EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
10. Ada maunya?


__ADS_3

Hari kedua liburan di Bali, Yara justru merasa tidak enak badan. Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian semalam bersama Sky? Entahlah... rasanya Yara malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur.


Yara melihat Juna yang masih tertidur disisinya. Entah kenapa Yara jadi merasa bersalah pada suaminya itu. Tidak perlu ditanya pada siapapun, Yara tahu ia sudah salah sebab menerima perlakuan Sky malam tadi. Dengan kata lain, itu sama saja jika ia telah mengkhianati sang suami.


"Maafin aku, Mas." Yara hanya bisa membatin. Ia tidak mungkin berani mengatakannya terang-terangan dihadapan Juna.


Bagaimanapun, ia tidak boleh egois, bukan perasaannya saja yang harus dimengerti. Kendati ia masih sulit menghapus Sky selama 11 tahun belakangan, tapi disini, tetaplah Juna yang menjadi suaminya. Maka, pantas saja jika ada rasa bersalah yang terbersit dipikiran wanita itu.


Juna terbangun dari tidurnya, ia merasa seseorang tengah mengawasinya. Saat didepannya ada Yara, ia mengulurkan tangan dan mengelus pipi wanita itu.


"Kenapa?" tanya Juna heran. Tak biasanya Yara menatapinya dengan tatapan sendu seperti ini.


"Gak apa-apa, Mas."


"Kamu sakit? Kok suhu tubuhnya agak panas, ya?"


Yara tersenyum tipis, ia senang Juna memperhatikannya. Terkadang sikap Juna memang sulit ditebak.


"Kayaknya aku demam, Mas."


"Ya udah, hari ini kita di villa aja gak usah keluar."


"Kamu kalau mau keluar ya keluar aja, Mas. Jangan gara-gara aku kamu gak nikmatin liburan."


Juna melengkungkan bibirnya. "Sebenernya yang harusnya liburan disini itu kamu, bukan aku, aku cuma ngikut aja, kan?" kata pria itu.


"Ya mau gimana, aku gak enak badan, Mas."


Juna mendekat pada Yara, pria itupun mengecup singkat dahi istrinya.


Yara tertegun dengan perlakuan manis Juna. Sudah lama Juna tidak bersikap seperti ini. Yara bahkan lupa kapan terakhir kalinya Juna bersikap demikian. Pria ini hanya akan menciumnya jika sedang ada maunya saja. Diluar itu, Juna jarang melakukan tindakan yang romantis.


Apa sekarang Juna menciumnya juga karena ada 'sesuatu'?


"Aku boleh nanya gak, mas?"


"Tanya aja, kenapa harus izin gitu?" Juna tertawa pelan, menunjukkan gurat wajahnya yang menawan. Pria yang usianya lebih tua 3 tahun dari Yara itu memang tampak kharismatik. Orang lain yang baru mengenalnya, pasti mengira Juna adalah pria yang sangat sempurna.


"Di awal kita menikah, kamu perhatian sama aku. Sekarang kenapa enggak ya, Mas? Emm... maksudnya jarang, gitu. Kamu jangan tersinggung ya, Mas. Aku cuma mau kita terbuka satu sama lain. Apa kamu udah hilang rasa sama aku?"


Juna terdiam sejenak, tampak mencerna ucapan istrinya. Ia mengelus-elus rambut Yara dengan sangat perlahan. Tatapan mata elangnya mengunci pandangan Yara.


"Maaf ya, Sayang. Mungkin karena aku terlalu sibuk."


"Gitu ya, Mas. Ehm, mungkin aku juga yang terlalu baper." Yara terkekeh pelan.


"Iya, itu perasaan kamu aja kali. Aku selalu sayang sama kamu kok, Ra."


Yara bersyukur mendengar jawaban Juna. Hal ini sudah lebih dari cukup supaya ia tetap kuat mempertahankan pernikahan mereka. Mungkin kehadiran Sky hanyalah salah satu ujian dalam rumah tangganya bersama Juna.


"Ra?"


"Ya?" Yara kembali fokus pada pria yang berbaring miring disisinya.


"Aku boleh minta tolong, gak?"


"Tolong apa, Mas?"


"Ehm, gini, boleh gak kalau set perhiasan kamu aku jual?"

__ADS_1


Yara terbelalak melihat Juna. "Kamu bilang apa, Mas? Jual perhiasan? Buat apa?"


Juna menggaruk kepalanya singkat. "Ehmm... gini, itu... aku kan lagi mau buka bisnis, usaha gitu. Perlu modal, Ra."


Yara mengembuskan nafas kasar. Benar saja kecurigaannya, jika Juna sudah bersikap baik, pasti berujung dengan ada maunya. Yara melipat bibirnya menjadi sebuah garis lurus, mencoba berpikir bagaimana caranya ia menolak permintaan Juna tanpa menyinggung perasaan suaminya itu.


"Mas, aku bukannya gak mau ngasih set perhiasan itu. Kamu kan tau itu mahar pernikahan yang kamu kasi ke aku diawal pernikahan kita. Masa mau dijual?" Yara bicara dengan intonasi yang sangat lembut agar Juna memahaminya.


"Aku butuh, Ra. Kalau aku gak perlu, aku juga gak mungkin minta barang yang udah aku kasi ke kamu." Juna tampak nyolot.


"Memangnya kamu lagi mau coba buka usaha apa, sih, Mas? Kamu juga kan kerja, kenapa harus buka usaha? Emang bisa handle semuanya nanti?"


"Usaha itu aset, Ra! Untuk masa depan juga. Aku gak mau selamanya kerja dan ngabdi sama orang. Kamu paham, kan?" Juna beranjak dari tidurnya. Tak ada lagi sorot mata teduh yang tadi ia tunjukkan, sekarang hanya ada wajah penuh emosi, padahal Yara sudah berusaha berbicara dengan kepala dingin tapi Juna langsung marah-marah.


"Ya udah, kalau kamu emang perlu, aku bakal kasi. Tapi... boleh dong aku tahu usaha kamu di bidang apa?"


Juna menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Yara. Sudut bibirnya tertarik dan ia menunda untuk masuk ke kamar mandi.


"Aku mau buka usaha konveksi."


"Konveksi?" Yara terkejut dengan jawaban Juna, usaha seperti itu harus punya modal yang cukup, tidak bisa pas-pasan dan asal-asalan tanpa kemampuan.


"Iya, makanya aku butuh modal yang lumayan. Tabungan aku gak cukup, Ra. Makanya aku butuh bantuan kamu juga."


"Tapi, Mas? Kamu bilang tabungan kamu untuk buat rumah masa depan kita. Kenapa jadi untuk modal usaha?"


"Nanti uangnya bakalan cepat muter, Ra. Kan udah aku bilang usaha itu aset juga."


"Tapi mas, kamu kan baru mau mulai usaha, apa gak sebaiknya dimulai dengan yang mudah dan ringan dulu, hitung-hitung belajar dulu menjalankan usaha."


Yara ingin Juna memikirkan lagi tentang hal ini, ia ingin membuka pemikiran pria itu. Sebab, jika Juna salah melangkah dalam sebuah tindakan yang melibatkan modal besar, nanti Juna juga yang akan merugi. Yara tidak mau Juna mengambil keputusan dengan gegabah tanpa dipikir dengan matang.


"Sekarang kamu mau kasi aku jual perhiasan kamu atau enggak?" Juna tak mau mendengar alasan Yara. "Lagipula perhiasan itu juga dari uang aku, kan?" lanjutnya.


"Ya udah, kalau kamu udah setuju, pulang dari Bali, aku minta perhiasannya, ya." Juna kembali melembutkan suara.


Yara semakin yakin Juna memang hanya baik jika ada maunya saja. Sesungguhnya, Juna tidak pernah mempedulikan apa perasaan Yara.


*****


Saat siang menjelang, Yara sama sekali tidak beranjak dari kamar. Kepalanya semakin terasa berdenyut. Ia melewatkan sarapan paginya. Sementara Juna, yang katanya mau di villa saja dan menemani Yara, ternyata sudah pergi setelah Yara menyatakan persetujuannya untuk menjual perhiasan.


Juna beralasan ingin keluar karena membeli sesuatu sebentar, nyatanya sampai tengah hari pria itu tidak juga kembali.


Yara pun malas menghubunginya hanya untuk menanyakan keberadaan Juna.


Pintu kamar Yara diketuk, Yara berjalan dan membuka pintu itu. Ia mendapati Rina disana.


"Ra? Kamu gak keluar dari tadi?"


"Iya, aku gak enak badan."


"Loh, kamu sakit? Kemarin kayaknya baik-baik aja."


"Gak tau nih ..."


"Makan siang dulu yuk. Kita-kita mau makan di resto pinggir pantai, abis itu ke Ubud. Kamu ikut, ya? Siapa tau jadi semangat lagi. Kamu juga kan belum sarapan."


"Perhatian banget sih kamu." Yara terkekeh dan Rina ikut tertawa pelan. "Ya udah, aku siap-siap dulu. Tapi, aku cuma ikut makan, abis makan nanti aku langsung balik, gak bisa ikut ke Ubud. Gak apa-apa, kan?"

__ADS_1


"Yah, sayang banget. Tapi, ya udahlah, gak apa-apa kok. Aku cuma gak mau liburan kamu di Bali cuma dihabisin di kamar melulu. Kemarin juga kamu di villa doang."


"Makasih ya, Rin. Yang lain udah jalan ke pantai, ya?"


"Udah, tuh. Kamu kalau udah siap, nanti kesana sama suami kamu, ya. Aku duluan, soalnya Dion udah nunggu di bawah."


Tak mungkin juga Yara mengatakan pada Rina jika suaminya sudah pergi dari pagi dan belum kembali. Jadi, Yara pun mengangguki saja usul dari temannya itu.


Lima belas menit bersiap, Yara pun turun dari kamarnya. Ia berpenampilan santai, hanya mengenakan kaos berwarna putih dan celana jeans sepanjang betis.


Yara keluar dari villa seorang diri sebab kawasan yang dihuni sudah lengang sebab semua teman-temannya pasti sudah berada di Resto pantai.


Yara tiba di Resto itu, kedatangannya disambut teman-teman yang sudah dulu hadir.


"Ra? ayo sini. Makan... kamu mau makan apa?" Fera mengajak Yara duduk disebelahnya. Tapi, sebenarnya Yara enggan duduk disana sebab Sky juga berada tak jauh dari Fera.


"Aku disini aja, Fer," tolak Yara halus. Yara pun menarik kursi yang paling terdekat, kebetulan itu ada disebelah Diandra.


"Yah, aku ditolak guys..." gurau Fera yang langsung di sambut dengan tawa dari teman-teman mereka.


Sky menatapi Yara dengan tatapan intens seperti biasanya. Ini adalah pertemuan kembali diantara mereka setelah kejadian yang tak seharusnya terjadi-- malam tadi. Ingin rasanya Yara memprotes pada pria itu, sebab Yara takut jika sampai salah satu dari teman-temannya--- ada yang menyadari arti dari tatapan Sky kepadanya.


Yara memesan makanan laut yang tersaji di buku menu. Ia memilih cumi goreng tepung dan sayur capcai. Sebenarnya, ia ingin memesan kepiting, tapi Yara selalu tidak pandai mengupas kulitnya. Mungkin jika ada Juna, Yara akan memilih menu itu.


"Ra? Kamu lihat deh, Sky ngeliatin aku terus." Diandra berbisik ditelinga Yara.


"Hah?" Yara tampak kebingungan atau tidak memahami apa yang Diandra bisikkan padanya.


"Sky... dia, liatin aku terus.... aku jadi grogi, Ra."


Yara pun tersenyum kecil, ia tidak mau mematahkan ucapan Diandra dengan mengatakan jika Sky tengah menatap dia bukan gadis itu.


"Kamu tertarik sama Sky?" tanya Yara pelan.


"Iya, sih. Boleh, gak, Ra?"


"Kok tanya aku, sih?"


"Kalian kan pernah deket dulu." Diandra terkikik. "Tapi, kamu udah nikah ya, Ra. Jadi, gak apa-apa dong, Ra?" tanyanya.


"Ya, terserah kamu, kamu single, kayaknya dia juga single." Yara menjawab secara rasional. Tapi, entah kenapa, ia juga tidak suka dengan jawabannya sendiri.


"Bener juga, ya. Aku gak mau keliatan ngejar-ngejar cowok, Ra. Menurut kamu, gimana caranya biar kami bisa deket?"


"Aku gak tau, Di. Aku ke toilet sebentar, ya." Yara beranjak, entah kenapa ucapan Diandra yang mengakui ketertarikan pada Sky membuat hati Yara berdenyut.


Yara memasuki area toilet yang ada disana, memegang dadanya yang terasa nyeri.


"Enggak, enggak. Aku gak boleh gini. Cepat atau lambat, aku pasti bakal ngeliat Sky bersama perempuan lain. Diandra atau bukan, tapi hal itu pasti akan terjadi. Aku gak boleh sakit hati." Yara bergumam.


Saat ia ingin membuka pintu dan keluar dari sana, tiba-tiba tubuhnya kembali terdorong masuk. Seseorang yang mendorongnya langsung mengunci pintu saat itu juga.


Yara terbelalak melihat Sky dihadapannya.


"Sky! kamu bener-bener gi-la, ya? Ini toilet cewek!"


"Kemana aja kamu dari pagi gak kelihatan?" Sky tidak menggubris pertanyaan Yara, justru balik bertanya pada wanita itu.


Bersambung ....

__ADS_1


******



__ADS_2