EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
165. Aku kembali


__ADS_3

"Sayang? Kamu gak mau ngelihat aku?"


Yara menggelengkan kepalanya beberapa kali demi membuyarkan halusinasi yang dia rasakan. Rasanya, pingsan saja sudah cukup, tidak perlu ditambahi lagi dengan pemikiran-pemikiran konyol yang justru membuatnya terasa seperti orang yang tidak waras.


"Sky, ini ... gimana ceritanya?" Celetukan Indri yang menanyai sang putra, justru membuat Yara tersadar bahwa bukan hanya dia yang sedang berhalusinasi sekarang--tapi mertuanya pun sama.


Yara mendekat pada posisi Indri, secara otomatis jaraknya dengan Sky juga tak jauh lagi. Hanya saja, wanita itu masih menganggap keberadaan Sky disana hanyalah pemikirannya saja yang sudah keluar batas wajar. Yara pun berusaha tidak menggubris adanya sosok Sky-- sebab dia tidak mau larut dalam hal yang dia anggap sebagai angan-angan.


"Ma, lebih baik kita nyiapin kalimat yang tepat untuk menyampaikan berita ini ke anak-anak. Gimana caranya Cean dan Aura bisa memahami keadaan ini, kalau Papanya udah pergi untuk selamanya. Sky udah gak ada, Ma... kita gak boleh mengkhayalkan Sky terus," tutur Yara berusaha mati-matian menahan sesak di dadanya.


Ujaran wanita itu membuat semua mata yang ada disana menatapnya bingung. Bukan, lebih tepatnya mereka mulai ingin mencerna kalimat Yara barusan.


"Dek, maksud kamu mengkhayalkan itu---"


Ujaran Anton terjeda saat Yara kembali bersuara. "Mas ngapain disini? Apa masih ada barang-barang yang ketinggalan disini? Bukannya harus ngurusin kepulangan jenazah?" tanyanya menahan isak yang lagi-lagi ingin meledak.


"Jenazah siapa maksud kamu, Ayara?"


Kali ini Yara tersentak, dia kembali menyorot pada sosok yang berbaring itu, meski sudah sekuat tenaga mengabaikannya.


Melihat itu, Anton memberi isyarat pada Indri dan Beno untuk meninggalkan keduanya. Meski masih merasa bingung dengan keadaan ini, tapi Indri dapat menahan rasa ingin tahunya sehingga dia menuruti kode yang Anton berikan untuk meninggalkan Yara bersama dengan Sky disana.


Indri memilih untuk menanyakan ini pada Beno dan Anton diluar ruangan saja.


Sementara disana, Yara masih mematung dalam posisinya. Kakinya seakan terpaku ditempat, tidak bisa bergerak kemanapun. Saat dia menyadari semua orang yang tadi ada di ruangan yang sama malah keluar dan pergi meninggalkannya seorang diri, disanalah Yara tak bisa membendung air matanya lagi. Dia bersimpuh dibibir ranjang.


"Jangan sedih lagi, jangan nangis lagi, ada aku ... aku udah disini. Kamu tenang ya. Aku kembali untuk kamu dan anak-anak kita, hmm?" Sky kembali bersuara, tangannya terulur dan mengusap lembut pada pucuk kepala istrinya yang terisak.


Yara masih mencerna keadaan ini dengan hati yang gamang. Dia merasa jika kini dia terjerembab dalam dunia khayal dan dia ingin terus disana tanpa perlu disadarkan.


"Maaf," kata Yara dengan tercekat. "Maafin aku, Sayang," sambungnya kemudian. Biarlah dia larut dalam kebodohan ini. Menganggap Sky masih berada disisinya bahkan menikmati sentuhan pria itu dalam khayalannya. Sentuhan yang dirasa seperti nyata.


Jika ini hanya mimpi, Yara berharap jangan ada siapapun yang membangunkannya. Biar dia terjebak selamanya asal bersama pria yang paling dicintainya.


"Gak apa-apa, aku udah memaafkan kamu sebelum kamu memintanya."


"Makasih, Sayang ..." kata Yara. Kini dia menikmati belaian tangan Sky dikepalanya yang benar-benar terasa nyata.


"I miss you, Wifey." Sky mendekap wajah Yara, dia memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah jelita wanitanya. Seakan meluapkan rasa rindunya yang terlalu berlebihan. Entah berapa lama dia tidak melihat wajah ini sehingga sekarang dia mau memetakan wajah Yara tanpa terlewat se-centi pun.

__ADS_1


"Miss you too, Hubby. Aku bakal merindukan kamu setiap hari." Lagi-lagi Yara menahan tangisnya karena tadi Sky sudah memintanya untuk tidak menangis lagi.


Yara merasa tenang dalam posisinya, dia menikmati setiap sentuhan Sky yang selalu membuatnya candu. Meski ini hanya khayalan semu, dia berharap ini berlangsung lebih lama.


"Sekarang, kamu percaya kalau aku udah disini, kan?"


Yara menganggukkan kepala dalam posisinya, mendongakkan wajah dan menatap lekat ke dalam manik mata pria itu yang selalu menenggelamkannya kedalam rasa damai.


"Sekarang, boleh gak, kalau kita video call Cean dan Aura?"


Ucapan Sky yang masih Yara yakini sebagai khayalan ini, justru kembali membuatnya tersentak. Apakah sebuah khayalan bisa meminta untuk melakukan panggilan video?


"Aku juga kangen banget sama mereka," sambung Sky kemudian dengan suara yang lirih dan serak.


Yara menegakkan tubuh. Dia tatap wajah tampan itu lekat-lekat, lebih lekat dari sebelumnya. Yara melihat sekeliling.


"Apa aku udah gila? Aku bicara sendirian?" gumam Yara pada dirinya sendiri.


Mendengar itu, Sky terkekeh. Belum sempat meledakkan tawanya, laki-laki itu malah meringis sakit di bagian dadanya.


Apa sosok dalam khayalan pun bisa merasa kesakitan?


Begitulah pertanyaan dalam kepala Yara.


"Siapa kamu?" Itulah respon Yara selanjutnya. Sepertinya, dia sudah mulai menyadari keadaan. Wanita itu bangkit berdiri.


"Katanya tadi kamu udah percaya kalau aku udah ada disini." Sky menggaruk dahinya sekilas. "Ini aku, Sayang ..." tambahnya.


Yara menggeleng keras, dia ingin berbalik pergi saat tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal oleh pria yang tergeletak dihadapannya.


"Sayang, ini aku, suami kamu."


"Ini gak mungkin. Kamu jangan bohong! Siapa kamu? Kenapa wajah kamu mirip dengan suami aku?"


"Astaga, Sayang. Ini beneran aku. Emang sejak kapan aku punya kembaran?"


Sekali lagi Yara menggeleng keras-keras. Ya, sejak tadi dia menikmati sentuhan dari pria ini, dia memang merasakan getaran yang sama seperti saat Sky menyentuhnya. Tapi, bukankah suaminya telah berpulang ke pangkuan Ilahi beberapa waktu lalu? Lalu, apa ini?


"Kata dokter aku mengalami near-death experience, atau bahasa mudahnya itu ... mati suri."

__ADS_1


"Apa?" Yara terjingkat kaget, dia mundur beberapa langkah. Bukan takut, tapi itulah respon alami tubuhnya saat mendengar penuturan pria ini.


"Kamu takut sama suami kamu sendiri?"


Yara menggeleng tak percaya. Dia masih mencerna semua ini.


"Iya, Sayang, aku mengalami hal itu. Yang kamu lihat sekarang ini beneran aku. Sky. Suami kamu. Papa dari anak-anak kita. Kamu gak perlu lagi cari cara untuk menjelaskan ke mereka mengenai kematian aku karena sekarang aku udah kembali untuk kalian."


"Ta-tapi ..." Yara sulit mempercayai semua ini, seperti lelucon atau mimpi disiang bolong. Meski jauh dalam lubuk hatinya merasa bersyukur jika Sky benar-benar masih hidup.


"Kalau kamu gak percaya sama aku, kamu bisa tanyakan ini sama Beno dan Mas Anton."


...***...


Sepasang pria dan wanita itu akhirnya kembali lengket seperti prangko. Bahkan mengalahkan pasangan pengantin baru. Padahal tadinya, Yara masih belum mempercayai jika Sky hidup kembali setelah dinyatakan meninggal. Tapi, begitu mendengar penjelasan Anton dan Beno juga mencari tahu langsung dari Dokter akhirnya dia percaya bahwa semua ini nyata.


Suaminya tidak meninggal. Bukan, suaminya memang sempat meninggal beberapa saat lalu. Hanya saja, Yara tidak mau mengingat hal itu lagi karena dia masih merasa terpukul jika kematian Sky kembali dibahas.


Yara dengan celotehannya mulai bicara panjang lebar pada Sky--terkait foto yang dia terima sesaat setelah Sky pergi ke Surabaya.


Dia juga menunjukkan dua foto cetakan yang kemarin sempat dia bandingkan keasliannya.


Sky menyimak itu dengan serius. Dia jadi penasaran siapa yang membuat istrinya jadi berpikiran negatif terhadapnya.


Yara juga menceritakan tentang telepon dan pesan yang sempat dikirimkan oleh nomor asing itu. Provokator itu seolah memanfaatkan keadaan saat Sky kecelakaan bersama Diandra.


"Jadi, waktu itu aku pulang dari bandara naik taksi, terus macet dan niatnya lewat jalan lain. Ternyata pas dijalan sunyi itu, ban taksinya kempes. Aku mau cari taksi lain sebenernya pas kebetulan Diandra lewat disana dan nawarin tumpangan."


"Jadi gitu yang sebenarnya," kata Yara manggut-manggut. "Harusnya kamu telepon aku, kasih tau kamu udah pulang hari itu, Sayang. Jadi aku gak berpikiran yang buruk."


"Ya, aku emang salah, niat aku mau kasih kejutan sama kamu dengan kepulangan aku yang tiba-tiba. Yah, kejadiannya malah dramatis kayak gini." Sky mengelus-elus pipi istrinya dengan gerak perlahan, disaat yang sama Yara menyunggingkan senyuman hangat.


Anton yang ada di dalam ruangan itu turut mendengar aduan Yara kepada Sky, karena mereka memang berbicara apa adanya seolah tidak takut didengar oleh orang lain.


"Jadi, apa kalian mau mencari tau siapa dalang yang mengirim foto itu?" timpal Anton kemudian.


Yara dan Sky sontak menatap pada sang Kakak. Mereka pun mengangguk kompak seolah mengiyakan pertanyaan Anton.


"Kita cari dalangnya. Mas juga penasaran ini ulah siapa."

__ADS_1


Bersambung ...


Readers, sarannya si Michele enaknya diapain ya? ✌️😅


__ADS_2