
Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi, buru buru Binar bangun dan membersihkan tubuhnya. Setelah siap gadis itu segera membangunkan Adrian. "Adri sayang ayo bangun nak. " bisik Binar dengan lembut.
"uh mommy, Adli masih antuk." Adrian membuka matanya, bangun dan merengek pada sang mommy.
"Ini sudah pagi sayang, ayo mommy mandiin Adri. " ucap Binar.
"No Adli bica mandi cendili mommy. " protes Adrian. Bocah itu turun dari sofa, langsung pergi ke kamar mandi. Binar menahan senyumnya, merasa gemas dengan tingkah Adrian. Beberapa menit berlalu Adrian ke luar, Binar segera membantunya berpakaian setelah itu mengajaknya ke luar.
Binar menurunkan Adri di meja makan, merasa canggung berada di dekat orang tua Bara. "Binar, tante boleh minta tolong sama kamu nak? " tanya Nyonya Vina.
"Minta tolong apa Tante eh nyonya. " Binar meralat ucapannya, benar benar canggung.
"Tolong bangunkan Bara. " jawab Nyonya Vina.
Binar sebenarnya ingin menolak namun merasa tidak enak, akhirnya memilih mengangguk. Gadis itu beranjak dari sana dan kembali ke atas, Binar nampak ragu untuk memasuki kamar Bara.
Tok
tok
Merasa tak ada jawaban, Binar mendorong pintunya dan masuk ke dalam. Gadis itu sampai menahan nafasnya, melihat Bara yang tertidur terlentang, memperlihatkan tubuhnya yang tak terbalut pakaian atas. Dengan langkah pelan mendekati Bara, Binar langsubg menyentuh lengan itu kemudian menggoyangkannya.
"Tuan Bara, ayo bangun. " ucap Binar dengan pelan.
Mendengar suara merdu Binar, Bara membuka matanya kemudian tersenyum tipis, menarik tangan sekretarisnya hingga jatuh di atas tubuhnya. "Astaga tuan, apa yang anda lakukan. " pekik Binar dengan raut terkejut sekaligus was was.
"Nyonya Besar dan Tuan Besar telah menunggu kita tuan, tolong lepaskan saya. " pinta Binar dengan nada formalnya.
"Berhenti memanggilku Tuan, Binar aku merasa risih mendengarnya, mulai sekarang panggil aku mas Bara. " titah pria itu dengan tegas kemudian mengecup singkat bibir mungil milik Binar. Binar menatap tak percaya, gadis itu melotot lalu menyingkir dari atas tubuh Bara.
"Tuan Bara. " ujar Binar kesal.
"Keluarlah dulu Bi, atau kau mau menemaniku mandi? " Bara menaikturunkan alisnya, menggoda Binar. Binar menggeleng dengan cepat, berlari ke luar dari kamar bossnya. Bara terkekeh, pria itu berjalan santai menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
"Binar, di mana Bara? " tanya Nyonya Vina dengan nada hangatnya.
"Tuan Bara sebentar lagi turun nyo eh Tante. " ucap Binar tersenyum canggung.
Tak lama Bara turun dan bergabung bersama mereka, pria itu justru melirik kearah Binar namun gadis itu memalingkan wajahnya. Binar memilih menyuapi Adrian yang sudah dia anggap seperti puteranya sendiri. "Makan yang banyak sayang, biar Adri cepat tumbuh besar. "
"Iya mommy, kalau Adli becal anti Adli inin jaga mommy. " celoteh Adrian dengan bahasa cadelnya. Semua orang tersenyum mendengar ucapan polos Adrian. Binar tak lupa mengusap bibir Adrian menggunakan tisu.
"Mommy sama Daddy berangkat kerja dulu sayang, Adrian sama opa dan oma ya. " bujuk Binar dengan senyuman manisnya.
"Iya Mommy, Adli janji tak akan nakal, dan tak melepotkan oma dan opa. " jawab si kecil Adrian. Binar mencium kening Adrian bergantian dengan Bara, mereka berpamitan pada orang tua Bara.
Selama perjalanan tak ada yang bersuara, Binar justru asyik dengan ponselnya. Bara meliriknya sekilas, raut wajahnya berubah masam.
Drt
drt
"Ya halo kak, apa baiklah aku akan ke sana. " ucap Binar terbata bata.
"Mas Bara, kita ke rumah sakit sekarang mas. " ujar Binar dengan mata berkaca kaca. Bara mengangguk, melajukan mobilnya kencang menuju ke rumah sakit.
Binar dan Bara bergegas menuju ke tempat di mana keluarganya berada. Di sana dia melihat Berlin dan lainnya berada di luar ruangan. "Kak Elin sebenarnya apa yang terjadi sama mami? " tanya Binar pada kakaknya.
Berlin datang, memeluk adik yang telah lama dia rindukan, wanita hamil itu mengatakan kejadian yang menimpa ibu mereka. Binar terkejut mendengarnya, air matanya luruh seketika. Dia hampir tak mampu menopang tubuhnya, Bara menahan dan memeluknya dengan erat.
"Kakak pasti bohong 'kan, enggak mungkin mami punya penyakit jantung? " ucap Binar merasa tak percaya. Berlin terlihat diam, tubuh Binar lemas dalam dekapan Bara.
"Sejak kapan kak Elin? " tanya Binar terbata bata.
"Tiga tahun terakhir Binar. " jawab Berlin dengan lirih.
Deg
Binar menyentuh dadanya yang terasa sesak, kepergian dirinya dua tahun lalu membuat penyakit ibunya kambuh. Gadis itu berjalan gontai mendekati ruangan rawat sang mami, terlihat para dokter tengah memeriksa keadaan wanita paruh baya itu. Setelah menghubungi asistennya, Bara berjalan menghampiri Binar kemudian memeluknya.
__ADS_1
"Hiks mami mas, mami kembali sakit setelah kepergianku hiks. " racau Binar sambil sesegukan dalam pelukan Bara. Bara merasa sesak melihat keadaan Binar yang begitu rapuh.
Semua orang menangis melihat betapa histerisnya Binar melihat keadaan sang ibu. Tante Zinnia dan Tante Freya segera menenangkan kedua keponakan mereka itu, memberi semangat untuk keduanya. Berlin kini memeluk suaminya dengan erat, Damian memberikan semangat untuk istrinya, menegurnya jika dia tengah hamil sekarang.
"Dokter bagaimana keadaan mommy saya? " tanya Binar setelah menghapus air matanya.
"Keadaan Nyonya Meira baik baik saja, hanya perlu istirahat dan tak boleh melakukan pekerjaan yang berat. " ujar Dokter.
"Bolehkah kami menjenguknya dokter? " tanya Berlin tak sabar.
"Tentu saja Nona. " Berlin dan lainnya segera masuk ke dalam, Binar memilih duduk di ruang tunggu. Bara menggenggam tangan Binar dengan erat, menatap lekat wajah gadis di sebelahnya.
"Bi, kenapa kamu tidak masuk ke dalam? " tanya Bara.
"Enggak mas, aku merasa bersalah sama mommy, mommy seperti ini karena selama dua tahun ini pasti memikirkan aku. " jawab Binar dengan lirih.
"Binar, ayo masuk ke dalam mami mencarimu dek. " ujar Berlin. Binar menghela nafas pelan, Berlin merasa geregetan menarik adiknya ke dalam ruangan rawat mami mereka.
"Mami. " Binar segera mendatangi sang mami tercinta, nyonya Meira mengusap lembut kepala puterinya dengan lembut.
"Sayang mommy hanya kelelahan nak, jangan cemas!
Binar mengangkat wajahnya, gadis itu terlihat sangat khawatir dengan keadaan sang mami tercinta. Nyonya Meira mengalihkan perhatiannya kearah Bara kemudian kembali menatap putrinya. "Siapa pria itu sayang, apa kekasih kamu nak?
"Eh bu.. bukan mommy, dia Tuan Bara atasanku di kantor. " ucap Binar salah tingkah. Nyonya Meira mengulum senyumnya, melihat sikap putrinya yang malu malu membuatnya tertawa pelan.
"Mi, aku mau antar mas Bara dulu ya nanti aku kembali kok. " pamit Binar yang dijawab anggukan sang mami. Binar dan Bara ke luar dari sana, gadis itu mengantarnya hingga ke parkiran rumah sakit.
"Makasih ya mas, kamu sudah mau antar aku ke rumah sakit. " ucap Binar dengan senyuman manisnya.
"Sama sama. "
"Mas Bara enggak ke kantor? " tanya Binar dengan tatapan penasaran.
"Urusan kantor sudah aku alihkan pada asistenku Binar, kamu jangan khawatir. " sahut Bara.
__ADS_1
"Kita ke kantin saja yuk. " Bara mengandeng tangan Binar, mengajaknya pergi ke kantin. Jantung Binar berdegup kencang, melihat tangannya yang di genggam bara membuatnya malu. Binar merasa kagum dengan atasannya, dia tak menyangka Bara mau makan di kantin, biasanya orang kaya memilih tempat yang mewah.
tbc