EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
70. Kesal


__ADS_3

"Lho? Sky ... ini maksudnya kamu mau menikahi Yara, begitu?" Indri menafsirkan kata-kata sang putra setelah ia mulai bisa mencernanya.


Sky mengangguk cepat. Sementara Yara-- yang duduk di sisi Indri-- semakin menekuk kepala, ia hanya bisa memandangi lantai dengan marmer hitam yang tengah diinjaknya.


Indri menarik nafas dalam, entah apa yang ada di benak wanita itu. Tapi kemudian ia berkata dengan sangat lembut.


"Yara, sebelumnya Tante mau bertanya dulu sama kamu. Kamu sudah bercerai dengan mantan suamimu berapa lama?"


"Yara udah bercerai 4 bulan yang lalu, Ma." Sky yang menyahut.


"Diam, Sky! Mama lagi nanya sama Yara."


Seketika itu juga Sky mengusap wajahnya sendiri. Tak lama, ia ikut duduk diseberang sofa yang diduduki oleh Indri dan Yara.


"Yang dikatakan Sky benar, Tant. Yara udah berpisah dari 4 bulan yang lalu, tapi baru hari ini ketuk palu di pengadilan," akui wanita itu.


Mendengar itu mata Indri langsung membulat dan memelototi Sky. Sayangnya sang anak hanya mengulumm senyum menanggapi respon yang Indri tunjukkan.


"Sky, setelah ini mama mau bicara sama kamu berdua. Okey?"


Sky mengangguk pelan. Ia sudah menerka ini akan terjadi, akan tetapi mamanya pun pasti sudah tau bagaimana karakter dirinya-- jadi Sky tetap tenang untuk menghadapinya nanti.


Akhirnya, sore itu Yara hanya mengobrol ringan dengan Indri seperti biasa. Indri belum mau membahas atau menyinggung soal keinginan putranya yang mau menikahi Yara. Kendati demikian, Indri sudah tau jika selama ini adalah Yara yang ditunggu oleh sang putra.


"Kapan-kapan kamu main kesini lagi ya, Ra. Tante sering kesepian soalnya," kata Indri.


"Iya, Tant ...."


Yara memasuki mobil saat Sky membukakan pintu untuk sang wanita.


Diperjalanan, Yara kembali diam. Ia menduga Indri tidak mungkin menyetujui hubungannya dan Sky begitu saja. Meski sikap Indri tetap hangat dan tak berubah padanya, tapi pasti banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh seorang ibu seperti Indri. Apalagi Sky adalah anak tunggal yang menjadi harapan satu-satunya bagi wanita itu.


"Kamu kenapa?" Sky akhirnya memecah keheningan. Ia tidak tahan melihat Yara yang terus diam.


"Aku udah bilang seharusnya tadi kita gak usah temuin Mama kamu dulu."


"Emang kenapa?"


Yara memicing pada Sky. Bisa-bisanya pria ini masih menanyakan 'kenapa'.


Yara menarik nafas sepenuh dada, Sky memang menguji kesabarannya.


"Aku gak tau gimana tanggapan mama kamu soal aku, aku baru hari ini selesai sidang cerai. Kamu masih juga tanya kenapa!" protes Yara sambil mencebikkan bibir.


"Sayang .... Mama aku gak mungkin punya tanggapan yang enggak-enggak soal kamu. Percaya sama aku."

__ADS_1


"Tapi status aku bukan lagi gadis, pasti mama kamu akan mempertimbangkan restunya buat kita." Akhirnya Yara mengeluarkan semua unek-unek dihatinya. Ia kesal melihat Sky yang selalu saja meng-enteng-kan sesuatu.


"Ya, kalau soal mempertimbangkan mungkin iya, tapi aku yakin pada akhirnya mama bakal restuin kita."


"Kalau ternyata enggak, gimana?" tanya Yara menuntut.


Sky malah tersenyum. "Kenapa? Kamu takut kalau aku gak jadi nikahin kamu? Udah kebelet banget ya?"


Astaga, pria ini. Seharusnya kalimat itu Yara tujukan pada dia. Kenapa malah Yara yang dijatuhi pertanyaan seperti itu?


"Tauk! Kalau gak jadi juga gak apa-apa," kata Yara kesal.


Kali ini malah Sky yang melotot. Ia sampai mengerem mobil secara mendadak. Untungnya itu berada di jalanan yang lengang dan terakhir Sky membawa posisi mereka ke pinggir jalanan.


"Jangan ngambek dong, ntar kalau ngambek aku cium beneran ini."


Yara berdecak, tidak mengindahkan ancaman Sky. Ia kesal pada pemuda itu.


"Oh, jadi beneran ngambek?" Sky memangkas jarak diantara mereka. Kini posisinya berada semakin dekat dengan wajah Yara sebab sebelumnya dia juga sudah membuka seatbelt.


Yara berkedip gelisah. Sepersekian detik berikutnya ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Melihat itu Sky kembali terkekeh.


"Aku anterin kamu pulang, sekalian aku juga mau nepatin janji buat ketemu Mas Anton," kata Sky membuat Yara bernafas lega.


Sikap Sky selalu saja membuat Yara serba salah. Pria itu senang sekali menggodanya padahal jika Sky bersikap begitu--itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantung Yara sendiri.


Sekarang Sky seperti dalam perjalanan menuju sidang akhir masa kuliah. Jika jawabannya tak baik, maka bisa dipastikan ia tidak akan lolos menjadi kandidat calon suami Yara. Dan jika itu benar-benar terjadi, Sky tidak tau apakah ia masih diberi ujian susulan atau justru gugur tanpa remedial. Ckck!


...~~~...


Sementara itu, sepulang dari gedung pengadilan, Juna kembali ke rumah yang ditinggali oleh Shanum. Ya, sesekali ia kembali kesana untuk melihat keadaan Shanum yang kini sudah hamil 8 bulan dengan perut yang membuncit sempurna.


"Gimana, Yang? Udah kelar dong urusan kamu sama Yara?" Shanum menyambut kedatangan Juna dengan senyum mengembang.


"Hmmm," sahut Juna yang tak enak hati. Bagaimana tidak, sekarang ia sudah resmi bercerai dengan Yara. Lalu, bisa-bisanya tadi ia melihat Sky--duduk menunggu-- diluar ruang persidangan mereka, membuat moodnya memburuk seketika.


"Aku masak lho, Yang. Kamu mau makan?" tawar Shanum.


Meski Shanum sudah tau kalau Juna memiliki banyak hutang kartu kredit sekarang, tapi ia tak punya tumpuan hidup lain selain pria itu, yang membuatnya mau tak mau harus tetap menjadi pasangan Juna. Beda halnya jika dia tak sedang hamil, mungkin dia akan meninggalkan Juna. Ya, hal itu sudah ia pikirkan, apalagi sekarang Juna tampak berbeda dan sedikit dingin kepadanya.


"Boleh deh." Juna berjalan menuju meja makan. Rupanya ia mendapati Shanum masak banyak.


"Tumben kamu rajin."


"Ya, anggap aja ini perayaan karena kamu sama Yara udah resmi pisah, Mas."

__ADS_1


Mendengar itu, Juna tak jadi menyuap makanannya.


"Kenapa?" Shanum keheranan.


"Gak enak masakan kamu!" kata Juna dan langsung beranjak.


Shanum mendelik. Padahal Juna belum menyuap makanannya, tapi bisa-bisanya pria itu menghina masakannya.


"Kalau aja aku gak lagi hamil besar kayak gini, udah aku tinggalin juga kamu!" rutuk wanita itu dalam hatinya.


Shanum merengut kesal, ia kembali menyimpan masakannya yang tidak jadi dicicipi oleh Juna. Sebal sekali rasanya. Biar bagaimanapun, ia sudah berusaha memasak untuk Juna malah mendapat hinaan seperti ini.


"Mas Anton aja gak pernah ngehina aku walaupun masakanku gak enak." Tanpa sadar Shanum malah menggerutu dan membandingkan antara Juna dengan Anton.


"Gimana kabar mas Anton sekarang ya?" Rupanya ada terselip rasa rindu dalam hati wanita itu untuk pria yang dulu menjadi suaminya.


Shanum pun mengelus perutnya. Pergerakan dari dalam acapkali dirasakannya. Bayi yang dikandungnya sudah mulai aktif dan tak lama lagi ia akan segera melahirkan.


"Kalau ternyata anak ini anak Mas Anton, apa dia mau nerima aku kembali?" batin Shanum.


Tapi, segera Shanum menepis perasaan itu, ia tak mau mengikuti kata hati, ia lebih mengikuti ego yang pastinya malu jika mengharap bisa kembali bersama dengan Anton.


Sementara disisi lainnya, Juna kembali merenung saat dimana tadi ia belum benar-benar meninggalkan gedung pengadilan.


Juna bahkan sempat melihat Sky dan Yara yang akhirnya keluar dari ruang persidangan bersama-sama. Mereka juga tampak serasi.


Kenapa Yara terlihat sangat berarti ketika wanita itu bukan lagi menjadi miliknya? Kenapa saat Yara masih berstatus sebagai istrinya, ia tidak dapat menghargai wanita itu?


Ternyata benar kata orang, sesuatu akan terlihat sangat berharga setelah kita kehilangannya.


Begitulah perasaan Juna sekarang. Yara sudah terlepas dari genggamannya. Dan mungkin akan bersama dengan pria lain yang tentu lebih baik dari dia.


Tapi, ada yang dapat Juna simpulkan saat melihat Yara dengan Sky tadi. Meski ia hanya melihat itu sekilas dan tidak secara terang-terangan. Tapi disinilah Juna menyadari sesuatu.


Yara tidak pernah menatapnya dengan penuh binar seperti ketika wanita itu menatap seorang Sky.


Apa selama ini Yara tidak pernah mencintainya? Apa Yara memang memendam rasa cinta hanya untuk mantan kekasihnya? Sky Lazuardi?


Sepertinya jawaban itu sudah dapat Juna simpulkan dengan sendirinya. (Atau perlu Readers yang ngasih tau, Jun?)


Bersambung ....


****


...*************...

__ADS_1


"Aku berani bersaing dengan banyak orang yang mencintaimu, tapi aku tidak bisa menyaingi satu orang yang kamu cintai sebab aku akan kalah, bahkan sebelum memulainya." _AuthorCR_


Berikan ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ bintang 5 nya dan tulis komentarnya ya, bestie๐ŸŒผโค๏ธ


__ADS_2