
Siang itu, suasana rumah Anton tidak seperti biasanya, kediamannya tampak senyap, padahal biasanya disana sudah bising dengan suara alat-alat yang beradu ataupun suara motor yang sedang diperbaiki. Anton memang sengaja tidak membuka bengkelnya hari ini, karena ia sedang menyidang Shanum, istrinya.
"Kamu kemana semalaman? Apa begini sikap istri yang baik?" tanya Anton dengan intonasi yang pelan, demi apapun ia sedang meredam kemarahannya saat ini mengingat istrinya yang tengah berbadan dua.
Shanum tertunduk dalam, ia tidak tahu Anton telah berada dirumah saat ia pulang, karena kemarin Anton pergi untuk mengikuti event balap motor di luar kota, kebetulan Anton ditunjuk sebagai mekanik dalam event tersebut.
"Num, kalau kamu mau pergi atau nginep di rumah teman kamu, kamu kan, bisa kabari aku. Itu gunanya Hp, Num!" tukas Anton.
Karena tak tahu harus menjawab apa, serta belum menemukan alasan yang tepat untuk menutupi perselingkuhannya, akhirnya Shanum hanya menangis sesenggukan.
Mendengar istrinya menangis, membuat Anton sulit berkata-kata lagi. Padahal ia sudah berusaha sesabar mungkin menghadapi sang istri.
Suami mana yang tidak marah jika istrinya tidak kembali ke rumah semalaman dan pulang di keesokan harinya tanpa ada mengabari sama sekali.
"Jangan nangis untuk menutupi kesalahan kamu, Num!" Anton sudah terlalu jengah menghadapi sikap Shanum yang selalu seperti ini jika ia tanyai.
".... apa kamu sering begini jika aku ke luar kota, Num?" tanyanya menuding.
"Gak, Mas. Baru kali ini, kok...." Akhirnya Shanum menyahut dengan suara yang terdengar bergetar dan masih dengan tangisnya.
Anton tersenyum miring, berani menjawab juga, pikirnya.
"Terus, kemana kamu semalaman?" tanya Anton mengulang pertanyaan yang sama.
"A--aku semalam, nginap di rumah Mbak Sharla, Mas," dustanya merujuk pada nama kakak kandungnya.
"Bohong!"
"Beneran, Mas. Kalau kamu gak percaya kamu telepon aja Mbak Sharla sekarang."
Anton menggosok tengkuknya, jika memang Shanum menginap ditempat kakaknya, kenapa wanita itu harus ketakutan dan menangis saat ia tanyai? Anton cukup curiga mengenai ini, tapi ia mengingat pesan Yara, bahwa ia tidak boleh terlalu curiga pada istrinya, bagaimanapun perasaan Shanum sekarang tengah sen si tif, mengingat pada kehamilannya.
"Aku kesepian dirumah, Mas. Kamu kerja, jadi aku kesana aja sekalian main sama Alea," ujar Shanum lagi, kali ini ia malah membawa-bawa nama keponakannya demi meyakinkan sang suami.
"Ya udah, aku percaya sama kamu. Tapi, jangan diulangi lagi, ya." Anton mengelus kepala Shanum. "Lain kali, kalau mau nginap dirumah Mbak Sharla, kan kamu bisa kirimin aku pesan," tuturnya kemudian.
"I--iya, Mas. Maaf, hp ku lowbet, jadi lupa deh." Shanum menatap Anton dengan tatapan puppy eyes nya, berharap sang suami sedikit iba.
Untung saja Anton tidak benar-benar menghubungi Sharla, jika pria itu melakukannya, pasti Sharla disana juga merasa kebingungan karena nyatanya Shanum tidak pernah mendatangi kediaman sang kakak.
"Ya udah, aku mau buka bengkel dulu, udah kesiangan." Anton beranjak meninggalkan Shanum yang akhirnya mematut senyuman tipis sambil menghela nafas lega.
"Kalau aja aku gak lagi hamil, pasti aku udah ninggalin kamu, Mas," batin Shanum.
Sebenarnya ia mau saja menuntut perceraian dari Anton, tetapi ia masih memikirkan kandungannya, kalau ternyata ini anak Anton, apa mungkin Juna mau menerimanya? Jadi, Shanum menunggu saat kelahiran saja, dia sudah merencanakan untuk melakukan tes DNA nantinya, tentu tanpa sepengetahuan Juna maupun Anton.
__ADS_1
Jika anak dalam kandungannya terbukti anak Juna, maka ia yang akan lebih dulu menggugat perceraian dari Anton. Toh, Juna telah memberi dia segalanya.
Tetapi, jika yang ia kandung adalah anak Anton, ia belum tahu harus melakukan apa, karena ia ragu Juna akan menerima anak itu.
Saat ini, Shanum merasa di awang-awang, karena Juna lebih menaruh perhatian kepadanya daripada Yara. Bagaimana tidak, Yara tidak kunjung hamil setelah dua tahun pernikahan mereka. Sementara Juna sudah mengidamkan seorang anak kecil yang tumbuh di tengah keluarga kecilnya.
Sementara Shanum sendiri, kini ia tengah hamil, walaupun ia tidak tahu ini anak Juna atau Anton-- yang penting ia hamil setelah ia menjalin hubungan dengan suami Yara itu.
Sebelum menjalin hubungan dengan Juna, ia pernah mengandung anak Anton tetapi saat usia kandungannya baru beberapa Minggu, ia malah keguguran.
Setelah menjalin hubungan dengan Juna, Shanum tidak berminat lagi hamil anak Anton, tapi terkadang ia tidak bisa menolak ajakan suaminya itu, hingga ia tetap berhubungan dengan Anton maupun Juna.
Baru setelah ia hamil, ia memiliki alasan untuk menghindari sentuhan Anton dan sekarang hanya Juna yang memiliki hati serta tubuhnya.
Untuk itu, Shanum menunggu saat dimana ia bisa menggantikan posisi Yara, sebagai istri sah Juna satu-satunya.
...~...
"Pak Juna?" Sky menyapa Juna yang lagi-lagi mendatangi kantornya untuk berkonsultasi dengan Wulan.
"Pak Sky? Apa kabar?" Juna yang tidak tahu jika Sky telah mengetahui kebusukannya, malah membalas sapaan Sky dengan ramah.
Sky bersikap biasa saja, seolah tidak mengetahui apapun mengenai perselingkuhan Juna.
"Gimana rumahnya, Pak? Udah jadi di dekor?" basa-basi Sky.
Sky pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi, mengetahui belang Juna membuat Sky berpikir keras sekarang.
Rumah yang saat ini Juna renovasi apakah benar untuk dihadiahkan kepada Yara? Atau justru untuk wanita idaman lain?
Jika Juna benar-benar membelikan Yara rumah, apa nanti keputusan Yara akan berubah dan tak jadi menuntut perpisahan pada pria ini?
Mengingat itu, perasaan Sky menjadi campur aduk.
"Gak, gak... Yara gak akan berubah pikiran hanya karena rumah. Kalau masalah itu, aku bisa bangunin Yara rumah yang lebih bagus." Sky membatin.
Karena hal ini lah makanya Juna dan Shanum harus bermalam di hotel semalam. Rumah baru mereka sedang di renovasi sehingga kondisinya tidak nyaman meski untuk ditinggali semalaman saja, banyak abu bangunan yang tak baik untuk kondisi kehamilan Shanum sehingga mereka memilih ke hotel untuk melepas kerinduan barang sejenak.
"Oke, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu, ada pekerjaan lain," kata Sky pamit pada Juna.
"Silahkan, Pak." Juna mempersilahkan. Dalam hati, Juna merasa sedikit tenang karena sepertinya Sky tidak mencurigainya soal rumah baru ini.
Sky pun kembali memasuki ruangannya, jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore, memang seharusnya ia sudah pulang ke rumah tetapi ia masih penasaran dengan rumah baru yang Juna beli.
Sky melihat pada laptopnya, sebuah pesan dari Wulan tampak belum ia buka. Ya, itu adalah email yang berisikan alamat rumah baru Juna.
__ADS_1
"Apa aku cek aja ke alamat rumah ini, ya?" gumam Sky sambil mengelus-elus dagunya.
"Tapi, kalau misalnya rumah ini beneran buat Yara... gimana?"
Sky mengetuk-ngetuk jari di meja sembari menimbang-nimbang.
"Kalau ternyata rumah ini dibeli untuk selingkuhannya, Yara pasti makin sakit hati...."
Sesungguhnya Sky tidak peduli rumah itu dibeli Juna untuk siapa. Toh, jikapun itu untuk Yara, ia yakin Yara tidak akan merubah keputusannya. Lagi-lagi yang ia pikirkan disini hanyalah perasaan Yara.
"Ah, bodo amat lah. Aku cek aja kesana," ujarnya memutuskan.
Sampai di lobby kantor, Sky melihat Beno.
"Ben?"
"Apa, Sekai?"
"Ikut aku, ayo!" Sky langsung menarik tangan Beno secara paksa.
"Eh, mau kemana?"
"Udahlah, ikut aja!" kata Sky. Sebenarnya ia ingin mengecek sendiri ke alamat tersebut, tapi ia tak mau sampai bertemu Juna-- misalkan pria itu tengah berada di rumah baru itu, sebab walau bagaimanapun Juna sudah mengenalinya.
"Mau kau bawa kemana aku, Sekai?"
"Bantu aku, oke?"
"Apalagi ini?"
"Gini, Ben.... aku mau menyelidiki sesuatu."
Mendengar itu, wajah Beno langsung semringah.
"Boleh juga lah, hitung-hitung merealisasikan cita-citaku yang gak kesampaian," kata Beno terkekeh pelan.
"Memangnya apa cita-citamu itu, Ben?" tanya Sky jadi penasaran.
"Jadi detektif, menyamar-menyamar gitu, lah!" ujarnya terbahak dibarengi dengan ledakan tawa dari Sky juga.
"Yaudah, kali ini kita main detektif-detektifan. Biar senang kau, Ben," cibir Sky.
Beno mengangguk. "Suka-suka mu ajalah, Sekai..." katanya pasrah.
Bersambung ....
__ADS_1
*****