



Aaron tersenyum sumringah, menatap istrinya dengan penuh cinta, sebelah tangannya merangkul pinggang istri dengan posesif. Dari jauh sepasang mata menatap keduanya dengan sorot mata penuh kebencian, ya dialah Helena..


Helenapun melangkah maju ke depan, menghampiri kedua mempelai yang tengah berbahagia itu. Sret dia langsung menarik kasar tangan Aaron, para tamu menatapnya heran.


"Aaron, aku mencintaimu. Kenapa kamu malah menikahi wanita sialan ini hah, dia yang menggodamu di hotel waktu itu. " ucap Helena dengan wajah pura pura sedihnya, seolah olah dialah korban. Zinnia mengeratkan pelukannya di pinggang sang suami, para tamu kini telah membicarakannya.


"Tutup mulutmu Helena, aku yang menggoda Zinnia waktu itu. " geram Aaron dengan sorot mata tajamnya.


Helena beralih menatap sinis kearah Zinnia, kemudian mencengkram tangan Zinnia lalu memyeretnya menjauh. Aaron langsung memgejar Helena, berusaha menolong Zinnia istrinya.


"Hei lepaskan aku, wanita gila. " maki Zinnia.


Sampai di luar mansion, Zinnia langsung menampar pipi Helena dengan keras lalu menjambaknya. Helena tak tinggal diam, dia msngeluarkan sebuah pisau dari dalam tasnya. Wanita itu menyeringai sinis, Zinnia terbelalak begitu juga dengan Aaron.


"Selama ini aku diam, melihat kalian bermesraan di atas penderitaanku. " ujar Helena dengan raut penuh kebencian.


"Di hari bahagia kalian, kupastikan menjadi hari terburuk di hidupmu Zinnia. Jika aku tidak bisa memiliki Aaron maka kamu juga tidak bisa. " geram Helena sambil menodongkan pisaunya. Tubuh Zinnia bergetar ketakutan, dia tak menyangka Helena akan berbuat nekat seperti ini.

__ADS_1


"Rasakan ini. " Helena hendak menusuknya namun dengan cepat Aaron menahan tangannya. Helena memberontakmematap tajam mantan kekasihnya.


"Lepaskan aku Aaron, biarkan aku membunuhnya!


"Hentikan Helena, apa kamu sudah gila hah. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh istriku. " Helena semakin panas dan cemburu, mendengar penuturan Aaron. Wanita itu berontak hingga pisaunya mengenai lengan Aaron


Sret


"Aaron. " teriak Zinnia frustrasi. Aaron meringis kesakitan, merebut paksa pisau yang di tangan Helena kemudian menjatuhkannya ke tanah. Aaron memanggil para bodyguardnya, lalu Helena di ringkus dan di bawa pergi.


Zinnia berlari kearah suaminya, gadis itu menangis sesegukan melihat lengan suaminya yang berdarah. "Kamu enggak papa 'kan sayang!


"Aku enggak papa honey, harusnya kamu pikirkan dirimu sebelum bertindak hiks. " gumam Zinnia terisak.


.


Aaron langsung memeluknya sekilas, kemudian Zinnia mengajak suaminya kembali ke dalam. Daddy Adam, double A langsung menghampiri keduanya. "Daddy panggilkan dokter sekarang juga. " ujar pria paruhbaya itu, mengambil ponsel dan menghubungi dokter.


"Nak sebaiknya ajak istrimu ke kamar. " pungkas Daddy Adam pada putera sulungnya. Aaron mengangguk, dia bangkit dan mengajak Zinnia naik ke atas.


"Aiden, ayo ikut daddy ke kantor polisi. "


"Iya Dad. " Daddy dan Aiden langsung pergi, pria paruh baya itu ingin menjebloskan Helena agar wanita itu mendapat hukuman seberat beratnya.


Kini hanya tersisa Axel, Freya dan juga Kevin. Gadis itu tersenyum canggung, memperhatikan kedua pria di sebelahnya yang saling menatap penuh permusuhan. "Aku ingin berbicara dengan Freya, Hanya BERDUA, yang tidak berkepentingan sebaiknya pulang. " sindir Axel penuh penekanan pada kata berdua pada Kevin.


"Kalau mau berbicara, bicara saja di sini. " sahut Kevin dengan raut dingin. Freyapun menghela nafaspanjang, merasa tidak nyaman dengan aura dingin kedua pria di sebelahnya. Axel menggeram kesal, dia menatap sinis kearah Kevin yang memandangnya datar. Freya kembali melirik kearah Axel yang terlihat sangat serius, diapun menoleh kerah Kevin, lalu memberi pengertian pada temannya itu.


"Vin, lebih baik kamu pulang dulu. " ucap Freya dengan lembut.


"Huft baiklah, jika si monyet itu berulah, cepat hubungi aku oke. " seru Kevin. Freyapun mengangguk singkat, menahan tawa mendengar julukan Axel dari Kevin. Axel langsung mengumpati Kevin dengan raut kesalnya, merasa tidak terima karena wajah tampannya disamakan dengan monyet. Kevin bangkit, dia mengecup singkat kening Freya, menyeringai kearah Axel setelah itu pergi.

__ADS_1


"Sialan si babi itu. " umpat Axel emosi, hatinya panas melihat Kevin mencium kening Freya.


"Cepat katakan, apa yang ingin kamu bicarakan tuan!


Axel mendelikkan matanya, mendengar Freya memanggilnya tuan. Pria itu menghembuskan nafas berat, lalu kembali menatap Freya, gadis yang dulu pernah dia tolak cintanya.


"Katakan, apa hubunganmu dengan si babi itu. " ketus Axel.


"Ck dia punya nama tuan, namanya Kevin Salvatore Haidar, bukan babi. " protes Freya dengan mata melotot tajam kearah Axel. Axel berdecih, hatinya kian terbakar melihat Freya yang begitu membela Kevin di hadapannya.


"Suka suka aku dong, mau memanggilnya apa. Lagian dia bukan siapa siapa kamu Freya, kenapa kamu membelanya. " geram Axel kesal. Freya menaikkan sebelah alisnya, dia menatap bingung kearah Axel yang sepertinya tengah kesal.


"Kenapa kamu marah, memangnya aku salah membela Kevin?


"Salah, karena aku tidak suka. " bentak Axel dengan nada tinggi. Freya tertegun, baru pertama kali melihat Axel yang sangat marah seperti ini. Freya berpikir, Axel seperti seorang pria yang tengah cemburu padanya, namun segera dia tepis pemikiran konyolnya.


"Hah mana mungkin, selera Axel wanita dengan dada besar, bokong seksi dan juga langsing. " pikirnya. Freya mengusap wajahnya kasar, merasa bingung dengan perubahan sikap dari seorang Axel, sang casanova cap ikan teri.


"Eh kenapa nih? " sahut Zinnia yang turun bersama sang suami, bergabung dengan Axel dan juga Freya. Zinnia memperhatikan adik iparnya, lalu Freya secara bergantian dengan tatapan penuh selidik.


"Gara gara Dia. " tunjuk Axel dan Freya secara bersamaan.


Pft Zinnia tertawa melihat betapa kompaknya Axel dan Freya, Keduanya saling melirik satu sama lain setelah itu memalingkan wajahnya. "Zi, ngobrol yuk. Di sini ada orang yang marah marah enggak jelas. " sindir Freya pada Axel. Axel tersenyum sinisnya, dia melirik tajam kearah gadis itu.


"Ehem kompak banget sih, jangan jangan jodoh ini. " celetuk Zinnia.


"Tidak. " jawab Axel dan Freya secara bersamaan. Lagi lagi Zinnia menahan tawanya, sedangkan Aaron tersenyum geli melihat tingkah adik dan sahabat istrinya itu. Freyapun bangkit dan mengajak Zinnia pergi dari duo A, Aaron dan Axel.


Di teras Freya langsung bercerita, Zinnia terbahak merasa lucu dengan cerita sahabatnya. Freya berdecak sebal, sahabatnya benar benar tidak bisa diam, bukannya prihatin malah menertawakan dirinya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2