
Malam harinya, salah seorang Asisten rumah tangga yang bekerja dikediaman Lucky, mengetuk pintu kamar yang dinaungi Nadine sekarang. Rupanya Nadine diminta untuk turun untuk makan malam bersama.
Keluarga Lucky memang teratur dan disiplin, jadi mereka memiliki jam makan malam yang wajib dihadiri semua keluarga inti yang tinggal di rumah itu.
Dulunya, mendiang Papa Lucky yang selalu menganjurkan untuk makan malam bersama-sama, hingga beliau wafat-- kebiasaan itu masih selalu dilakukan oleh keluarganya.
Bicara soal Papa mertuanya, Nadine jadi teringat bahwa dulu ayah Lucky lah yang semula mengusulkan untuk menjodohkan Nadine dengan putranya. Dan perjodohan itu pun dilakukan setelah disetujui oleh kedua orangtua Nadine.
Waktu itu, Nadine juga menyetujui karena dia pun tertarik pada Lucky. Hingga lambat laun mereka saling mencintai satu sama lain, setidaknya itulah yang Nadine yakini selama ini.
Mungkin jika papa mertuanya masih hidup, semuanya tidak akan begini. Nadine tau mendiang Papa Lucky menyayanginya layaknya anak sendiri.
Nadine menghela nafas panjang setelah lamunannya terhenti, ia pun keluar dari kamar untuk menghampiri ruang makan. Bersamaan dengan itu, rupanya Lucky dan Firda juga tengah menuruni tangga dan tentu hal itu dapat dilihat oleh Nadine.
Jangan tanyakan perasaan Nadine sekarang, selain cemburu, dia juga sangat ingin menangis. Tapi yang paling ingin Nadine lakukan adalah menjambak rambut Firda. Ah, mudah-mudahan keinginan semacam itu masih bisa dikontrolnya agar tidak menyebabkan keributan yang lebih parah.
Dulu ia dan Firda sangat akrab, hingga ia tak menyangka bahwa Firda akan menusuknya dari belakang seperti ini. Entah sejak kapan sahabatnya itu tertarik pada suaminya, Nadine pun tidak pernah menyangkanya.
Firda mulai duduk tepat di samping Lucky, mengambil alih kursi yang biasa Nadine duduki. Bahkan dia sempat menyunggingkan seulas senyum yang membuat Nadine merasa tengah diejek untuk kesekian kali.
Ternyata persahabatan mereka memang telah berubah menjadi hubungan perang dingin yang entah sampai kapan akan berakhir.
Karena tidak mau ada keributan disaat ingin makan-- hingga menyebabkan hilang selera, akhirnya Nadine hanya diam dan membiarkan saja. Nadine pun memilih duduk di kursi kosong yang lainnya.
"Ini, Mbok masakin makanan kesukaan Bu Nadine. Ada capcai udang sama daging sapi lada hitam." Mbok Jumi menyajikan makanan sambil berujar akrab pada Nadine.
Mendengar itu, Nadine menyunggingkan senyumnya dengan tulus, ternyata masih ada orang yang menghargai kepulangannya di rumah ini--meski itu Mbok Jumi yang memang sudah mengenalnya sejak awal menikah dengan Lucky.
"Makasih banyak ya, Mbok."
"Iya, Bu."
Bu Ruqaya dan Sonya saling menatap jengah, namun tak satupun dari mereka yang berani bersuara karena terbiasa makan dalam keadaan hening.
Nadine mulai menyantap makanannya, namun baru ingin menyuap untuk ketiga kalinya tiba-tiba suara seseorang membuat perhatian mereka semua teralihkan dari makanan yang sedang disantap.
"Uwekk! uwekk ..." Firda tiba-tiba bangkit, menutup mulutnya yang sepertinya ingin muntah.
Nadine pikir wanita hamil itu akan segera pergi dari sana untuk memuntahkan isi perutnya di toilet, nyatanya tidak. Bahkan sepertinya Firda memang sengaja untuk mencari gara-gara.
"Mbok Jumi!!! Kenapa sih harus masak udang? Udah tau aku mual. Kenapa masih juga dimasak! Apalagi aroma lada hitam ini, ini menyengat banget di hidung aku yang sens1tif!"
Jelas saja semua yang diprotes Firda itu adalah makanan yang khusus dibuatkan Mbok Jumi untuk Nadine, sehingga wanita itu langsung merasa tersindir akibat ucapan Firda. Lagipula, kenapa Firda sempat untuk marah-marah? Bukannya dia mau muntah, tadi? Mual? Harusnya ke kamar mandi? Kenapa masih bisa protes? pikir Nadine.
Nadine meletakkan sendok. Tanpa bicara apapun, dia kembali memasuki kamarnya.
Masih bisa Nadine dengar suara Lucky yang menenangkan Firda. Kemudian beralih memanggil Mbok Jumi untuk membereskan makanan yang tadi jadi di nikmati Nadine seluruhnya.
"Jangan berharap Mas Lucky akan menyusul mu, Nad. Karena prioritas utamanya sekarang--bukan kamu lagi!" Begitulah batin Firda menatap kepergian Nadine yang senyap.
Sesampainya dikamar, Nadine menangis tersedu-sedu. Ia sudah menahan diri untuk tidak lepas kendali, tetapi Firda selalu saja sengaja mencari masalah dengannya.
"Seharusnya aku emang gak pernah pulang kesini. Seharusnya aku emang sadar diri."
Bersamaan dengan itu, ponsel Nadine berdering, ia melihat itu adalah panggilan dari nomor Indonesia, namun Nadine tidak mengetahui siapa pemilik nomor tersebut.
__ADS_1
"Hallo?"
"Hallo, Nadine?"
"Mas Anton?" Nadine segera menyeka airmatanya, meski ia tau Anton disana tidak dapat melihat keadaannya saat ini.
"Ehm, maaf ya, ganggu kamu malam-malam. Kebetulan saya lagi supermarket, mau beli lotion anti nyamuk buat Elara, seperti saran kamu. Kemarin saya udah beli merk B. Tapi kok masih digigit nyamuk. Kira-kira merk apa yang bagus ya, Nad?"
Mendengar itu akhirnya Nadine terkekeh pelan, melupakan sedikit rasa sesak di dadanya karena tingkah Firda.
"Jadi Mas nelepon aku cuma mau nanyak merk lotion anti nyamuk?"
"Hmm, iya... maaf, saya awam soal ini. Mau nanya Yara, tapi dia lagi bulan madu ke NTT, jadi saya gak enak kalau menggangu mereka dan jad malah ganggu kamu."
"Gak ganggu kok, mas. Cuma ini aku lagi di Singapore, sih. Kalau lagi di Indo pasti aku beliin buat Elara sekalian."
"Ya ampun, maaf ya, Nad. Saya gak tau kamu lagi di luar negeri."
"Gak apa-apa, Mas. Coba Mas pake merk D. Setau aku itu bagus. Memang aku gak pernah pake buat bayi aku sendiri, tapi produk dari merk D biasanya bagus."
"Oh, iya, iya. Makasih ya, Nad. Maaf udah ngerepotin kamu."
"Gak apa-apa, Mas. Gimana kabar Elara?"
"Baik, kok. Udah gak serewel kemarin."
"Oh, syukurlah. Mas ke Supermarket, Elara sama siapa di rumah?"
"Hmm, kebetulan ada bukde sama pakde nya di rumah. Jadi aku bisa curi-curi keluar buat belanja."
Sejenak hening akibat pertanyaan Nadine itu. Kenapa Anton tidak kunjung menjawab? Nadine sampai melihat pada layar ponselnya untuk memastikan panggilan itu masih tersambung atau tidak.
"Nad...."
Suara Lucky terdengar dari luar dan mengetuk-ngetuk pintu kamar yang ditempati Nadine.
Seketika itu juga Nadine langsung memutus panggilan dari Anton tanpa berbasa-basi lagi. Dia bangkit dan membuka pintu kamar.
Awalnya, Nadine malas bicara atau menanyakan apa niat suaminya yang kini mendatanginya. Namun, melihat sang suami berdiri di ambang pintu dengan tatapan sendu, membuat Nadine tak tega juga.
"Ada apa, Mas?"
"Boleh aku masuk?"
Nadine menggeser tubuh dan membiarkan Lucky memasuki kamarnya.
"Aku mau bicara, Nad."
"Ya, bicara aja, Mas."
"Aku minta maaf ya, aku belum bisa jadi suami yang baik buat kalian berdua."
Nadine tersenyum. "Mas udah jadi suami yang baik kok, tapi...." Nadine sengaja menjeda kalimatnya.
"Tapi?" ulang Lucky.
__ADS_1
"Tapi Mas hanya menjadi suami yang baik buat Firda, bukan buat aku."
"Nad?"
"Kalau Mas hanya mau bilang maaf, aku udah bosen, Mas. Apa mas gak bosen bilang kata itu terus setiap hari? Bahkan dalam sehari Mas bisa bilang kata maaf berkali-kali."
"Seenggaknya aku udah berusaha minta maaf sama kamu, Sayang."
Nadine menggeleng samar. "Enggak, Mas. Seharusnya yang kamu usahain itu bukan permintaan maaf, melainkan berusaha untuk adil meski itu sulit."
"Tapi, kamu tau sendiri kan, kalau Firda itu lagi hamil. Mau gak mau aku harus menuruti keinginan dia, Nad."
Nadine mengulas senyum getir. "Ya, memang alasan itu yang paling bisa membungkam aku biar diam, kan, mas? Karena aku gak bisa hamil seperti Firda, jadi mau gak mau aku harus ngalah. Gitu kan maksud kamu?" ujarnya dengan sangat tenang namun menahan sesak di dada.
"Nadine, sayang... aku mau kita tetap baik-baik aja. Aku sayang banget sama kamu. Kamu tau kan, aku gak mungkin ngelakuin semua ini kalau gak karena mau memiliki keturunan."
Tes.
Airmata Nadine menetes, ucapan Lucky itu secara tak langsung memang menyudutkan posisinya yang memiliki kekurangan.
"Jangan nangis lagi, Nad. Aku gak bisa kalau kamu begini terus. Aku gak mau menyakiti kamu. Aku gak bermaksud begini sama kamu."
Lucky membawa sang istri ke dalam dekapannya, namun pelukan itu sudah terasa berbeda bagi seorang Nadine.
"Mas, bagaimana kalau kita bercerai aja?" ucap Nadine tiba-tiba dan itu sontak membuat Lucky tak percaya.
"Kamu apa-apaan, Nad. Jangan bicara hal seperti itu!" tegasnya.
"Jadi, mau sampai kapan kamu begini, Mas? Kamu mau punya istri dua sampai selama-lamanya?"
"Apa kamu mau aku ninggalin Firda-- kalau dia udah melahirkan nanti? Gitu maksud kamu?"
"Gak gitu, Mas. Aku gak minta kamu ninggalin Firda. Aku juga gak minta kamu buat memilih aku. Tapi aku minta kita bercerai aja."
Mendengar ucapan Nadine yang sangat mantap dan yakin, membuat Lucky memicingkan matanya pada sang istri.
"Kenapa, Nad? Apa karena kamu udah punya pria lain sekarang?" serobot Lucky tanpa tedeng aling-aling.
Nadine terperangah. "Kok jadi aku?" katanya tak percaya dengan perkataan pria itu.
Bersambung ...
*****
Dukungannya mana gaes? Besok aku up lagi 3 bab. Buat hari ini udah dulu ya? Besok ketemu sama Skyara lagi oke🤜🤛
Oh iya, buat yang belum tau ya. Ini aku kasih tau sama Readers karena sebelum bab ini, aku dapat kiriman bintang 1 dari pembaca.
Oke, jadi bukan mau bahas pembacanya deh. Intinya aku mau kasih tau, buat yang belum tau.
Jadi, fungsi bintang yang ada di rate novel itu adalah untuk mengomentari keseluruhan isi novel. Bagus, baik, lumayan, kurang baik, atau justru buruk.
Nah, kalau kalian Readers ada yang kesal sama salah satu karakter tokoh yang ada di novel ini, kalian boleh aja kok berkomentar, bahkan ngata-ngatain si tokoh. Tapi.... disini perlu di garisbawahi ya. Jangan menilai tokoh buruk dan malah ninggalin bintang 1 seolah-olah novelnya yang buruk😭😭😭😭 Novel ini awalnya rate bintang 5, tapi karena 1 komentar yang menyertakan bintang 1 karena kesal sama Lucky, lah.... novel othor jadi turun rate ke bintang 4,8.
Jadi gimana ya? Gitulah😅😅😅
__ADS_1
intinya, bintang itu ditekan untuk kualitas novel ya, bukan untuk mengomentari tokoh yang dibenci sampai menekan bintang 1 😭😭😭