EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
147. Mengantar titipan


__ADS_3

"Aura! Cean!"


Sky memanggil dua anak kembarnya yang sangat aktif. Sky sampai kewalahan mengejar keduanya yang berlarian di taman depan rumah.


"Kakak! Adik!" panggil Sky sekali lagi. Kedua bocah berumur 4 tahun itu menoleh dan tertawa terpingkal-pingkal sebab Sky berlagak tidak bisa mengejar mereka.


"Papa capek. Udahan, ya!"


"Dak mau! Dak mau!" ujar keduanya kompak. Mereka tak mau menyudahi permainan kejar-kejaran itu.


Yara tiba di teras depan dengan nampan yang berisi susu serta sereal kesukaan anak-anaknya. Tak lupa ada secangkir kopi yang dibuat khusus untuk suami tercintanya.


"Sayang? Udahan mainnya, hari udah mulai panas." Yara memanggil suami serta kedua anak kembarnya yang kini terlihat berguling-guling di rumput hijau taman.


"Iya, Sayang. Bentar lagi, anak-anak belum mau udahan," sahut Sky dari posisinya.


Sudah dua tahun ini mereka menempati kediaman sendiri, meninggalkan kediaman Indri yang dulu mereka tempati pasca menikah dan memiliki dua orang bayi sekaligus.


Untuk kenyamanan keluarganya, serta untuk hidup yang lebih mandiri lagi, Sky membelikan Yara sebuah hunian yang cukup besar di perumahan elite dipusat kota. Akses tempat tinggal itu memudahkan mereka untuk kemanapun. Dekat dengan Mall, Jalan Tol dan tidak terlalu jauh menuju Bandara. Sky juga lebih cepat sampai ke kantornya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tapi anak-anak dan suaminya belum juga mau naik ke teras. Yara berjalan pelan menghampiri mereka lalu berkecak pinggang disana.


"Kalau gak berhenti juga, mama tinggal pergi ke pasar, ya."


"Jangan mama," sahut ketiganya kompak. Tentu saja Yara menahan tawa melihat Sky yang juga ikut-ikutan bergaya anak-anak menyesuaikan dengan gelagat putra-putri mereka.


"Nah, pinter. Ayo sarapan. Ini udah kesiangan."


"Iya, Mama."


Yara meraih tubuh gempal Aura dan menggendongnya. Meski Aura adalah Kakak, dia jauh lebih manja ketimbang Cean--sang adik. Dan kendati tubuh Yara masih ramping seperti dulu, dia masih merasa sanggup untuk menggendong putrinya tersebut.


Sementara Sky, dia menggandeng Cean yang memasang gaya yang sok dewasa. Kadang Yara mau tertawa melihat tingkah Cean yang seakan-akan dialah sang kakak, bukan Aura.


"Nah, ayo makan serealnya, ya. Jangan main terus." Yara mengacak rambut Cean dan Aura bergantian. Dia selalu gemas melihat kedua anaknya yang tampan dan cantik itu.


Yara melirik Sky yang sudah duduk dan menyeruput kopi.


"Sayang, nanti siang temenin aku ya," rengeknya manja pada sang suami.


Melihat gelagat istrinya, Sky menebak jika Yara pasti sedang ada maunya sekarang.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanyanya sok cuek, padahal dia juga penasaran hendak kemana istrinya ini hingga minta ditemani.


"Aku diundang Rina ke rumahnya, acara syukuran tujuh bulan kehamilan Rina."


Rina memang baru hamil sekarang, entah dulu dia menunda momongan atau apa. Yang jelas, waktu pernikahannya yang tak berbeda jauh dengan Yara dan Sky--- justru memang baru dikaruniai kehamilan disaat anak-anak Yara sudah berumur 4 tahun sekarang ini.


"Oh, ya udah. Ntar aku temani."

__ADS_1


"Tapi kita ke rumah Mas Anton sebentar ya, aku mau ngasih titipan Mbak Nadine."


"Oke."


Siang itu, akhirnya Yara, Sky dan anak-anaknya bersiap untuk menuju acara syukuran di kediaman Rina dan Dion. Sebelum menuju kesana, mereka mampir dulu ke kediaman Anton sebab mau mengantarkan titipan Nadine.


"Hallo anak-anak Pakde. Sini masuk!"


Begitulah Anton, bukan menyapa Yara dan Sky lebih dulu, dia justru menyambut keponakan kembarnya--seolah mereka yang paling utama.


"Pade...." Cean dan Aura kompak mendatangi Anton dan memeluk kakak kandung dari mama mereka itu.


Anton mengangkat kedua anak itu sekaligus dan menggendongnya secara bersamaan dikiri-kanan tangannya.


"Nadine? Sayang ... ini Yara udah datang," pekik Anton sembari tetap menggendong dua anak kembar itu.


Sky dan Yara mengikuti langkah Anton yang memasuki kediamannya. Mereka juga sudah tidak tinggal di kediaman yang dulu ada cafe didepannya, mereka sudah memiliki hunian baru yang jauh lebih besar sebab Anton dan Nadine juga sudah memiliki keluarga besar sekarang.


"Om? Tante?" Elara yang sudah fasih bicara menyambut kedatangan Sky dan Yara dengan bersalaman takzim.


"Hai sayang," Yara mencubit gemas pipi Elara yang sudah berumur lima tahun itu. "Lagi libur sekolah, ya?" tanyanya, Elara memang sudah mengikuti kelas playgroup dan mengatakan itu adalah sekolahnya.


"Kan hari Minggu, Tan." Elara sangat bijak diusianya yang masih sangat dini.


"Oh, iya, ya..." Yara pura-pura lupa.


Tak lama, Nadine keluar dengan perutnya yang sangat membuncit.


"Mbak, ini nih, titipan Mbak."


Nadine mengernyit. "Titipan? Titipan apa, Ra?" Dia tak mengerti, perasaan dia tak menitip apapun pada Yara.


Yara tertawa singkat. "Tadi, kan, mbak bilang kepengen gulai kepala ikan yang aku masak. Jadi aku bawain aja, takut bayi dalam kandungan mbak ngiler," katanya kemudian.


Mendengar itu, Anton dan Nadine jadi terkekeh. Tidak menyangka Yara menanggapi pesan singkatnya tadi. Ini akibat Yara memposting masakannya di status WhatsApp, dan Nadine mengatakan masakan itu sangat menggiurkan lewat pesan balasan. Yara yang tau Nadine tengah berbadan dua--langsung berinisiatif untuk membawakan kakak iparnya makanan itu--sebab takut keinginan sang ibu hamil tidak dituruti.


"Liora mana, Mas?" tanya Sky kemudian.


"Liora tidur, tadi habis berenang sama Elara jadi kayaknya kecapekan deh."


"Oh, pantes aja rumah agak sunyi."


Anak kedua Anton dan Nadine bernama Liora. Dia baru berumur 1,5 tahun sekarang, lagi lucu-lucunya. Tapi, Nadine justru hamil lagi dan kini sudah berusia 6 bulan.


"Makasih banyak ya, Ra. Mbak gak niat lho buat kamu jadi repot, tadi mbak cuma nanggepin bercanda aja sama story kamu." Nadine tak enak hati sebab Yara sampai repot-repot mengantarkan makanan ke kediamannya.


"Gak apa-apa, Mbak. Lagian kita juga mau sekalian keluar. Mau ke tempat Rina."


"Oh, ngapain?"

__ADS_1


"Syukuran 7 bulanannya Rina, Mbak."


"Wah, nanti bakal launching bayi hampir samaan dengan mbak dong."


"Iya, mbak. Semoga kalian yang lagi hamil sehat-sehat semuanya sampai lahiran."


"Aamiin..."


"Kamu gak ada rencana mau nambah anak, Ra? Aura dan Cean udah gede juga. Elara sama Liora aja udah mau punya adek baru." Anton bertanya dan kemudian terkekeh diujung kalimatnya.


"Yara belum mau, Mas." Sky yang menjawab. "Katanya nunggu anak-anak udah sekolah dulu lah," sambungnya.


"Lho, kenapa?"


"Ya, masih mau santai, Mas. Abis ngurus yang dua ini aja duh... ampun deh, Mas," jawab Yara.


Anton dan Nadine terkikik dengan ujaran Yara. Mereka juga tau bagaimana repotnya mengurus dua anak sekaligus. Meski Elara dan Liora cukup berjarak umurnya, tapi mereka sudah cukup kewalahan. Bagaimana pula dengan Yara yang harus mengurus Cean dan Aura yang seumuran dan sangat aktif. Ya pasti memang sangat melelahkan.


"Eh, anak-anak tadi mana, sayang?" Yara bertanya pada Sky. Bicara dengan Nadine membuatnya tidak memfokuskan diri dengan kedua anak mereka.


"Main sama Elara di kamarnya," sahut Sky.


"Oh, yaudah." Yara bangkit dari posisinya. "Mbak, Mas. Kita pergi dulu ya. Acara dirumah Rina jam 2 jadi kita berangkat sekarang aja ya."


"Oke, hari-hati ya kalian."


Yara menyusul ke dalam kamar Elara untuk menjemput kedua putra-putrinya, tapi sampai disana Aura dan Cean justru tak mau pergi. Mereka merasa baru saja larut bermain dengan Elara malah diminta bubar, keduanya kompak menangis dan tidak mau meninggalkan Elara disana.


"Cean mau cini, Ma."


"Aula juga, Ma."


Yara dan Sky saling bertatapan karena penolakan anak-anak mereka.


"Kalau mereka masih mau disini biarin aja, Ra. Kalian pergi aja berdua. Biar Cean dan Aura main disini."


"Gak usah deh, Mas. Kasian mbak Nadine, ntar Liora bangun makin repot jadinya, masa harus ngasuh empat anak. Mana mbak Nadine lagi hamil lagi."


"Gak apa-apa. Kan ada Mas," sahut Anton. "Udah, kalian pergi aja sana ke tempat Rina. Ntar telat, lho!" sambungnya.


Yara dan Sky bertatapan kembali. Mereka terus membujuk Cean dan Aura, sayangnya kedua anak itu tetap kukuh untuk bermain bersama Elara sebab disana memang banyak mainan baru milik Elara yang dibelikan oleh Anton.


"Ya udah, kita titip mereka ya, Mas."


Bersambung ...


Ini belum tamat. Makasih yang masih lanjut baca ya.


Kisah anak-anak mereka yang masih kecil akan terus dilanjut disini.🙏

__ADS_1


Tapi, kisah Cean yang udah dewasa ada dijudul baru. Udah 20 bab dengan judul TETANGGA MERESAHKAN. Silahkan mampir✅


__ADS_2