EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
31. Kunjungan sang Kakak


__ADS_3

"I love you," ujar Yara kelepasan.


Ya Tuhan, kenapa ia bisa mengucapkan kalimat sakral itu pada pria lain yang bukan suaminya? Dan lagi itu adalah Sky?


Tanpa mau mendengar sahutan Sky diserang sana, Yara langsung memutus panggilan itu sebelah pihak.


"Duh, aku salah ngomong nih!" gerutu Yara sambil masih menggenggam erat ponselnya sendiri.


Ini semua karena Sky yang terus mengatakan ingin kembali mengunjungi rumah kontrakannya, membuatnya terdesak sehingga mau tak mau Yara pun menuruti keinginan pria itu dengan polosnya dan ia malah berujar ringan sesuai jeritan dihatinya.


"Kenapa sih, mulut aku hari ini gak bisa dikontrol?" Yara mencubit bibirnya sendiri kemudian mengembuskan nafas kasar.


"Pasti abis ini Sky makin panjang telinga."


Yara semakin pusing saja. Dan itu bukan lagi karena ulah Sky saja yang semakin hari semakin nekat, tetapi juga karena dirinya sendiri yang lama kelamaan malah mengikuti kegilaan pria itu.


"Mas Anton?" Yara melihat pada ponselnya yang kembali berdering, kali ini adalah panggilan dari Sang kakak.


"Hallo, Mas?"


"Dek, kamu ada waktu, gak? Mas mau ngomong sama kamu."


"Kapan, Mas? Yara bisa-bisa aja, sih. Emang mau ngomongin apa, Mas?"


"Ya udah, kalo gitu abis ini Mas ke rumahmu ya, dek. Nanti Mas ceritain disana aja."


"Oh, oke, Mas."


Setelah panggilan berakhir, Yara pun menerka-nerka hal apa yang ingin dibicarakan Anton kepadanya.


"Apa Mas Anton lagi ada masalah, ya? Kok suaranya kayak sedih gitu." Yara bermonolog.


Tak lama, wanita itu memutuskan kembali menyalakan kompor, sebab saat Sky meneleponnya tadi ia benar-benar sedang memasak. Memang hanya tinggal menumis sayuran, tapi jika Yara melanjutkan masak sambil meladeni Sky-- maka dapat dipastikan masakannya akan berakhir ngenes. Sebab lawan bicaranya itu terkadang sering membuatnya linglung secara mendadak.


Setengah jam kemudian, Anton benar-benar datang ke kediaman Yara.


Yara langsung menanyakan apa yang ingin Anton bicarakan dengannya.


"Mas curiga sama Mbak-mu, dek..." ujar pria yang umurnya selisih 4 tahun dengan Yara itu.


"Hah? Curiga kenapa, Mas? Bukannya kalian baik-baik aja?" tanya Yara.


"Kelihatannya emang baik-baik aja, tapi Mbak-mu udah gak pernah mau mas sentuh lagi."


Yara terkejut mendengar hal itu.


"Udah berapa lama Mbak Shanum begitu, Mas?"

__ADS_1


"Kurang lebih empat bulan ini. Tepatnya sejak dia bilang kalau dia hamil."


Anton termasuk pria tertutup yang tak biasa menceritakan masalahnya pada teman-temannya. Sejak Yara menikah, Anton menganggap jika adiknya itu sudah jauh lebih dewasa, sehingga jika ia memiliki masalah ia kerap berunding dengan Yara lebih dahulu.


"Mungkin hormon kehamilan yang buat Mbak Shanum begitu, Mas." Yara berusaha memberi pengertian pada sang kakak, kendati ia pun tidak yakin dengan fakta yang ia ucapkan.


"Emang gitu ya, dek?"


"Mungkin, Mas. Ada wanita hamil yang gak punya gai rah sama sekali. Tapi ada juga yang sebaliknya sampai berlebihan dalam hal itu. Setahu Yara begitu, sih, Mas."


Anton terdiam lama, mungkin sedang mencerna ucapan sang adik.


"Tapi kan, dek... dia juga sering beralasan pergi ke suatu tempat. Ke rumah temennya lah, ke salon lah. Kayak gak betah dirumah gitu..."


"Hmm, mungkin Mbak Shanum butuh suasana yang tenang semenjak dia hamil. Maaf ya, Mas. Dirumah kalian kan rada berisik karena ada bengkel didepan."


Anton mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pikir semua ucapan Yara ada benarnya juga. Semua pikiran aneh yang ada dikepalanya mendadak sirna sebab ucapan adiknya dapat membuatnya jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Makasih ya, dek. Berkat kamu pikiran Mas jadi terbuka, padahal...."


"Padahal apa, Mas?"


"Padahal Mas udah sempat curiga sama sikap Mbak-mu, dek."


Yara tersenyum kecil. "Curiga gimana maksudnya, Mas?"


"Gak boleh gitu lah, Mas. Gimanapun mbak Shanum itu lagi hamil anak Mas juga, kan? Jangan dicurigai macem-macem, nanti mbak Shanum tersinggung."


"Lah habisnya gimana, dek... Sikapnya itu lho, buat Mas jadi berpikir yang enggak-enggak."


"Positif thinking aja deh, Mas. Anggap aja itu bawaan hamilnya Mbak Shanum. Banyak loh yang lebih parah bawaan hamilnya, sampe jijik lihat suami sendiri juga ada."


"Ah masak sih, dek?"


"Iya, Mas...."


Anton pun terkekeh, ia masih bersyukur bahwa ternyata kehamilan Shanum hanya seperti menjaga jarak darinya saja tidak sampai bersikap seperti yang Yara ucapkan.


"Kamu udah makan siang, Mas? Makan yuk, Yara tadi udah masak lho..."


"Wah, rezeki emang gak kemana." Anton menyengir kuda.


Akhirnya Yara menemani Anton makan siang di rumahnya.


"Kalau kamu sama Juna gak ada masalah kan, dek? Mas doain semua baik-baik aja, ya."


Yara memaksakan untuk tersenyum pada sang kakak.

__ADS_1


"Kamu itu kalau ada masalah jangan sungkan cerita sama Mas. Lihat mas aja curhatnya ke kamu."


"Iya, Mas."


"Dan lagi, kalau punya masalah jangan di pendam, dek..."


"Iya, Mas. Semua baik-baik aja kok." Yara mana mungkin jujur pada Anton mengenai kedatangan cinta pertamanya yang kini mengusik rumah tangganya lagi? Kalau soal Juna yang perhitungan, mungkin masih bisa ia ceritakan pada sang kakak.


"Yakin kamu?"


Yara mengangguk samar. "Cuma belakangan Mas Juna sedikit membatasi aku sih mas dalam hal keuangan."


"Lho? Kok gitu?" Dahi Anton mengernyit dalam. Ia kira Juna adalah pria yang royal. Setidaknya begitulah yang ia ketahui selama mengenal adik iparnya itu.


"Mas Juna menabung untuk beli rumah, Mas."


Anton menyelesaikan makan siangnya, ia meletakkan sendok dan menatap Yara dalam-dalam.


"Kenapa gak serahin ke kamu? Kamu kan istrinya. Lah ya biarin kamu yang nyimpen buat ditabung."


"Ya, mas Juna katanya mau nabung sendiri, Mas. Gak melulu harus melibatkan aku."


"Ya mungkin cara Juna seperti itu ya, kalau mas sih namanya istri sendiri wajib dicukupi dulu." Anton mengembuskan nafas dalam. "Tapi, apapun prinsip Juna, mudah-mudahan itu yang terbaik ya dek... kalian segera punya rumah sendiri gak ngontrak lagi. Aamiin...."


"Aamiin.... makasih support nya ya mas."


"Kamu gak usah curigain Juna juga ya dek. Mas tau dia kerja keras pasti buat kamu."


"Semoga aja, Mas."


Kedua kakak beradik itu saling menguatkan dan menyemangati satu sama lain. Bagaimanapun, hanya Anton lah saudara Yara. Begitupun bagi Anton, hanya Yara satu-satunya adik untuk dia. Orang tua sudah tiada. Sanak saudara berada jauh di kampung halaman. Sementara di kota, mereka tak punya siapapun untuk dijadikan sandaran.


Jadilah mereka harus lebih bijak dalam menyikapi segala hal. Termasuk tidak boleh mempermainkan sebuah ikatan pernikahan.


Lalu, bagaimana dengan Yara? Bukankah ia sudah jatuh terjebak dengan Sky.


Gimana kalau mas Anton tahu aku udah ngehianati mas Juna seperti sekarang ini? batin Yara berucap sembari menyaksikan kepulangan sang Kakak dari kediamannya.


Yara tidak munafik, jauh dalam lubuk hatinya, ia mengakui jika ia sudah terjerat dalam hubungan terlarang bersama Sky. Apalagi tadi ia sempat mengucapkan kata cinta pada pria itu, dapat dipastikan jika Sky akan terus mengejarnya, sebab dalam kata lain ia yang sudah memberikan lampu hijau bagi pemuda itu.


"Sepertinya aku dan Sky gak bisa terus begini. Kalau Sky terus nekat, aku harus gimana?"


Terpikir oleh Yara untuk pindah kontrakan saja demi menghindari Sky. Ia juga berniat memblokir nomor pria itu saja. Ia takut jatuh lebih dalam dan terperosok ke lubang dosa bersama Sky.


"Kayaknya aku emang harus pindah dan menghilangkan jejak dari Sky. Aku gak mau dia semakin berharap dan nekat terus. Aku juga gak mau jadi pengkhianat dalam rumah tanggaku sendiri," tekad Yara.


Bersambung ....

__ADS_1


*****


__ADS_2