EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
57. Mulai Kerja


__ADS_3

Yara memasuki sebuah rumah yang cukup besar. Ya, disinilah ia sekarang, harus bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk melanjutkan hidupnya.


Yara tahu, cepat atau lambat ia memang harus bertemu dengan Juna dan membicarakan semua masalah mereka. Tapi, untuk saat ini, ia butuh waktu untuk sendiri tanpa diganggu oleh siapapun. Bahkan Yara sengaja mengganti nomor ponselnya demi menghindari pertanyaan dari banyak pihak.


Sebenarnya Yara yakin tindakan kekanak-kanakannya ini akan menimbulkan sebuah akibat lain nantinya, tapi ini hanya untuk sementara waktu.


Yara belum tahu sampai kapan ia menyendiri, tapi ia memang butuh ketenangan barang sejenak. Sehari, dua hari mungkin cukup. Setelah merasa siap, ia akan menemui Juna lagi untuk menyatakan keinginannya yang sudah bulat.


"Jadi, kamu yang mau kerja disini?" Seorang wanita muda menyambut kedatangan Yara. Wajahnya cantik, dengan rahang tirus dan bibir yang sen-sual. Wajahnya pun mengingatkan Yara dengan salah seorang artis Indonesia, Marsha Timothy. Jika Yara perkirakan, umurnya hanya terpaut 3 sampai 4 tahun dengan calon majikannya ini.


"Iya, Bu..." sahut Yara sopan.


Sebelumnya, Irna sudah memberitahu bahwa pemilik rumah ini adalah seorang wanita yang super sibuk karena dia akan pulang pergi ke Luar Negeri hampir setiap minggu--sebab suaminya berada di Singapore, sementara wanita itu juga harus mengurus bisnisnya yang ada di Indonesia.


"Siapa nama kamu?"


"Yara, Bu."


"Baik, Yara... saya Nadine. Kamu jangan panggil saya ibu, panggil biasa aja. Mbak, Kak, atau apapun yang membuat saya tidak akan merasa terlalu tua."


Yara mengulumm senyum. "Baik, Bu... eh, Mbak Nadine."


"Nah, gitu...."


Nadine tersenyum cerah, secerah warna lipstik yang hari ini ia gunakan.


"Jadi, kerjaan kamu disini gak sulit, kok. Saya pulang ke rumah tiap Rabu sampai Jumat. Sabtu siang sampai hari Selasa saya berada di Singapore. Tugas kamu adalah masak makanan di saat saya pulang karena saya lebih suka masakan rumah ketimbang beli di luaran. Selebihnya gak usah, kamu cuma perlu bersih-bersih rumah ini aja. Bisa dimengerti?"


Yara mengangguk, "Bisa, mbak..."


"Nah, gitu... saya senang kalau dapat asisten rumah tangga yang pinter dan cepat tanggap kayak kamu," pujinya.


"Oh iya, katanya kamu juga gak mau nginep, ya?"


"Iya, Mbak... saya baru aja ngontrak di dekat perumahan ini."


"Padahal kalau kamu mau, kamu bisa nginep disini, kan disini gak ada yang nempatin kalo saya lagi keluar," kata Nadine.


Yara mengibaskan tangannya dengan senyum sungkan. Bagaimana bisa Nadine langsung mempercayainya begitu saja? Mereka bahkan baru berkenalan beberapa menit lalu.


"Kamu udah menikah?"


"Udah, Mbak..."


"Jadi kamu ngontrak bersama suamimu?"


Yara tidak menjawab, ia hanya kembali melemparkan senyuman kecil.

__ADS_1


"It's oke, itu gak penting. Yang penting kamu jujur selama kerja disini."


"Iya, mbak..."


"Kamu cuma bersih-bersih sama masak aja ya, soalnya kalau pakaian udah ada langganan laundry juga, paling nanti kamu aku suruh antar ke tempat laundry kalau pas gak ada yang jemput pakaiannya."


Sekali lagi Yara mengangguk paham. Ternyata majikannya ini cukup ramah dan tidak sombong seperti pemikiran awal Yara.


Yara mulai melakukan pekerjaannya di rumah tersebut. Kini sebuah alat penghisap debu sudah berada ditangannya. Kebetulan Yara bisa menggunakannya dan ia langsung membersihkan karpet yang ada di ruang tv juga di ruang tamu.


Nadine melihat cara kerja Yara, mudah-mudahan asisten rumah tangganya kali ini tidak sama dengan yang dulu, ia sengaja menguji Yara dengan mengajaknya tinggal dirumahnya. Ia ingin tahu apakah Yara adalah orang yang jujur? Sebab asistennya yang lama sering mencuri barang-barangnya.


Sore harinya, Yara membuang sampah di tong yang ada didepan rumah Nadine. Ia melihat sekilas pada rumah yang berada tepat di seberang, tampaknya disana sedang berlangsung sebuah acara sebab banyak mobil dan kendaraan yang terparkir di pekarangannya. Yara juga dapat melihat dari posisinya-- sebab acara itu diadakan dihalaman depan rumah tersebut.


"Ra, mbak pergi ya... ada yang mau diurusin. Kamu jangan pulang dulu ya, tunggu sampe mbak pulang, mbak gak lama, paling jam delapan udah balik."


"Iya, Mbak..." sahut Yara pada Nadine, kemudian Yara pun gegas membukakan gerbang agar mobil Nadine bisa keluar dari pekarangan.


...~~~...


Sky hari ini bekerja lebih serius dari biasanya. Ia melakukan itu untuk mengalihkan pikirannya tentang Yara. Bahkan sampai hari ini dia tidak mendapat kabar apapun dari sang wanita.


Jika biasanya Sky harus uring-uringan sebab memikirkan wanita yang sama, kali ini tidak, ia memilih untuk fokus bekerja sebab ia tidak mau jatuh kecewa apabila ternyata Yara sudah kembali bersama Juna.


Menjelang siang, Sky tetap larut dalam pekerjaannya. Seakan tak mau mengalihkan pikirannya dengan hal apapun, sebab ia takut jika sekali saja ia kembali memikirkan Yara, maka ia akan semakin menggila.


"Sekai, kau ini kenapa sih? Aku lebih suka kau yang santai seperti biasanya daripada sok-sokan workaholic begini." Beno menepuk pundak Sky yang terus saja menatapi satu persatu gambar desain bangunan di laptopnya.


"Kau udah makan siang, Sekai?"


Sekali lagi Sky tidak merespon, mungkin juga Beno tidak pernah ia anggap berada disana.


"Kau ini kenapa, sih? Apa ini ada kaitannya sama pria yang kemarin? Klien Wulan itu? Siapa namanya.... Juna, ya? Ah iya, apa ini ada kaitannya dengan dia? Kau sedang bingung ya, karena mikirin nama istri Juna.... Shanum atau Ayara?" tebak Beno dengan kepolosannya yang hakiki.


Apa kata Beno tadi? Ayara?


Damned! Satu nama itu justru membuat Sky mengalihkan atensinya dari laptop dan kini malah menghujami Beno dengan tatapan mematikan.


"Eh? Aku salah ngomong, ya?" kata Beno menyadari ada sesuatu yang aneh karena perubahan tatapan Sky kepadanya.


"Sorry deh kalo salah sebut," kata Beno lagi. "Jangan lupa makan kau ya. Aku abis ini balik, aku cuma masuk setengah hari soalnya pesta ulang tahun Abel kan ntar sore..."


Beno buru-buru ngacir, sebelum mendengar kemarahan sahabatnya.


"Jangan lupa datang ke ulang tahun Abel ya, Sekai!!!" teriak Beno sebelum benar-benar berlalu dari ruangan itu.


Sia-sia sudah usaha Sky untuk tidak mengingat Yara, nyatanya ada banyak hal yang selalu mengingatkannya pada wanita itu. Apa ia memang ditakdirkan untuk tidak bisa melupakannya?

__ADS_1


"Bukan, bukan takdir yang membuatku gak bisa melupakan dia, tetapi karena hatiku sendiri yang menolak untuk melupakannya. Aku selalu mengingatnya, meski itu akan menyakitiku, aku tetap selalu mengingatnya."


Sky membatin. Bukan Beno yang salah karena telah menyebutkan nama Yara, sebab jauh didalam hati Sky sendiri--ia memang terus meneriaki nama wanita itu.


Jika begini, ia bisa tersiksa karena keingintahuan. Dan jika terus tak ada kabar, ia akan lenyap dengan sendirinya akibat kerinduan.


"Yara? Kamu dimana? Apa aku harus datang ke rumah Mas Anton hanya untuk melihat kamu dan memastikan kamu dalam keadaan yang baik-baik aja?"


"Atau aku harus mengunjungi rumahmu bersama Juna, Ra? Tapi,aku gak bisa kalau ternyata disana aku harus ngelihat kamu dengan dia. Aku gak bisa, Ra. Kenapa kamu gak ngasih aku kabar?"


Give me a sign, God .... batinnya.


Berilah ia pemberitahuan tentang apa yang terjadi pada Yara setelah satu hari kemarin? Jika pun nanti Yara sudah kembali bersama Juna, maka beri juga ia kekuatan hati yang lebih besar agar tidak membuat suatu perkara yang akan merugikan banyak pihak termasuk dirinya sendiri.


Jika memang Yara kembali bersama Juna, Sky tidak tau apa yang akan ia lakukan untuk meluapkan kekecewaan dan kemarahannya itu, tetapi setidaknya ia akan mendapat jawaban mengenai keadaan dan pilihan Yara.


Sky melewatkan makan siangnya. Ia tidak bernaf su untuk makan sama sekali. Bahkan satu gelas air pun tidak ia teguk hari ini, akibat ia yang sok fokus bekerja padahal pikirannya sudah kemana-mana.


Menjelang sore, Sky akhirnya mengunjungi kediaman Beno untuk menghadiri pesta ulang tahun Abel. Sebelumnya, ia mampir ke toko mainan anak-anak untuk membelikan kado buat Abel.


"Happy birthday Abel, anak om Sky yang paling cantik...." sapa Sky begitu bertemu Abel yang berpipi gembul.


Bocah dua tahun itu langsung senang melihat kedatangan Sky. Tidak dipungkiri, pesona pria itu bahkan bisa membuat anak kecil terhipnotis.


"Sekai?"


Tampak Beno memanggil, Sky pun berjalan menghampiri sahabatnya itu.


"Kenalin, ini Michelle, sepupu Jenifer..." Rupanya Beno mengenalkan seorang gadis bule kepadanya.


Sky menggeleng samar tapi kemudian menyambut uluran tangan gadis itu yang memang sudah mengarah kepadanya.


"Sky," katanya singkat.


Namun, disaat yang sama, Sky malah terfokus pada seorang wanita yang bergerak tak jauh diseberang rumah Beno. Penampilannya, postur tubuhnya, bahkan gerak-geriknya membuat Sky terbengong saat itu juga.


"Ayara...." gumam Sky yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


Yara terlihat sedang membukakan gerbang untuk sebuah mobil yang akan keluar dari pekarangan rumah di seberang.


Sky meninggalkan Michelle, Jenifer, bahkan Beno yang masih berdiri didepannya. Ia bergerak sigap untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah mengenali. Tidak peduli bagaimana tanggapan ketiga orang yang ia abaikan begitu saja.


Dan nyatanya, ia memang tidak salah melihat, ia juga yakin ini bukan cuma imajinasinya saja.


Sky bahkan belum sempat memikirkan kenapa Yara bisa berada dirumah yang tepat diseberang kediaman Beno.


"Ayara!!!" Dengan lantang dan rasa yakinnya, Sky langsung meneriakkan nama Yara untuk menarik perhatian wanita yang hampir beranjak masuk diseberang sana.

__ADS_1


Bersambung ....


***


__ADS_2