EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
133. Terus-terang


__ADS_3

Disaat harus memilih, mana yang harus Lucky utamakan sekarang. Antara Firda atau bayi yang sudah ia tunggu-tunggu kelahirannya selama ini? Dan nyatanya pria itu diliputi rasa bimbang.


"Selamatkan Firda," kata Lucky pada pada perawat yang menanyainya. Pilihan itu ia ucapkan dengan susah payah.


Lucky memang tidak mencintai Firda. Kisah mereka berawal dari kesalahan dan berjalan karena naf su setan semata. Tapi, Firda bertaruh nyawa demi keturunannya dan pilihan Lucky jatuh pada menyelamatkan nyawa wanita itu, meski ia juga masih berharap ada keajaiban untuk dapat memeluk sang bayi dalam kondisi yang masih bernyawa.


Perawat itu pun bergegas masuk kembali ke ruang operasi-- sesaat setelah dia mendengar pilihan yang Lucky berikan.


Pukul 11 lewat 20 menit waktu setempat, operasi itu selesai dilaksanakan dan Lucky langsung menyambut keluarnya para dokter dari ruang operasi.


"Bagaimana hasil operasinya, dok?" tanya Lucky menghampiri Dokter yang memimpin berjalannya operasi itu.


Dokter mengangguk samar, ada raut sendu yang tersirat, perasaan Lucky semakin tak enak.


"Syukurlah, keduanya bisa kami selamatkan. Ibunya juga sudah melewati masa kritis. Bayinya perempuan, Pak."


Lucky menghela nafas lega. Ternyata Tuhan masih mau mengabulkan doanya. Tapi, ia belum mendapat jawaban kenapa raut wajah sang dokter terlihat berbeda. Kenapa Dokter harus bersikap demikian jika anak istrinya dapat diselamatkan?


"Bapak boleh melihat pasien setelah dipindahkan ke ruang perawatan. Bayinya juga akan segera di bersihkan. Permisi, ya, Pak."


Lucky terdiam saat melihat kepergian sang dokter. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi apa?


Tidak menunggu lama, Lucky menyambangi ruang baru yang kini ditempati oleh Firda. Bangsal itu terlihat senyap saat Lucky memasukinya, ia melihat bahu Firda yang berguncang-- sebab posisi Firda memang berbaring sembari memunggungi pintu masuk.


Lucky agak heran dengan posisi tidur Firda yang riskan, bukankah dia baru saja menjalani operasi Caesar beberapa menit lalu?


Tanpa perlu bertanya, tapi Lucky tau jika wanita itu sedang menangis sekarang. Ia berjalan pelan dan menghampiri sang istri.


"Fir ..." Lucky menyentuh pundak Firda dengan pelan.


Firda tak menggubris, justru semakin menguatkan tangisan karena mendengar suara yang tak asing memanggilnya, ia makin histeris saat mengetahui Lucky telah tiba di Rumah Sakit, tepatnya di belakang tubuhnya.


Jika tadi Firda memang mengharapkan kedatangan Lucky untuk menemaninya kontrol kehamilan, sekarang tidak lagi. Tepatnya setelah dia berhasil melahirkan, dia tak mau bertemu pria itu sebab ia takut.


"Firda, apa yang membuat kamu menangis?" tanya Lucky mencoba perhatian.


Firda menggeleng dari posisinya, ia tidak bisa menjelaskan arti tangisannya pada sang suami.


Sampai seseorang memasuki pintu bangsal perawatan tersebut. Itu adalah perawat yang menggendong bayi mereka.


"Permisi, Pak, Ibu... bayinya sudah selesai dibersihkan."


Lucky mengangguk, dia ingin berderap menghampiri sang suster, ia juga tak sabar untuk melihat rupa bayi cantiknya. Tapi, belum sempat Lucky melangkah, tangannya ditarik oleh Firda, wanita itu mencegah Lucky. Firda menggeleng-- seolah mengisyaratkan agar Lucky tak meninggalkannya.


"Aku cuma mau lihat bayi kita, aku gak pergi lagi," kata Lucky menenangkan Firda. Dia pikir Firda hanya khawatir dia akan pergi lagi setelah melihat sang bayi.


Tapi sekali lagi Firda menggeleng keras. "Gak usah, kamu gak usah melihat bayi itu!" tekannya.


Lucky terbelalak akibat pernyataan sang wanita. Ada apa ini? Firda terlihat semakin marah saat Lucky tidak mengindahkan larangannya.


"Berhenti, Mas! Kamu gak usah melihat bayinya!" jerit Firda dengan suara tertahan sebab setelah itu dia pun meringis kesakitan sembari memegangi perutnya yang baru dibedah.


Perawat yang menggendong bayi itu memasang senyum sendu, persis sama-- seperti Dokter yang mengoperasi Firda tadi. Hal ini semakin membuat Lucky penasaran. Pria itu segera meraih bayi dalam gendongan sang suster.

__ADS_1


"Saya permisi dulu, Pak." Perawat itu buru-buru pergi tanpa penjelasan apapun. Entahlah, dia tampak menghindar setelah benar-benar menyerahkan sang bayi pada Lucky.


Lucky termangu lama saat melihat bayi dalam gendongannya, diiringi suara isak tangis yang Firda keluarkan sejadi-jadinya.


"Maafin aku, Mas." Kini Firda melirih. Ia tau Lucky dapat menyadari kenapa ia merasa bersalah sekarang.


Mata Lucky memandangi bayi mungil itu dengan nanar. Tatapannya terasa kabur dan abu-abu. Tapi, sebisa mungkin Lucky berusaha untuk kuat.


Firda menunggu Lucky berkomentar, tapi tak satupun kata keluar dari bibir pria itu.


"Aku mohon, Mas. Jangan tinggalin aku setelah ini."


Ucapan Firda hanya seperti nyanyian sumbang ditelinga Lucky, sebab kini tatapannya hanya tertuju pada bayi yang masih ia dekap dalam gendongan.


Bayi itu terlihat berbeda. Itulah mengapa Firda merasa bersalah pada suaminya-- meski ini terjadi diluar kendali mereka. Ukuran kepala bayi membesar, hal itu yang sempat Firda dengar sekilas dari dokter dan perawat yang menanganinya di ruang operasi tadi.


Bahkan, saat Firda diperlihatkan pada wajah bayinya sendiri, dia merasa syok dan terkejut.


Bagaimana tidak, bayi itu terlahir dengan kondisi cacat otak bawaan lahir. Kelebihan cairan yang memberi terlalu banyak tekanan pada otak. Bayinya menderita Hidrosefalus.


Lucky masih tidak menggubris ucapan Firda, kini ia malah merasa bersalah. Pria itu menyalahkan diri karena dosanya bersama Firda justru harus ditanggung oleh bayi yang tidak berdosa. Ini semua salahnya dan ini teguran keras dari Sang Maha Kuasa.


Apakah ini karma baginya? Entahlah.


Sampai perkataan Firda yang selanjutnya--- membuat Lucky harus menatap wanita itu dengan wajah bengis dan kebencian.


"Bayinya ... kita buang saja, Mas."


Padahal, Lucky belum mengatakan apapun perihal kondisi cacat bayi mereka. Ia tidak pernah mengatakan bahwa tak mau menerima bayi ini. Setidaknya, Lucky sadar diri ini adalah imbas dari dosa dimasa lalunya. Tapi, ucapan Firda menunjukkan kwalitas wanita itu sendiri.


"Bayinya kita buang ke panti asuhan saja, Mas."


"Buang?" Mata Lucky mengisyaratkan kemarahan yang besar. Dia hanya terfokus pada kata 'buang'.


Firda kira Lucky marah karena kondisi bayinya, tapi pria itu meradang karena ucapan Firda sendiri sebab berucap seenaknya, seolah bayi itu adalah barang rongsokan yang layak dibuang.


Firda menganggukkan kepala dengan mimik wajah takut-takut. "I--iya, Mas."


Lucky menatap nyalang pada wanita yang tergeletak diatas bed Rumah Sakit itu. "Bukankah ini anak yang kamu lahirkan?" tanyanya marah.


"Tapi, dia cacat, Mas! Aku gak Sudi ngerawat dia!" tukas Firda.


Lucky menggeleng tak percaya atas pernyataan Firda. "Ternyata, selain minim attitude, kamu juga miskin akhlak, Firda!" ujarnya menohok.


Lagi-lagi Firda menangis. "Ayolah, Mas! Selagi aku masih bisa mengandung anak kamu, kita titip saja bayi itu di panti," ujarnya bersikeras.


"Kamu rawat bayi ini, karena ini bayi yang kamu lahirkan! Jangan lepas tanggung jawab kamu!"


"Aku gak mau! Sampai kapanpun aku gak mau mengurus bayi itu. Kamu juga gak perlu repot mengurusnya, Mas."


"Tapi dia tetap putriku!" kata Lucky menekankan.


Firda mendengkus. Bagaimana caranya agar Lucky setuju untuk menitipkan bayi itu ke panti asuhan saja?

__ADS_1


"Itu bukan bayi kamu, Mas!" kata Firda kemudian.


"Maksud kamu? Jangan mengada-ngada, Firda! Jangan membual agar aku setuju untuk menitipkan bayi ini ke panti asuhan!"


Firda tersenyum kecut. "Sebenarnya aku udah hamil lebih dulu, sebelum kita melakukan hal itu untuk yang pertama kalinya!"


Firda jelas-jelas mengaku tanpa paksaan dari siapapun. Toh, kalau dia tetap menutupi ini, maka Lucky akan bersikeras mau merawat bayi cacat itu dan dia tidak mau, maka ada baiknya dia berterus-terang saja.


"Bullsh1t!" umpat Lucky yang semakin meradang. Hal itu membuat bayi dalam gendongannya merengek-rengek kemudian menangis kencang.


"Maafin aku, Mas. Aku terpaksa melakukan ini demi mendapatkan kamu, aku memanfaatkan kehamilanku karena aku tau kamu sangat ingin punya anak, tapi gak bisa dapat dari Nadine."


Astaga, apalagi ini? Lucky merasa setengah gila sekarang. Apa dia diperdaya oleh Firda?


"Kamu sadar gak, karena kesibukan kamu... bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga sibuk mengejar-ngejar Nadine, kamu lupa dan gak pernah menghitung waktu kehamilan aku!"


"Cukup! Kamu gak usah jelasin apapun lagi, Firda!"


"Jadi, sekarang kamu setuju kalau bayi itu kita buang aja, kan, mas?"


Lucky terdiam. Jika saja bayi ini tak lahir dalam kondisi cacat, apa mungkin Firda mau mengakui bahwa bayi ini bukan anak Lucky? Tidak mungkin! Jika bayi ini lahir normal, pasti Firda akan tetap mempertahankan kebusukannya. Firda jujur karena dia tak sudi merawat bayi cacatnya.


"Jadi, siapa ayah dari bayi ini?" tanya Lucky akhirnya.


"Aku gak tau."


"Apa maksud kamu-- gak tau?"


"Sejak mendiang suamiku struk, aku suka mencari kesenangan di luar sana, Mas. Jadi, aku emang gak tau siapa bapaknya!"


Terkutuklah kau Firda! Batin Lucky menggerutu sekaligus memaki wanita ini, bisa-bisanya Firda juga mengakui hal itu sekarang.


"Maaf, Mas. Aku memang menjebak kamu waktu itu karena kamu kandidat yang paling pas untuk menikahi aku." Firda menyunggingkan senyum getir, meski wajahnya masih basah karena airmata.


Lucky memanggil perawat untuk menenangkan bayinya, karena dia sendiri mau menenangkan diri juga akibat pengakuan Firda.


Wanita tak tau malu ini benar-benar bakteri dalam hidup Lucky. Ah, kenapa Lucky bisa terjebak dengannya? Bahkan bisa saja Lucky tertular penyakit dari Firda jika memang Firda sembarangan berhubungan dengan lelaki yang tak jelas.


"Kita masih bisa memulai semuanya dari Nol, Mas. Aku masih bisa ngasih kamu keturunan karena aku bisa mengandung, gak kayak Nadine yang mandul!"


Masih bisa wanita ini mengejek Nadine, padahal sikapnya sudah sangat menjengkelkan dan memuakkan dimata Lucky.


"Kamu pikir aku mau, hah? Kamu tau apa yang mau aku lakukan sekarang setelah kejujuran kamu?"


"Apa, Mas?"


Firda ketakutan, ia meracau terlalu jauh tadi, hingga tidak memikirkan konsekuensinya, yang dia pikirkan saat mau terbuka pada Lucky tadi--hanyalah Lucky akan setuju jika bayinya dititip di panti asuhan-- karena itu bukan darah daging pria itu. Tapi sekarang dia cemas, seharusnya dia tidak bicara sefrontal itu. Dia baru menyesal dan merutuk tindakannya sendiri.


"Yang pertama mau aku lakuin adalah mengecek kesehatanku sendiri!"


Firda terbelalak dengan perkataan Lucky. Ini seperti dirinya telah membawa penyakit menular untuk pria itu.


"... dan yang kedua adalah menceraikan kamu secepatnya!"

__ADS_1


Bersambung ...


Kirim Vote Senin kesini yah guys... karena othor berpikir keras untuk bab ini❤️❤️❤️❤️


__ADS_2