Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Epson 104 ~ MUSIM KEDUA Part 30 - SANGAT CEMAS


__ADS_3


Pagi ini Jenny tengah berdiri di teras samping, menunggu kepulangan suaminya. Ya Edzard kini tengah pergi ke pengadilan mengurus surat perceraiannya dengan Melisa. Jennypun mengusap perutnya yang menonjol dengan lembut, dia masih tak menyangka dirinya hamil di usianya yang sekarang. Diapun memutuskan ke luar dari mansion, Jenny tertegun melihat kehadiran Melisa di rumahnya.


"Melisa, ada apa kamu kemari? " tanyanya ketus.


"Aku dan Edzard telah resmi bercerai, aku kemari ingin minta maaf sama kamu. " ujar Melisa dengan tulus.


Tin tin suara klakson mobil membuat kedua wanita hamil itu menoleh, Edzard turun dari mobilnya dan bergegas menghampiri sang istri. Dia menatap tajam wanita yang menjadi mantan istrinya itu. "Untuk apa kamu kemari Melisa, apa belum puas kamu membuat kekacauan. "


"Aku kesini benar benar ingin minta maaf pada kalian, maafkan aku atas semua kesalahanku pada kalian terutama kamu Edzard. "


Jenny berusaha menenangkan suaminya, dia kembali menatap Melisa dengan senyuman tulus. "Kami memaafkanmu Melisa asal jangan mengulanginya lagi!


"Iya Jenny terimakasih, kalau begitu aku


pergi. " Melisa berbalik dan melangkah pergi jauh dari pandangan Edzard dan Jenny. Setelah kepergian Melisa, Jenny beralih menatap suaminya dengan kesal.


"Mas jangan kasar sama Melisa bisa enggak sih, semua orang berhak diberi kesempatan kedua mas. " Edzard menghela nafas panjang, merangkul bahu sang istri, dia memilih mengalah daripada istrinya marah marah padanya.


"Iya sayang maafkan aku! Edzard mengusap perut menonjol istrinya dengan lembut. Dia langsung membawa istrinya itu untuk duduk di kursi. Jenny berusaha mengontrol dirinya yang terlihat kesal dan emosi, dia mengusap perutnya dengan lembut.


Edzard menarik tubuh istrinya hingga bersandar di dadanya, dia mengusap perut menonjol sang istri dengan lembut. Jenny menoleh kearah suaminya, tanpa ragu dia memagut bibir seksi Edzard dengan malu malu.


Edzard menyudahi ciumannya, dia mengusap pinggul sang istri kemudian bibirnya kini melengkung membentuk senyuman.


**


Di sisi lain Melisa kini berada di pusat perbelanjaan, tanpa sengaja dia bertemu dengan Dexter dan kekasihnya Selly. Selly bergelayut manja di lengan Dexter, dengan sengaja wanita itu memanasi Melisa.

__ADS_1


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini Mel. " Dexter menyerahkan undangan pernikahan kepada Melisa, Melisa menerimanya dan menatap nanar undangan tersebut.


"Aku ingin kau hadir dalam pesta pernikahanku Melisa! ngomong ngomong apakah kamu sudah meggugurkan kandunganmu. " Melisa berusaha tenang, meski dalam hatinya bergejolak mendengar penuturan Dexter.


"Iya aku menggugurkannya, " Melisa menatap datar pasangan di hadapannya. Merasa muak dia berjalan melewati keduanya dan membuang undangan itu. Namun Selly mencekal lengan tangannya, hingga langkah Melisa terhenti dan menoleh kearahnya.


"Kenapa kamu pergi begitu saja, harusnya kamu memberikan selamat pada kami Nona atau jangan jangan kamu berniat merebut Dexter dariku. " Sekali lagi kesabaran Melisa tampaknya di uji, Selly menyeringai, menatap sinis pada Melisa. Melisa menghela nafasnya, dia kembali menatap Selly dengan tatapan tajamnya.


"Ck siapa juga yang mau merebut sampah seperti dia, sang penjahat kelamin dan aku harap kamu tak menyesal, jika kelak kamu tertular penyakitnya, mengingat Dexter seringkali celap celup sana sini. " Melisapun berlalu pergi dari sana meninggalkan sepasang kekasih yang kini terlihat menahan emosinya.


"Cih wanita murahan munafik! Selly menatap kepergian Melisa dengan raut kesalnya, Dexter segera mengajaknya ke dalam pusat perbelanjaan.


Setelah berjalan sedikit jauh, Melisa menitikkan air matanya mendapati ayah dari janinnya sebentar lagi akan menikahi wanita lain. Diapun menekan sedikit dadanya yang terasa sesak, Melisa menghela nafas panjang dan mengahups air matanya.


Dia melanjutkan langkahnya dan tertegun melihat Alex berdiri tak jauh dari tempatnya. Alex berjalan cepat menuju kearahnya, dia membawa Melisa ke pelukannya. Pria itu melepaskan pelukannya, memandang Melisa dengan raut khawatirnya. " Kamu baik baik saja 'kan Elly, apa pria brensek itu menyakiti kamu. " cecar Alex.


"Aku enggak papa mas!


Alex membawa Melisa ke mobil, dia melajukan mobilnya menuju ke mansion miliknya. Selama perjalanan, Melisa memilih menatap kearah luar kaca mobil, pikirannya entah melayang ke mana.


Skip


Keduanya masuk ke dalam mansion, Melisa menarik tangannya dari genggaman Alex. Dia menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap Alex dengan tatapan sulit di artikan.


"Mas punya kehidupan sendiri, tak seharusnya mas Alex tak membuang waktu hanya untuk mengurusi ku. " Alex hanya diam tak menanggapi ucapan wanita hamil ini, dia meraih pinggang Melisa lalu merengkuhnya.


"Maafkan aku Elly, mungkin sikapku yang membuat kamu enggak nyaman. " Keduanya pergi ke ruang tamu, beristirahat di sana. Melisa bersandar di sofa sambil mengusap perutnya yang rata, hal itu tak luput dari pandangan Alex.


**

__ADS_1


Sedangkan Jingga kini tengah bermain dengan Daniel. Lagi lagi dia membekap mulutnya, bangkit dan berlari ke kamar mandi.


Hoek hoek hoek


Jingga terus mengeluarkan cairan bening hingga tubuhnya terasa lemas. Setelah selesai dia segera membasuhnya dan kembali menemui puteranya Daniel. Daniel berlari kearahnya, matanya nampak berkaca kaca kearah bundanya. "Bunda kenapa, bunda kok mual mual, apa bunda tengah sakit. "


Jingga langsung berlutut, mengusap puteranya dengan lembut. "Bunda enggak papa sayang, cuma mual saja kok nanti juga hilang!


Daniel langsung memeluk sang bunda, Jingga pun bangkit dan menggendong puteranya, membawanya ke ruang tamu. Jingga menghela nafas panjang, dia merasa bingung kenapa setiap hari mual mual padahal dirinya enggak hamil.


"Apa aku periksa saja ya ke dokter, sebaiknya nanti aku periksa deh. " Jingga berharap tidak terjadi apa apa pada tubuhnya, dia beralih memperhatikan putera kecilnya.


Kedua mertuanyapun datang berkunjung, Jingga langsung memeluk keduanya secara bergantian. Diapun menjelaskan mengenai Daniel pada mami dan papinya. "Daniel sayang, mereka ini nenek dan kakek kamu juga kak. " ujar Jingga.


"Benarkah Bunda? "


Jingga mengangguk, si bocah tampan menghampiri nenek dan kakeknya. Mami Kirana nampak senang dan gemas pada cucu angkatnya itu. "Cucu nenek sangat tampan ya, Daniel mau minta apa dari nenek? "


"Daniel mau minta dibuatin puding, boleh 'kan nek!


" Tentu saja boleh sayang. " Mami Kirana mengusap kepala cucunya dengan lembut. Jingga merasa lega, ternyata kedua mertuanya menerima kehadiran Daniel dengan baik.


"Mami, Papi aku titip Daniel ya, aku mau pergi ke dokter sebentar!


" Memangnya kamu sakit apa sayang? " Mami terlihat sangat khawatir dengan keadaan menantunya.


"Pusing dan mual Mi, padahal aku enggak hamil!


" Ya sudah kamu pergilah sayang. " Jingga mengangguk, dia mencium kening puteranya setelah itu berlalu pergi. Jingga masuk ke mobil, dia meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah sakit.

__ADS_1


Selama perjalanan ke rumah sakit, Jingga mengirim chat pada suaminya, namun tak mengabari jika dia pergi ke rumah sakit. Dia tidak mau membuat suaminya khawatir dan meninggalkan pekerjaannya, hanya karena dirinya.


bersambung


__ADS_2