EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
152. Yara-4


__ADS_3

Yara Pov.


Aku terbangun dari tidur yang tidak nyenyak semalaman. Sebenarnya aku nyaris tidak bisa lelap, tapi aku memaksakan untuk memejamkan mata meski itu sulit.


Bayangan-bayangan buruk selalu saja menghantui kepalaku. Ku pikir aku memilki kepercayaan yang tak berbatas untuk suamiku, nyatanya aku lemah hanya karena mendapatkan kiriman foto-foto dari nomor yang tak dikenal.


Semalam aku juga sudah mencoba menghubungi nomor itu, namun nihil, nomor itu tak dapat dihubungi bahkan saat aku mencoba mengiriminya pesan, pesanku itu hanya mendapat tanda satu centang yang berwarna abu-abu.


Aku merenung sejenak, memikirkan jika Sky tidak mungkin mengkhianatiku. Setidaknya, begitulah kata hatiku. Tapi logika selalu memporak-porandakan kepercayaanku tentang hal itu.


Jujur saja, pagi ini aku tidak begitu bersemangat. Hanya aku masih mengingat jika ada kedua orang anak yang membutuhkanku serta harus ku perhatikan segala kebutuhannya.


Aku pun memaksakan untuk bangkit, aku yakin wajahku yang sembab serta mata yang membengkak akan membuat anak-anak keheranan nanti, jadi ku putuskan untuk mandi lebih dulu sebelum membangunkan Aura dan Cean hari ini.


Aku keluar kamar setengah jam kemudian. Memasuki kamar Cean dan Aura yang masih dalam ruang lingkup yang sama.


Ruangan dengan ukuran enam kali enam meter itu sengaja kami desain dengan dua tema untuk ditempati Aura dan Cean bersamaan. Aku dan Sky sepakat untuk tidak memisahkan mereka dikamar sendiri-sendiri, paling tidak sampai mereka berdua masuk SD dan sudah lebih mandiri daripada sekarang.


"Aura, ayo bangun sayang." Aku merasakan suaraku bergetar, mungkin masih terbawa perasaan karena 'sesuatu' yang menyebabkan pertengkaran semalam bersama Sky.


Gadis mungilku yang sudah berusia 4 tahun itu menggeliat pelan. "Masih ngantuk, Mama," ujarnya dengan mata masih terpejam. Aura justru semakin erat memeluk guling dengan motif hello Kitty miliknya.


"Katanya mau masuk sekolah? Harus bangun, dong ..."


Seketika itu juga Aura terduduk. Dia memang sangat antusias saat ku katakan mau memasukkannya playgroup 0 ditempat yang sama dengan Elara bersekolah, meski sekarang Elara sudah pada jenjang playgroup 3 dan akan segera masuk TK beberapa bulan ke depan, tapi Aura tetap senang bisa bersekolah seperti Elara.


"Ya, Mama. Aula bangun mau cekolah." Gadis kecilku mulai mengerjap-ngerjap. Tampaknya dia sangat bersemangat untuk memulai sekolahnya di hari pertama.


Kini aku beralih menatap Cean yang pulas disisi ruangan itu. Anak tampanku juga masih terpejam disana, aku tidak tega membangunkannya, tapi mulai sekarang anak-anak memang harus berlatih untuk disiplin sejak dini.


"Cean, bangun yuk!"


"Hhhh ..." Cean mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping.


Aku menciumi pipinya dengan gemas. "Ayuk! Aura aja udah bangun. Katanya mau sekolah," bisikku ditelinga bocah itu.


Cean menggeliat, tapi tetap tidak mau membuka mata.


"Cean? Kalau enggak bangun, gak apa-apa. Tapi, mama mandikan Aura abis itu kita berangkat berdua aja. Cean kita tinggal."


Seketika itu juga Cean menegak. Aku tau putraku tidak akan menangis meski ucapanku terdengar mengejutkannya. Cean memang harus lebih ditempa, biar dia lebih kuat sebagai seorang anak laki-laki. Bukan berarti aku tak mau memanjakannya, tapi aku mau yang terbaik untuk dia.


"Cean mau sekolah, Ma." Anak lelakiku memang lebih fasih berujar ketimbang Aura yang masih cadel.


"Oke, kalau gitu, mandi ya."


"Oke, Mama." Cean mencium pipiku sekilas kemudian beranjak menuju kamar mandi.

__ADS_1


Aku menghela nafas pelan. Melihat kedua anakku, aku merasa lebih kuat ketimbang kemarin. Ya, apapun yang terjadi aku memang harus lebih kuat. Sekalipun kenyataannya nanti benar-benar pahit atau justru menyesakkan diriku.


Beberapa saat kemudian, Cean dan Aura sudah berpenampilan rapi atas bantuanku. Perlengkapan untuk sekolah juga sudah aku dan Sky lengkapi sesaat kami sepakat untuk memasukkan Aura dan Cean ke playgroup tempo hari.


"Ma, papa apan puyang? Aula linduuu ama Papa," celoteh Aura saat aku menyendokkan nasi goreng ke piringnya di meja makan.


Lagi-lagi ucapan Aura mengingatkanku pada Sky. Aku melirik jam di pergelangan tangan. Ini baru jam 7, mungkin Sky lagi bersiap-siap untuk bekerja disana atau justru belum bangun?


"Kalo rindu, call dong," celetuk Cean dengan gayanya yang sok dewasa.


"Iya, Mama. Ayo telepon Papa," timpal Aura dengan suara lucunya.


"Iya, kita telepon Papa sekarang, ya."


Sebenarnya aku belum mau menghubungi Sky. Entahlah, mungkin karena egoku, aku masih belum menerima fakta lebih jelas akan semua ini. Aku masih mau berpikir dan Sky juga sudah mengatakan ingin memberiku waktu.


Akan tetapi, berhubung ini permintaan Aura dan Cean, aku tak mungkin mengabaikannya begitu saja. Biarlah mereka yang bicara dengan ayahnya.


Aku baru sadar jika sejak tadi ponsel tak ku bawa. Benda itu masih tertinggal di kamar.


"Mama ambil hp dulu ke kamar. Bentar ya," kataku sembari mengelus pipi gembul Aura dan berlalu dari ruang makan.


Aku berpapasan dengan Bi Dima yang baru selesai membuatkan susu untuk anak-anak. Tanpa kalimat apapun, aku berjalan cepat melewatinya dan naik ke lantai dua.


Aku meraih benda pipih itu dan melihat sudah ada beberapa kali panggilan tak terjawab disana. Ya, rupanya Sky sudah menghubungiku pagi ini.


Baru saja mau ku masukkan ponsel itu ke dalam saku blazer yang ku kenakan, rupanya benda itu kembali bergetar.


Sky kembali menelepon. Aku bimbang, haruskah aku menerimanya? Aku tidak mau berdebat dengannya sepagi ini hanya karena masalah kemarin. Aku juga tidak mau menangis disaat aku sibuk mau mengantarkan anak-anak ke sekolah baru mereka.


Panggilan itu dirubah menjadi mode video call. Aku tau Sky disana pasti sudah tak sabaran dengan jawabanku disini.


Tak sampai hati, akhirnya ku terima juga telepon darinya.


"Sayang?" Aku dapat melihat wajahnya yang sudah segar disana. Tapi aku sengaja menonaktifkan kamera depan, hingga yang Sky lihat disana bukan wajahku, melainkan sisi ruang kamar yang ku sorot dengan kamera belakang ponsel.


"Anak-anak udah bangun? Jadi ke sekolahnya hari ini?" Sky kembali bertanya dari seberang panggilan.


Jangan tanyakan perasaanku saat ini, ada rasa rindu yang teramat sangat, apalagi saat melihat wajah tampan yang biasa ku elus-elus manja, tapi ada pula rasa kesal dan marah terhadapnya akibat foto-foto itu.


"Sayang? Kamu masih marah, ya?"


Tak mendapat sahutan, membuat Sky kembali memanggilku dari sana.


"Udah aku bilang, aku gak seperti yang kamu tuduhkan ... please percaya sama aku!"


Raut wajah Sky tampak sangat sungguh-sungguh. Aku sebenarnya tidak tega, tapi ini semua karena masa laluku yang juga pernah dikhianati, aku takut bahkan sangat takut Sky akan melakukan hal yang sama, meski pemikiran itu selalu bertolak belakang dengan hati kecilku.

__ADS_1


"Anak-anak mau bicara sama kamu," jawabku akhirnya, aku tidak mau kehilangan mood sebab membahas hal semalam.


Aku bergerak dan meninggalkan ruangan kamar tanpa memutus panggilan itu dari suamiku.


"Mana mereka? Aku mau melihat mereka, Sayang."


"Iya, sebentar, ini aku turun ke bawah."


Ku tekan perasaan yang sangat ingin meledakkan tangisan. Suara Sky membuatku berkali-kali lipat merindunya. Biasanya setiap pagi aku akan terbangun disisinya, baru hari ini aku tidak merasakan itu, ditambah lagi hati yang berkecamuk sebab masalah foto itu belum juga selesai.


"Papa!!" Aura dan Cean langsung kegirangan melihat wajah sang idola dari layar ponsel.


"Papa, Aula mau cekolah."


"Cean juga, Pa. Cean juga!"


"Wah ... semangat banget anak-anak Papa. Maaf ya, Papa gak bisa anterin kalian dihari pertama. Tapi besok-besok pasti Papa anterin."


Melihat interaksi mereka bertiga, aku rasanya sangat terenyuh. Apabila Sky benar-benar bermain api di belakangku, apa jadinya keluarga ini? Aku tidak cukup berbesar hati untuk berbagi suami dengan wanita lain.


Entah apa lagi pembicaraan Cean, Aura dan Sky dari sambungan seluler itu. Aku tidak lagi memperhatikan mereka karena aku sibuk dengan perasaanku sendiri.


"Ma?"


Guncangan pelan yang dilakukan Cean pada lenganku membuatku tersadar pada keadaan.


"Ya, Sayang?" Aku menatap Cean, mengira ada yang dia butuhkan.


Putraku itu malah menyerahkan ponsel untuk dikembalikan kepadaku lagi.


"Papa mau ngomong sama Mama," kata Cean kemudian.


"A-ah, ya..." Aku mengambil ponsel seperti orang linglung, saat aku menatap ke layarnya ada wajah Sky yang tampak menungguiku disana.


"Jangan banyak pikiran. Aku bakal langsung pulang setelah semua kerjaan selesai."


Rupanya kini kamera ponsel itu mengarahkan ke wajahku. Mungkin Cean atau Aura yang mengganti modenya saat tadi melakukan VC dengan Sky. Entahlah, yang jelas sekarang Sky pasti dapat melihat wajahku yang seperti orang bo doh.


"Aku anter anak-anak dulu," jawabku akhirnya.


"Hmm, aku juga berangkat kerja, ya. Kalian hati-hati perginya. Kalau gak nyaman nyetir, pake grab aja."


Aku dapat melihat dari layar ponsel jika kini tangan Sky yang terulur seperti tengah ingin membelai wajahku. Dia juga memasang senyum sendu.


"Aku tau kamu bingung sekarang. Aku bakal buktikan kalau tuduhan kamu itu gak benar. Jadi, aku berharap kamu percaya sama aku. Itu aja, Sayang. I love you," kata Sky masih dengan raut yang sama.


Aku tidak membalas ucapannya. Aku langsung memutus panggilannya begitu saja.

__ADS_1


Aku menggenggam erat ponsel, memperhatikan anak-anak yang mulai melahap sarapan paginya. Aku takut terjadi apa-apa jika memaksakan untuk menyetir, bagaimanapun aku tidak mau anak-anak terluka karena kecerobohanku. Sampai akhirnya, aku mengikuti saran Sky untuk memesan taksi online saja.


Bersambung ...


__ADS_2