EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
74. Khianat


__ADS_3

Yara baru saja selesai mencuci piring kotor di rumah Nadine, tapi siang ini ia melihat keadaan majikannya itu-- yang semakin hari semakin memprihatinkan.


Ya, dua bulan yang lalu Yara mendengar kabar dari Nadine--bahwa suaminya sudah setuju untuk menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan.


Sejak saat itu, Yara merasakan perubahan yang cukup drastis dari seorang Nadine. Wanita itu menjadi lebih pendiam daripada empat bulan yang lalu--disaat Yara baru pertama-tama bekerja di rumahnya.


Nadine juga sudah jarang pulang ke Singapore lagi. Ia tampak seperti orang depresi yang kesepian.


"Mbak?" Yara memanggil Nadine yang duduk melamun.


Nadine seperti tersentak, ia pun melihat Yara dengan tatapan sendu.


"Mbak lagi gak sehat? Mau aku masakin apa hari ini?"


Keadaan Nadine yang semakin hari semakin kurang bersemangat inilah yang juga membuat Yara enggan untuk segera resign dari pekerjaannya walau Anton dan Sky sudah berulang kali melarangnya untuk terus bekerja.


Bagi Yara, Nadine bukan hanya majikan, tapi dia menganggap wanita itu seperti teman. Nadine juga tidak pernah memandang statusnya yang hanya seorang ART. Nadine amat menghargai Yara, itu yang membuat Yara merasa dekat dengannya.


"Apa aja yang kamu masak enak, kok, Ra." Nadine menyahuti pertanyaan Yara, lagi-lagi sebuah senyuman sendu terlukis di wajahnya.


Yara mendekat, ia menarik kursi dan duduk dihadapan wanita itu.


"Mbak, kalau ada masalah, cerita aja sama aku. Biasanya juga gitu, kan? Kenapa akhir-akhir ini mbak lebih tertutup?" tanya Yara penuh pengertian.


Tanpa Yara duga, Nadine justru menundukkan wajah di meja dan menangis disana.


"Mbak..." Yara mengelus pundak Nadine yang tampak berguncang hebat. Ia seperti kehabisan kata-kata untuk menguatkan wanita itu, sebab ia tidak tau apa yang Nadine pikirkan sekarang meski Yara bisa menebak pasti ini masih mengenai suaminya.


Kendati sejak awal Nadine sudah memantapkan hati dan ikhlas jika nanti akan dimadu oleh suaminya, tapi Yara tau dan sangat paham bahwa menjalani hidup dengan berbagi suami itu sangatlah susah. Apalagi Nadine tinggal berbeda negara dengan Lucky--suaminya, dan sekarang Nadine juga semakin sering tak pulang ke Singapore sejak Lucky menikah lagi.


Puas menangis, Nadine akhirnya mengadahkan wajah. Ia menatap Yara lekat dan sepertinya sudah siap untuk bercerita.


"Tau gak, Ra ... ternyata selama ini aku dibohongi," ujar Nadine dengan wajah yang sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Dibohongi?"


Nadine mengangguk. "Awalnya Mas Lucky enggak mau menikah lagi. Aku pikir, itu karena dia cinta sama aku dan gak tega memadu aku. Ternyata aku salah, justru dia dan Firda sudah lebih dulu menjalin hubungan dibelakang aku," ujar Nadine tersedu-sedu.


Tentu saja Yara syok dengan cerita Nadine. Ternyata Nadine juga dikhianati oleh dua orang terdekatnya.


"Firda itu sahabatku. Dia juga sudah bersuami, suaminya meninggal empat bulan yang lalu karena serangan jantung. Rupanya itu terjadi karena hubungan Firda dengan Mas Lucky sudah diketahui oleh suaminya. Jadi, selama ini Mas Lucky menunda-nunda pernikahan dengan banyak wanita yang aku kenalkan rupanya karena dia menunggu Firda menjadi janda."


"Ya ampun, Mbak!"


Yara speechless. Kenapa nasib Nadine hampir serupa dengan nasibnya? Bedanya disini Nadine mencintai suaminya, dan itu pasti terasa sangat menyakitkan.


"Awalnya aku yang bodoh ini, gak tau mereka sudah berhubungan di belakangku. Jadi, saat Firda sudah menjanda dan Mas Lucky berniat untuk menikahinya, aku setuju saja karena alasan Mas Lucky terasa masuk akal. Kasihan Firda sudah jadi janda dan tidak punya sanak saudara. Akhirnya aku pun merestui mereka. Lagipula aku mengenal Firda, dia sahabatku yang baik jadi ku rasa itu justru lebih bagus lagi."


"Jadi, mbak tau kalau mereka sudah berhubungan sejak lama-- dari siapa?"


"Dari pembantu yang dulu tinggal dirumah Firda. Dia sudah tidak bekerja disana semenjak suami Firda meninggal. Heru memang sudah mengalami struk dua tahun belakangan, jadi mungkin karena itu Firda mencari pria lain untuk menggantikan posisi Heru sebagai pasangannya dan sialnya itu adalah suami aku sendiri, Ra. Suami sahabatnya sendiri."


Tanpa Yara sadari airmatanya ikut menetes, kali ini ia menangis sebab nasib Nadine jauh lebih menyakitkan daripada dia.


"Jadi, kenapa sekarang Mbak udah jarang pulang ke Singapore?"


"Buat apa, Ra? Aku udah gak dianggap disana. Dua bulan ini aku masih sanggup, tapi beberapa waktu lalu aku mendengar kalau Firda sedang hamil anak mas Lucky-- sehingga semua perhatian cuma tertuju pada dia. Aku pikir aku masih bisa kuat, nyatanya aku gak sekuat itu, Ra."


Akhirnya Yara memeluk Nadine dengan rasa prihatin yang mendalam. Entah kenapa ia jadi benar-benar kasihan dan peduli pada wanita itu.


"Apa mbak masih mau bertahan dengan pernikahan mbak yang sudah seperti ini?"


Nadine menggeleng lemah. "Aku gak tau, Ra. Aku mencintai Mas Lucky. Aku gak mau berpisah sama dia tapi aku juga gak bisa terus-terusan menjadi orang yang tidak dianggap dalam rumah tanggaku sendiri."


"Mbak, jalan hidup mbak masih panjang, mbak harus memikirkan kebahagiaan diri mbak sendiri. Jangan mau stuck dan tetap bertahan dalam hal seperti ini. Kalau mbak emang gak sanggup, gak salah kok kalau mbak berusaha untuk melepaskan."


Nadine menatap Yara lama. Ia juga tahu jika sekarang Yara sudah bercerai dari suaminya. Kendati ia tidak tau persis masalah Yara-- sebab wanita itu tidak seterbuka dirinya.

__ADS_1


"Kalau kamu sendiri? Kenapa memutuskan bercerai dari suamimu?"


Yara tersenyum kecut. "Nasib kita gak jauh beda kok, mbak. Tapi bedanya aku belum sempat mencintai Mas Juna. Dia berselingkuh dengan istri kakakku."


"Apa?" Nadine terbelalak mendengar cerita Yara. "Jadi, kakak kamu gimana?" tanyanya lagi.


"Kebetulan Mbak Shanum lagi hamil jadi mas Anton belum bisa bercerai dari dia. Mereka cuma berpisah rumah sejak empat bulan ini. Terus, gak tau deh yang dikandung Mbak Shanum itu .... anaknya siapa," kata Yara yang kali ini merasa tak perlu menutupi apapun lagi kepada Nadine sebab borok rumah tangga Nadine pun sudah ia ketahui.


Saling bercerita ternyata membuat mood Nadine membaik. Akhirnya ia tertawa keras, entah menertawai kebodohannya atau menertawakan nasib yang sering mempermainkan banyak orang. Termasuk dia dan Yara.


Hal ini membuatnya sadar bahwa, tidak ada rumah tangga yang baik-baik saja. Semua tergantung kita yang menjalani dan menyelesaikan setiap masalah didalamnya.


"Tau, gak! Kamu itu nasibnya ngenes sama kayak aku. Hahaha..." Nadine terkekeh lagi. "Tapi, kamu jauh lebih beruntung karena gak punya perasaan laknat yang menahan kamu untuk terus bersama suami breng sek. Beda sama aku yang bodoh dan malah masih aja mencintai pria yang jelas-jelas udah menyakiti aku," paparnya.


Yara mengangguk, ya ... mungkin yang dikatakan Nadine ada benarnya. Ia jauh lebih beruntung sebab bisa move on dan kembali hidup dengan baik selepas bercerai dari Juna.


"Eh, tapi ... ngomong-ngomong, yang sering jemputin kamu tiap sore itu siapa, ya? Dari kemarin aku kepo, pengen tau, seriusan!"


Yara mengulumm senyum. Mengenai Sky apakah ia juga harus terbuka pada Nadine?


"Itu..."


"Pacar baru kamu, ya?" tebak Nadine.


"Tepatnya pacar lama yang udah basi, Mbak."


Nadine melongo, tapi kemudian mereka tertawa bersama-sama.


"Terus, kalau udah basi mau kamu angetin lagi? Gak mau ganti yang baru aja?"


Sekali lagi Yara terkekeh. "Yang satu ini beda, makin basi makin enak, mbak," kelakarnya sambil tergelak.


Bersambung ...

__ADS_1


*****


__ADS_2