Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC PART 15 - SALING MEMAAFKAN


__ADS_3

Sepulang dari honeymoon tepatnya beberapa hari lalu, kedatangan Valerie hari ini membuat mood Meira semakin buruk. "Untuk apa kau datang ke mari, mau memggoda suamiku. " ketus Meira.


"Sayang hentikan. " tegur Aiden pada istrinya.


"Kau bela MANTANMU. " geram Meira dengan tatapan sinisnya. Aiden menghela nafas kasar, dia harus lebih banyak bersabar menghadapi istrinya yang tengah hamil. Dia beralih menatap Valerie, dengan tatapan datarnya.


"Pergilah dari sini, sebelum istriku mengamuk padamu. " ujar Aiden.


Valerie berdecak, wanita itu beranjak dan langsung pergi begitu saja. Meira mengusap perutnya yang terlihat menonjol, mengabaikan suaminya yang sejak tadi mengajaknya berbicara.


"Sudahlah kau kekanakan Meira, aku sudah berkali kali bilang jika antara aku dan Valerie tidak ada apa apa. " Aiden bangkit, lalu pergi meninggalkan istrinya dengan kekesalan di wajahnya.


Meira tersenyum getir, wanita hamil itu menghapus setitik air di sudut matanya, dia begitu sangat sensitif jika melihat Valerie datang. Semenjak hamil hingga usia kandungannya memasuki bulan ketiga, dia merasa takut jika suaminya akan tergoda akan kehadiran Valerie. Tetapi suaminya seakan tidak peka atau tidak mengerti keadaannya.


Dari jauh Aiden memperhatikan istrinya, dia menghela nafas panjang dan merasa bersalah pada wanitanya. Tak lama Ryan datang bersama si kecil Alana, hal itu membuat rahang Aiden sedikit mengeras.


"Mami. " Alana langsung mencium kedua pipi Meira, wanita hamil itu membalasnya dengan kecupan di kening puterinya. Ryan tersenyum tipis, terbesit rasa bersalahnya pada mendiang istrinya Saras yang dia perlakukan semena mena.


"Bagaimana hubunganmu dengan Velove, Ryan? " tanya Meira dengan santai.


"Velove menjauhiku, mungkin ini karma untukku dan dokter memvonis aku terkena penyakit, namun aku berusaha melakukan segala pengobatan agar sembuh demi puteriku Alana. " pungkas Ryan.


"Ya sudah aku pamit pulang dulu, sampaikan salamku pada Aiden. "


"Papa, Alana masih kangen sama papa Ryan. " rengek bocah manis itu. Ryan menoleh kearah Meira dan dibalas anggukan, pria itu membawa Alana bersamanya. Aiden datang, mengambil tempat di sebelah istrinya.


"Sepertinya kamu nyaman mengobrol dengan Ryan. " sindir Aiden pada istrinya. Meira memilih diam, wanita hamil itu malas berdebat dengan suaminya. Melihat respon istrinya, membuat Aiden semakin kepanasan. Pria itu hendak meraih tangan sang istri namun dengan cepat Meira menepisnya.


"Kau cemburu bukan, saat aku mengobrol dengan Ryan begitu juga aku, namun sepertinya kamu pura pura bodoh ya. Kamu justru membalas pelukan mantan terindahmu, apa kau tahu melihatnya membuatku sakit Aiden. " pungkas Meira.

__ADS_1


"Aku semakin ragu denganmu, aku yakin jika kamu hanya menjadikanku pelarianmu dan membuatku mengandung anakmu agar aku tidak bisa kabur. " ucap Meira dengan lirih.


"Jangan berbicara sembarangan Meira. " sentak Aiden.


"Entahlah, apa aku bisa mempertahankan hubungan kita. "


Deg


Aiden merasakan ketakutan luar biasa, mendengar ucapan istrinya, dia tidak ingin berpisah dari wanita yang dicintainya. Meira juga begitu sakit mengatakan kalimat yang dia ucapkan sendiri. Aiden menoleh, menatap sendu kearah sang istri yang kini memalingkan wajahnya. "Amor, jangan berbicara seperti itu sayang, aku tidak ingin mendengarnya. " racau Aiden dengan tatapan sendunya.


"Maafkan aku sayang, maaf. " sesal Aiden sesaat setelah menyadari kesalahamnya.


Aiden mengangkat tubuh istrinya ke atas pangkuannya, dia memeluknya dari samping. Meira menangis dalam dekapan suaminya, meluapkan kesedihan. "Maafkan aku juga


Bee. " gumamnya.


Satu jam berlalu Aiden menyudahi kegiatan panas mereka, menarik selimut menutupi tubuh keduanya. Aiden memperhatikan istrinya yang terlelap, sepertinya Meira benar benar kelelahan.


"Maafkan aku yang melukai hatimu sayang, aku tidak ingin kehilanganmu dan tetaplah berada disisiku. " gumam Aiden dengan lirih.


Aiden segera membersihkan dirinya lalu berganti pakaian, kemudian membersihkan tubuh sang istri dan tak lupa memakaikan daster.


##


Cahaya matahari mulai meninggi, pertanda hari mulai terang. Meira bangun terlebih dulu, wanita itu menatap wajah lelap sang suami. Lalu turun dri ranjang, membersihkan diri di kamar mandi. Setelah dengan aktivitas paginya Meira ke luar dari kamar.


"Kak Meira. " Lily datang menemuinya gadis itu langsung memluk tubuh Meira dan menangis. Meira dibuat heran dan penasaran, apa yang membuat Lily menangis seperti ini. Wanita hamil itu mengajak Lily ke ruang tengah, tak lupa memanggil pelayan, untuk membuatkan minuman.


"Katakan Ly, ada apa kenapa kamu menangis? " tanya Meira lembut.

__ADS_1


"Darren mempermainkanku kak, dia hanya ingin tubuhku tanpa mau hertanggung jawab. " Lily menceritakan semuanya pada Meira, Meira sangat syok akan apa yang dikatakan Lily.


"Pria itu. " geram Meira.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan janinmu Lily!


"Aku akan merawatnya kak. " tegas Lily. Gadis itu mengusap perutnya yang rata, dia kini tengah tersenyum getir mengingat apa yang diucapkan Darren semalam. Lily merasa begitu sangat bodoh, mudah percaya pada janji manis yang diucapkan pria duda tersebut.


Meira menghela nafas panjang, tak bisa berbuat banyak karena semuanya telah terjadi. Dia hanya bisa mendukung keputusan Lily untuk saat ini. "Kak, maaf ya aku selalu merepotkan kakak, untuk sementara aku akan tinggal di kontrakanku. "


"Tapi Ly.. "


"Please kak Meira, aku akan menanggungnya sendiri dan aku janji akan jaga diri dan calon anakku. " ucapnya meyakinkan Meira.


"Ya sudah aku pamit pulang, " Lily bangkit, pergi meninggalkan kediaman Aiden dan Meira. Aiden menuruni tangga, melihat kepergian Lily kemudian duduk di sebelah sang istri. Mereka berdua hanya bisa saling melirik aatu sama lain, Aiden hanya diam setelah istrinya bercerita mengenai Lily.


"Darren benar benar pria pengecut,tak mau bertanggung jawab pada Lyla dan aku benar benar menyesal memiliki teman seperti dia. " sungut Meira sebal. Aiden mengenggam tangan istrinya, pria itu berusaha menenagkan emosi sang istri.


"Bee, apa sebaiknya kita susul Lily, aku khawatir dengan keadaannya. " ucap Meira pada suaminya.


"Jangan sayang, biarkan Lily menenangkan dirinya dulu setelah itu kita temui dia, setelah keadaan sia tenang. " Meira mengangguk, wanita itu bersandar di dada sang suami.


"Ayo ikut aku ke kantor sayang, biar aku semangat kerjanya. " Keduanya bangkit, Aiden merangkul istrinya dan keluar dari mansion. Dia meminta supir untuk menyetir, Aiden ingin selalu dekat dengan sang istri.


Tangan besarnya menyentuh perut Meira yang menonjol dengan lembut, hati wanita itu menghangat merasakan sentuhan sang suami di atas perutnya. Meira tersenyum manis yang dibalas kecupan oleh Aiden, membuat rona merah menyembul di pipinya.


Setelah sampai kantor, Aiden menggandeng istrinya menuju ke ruangan, kedatangan mereka di sambut para karyawan. Meira merasa canggung dengan para karyawan sang suami yang kini berbisik membicarakan dirinya, namun sebisa mungkin dia tetap tenang.


tbc

__ADS_1


__ADS_2