
Hari ini Juna merasa kembali seperti dua tahun yang lalu. Tepatnya saat ia baru menikahi Yara. Hal itu ia rasakan karena untuk kedua kalinya ia kembali pulang ke rumah--- tepat pada waktunya.
Sudah sejak lama ia tidak pulang di jam ini. Terutama, jika harus menemui Shanum. Wanita itu kerap mengajaknya jalan-jalan ataupun mencobai tempat-tempat yang sedang hits dan populer di kota mereka.
Akan tetapi, sekarang keadaan rumah sudah tidak lagi sama seperti saat dua tahun yang lalu.
Dulu, Yara selalu menyambutnya saat ia pulang. Menyediakannya minuman, serta menanyakannya ingin makan apa. Tak lupa, Yara juga selalu membuatkannya cemilan untuk mereka nikmati bersama-sama.
Kebiasaan itu lambat laun mulai menghilang. Sejak ia selalu pulang telat atau kemalaman. Bersamaan dengan nafkah bagi Yara yang juga ia pangkas setiap bulan.
Sekarang, hal semacam itu pasti sulit ia dapatkan. Apalagi setelah Yara mengetahui perselingkuhannya.
"Kau serakah, Juna! Apa yang tidak Yara berikan untukmu? Bahkan dia menyerahkan tubuh serta hidupnya untuk kau rengkuh sepenuhnya."
Sebuah bisikan diri, terdengar di dalam benak Juna. Seakan mengingatkannya, tetapi itu datang disaat yang sangat telat, yaitu ketika Yara sudah tidak mau menerima kata maaf darinya.
"Yara juga menyetujui pernikahan kalian, padahal saat itu Yara baru saja lulus dari study yang seharusnya mengantarkannya pada dunia pekerjaan yang mungkin bisa membuatnya menghasilkan pundi-pundi uang lebih banyak daripada yang kau berikan."
Telinga Juna rasanya berdengung. Bahkan dirinya sendiri menegur segala perbuatannya. Bisikan itu semakin menyalahkannya, membuatnya kesal pada dirinya sendiri.
Saat masuk ke dalam rumah, pandangan Juna justru bersirobok pada seorang wanita yang mengenakan dress selutut berwarna peach. Rambutnya di kuncir kuda. Pipi yang dipoles merona, serta liptin natural berwarna pink magenta. Itu adalah Yara, istrinya.
"Mau kemana?" Akhirnya kata itu yang terucap dari bibir Juna untuk menanyai wanita yang tampak cantik hari ini.
Bo doh, apa selama ini matanya tertutup? Kenapa ia jarang sekali menyadari kecantikan alami yang dimiliki Yara?
Dan setiap melihat Yara seperti ini, perasaan memiliki terasa begitu kuat. Has ratnya selalu memuncak seakan keluar dari ambang batas yang semestinya. Ingin merengkuh tubuh itu dan menjadikannya miliknya.
Bukankah Yara memang miliknya? Kemana saja ia selama ini?
Shanum telah membuat Juna lupa tentang Yara, atau memang ia yang buta menilai istrinya sendiri?
"Aku mau ke rumah Mas Anton," jawab Yara dingin.
"Ngapain?" Meski Juna sudah menerka jawabannya, tapi ia mencoba berbasa-basi agar Yara tidak mencurigai bahwa ia sudah tahu mengenai kondisi Shanum.
"Jengukin Mbak Shanum. Kabarnya dia masuk Rumah Sakit pagi tadi." Masih saja Yara menjawab dingin dengan sekenanya.
"Aku antar ya." Juna menjawab sembari kembali menelisik penampilan Yara hari ini, wanita itu tampak mengenakan jam yang tempo hari ia yakini adalah jam dengan brand mahal.
"Gak usah, aku udah pesan ojek online."
"Kamu udah cantik begini masa mau naik ojek, nanti jadi bau asap."
"Aku udah biasa bau asap. Jangankan bau asap, bau api perselingkuhan pun aku udah tau gimana."
Tentu Juna tau jawaban Yara itu tengah menyindirnya.
__ADS_1
"Sayang, aku kan udah minta maaf. Aku bakal berubah buat hubungan kita jadi lebih baik kedepannya."
"Hubungan apa? Orang aku minta pisah, kok!"
Yara mengambil tas nya dan keluar dari rumah. Tentu saja Juna mengejar langkah istrinya itu.
"Kalau memang mau pergi sendiri kenapa harus dandan secantik ini," protes Juna tapi dengan nada pelan.
Seketika itu mata Yara memicing pada sang pria. "Cantik? Kamu bilang aku dandan cantik? Kayaknya setiap hari aku emang begini, Mas. Kamu amnesia ya?" sungutnya.
Juna menghela nafas panjang. Ternyata memang selama ini ia memiliki istri yang cantik. Kenapa setelah Yara mengajaknya berpisah barulah matanya terbuka hingga merasa ingin tetap memiliki wanita cantik itu.
"Aku antar," kata Juna menangkap lengan Yara seketika.
Tapi, Yara segera menatap Juna dengan tatapan paling tajam kemudian mengibaskan tangannya agar terlepas dari pegangan Juna.
"Ya udah, nanti aku jemput di rumah Mas Anton."
Sebenarnya selain ingin mengantar Yara, ia juga sudah berjanji ingin menjenguk Shanum sehingga jika Yara menolak untuk diantarnya, ia masih punya alasan untuk menjemput wanita itu sembari melihat keadaan Shanum nanti.
Usai kepergian Yara menggunakan ojek online, Juna memutuskan mandi dan berganti pakaian. Ia mengingat keinginan Shanum untuk nanti ia bawakan.
Sehingga sebelum benar-benar mengunjungi rumah kakak iparnya, Juna menyempatkan diri untuk membeli pir madu berikut tahu isi Sumedang pesanan kekasihnya.
...~~~~...
"Udah gak apa-apa, dokter bilang cuma kecapekan aja kok, Ra." Shanum menjawab sembari matanya menelisik ke arah belakang tubuh Yara, seperti tengah mencari-cari sesuatu.
"Kenapa, Mbak? Mbak cari apa?"
"Oh, enggak. Mas mu mana, Ra?"
Yara tersenyum tipis. "Mas Anton gak kemana-mana kok, Mbak... cuma di dapur, katanya mau buatin Yara minum padahal Yara bilang gak usah repot-repot. Kenapa sih, Mbak? Takut banget mas Anton kemana-mana," goda Yara.
Shanum hanya menyengir. Sebenarnya ia bukan mencari-cari keberadaan Anton melainkan mencari Juna. Kenapa sepertinya Yara datang sendirian? Padahal Juna kan sudah berjanji untuk menjenguknya serta membawa pesanannya.
"Kamu... gak sama Juna, Ra?" Akhirnya Shanum memutuskan untuk bertanya, ia tidak dapat lagi menahan keingintahuannya mengenai kekasihnya itu.
"Enggak, Mbak... tadi naik ojol."
"Kenapa gak bareng-bareng?" tanya Shanum kemudian.
"Memangnya kamu berharap dijengukin Juna juga ya, Num?" Suara Anton yang datang dibelakang tubuh Yara, dia yang menyahuti pertanyaan istrinya.
"Ng... bukan gitu, Mas. Kenapa Juna nggak anterin Yara kesini, kan kasian Yara kalau naik ojol," kilah Shanum sambil menggosok tengkuk belakangnya.
"Mas bercanda kok, Num... kamu biasa aja, dong." Anton dan Yara jadi tertawa pelan, sementara Shanum mengulumm senyum malu-malunya.
__ADS_1
"Mas, nanti Yara sekalian mau ngomong sama Mas." Yara berniat menceritakan permasalahannya dengan Juna pada sang kakak. Bagaimanapun, Anton adalah wali alias pengganti orangtua bagi Yara. Sedikit banyak, Anton pasti punya jalan terbaik untuk masalah rumah tangganya, pikir Yara.
"Soal apa, dek?"
"Soal Yara...."
Yara mengedipkan mata pada Anton sebagai kode bahwa dia ingin bicara berdua tanpa didengar Shanum. Bukan mau menutupi, Yara juga sudah menganggap Shanum bagian dari keluarganya, tetapi mengingat Shanum sedang tidak sehat, Yara hanya takut kakak iparnya itu menjadi kepikiran jika mengetahui problemnya dengan Juna.
"Oh, ya udah, Dek..." kata Anton pengertian.
Disaat yang sama, Shanum kepikiran perihal Yara yang sudah mengetahui perselingkuhan Juna.
"Melihat sikap Yara, kayaknya dia memang belum tau jika selingkuhan Juna itu aku," batin Shanum. Ia yakin Yara tidak mengetahui karena sikap Yara bisa dibilang tak berubah kepadanya.
Sehingga, Shanum pun bernafas lega. Ia juga sudah bisa menebak jika yang ingin Yara bicarakan pada Anton adalah mengenai permasalahannya dengan Juna.
"Mbak gak boleh capek, jangan kerjain pekerjaan rumah tangga. Kalau mas Anton minta makanan yang ribet-ribet suruh aja dia pesan online," kata Yara pada Shanum.
"Mas mana pernah ribet-ribet sih, dek." Anton membela diri dan pada kenyataannya dia memang jujur mengenai hal itu.
"Iya, Ra. Mas mu pengertian kok, masih selalu sama kayak dulu."
"Ya iya dong, aku kan sayang banget sama istri dan calon anakku," kata Anton kemudian.
Tak lama berbincang, suara deruan mobil terdengar di pendengaran mereka. Bersamaan dengan seseorang yang datang menyapa.
Anton yang tadinya membukakan pintu, sudah kembali dan berujar. "Ra, suamimu yang datang...."
Yara terkesiap, padahal ia ingin bicara berdua dengan Anton mengenai tingkah Juna ternyata pria itu malah benar-benar mengunjungi kediaman kakaknya.
"Ini Mas, aku bawa sedikit buat Mbak Shanum..." Juna memberikan bingkisannya pada Anton, tetapi matanya melirik Shanum yang terbaring.
"Makasih ya, Jun," sahut Anton.
"Gak usah repot-repot, Jun," kata Shanum berakting.
Juna melempar senyum pada Shanum, begitupun yang dilakukan wanita itu.
"Cepat sehat ya, mbak... kasian bayinya kalau diajakin capek," kata Juna tulus tapi juga menyindir Shanum.
"Gak dibawa capek kok, cuma ya gitu, kamu tau lah Jun, Mas mu itu!" kata Shanum mengadu pada Juna didepan Anton dan Yara yang juga berada disana.
Juna pun menatap Anton. "Mbak Shanum lagi hamil, Mas. Jangan digempur terus lah," ujarnya berkelakar tapi tentunya sekalian memperingati Anton, sebab ia juga tak senang dengan perbuatan Anton itu terhadap Shanum.
Bersambung....
****
__ADS_1