Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Season 3 Part 24


__ADS_3

Satu bulan berlalu


"Dika, kau harus tanggung jawab padaku. " ucap Rifa sambil menarik kerah milik Dika. Pris itu menepisnya dengan kasar, tersenyum miring kearahnya.


"Kau yakin janin itu berasal dari benihku? " sinisnya.


Plak


Rifaya menamparnya dengan keras, gadis itu tak menerima tuduhan Dika. Dika menyentuh pipinya yang terasa panas, sedangkan Rifaya gadis itu memilih pergi dari hadapan Dika. Terlanjur sakit hati dan marah atas penghinaan dari pria pengecut seperti Dika.


"Wanita murahan! Dika menatap kepergian Rifaya dengan tatapan sinisnya.


Rifa langsung menangis, apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia merutuki kejadian malam itu, membuat hidupnya hancur berantakan. Gadis itu memilih pergi ke taman, menenangkan dirinya di sana.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang!


"Apakah ini balasan untuk diriku atas sikapku selama ini. " Rifaya menangis sesegukan sendirian di taman, dia tak mempedulikan tatapan orang orang padanya. Diusapnya perutnya yang mulai membulat, apa yang harus dia lakukan sekarang. Selama ini dia tak berusaha mengugurkannya, entah kenapa ada rasa tak rela melihat janin dalam perutnya kenapa kenapa.


"Maafin mama sayang, mama bukan ibu yang baik untukmu. " gumam Rifaya lirih. Diapun bangkit, tiba tiba rasa sakit menyerang area perutnya.


"Aw. " ringisnya. Hampir tubuhnya limbung, tanpa sengaja seseorang menahannya dari belakang. Rifaya menoleh, melihat seorang pria membantunya.


"Kau tidak apa apa Nona? " tanya Pria itu.


"Saya tidak apa apa Tuan. " jawab Rifaya dengan nada dinginnya. Gadis itu hendak bangkit, namun tubuhnya yang lemah hampir jatuh lagi, tapi pria asing itu menahannya. Pria asing itu membawanya pergi dari sana.



"Eungh. " Rifaya bangun, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dia terlihat kebingungan, tak lama pria itu masuk ke dalam dan bernafas lega melihatnya tersadar.


"Tubuh kamu dan calon bayimu terlihat lemah nona, perlu beristirahat. " ujar pria itu.


"Kau siapa Tuan? "

__ADS_1


"Karan Danuarta Wijaya, siapa nama kamu? " tanya Karan balik.


"Rifaya Laurinda. " jawabnya singkat. Karan duduk di sebelahnya, pria itu memperhatikan perut Rifaya dengan lekat.


"Bolehkah aku mengusap dan mencium perutmu? " tanya Karan dengan nada lembutnya. Rifaya merasa heran namun dia mengangguk kecil, menyetujuinya membuat senyum di bibir Karan terbit. Gadis itu menahan nafas saat Karan menciumi perutnya dengan lembut, ada rasa hangat dalam hatinya namun juga kegetiran. Ayah dari calon bayinya saja tak mau mengakui dan bertanggung jawab.


"Andaikan Dika yang melakukannya. " gumam Rifaya pelan.


"Apa yang kamu fikirkan Rifa, lupakan saja si brengsek itu. " batinnya menentang.


"Terimakasih telah menolongku Tuan, tapi aku harus pergi sekarang. " ucapnya sesaat setelah Karan menjauhkan tangannya. Karan menghela nafas berat, menatap lekat wajah Rifaya.


"Tinggalah di sini bersamaku Rifa, bukankah tubuh kamu perlu istirahat!


Rifaya merasa menyusahkan pria yang telah menolongnya ini. Diapun mengangguk kecil, Karan tersenyum tipis melihatnya. Gadis itu ingin bangkit, Karan dengan sigap membantunya. "Kau mau ke mana Rifa? " tanya Karan.


"Kamar mandi. " jawab Rifa singkat. Karan menggendongnya ke kamar mandi, Rifa benar benar merasa tidak enak dengan Karan.Dia buru buru mandi, setelah beberapa saat ke luar dan segera.berpakaian. Rifa ke luar dari kamar, dengan hati hati menuruni setiap anak tangga.


Dengan langkah pelan, Rifa mengamati setiap sudut mansion milik Karan.


"Aku Rifaya. " jawab Rifa pendek hal itu membuat wanita di depannya kesal. Diandra Camilla memperhatikan penampilan Rifa kemudian tersenyum sinis.


"Kau hamil, jangan jangan kau menggoda Karan dan menyuruhnya bertanggung jawab? " geram Diandra.


"Cukup, kau jangan berbicara sembarangan nona. " sergah Rifa dengan tatapan tajamnya. Diandra maju ke depan hendak menamparnya namun Karan datang dan menahan tangan gadis itu.


"Hentikan, apa yang kau lakukan Dian? " ketus Karan dengan wajah datarnya sambil menepis tangan Diandra.


"Kenapa kau membela wanita penggoda itu Karan hah. " Diandra merasa tidak terima, Karan mendesah kasar lalu menyeretnya paksa hingga ke luar. Rifaya tersenyum kecut, sikap Diandra barusan mengingatkan dirinya akan sikapnya yang kemarin, di mana dia berusaha merebut suami orang.


Karan kembali, memeriksa keadaan Rifaya. Rifa mengatakan dirinya baik baik saja, hal itu membuat Karan sedikit lega. Pria itu menuntunnya ke sofa, beristirahat di sana. Rifa menatap lekat wajah Karan, bagaimana bisa pria asing ini begitu baik padanya.


"Apa alasan kamu menolongku Tuan? " tanya Rifa penasaran.

__ADS_1


"Pertama panggil saja aku mas ataupun nama, kedua aku tak punya alasan apapun untuk menolong seseorang. " jawab Karan panjang lebar.


"Mas Danu. "


"Hm not bad!


Rifa sebenarnya belum percaya dengan jawaban Karan padanya, namun dia memilih diam. Dia usap perutnya yang menonjol dengan penuh kasih sayang, Karan terus memperhatikannya dengan lekat.


"Siapa Ayah dari calon anakmu Rifa, lalu di mana dia? " tanya Karan.


"Pria itu tak mau bertanggung jawab, justru dia meragukan bayi dalam kandunganku. " Rifaya tersenyum getir jika mengingatnya, dia juga mengatakan perbuatan buruknya selama ini pada Karan. Karan merasa bersalah membuat Rifaya bersedih, diapun meminta maaf padanya.


"Mas Danu tinggal sendiri di sini? " tanya Rifaya dengan lembut.


"Iya aku sendiri, setiap hari aku hanya sibuk dengan urusan kantor!


"Kenapa mas Danu gak nikah aja, biar ada istri yang mengurus kamu mas. " jawabnya sambil menatap kearah Karan. Karan tersenyum kecil melihat Rifaya yang begitu penasaran.


"Belum ada yang cocok!


Rifaya mengangguk paham, setelah itu tak lagi bertanya. Untuk sekarang dirinya hanya ingin fokus pada bayi dalam perutnya, untuk masalah Dika untuk saat ini dia tak ingin memikirkannya. Karan mengeluarkan sebuah kartu lalu di serahkan pada Rifaya, Rifaya tampak bingung. "Kau bisa mengunakan kartu ini untuk membeli kebutuhanmu Rifa, termasuk susu ibu hamil. " ujar Karan.


"Sepertinya tidak perlu mas, aku dan calon bayiku bukanlah tanggung jawabmu. " tolak Rifa secara halus.


"Aku tidak menerima penolakan. " Karan menaruh kartunya di tangan Rifa, Rifapun menghela nafas kasar dan tak lagi membantahnya. Dia teringat kedua orang tuanya yang telah mengusir dirinya, hal itu membuat hatinya kembali berdenyut nyeri. Kini dia sendirian, hanya bayi dalam kandungan lah yang dia miliki sekarang.


"Sekali lagi maafkan mama sayang, kamu harus hadir dalam perut wanita seperti mama. " batin Rifaya lirih. Melihat raut sedih di wajah Rifa, membuat Karan tak tega melihatnya.


"Ayo kita berangkat sekarang, beli keperluan kamu sekalian jalan jalan. " ujar Karan. Pria itu membantunya berdiri, Rifaya hanya diam saat dirinya di peluk oleh Karan. Selama perjalanan tak ada yang berbicara, Rifaya larut dalam pikirannya sendiri.


"Ini karma untukku karena mengusik hidup Binar dan Bara, Binar maafkan aku. " Rifaya tak lagi memiliki muka jika harus bertemu dengan Binar dan Bara, pasangan yang dia usik hidupnya. Rifaya merasa beruntung, Tuhan masih memberi kesempatan dan dia menyesal di saat semuanya belum terlambat.


"Sayang, mama sayang kamu nak dan sehat sehat di perut mama ya. " ucapnya sambil mengusap perutnya sendiri. Karan tersenyum tipis mendengar ucapan Rifa yang masih bisa dia dengar.

__ADS_1


tbc


__ADS_2