
Beberapa menit berselang, tidak ada lagi yang bersuara diantara mereka berdua. Yara memilih duduk di pojok ruangan sambil memeluk lututnya. Tak jauh darinya, tampak Sky yang berdiri menyandarkan tubuh sambil bersedekap.
"Mau kamu apa, sih?" Yara tidak kuat lagi untuk terus diam-diaman seperti ini.
"Ck! Pake ditanya," jawab pria itu acuh tak acuh.
"Kalau mau bahas masa lalu aku gak ada waktu, Sky!"
Sky tertawa pelan. "Aku gak mau bahas masa lalu. Aku mau bahas masa depan kita."
"Kita?" Yara menatap pria itu dengan nyalang. "Jangan aneh-aneh kamu!" katanya.
"Kalau kamu pikir aku bakal lepasin kamu gitu aja, kamu salah, Ayara."
"Jadi, mau kamu apa?"
"Ngambil kamu lagi lah," jawabnya enteng.
"Sin ting!" Yara mendengkus keras, sementara Sky hanya tersenyum miring.
Keadaan menjadi hening kembali. Yara pun melihat jam yang melingkari tangannya. Ia sadar mereka sudah terjebak disini selama 20 menit.
"Aku rasa percakapan kita ini gak akan ada ujung dan penyelesaiannya. Jadi, ada baiknya aku kembali ke kamar aku dan kamu kembali ke kamar kamu."
Sky mengulumm senyum, seolah-olah ucapan Yara barusan hanyalah omong kosong dan tidak patut dituruti.
"Sky! Aku serius, aku mau balik ke kamar, Mas Juna pasti udah cariin aku sekarang."
"Kamu selalu ngerasa paling serius. Kamu pikir ucapan aku tadi bercanda?" Sky menggelengkan kepalanya. "Aku juga serius, Ayara!" tambahnya menekankan.
Lagi-lagi Yara hanya bisa mendengkus. Ia marah pada tingkah Sky, tapi tentu ia tidak bisa sungguh-sungguh marah pada pria itu. Entahlah. Kenapa Sky harus membuat posisinya jadi sulit seperti sekarang?
Yara menarik nafas dalam-dalam. Menata debaran hatinya. Tidak, ia tidak boleh kalah meski bagaimanapun usaha Sky untuk meruntuhkan pertahanannya. Sebab, yang dipertaruhkan disini adalah marwahnya sebagai seorang istri dari Arjuna Bachtiar.
Sekalipun pesona Sky selalu berhasil melumpuhkannya. Ia harus tetap bersikeras menolak pria itu, kendati hal itu bertolak belakang dengan perasaannya yang sesungguhnya.
"Aku udah nikah, Sky. Aku mohon kamu ngerti. Aku enggak mau terjadi kesalahan diantara kita." Yara berusaha meyakinkan Sky. Kali ini suaranya mulai melunak. Ia bahkan menatap Sky dengan tatapan teduh yang dulu sering ia gunakan ketika menatap lekaki yang sama.
"Coba kamu lihat diri kamu sekarang! Kamu nyaris sempurna. Cita-cita kamu juga udah kesampaian. Gak sia-sia kamu kuliah jauh di luar Negeri. Kamu bener-bener udah jadi orang terpandang karena usaha kamu sendiri, gak cuma ngandalin harta orangtua aja. Pas seperti kemauan kamu sejak dulu."
Sky tertegun dengan ujaran Yara, ternyata gadis yang dulu ia cintai itu-- masih mengingat jelas visi-misi hidupnya, bahkan setelah belasan tahun berlalu. Jadi, dari sini Sky sudah bisa menarik sebuah kesimpulan tanpa bertanya lebih lanjut pada gadis yang sudah menjadi wanita dewasa tersebut.
Ya, perasaan Yara. Fix, Yara masih mencintainya. Dan ini bukan hanya perasaan Sky saja, tetapi ia bisa melihat dan merasakannya.
"Kalau kamu udah sadar siapa kamu sekarang, aku harap kamu bisa berpikir. Jangan hancurin semua yang udah kamu raih dengan susah payah, hanya karena tindakan yang kamu lakuin sekarang. Aku cuma wanita biasa, Sky. Istri orang pula! Kamu berhak dapat perempuan yang lebih baik." Yara menutup kalimatnya sampai disana. Ia menundukkan wajah tanpa mau mengadah lagi pada Sky. Bagaimanapun, ia harus sadar diri dan keadaan.
Dengan gerak pelan, Sky menghampiri posisi Yara. Ia ikut terduduk disebelah wanita itu. Ia tahu sekarang Yara sedang menangis. Dan sama seperti dulu, ini karena dirinya.
"Sejak kita putus, aku udah beberapa kali jalin hubungan dengan berbagai wanita yang berbeda karakter. Aku gak mau munafik, memang ada dari mereka yang buat aku tertarik." Sky menjeda ucapannya. "Tapi, aku sadar, Ra... aku selalu mencari sosok kamu di setiap wanita yang aku temui."
Yara menggeleng dalam posisinya yang masih menenggelamkan wajah di pangkuan. Ia tidak mau mendengar hal-hal semacam ini dari Sky. Ia benar-benar takut terperosok nantinya. Entah apa maksud Sky menceritakan hal ini kepadanya.
__ADS_1
"Dan asal kamu tau, gak ada satupun dari mereka yang bisa menggantikan kamu dalam hidup aku. Kamu beda dari mereka."
Kali ini, Sky terdengar menghela nafas.
"....Aku gak bisa dapatin yang seperti kamu lagi. You're only one. Gak ada gantinya!"
Sky pun memegang kepala Yara yang tertunduk. Merasa Yara diam saja, ia melanjutkan itu dengan tindakan mengelus-elus rambut sang wanita secara berulang.
Sampai akhirnya, pemilik kepala itu mengangkat wajah. Sudah cukup perlakuan Sky yang seperti ini. Yara tidak mau terlarut dan jatuh pada kesalahan. Ia takut tidak bisa mengendalikan diri.
Melihat mata basah Yara, Sky pun mencoba menghapus jejak airmata yang sempat membasahi pipi wanita itu. Disaat yang sama, Yara baru tersadar, kenapa juga ia harus menangis?
Akhirnya, mata mereka pun bertemu. Tatapan mata hitam pekat itu masih sama seperti dulu, selalu membuat jantung Yara berdebar tidak menentu.
Sky seakan mengunci tatapan mereka berdua.
Tak lama, Sky pun mendekatkan wajah ke arah sang wanita. Demi apapun, ini adalah momen yang paling ia tunggu. Tapi, sungguh ironi, wanita itu justru menggeleng seolah memahami apa niat Sky saat ini.
Sky pun mengerti. Yara jelas menolak perlakukannya.
"Ayara..." lirih Sky menyebut nama wanita itu. Tatapannya yang tadi tajam, berubah menjadi sendu.
"Sky, kita harus keluar." Yara pun bangkit dari posisinya. Wanita itu jelas-jelas tengah menghindar.
Rupanya ucapan Yara yang berusaha memberi Sky pengertian, tidak diindahkan oleh lelaki itu.
"Ra, please...." Sky menahan pergelangan tangan Yara. Ia mengadah pada wanita yang sudah lebih dulu berdiri itu. Tatapannya tampak sangat memohon.
"Iya, kembali sama aku!" tukas Sky tanpa tedeng aling-aling.
"Sekali lagi aku ingatin, aku ini istri orang kalau kamu lupa."
"Aku ingat, maka dari itu aku nyuruh kamu pisah sama dia."
"Udah gak bener kamu! Aku gak mau bicara sama kamu kalau pembahasan kamu masih mengenai hal ini."
Yara berlalu ke arah dimana tadi Sky melemparkan kunci. Berjongkok disana dan kembali mencari benda tersebut.
Sementara Sky menatap ulah Yara dengan perasaan yang campur aduk. Yara memang tak salah. Disini memang ia yang salah. Ia yang ingin memaksakan keadaan. Tapi, mau bagaimana? Ia sudah tiba pada sebuah keputusan final. Merebut Ayara dan memilikinya (lagi).
"Apa sih, Ra, yang kamu pertahanan dari rumah tangga kamu itu?" Kembali Sky berujar. Yara mendengar, tapi dia tetap berusaha menyibukkan diri dengan fokus mencari kunci yang entah kemana rimbanya.
"Jawab aku, Ayara!"
"Kamu tahu apa, Sky? Kamu pun gak kenal sama Mas Juna! Gak usah menilai dia."
"Aku gak menilai dia. Aku emang gak kenal dia. Aku juga gak peduli sama dia. Tapi, disini... aku pedulinya sama kamu, aku kenalnya sama kamu dan aku sedang menilai perasaan kamu."
Saat mendengar itu, Yara hanya memutar bola matanya, jengah.
"Dari penilaian aku, kamu gak mencintai dia. Kamu juga gak mengenal dia dan kamu ...." Sky mengulumm senyum memang sengaja menggantung kalimatnya.
__ADS_1
"Aku, apa?" tanggap Yara.
"Kamu masih ngarepin aku," kata Sky pongah.
"Capek emang ngomong sama kamu."
"Tapi cinta, kan?" goda Sky.
Yara hanya menggeleng samar sambil ngedumel.
"Kuncinya hilang kemana, sih?" gerutu wanita itu.
"Udah di bilang gak usah dicari juga!"
"Ya udah, aku teriak aja biar ada yang bukain pintunya dari luar," kata Yara berlagak mengancam.
Sky memanyunkan bibir. "Coba aja, itupun kalau kamu berani," godanya lagi.
"Kenapa harus takut? Aku berani kok."
"Ya udah, lakuin. Terus kalau ada yang nanya kenapa kita bisa berdua didalam sini, aku tinggal bilang kalau kita memang ada apa-apa."
"Astaga, kamu itu.... bener-bener gak waras." Yara pun terduduk karena menyerah tak juga menemukan kunci.
Bersamaan dengan itu, lampu yang tadinya menyala di ruangan itu, tiba-tiba mati dan semuanya menjadi gelap.
Yara tidak lagi dapat melihat Sky. Begitupun Sky yang tidak bisa menatap Yara lagi didalam ruangan itu.
"Ayara?"
"Sky?"
Mereka saling mencari satu sama lain.
"Kok lampunya mati?"
"Mungkin ada yang matiin, saklarnya kan diluar." Sky menjawab santai.
"Aku gak bawa ponsel. Ketinggalan di kamar. Nyalain lampu flash dari ponsel kamu, Sky," pinta Yara.
"Kalau aku lakuin, aku dapat apa?" tanya pria itu dengan intonasi yang terdengar menjengkelkan dipendengaran Yara.
"Kamu mau apa?" Akhirnya Yara bertanya, mana tahan ia berlama-lama dalam ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun.
"Cium, ya."
"Sky!!!!!"
******
__ADS_1
...Jangan lupa tap Love, vote, hadiah dan tinggalkan komentarđź’š...