
Othor bakal up double jika Like π di bab ini mencapai angka 100 kalau bisa lebih π€π€π€ππ
Tepat 02.00 siang, Zayn mengantar istrinya ke sebuah Cafe. Senjapun mulai melepas sabuk pengamannya, setelah itu menoleh kearah sang suami. "Kamu tunggu di sini saja ya Mas!
"Biar aku temenin saja ya Yank!
" Enggak usah deh Mas, tenang saja lagian banyak orang dan gak mungkin juga si kutu loncat berani mencelakaiku. "
Zaynpun menghela nafas pelan, mencium bibir istrinya sekilas. Senjapun turun dari mobil, menutup pintunya pelan dan bergegas masuk ke dalam Cafe. Zayn menatap kepergian istrinya dengan raut khawatirnya, dia sangat berharap istrinya baik baik saja.
di dalam Cafe.
Kini Senja duduk berhadapan dengan Tya. Dia sebenarnya malas harus datang menemui rivalnya itu, namun dia tidak ingin Tya terus menerus mengirim chat pada Zayn suaminya. "Sebenarnya ada apa kamu memintaku untuk bertemu? "
"Bisakah kamu memberiku kesempatan, sekali saja aku ingin menghabiskan waktu bersama Zayn pria yang aku cintai, berusaha membuat kak Zayn mencintaiku. "
Senjapun terkejut mendengar permintaan konyol Tya, dia langsung membuang nafas kasar kemudian kembali memandang Tya.
"Ck aku bukan wanita baik dan lembut, seperti dalam sinetron yang membiarkan wanita lain mendekati suaminya!
"Kenapa kamu berkata seperti itu, apa kamu tengah mengidap penyakit berbahaya hingga meminta satu permintaan. " cecarnya.
Tya pun tak berkata apapun, tenggorokannya terasa tercekat mendengar pertanyaan dari Senja. Senjapun melipat tangannya di dada kemudian tersenyum sinis kearah Tya.
Otak si kutu loncat perlu di upgrade kali ya ckck
"Apa kamu enggak kasihan, aku tengah hamil anak Mas Zayn dan bisa bisanya kamu memintaku untuk memberi kesempatan untuk dengan suamiku, heh sungguh konyol sekali!
Deg Tya terkejut dengan kenyataan yang disampaikan oleh Senja. Hatinya bergemuruh, merasakan sakit yang tak kasar mata namun dia tak bisa berbuat apa apa. Keheningan menyapa keduanya, diantara mereka tak ada yang mengatakan satu katapun.
Setelah lima belas menit, Senjapun bangkit dan pergi meninggalkan Tya sendiri. Tya hanya diam dan mengusap wajahnya kasar, sepertinya memang tak ada lagi kesempatan dirinya untuk meraih cinta Zayn.
o(γοΌΎβ½οΌΎγ)o
Brak Senja membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam, Zayn langsung melakukan mobilnya meninggalkan Cafe. Sesekali dia melirik istrinya yang tengah menggunakan sabuk pengaman kemudian memalingkan wajahnya ke samping.
__ADS_1
Huft mana ada wanita yang mengizinkan suaminya di dekati wanita lain ck, kecuali wanita itu memang gila.
" Yank, kenapa apa terjadi sesuatu? "
Senjapun menoleh menatap suaminya sambil tersenyum. Diapun mengatakan semuanya pada Zayn tanpa terkecuali. Zayn memilih tak berkomentar, apa yang diperbuat istrinya memang sudah benar.
Lebih baik mencegah sebelum timbul pelakor dalam rumah tangga mereka.
Mobil pun masuk ke halaman mansion dan terparkir di sana. Zayn melepas sabuk pengamannya begitu juga dengan Senja, dia mengusap pipi istrinya dengan lembut. Senja menoleh kearah suaminya, meraih tangan sang suami kemudian mengenggamnya. "Kenapa Yank, pengen ya main sama mr bimbim. " canda Zayn.
"Mas Zayn. " kedua pipi Senja merona, dia memukul dada sang suami. Senja berdecak kesal, dirinya lagi serius malah suaminya menggodanya. Zayn tertawa kecil melihat rona merah dipipi istrinya kemudian tersenyum. "Soal Tya, jangan kamu pikirin oke, lagian apa yang telah kamu lakukan sudah benar. Aku sangat suka saat kamu bersikap posesif padaku Yank. " ungkap Zayn.
"Habisnya, kalau aku enggak posesif pasti kamu sudah ditempeli sama ulat keket, buaya betina, rubah kegatelan atau janda kurang belaian. " cerocosnya.
Hahahaha
Tawa Zayn langsung pecah mendengar istilah istilah yang disebutkan istrinya. Dia merasa lucu jika istrinya itu sudah kesal dan cemburu pada wanita lain yang berusaha menggoda dirinya. "kamu sangat lucu dan tambah menarik jika sedang cemburu kayak gini. " ujar Zayn sambil terkekeh.
Zayn mencubit pipi sang istri kemudian turun dari mobil di susul Senja. Senja merangkul pinggang suaminya, bersama sama masuk ke dalam mansion.
β£οΈβ£οΈ
Kirana POV
Andaikan Mamah dan Papah bersikap ramah sama Erwin pasti aku akan sangat bahagia. Nyatanya semuanya tak sesuai dengan angan anganku.
"Nak Andra silakan di minum kopinya. " tawar Mamah Risna.
"Iya Tante terimakasih! Andrapun menyesap kopinya sambil melirik kearah Kirana. Kirana langsung membuang muka kearah lain, dia memilih memainkan ponselnya tanpa peduli kehadiran Andra.
"Kiran sayang, Mamah dan Papah akan pergi ke rumah Paman dan Bibi kamu, Kamu tinggal sendiri enggak papa 'kan ya. "
"Memangnya kapan berangkatnya Mah. " tanya Kirana.
"Hari ini sayang. Oh ya nak Andra, kami titip Kirana ya nak. "
__ADS_1
"Iya Tante. " sahut Andra tersenyum tipis.
"Ya sudah Mamah dan Papah hati hati ya. " Mamah Risna mengangguk, wanita paruh baya itu bangkit dan berlalu pergi dari sana di susul Papah Arif. Tak lama kemudian orang tua Kirana kembali dan segera menyeret koper mereka melewati ruang tamu lalu ke luar dari mansion. Kirana menatap sendu kepergian kedua orang tuanya, Andra yang sejak tadi diam hanya bisa memperhatikannya, bingung harus menghiburnya bagaimana.
"Oh ya mengenai Erwin bagaimana Ndra? " cecar Kirana merasa penasaran.
Andra terdiam, dia merasa tidak tega harus mengatakan kebenaran mengenai Erwin. Diapun hanya menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan. begiru terus dia lakukan berulang ulang.
"Katakan Ndra apa yang kamu ketahui tentang Erwin!
"Sebaiknya besok kamu ikut aku ya ke apartemen Erwin, Kirana. "
Kirana menaikkan sebelah alisnya, terlihat bingung namun akhirnya mengangguk. Entah kenapa firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk, ada hal yang akan terjadi padanya terlebih hubungannya dengan Erwin.
Kirana menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskannya pelan. Sebenarnya dia masih berharap, Erwin mau berjuang demi hubungan mereka tapi nyatanya dia menghilang tanpa kabar, hilang di telan bumi. Dia tidak pernah mengajaknya ketemuan lagi, hanya lewat chat singkat atau videocall.
"Sebenarnya kamu kemana sih Win, kamu masih cinta enggak sih sama aku! Lagi dan lagi pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya, tanpa tercurah di hadapan Erwinnya langsung.
Ehem
Kirana tersentak dari lamunannya, dia melirik kearah Andra yang kini tengah memperhatikan dirinya. "Sudah puas ngelamunnya, kamu pikir aku patung apa di abaikan sejak tadi. " gerutu Andra.
"Sensi amat sih Ndra, kayak cewek pms saja kamu! ledek Kirana.
Andra mendengus keras, merasa kesal karena diledek Kirana. Diam diam dia mengulas senyumnya, melihat Kirana kembali ceria seperti semula. Setidaknya Kirana tidak terus menerus memikirkan Erwin, pria br***"s**k itu.
"Eh ngomong ngomong, kenapa kamu tidak memiliki kekasih Ndra? "
"Aku baru putus dari dia. " jawab Andra dengan nada datarnya.
"Oops maaf ya, aku enggak tahu! Andra mengangguk, tak mempermasalahkan hal itu.
Kirana tersenyum kearah Andra kemudian berkata. " Kata orang obat patah hati itu adalah jatuh cinta lagi. "
"Oh ya aku enggak percaya!
__ADS_1
"Cobalah sendiri, kamu hapus semua kenanganmu bersama mantan, setelah itu membuka lembaran baru. Biarkan orang asing masuk ke dalam hidupmu dengan perlahan. " jelas Kirana.
tbc