EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
17. Sebuah pilihan


__ADS_3

Permainan itu terus berlanjut. Beberapa kali botol mengarah pada orang yang sama. Kebanyakan ke arah Juna ataupun Rina.


Ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Juna dan ia memilih dare untuk menghindarinya.


Diakhir permainan, akhirnya botol menunjuk ke arah Sky. Pria itu pun terkekeh menyadari akhirnya tiba pada gilirannya.


"Gue yang mau nanya sama Sky!" Rina berujar dengan senyum culas.


Dari penglihatan Sky, Rina memang sudah sangat tidak senang dengannya karena ia sudah mengetahui aib dan rahasia wanita itu, bahkan Sky juga sempat memanfaatkan Rina, kan?


"Lo masih cinta sama Yara, kan?" Pertanyaan Rina lebih kepada menuduh, membuat semua pandangan kini jatuh kepada Sky saat itu juga.


Sky terkekeh pelan. "Lo mabok?" ujarnya berusaha tetap tenang.


Disaat yang sama, teman-temannya termasuk Juna---jadi menganggap omongan Rina memang sudah ngelindur karena Rina memang telah mabuk.


"Karena lo mabok dan pertanyaan Lo gak ngotak, gue milih minum aja." Sky mengambil gelasnya dan menuangkan minumannya sendiri.


Sementara Rina, langsung berdiri saat itu juga, ia kesal mendengar pernyataan Sky yang justru menganggapnya mabuk dan menyudutkannya. Dengan tatapan marah, Rina pun menghentakkan kaki lalu pergi dari hadapan teman-temannya. Langkahnya diikuti oleh Dion sang pacar.


Memang benar, yang terlihat paling mabuk disini adalah Juna dan Rina--- sebab mereka memang lebih banyak memilih minum daripada menjawab pertanyaan.


Sebenarnya, bisa saja Sky menjawab jujur pertanyaan Rina, karena ia yakin Juna pun sudah tak fokus dengan apa yang akan dijawabnya. Tapi, Sky memilih minum demi mematahkan kalimat Rina didepan teman-temannya yang lain, ia hanya melindungi Yara yang sangat tidak suka digosipkan.


"Udah, yang cewek pada masuk gih, udah malam nih..." Rozi pun membubarkan para wanita setelah kepergian Rina.


Sementara Sky masih saja terkekeh mengingat tingkah Rina. Ia akan bicara pada wanita itu besok, pikirnya.


"Ra?" Sempat-sempatnya Sky berbisik didekat Yara saat wanita itu hendak beranjak.


Yara menoleh dan Sky mengedipkan sebelah matanya--membuat Yara langsung menghela nafas dan berlalu saat itu juga. Yara pun meninggalkan Juna yang tampak cukup mabuk disana.


"Nah, semua wanita udah pada masuk, sekarang kita lanjut lagi." Rozi menatap pada Juna, Sky dan Rico yang memang sengaja tinggal disana sebab mereka akan melanjutkan sesi begadang para pria.


"Minum!" Rico menyajikan beberapa botol minuman ke atas meja.


"Lanjut lah. Gue gak minum." Sky angkat bicara.


"Gaya lu Sky! Biasa enggak nolak."


"Iya, gue baru selesai operasi jadi ngehindari alkohol," dusta Sky, sementara tiga orang didepannya langsung melanjutkan sesi minum-minum itu sebagai momen terakhir mereka di Bali.


Satu jam kemudian, Juna dan Rico benar-benar mabuk. Sky sampai geleng-geleng kepala. Dulu ia juga seperti mereka jika minum, makanya ia tidak mau melanjutkan kegilaan itu sampai sekarang.


"Zi, lu urus lah, gua masuk!" ucap Sky pada Rozi.


"Kok gitu, Sky? Mana kuat gua urus dua-duanya! Gua aja udah hampir oleng, nih!"


"Ya udah, gua satu, lu satu." Sky menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malas sekali mengurusi orang mabuk, pikirnya.


Rozi langsung meraih tubuh Rico. "Tuh suaminya Yara lu urus. Gua enggak tau kamarnya."


Setelah mengucapkan hal itu, Rozi langsung memboyong Rico masuk-- sebab mereka memang tinggal di kamar yang sama sejak awal tiba di Villa.


"Nasib apes!" gerutu Sky memboyong tubuh Juna yang separuh sadar.

__ADS_1


"Pak Juna? Bisa dengar saya? Kita naik tangga sekarang."


"Hmmm..." Juna hanya berdehem. Sky pun geleng-geleng kepala.


Sampai di depan kamar Yara, Sky pun mengetuk pintunya.


Yara terkejut mendapati Sky yang memapah suaminya.


Sementara Sky sendiri, terpana melihat wajah polos Yara yang sepertinya sudah sempat tertidur itu.


"Kamu udah tidur, ya?"


"Iya," sahut Yara singkat. Ia ingin meraih tubuh Juna untuk menggantikan Sky memapah pria itu, tapi Sky mencegahnya.


"Aku aja, Ra."


Sky langsung membawa Juna masuk ke dalam kamar-- yang selama beberapa hari ini-- ditempati Yara bersama sang suami.


Sky membaringkan Juna ke tempat tidur. Pria itu tampak sudah memejamkan matanya rapat.


Sky pun berbalik dan mendapati Yara yang masih berdiri diambang pintu dengan sikap yang terlihat kikuk.


"Makasih udah anterin Mas Juna ke kamar. Kamu bisa pergi sekarang." Yara mengusir Sky secara halus.


Sky mendekat ke arah pintu keluar, Yara pikir pria itu akan berlalu dari kamarnya. Nyatanya, Sky malah berhenti tepat didepannya.


"Kamu biasa pake baju gini kalau tidur?"


"Eh?" Yara langsung menatap pada dirinya sendiri. Ia memang mengenakan baju tidur berbahan satin tipis, tapi ia juga sudah memakai kimono saat akan membuka pintu tadi.


Yara tidak menyangka Sky yang akan mengantarkan Juna, jika saja ia tahu, ia pasti akan memakai pakaian yang lebih tertutup. Inilah yang membuatnya bersikap semakin canggung didepan Sky sekarang.


"Udah ya, kamu keluar sekarang." Akhirnya Yara kembali bersuara setelah melihat Sky yang tidak juga beranjak dari hadapannya.


Mendengar suara Yara yang bergetar saat bicara dengannya, membuat Sky tidak tahan lagi. Ia mendorong tubuh Yara dan memojokkannya ke dinding.


"Sky!" pekikan Yara tertahan. Ia masih ingat jika Juna berada tak jauh dari mereka meski pria itu tampak sudah terlelap.


Selain nekat dan berani, terkadang Sky juga sangat keterlaluan. Bahkan, dibelakang tubuhnya ada Juna, tapi bisa-bisanya Sky melakukan hal seperti ini pada Yara.


"Jangan pake baju begini lagi didepan Juna," bisik pria itu seduktiif disamping telinga Yara.


Yara bahkan menahan nafasnya sekarang, ia takut tiba-tiba Juna terbangun dan mendapatinya dalam posisi seperti ini bersama Sky.


"Ka--kamu ma--buk ya, Sky? Disini ada mas Juna, kamu jangan keterlaluan." Yara berusaha melindungi diri dari sikap Sky yang nekat.


"Oh, jadi kalau gak ada Juna, aku boleh keterlaluan sama kamu?"


"Hah?" Mata Yara membola menyadari kesalahan kalimatnya. "Enggak boleh, dimanapun, kapanpun, kamu gak boleh keterlaluan sama aku," ralatnya.


Sky tersenyum smirk. "Kalau gitu, kamu jangan pake baju begini lagi didepan Juna," ujarnya.


Sky benar-benar gi-la, bisa-bisanya dia mengatur soal pakaian Yara dihadapan suaminya sendiri.


"Udah kamu cepat pergi. Ntar Mas Juna bangun. Kamu buat aku pusing, tau gak!"

__ADS_1


"Kamu juga buat aku pusing," kata Sky sambil mengelus pipi Yara.


Yara menepis tangan Sky, jarak pria itu sangat dekat, bahkan Yara bisa merasakan hawa panas yang berasal dari deruan nafas Sky.


"Pergi atau aku teriak? Kamu mabuk tau gak!"


Ingin Sky mengatakan bahwa ia tidak mabuk, tapi biar saja Yara menganggapnya begitu, ia tidak peduli.


"Teriak aja, aku pengen denger!"


Sky merunduk dan malah mendaratkan kecupannya di leher Yara. Seketika itu juga darah Yara berdesir hebat.


"Lepasin aku, Sky!" Yara ingin berontak, tapi Sky sudah memegangi kedua tangannya dengan sangat erat, tenaga Yara bahkan tidak bisa membuatnya lolos dari jeratan pria itu.


"Sky! Aku udah bilang aku gak mau ini semua dilanjutin. Kita udah selesai sejak dulu."


Sky kembali mengadah pada Yara. "Jadi, apa pilihan kamu?" tanyanya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.


"Aku pilih pernikahan aku, Sky!"


Mendengar itu, emosi Sky malah menanjak naik. Tentu bukan hal itu yang ingin ia dengar dari bibir wanita yang dicintainya itu.


Sky semakin melanjutkan aksinya dengan perasaan yang campur aduk. Cinta, amarah dan keinginan yang begitu kuat membuatnya langsung menarik kimono Yara dengan emosional.


Yara terkesiap, matanya langsung memanas hingga mengeluarkan titik-titik airmata karena kelakuan Sky padanya. "Aku---aku gak bakal maafin kamu, kalau kamu terus ngelanjutin aksi gi la kamu ini, Sky!" ujar Yara sesenggukan.


Seketika itu juga Sky seakan tersadar, ia menghentikan aktivitasnya yang baru saja ingin men-cum-bu bibir Yara.


Sky langsung melepaskan kedua tangan Yara dari cengkeramannya. Mendadak keadaan jadi hening.


"Maafin aku, Ayara, aku kelewatan," Akhirnya Sky kembali bersuara. Ia menatap Yara dengan tatapan sendu dan terlihat sangat menyesal.


Yara tertunduk dalam, Sky langsung mengusap puncak kepala wanita itu sembari membenarkan kimono Yara yang sudah acak-acakan karena ulahnya.


"Maaf," kata Sky mencoba menatap ke dalam manik mata sang wanita.


Tapi, Yara tak mau membalas tatapan Sky. Ia terus menangis.


"Ayara, maafin aku. Aku salah dan aku keterlaluan." Sky mengusap cairan bening diujung mata Yara. "Aku udah ganggu rumah tangga kamu. Aku sampai menyakiti kamu malam ini. Maaf, Ra. Maafin aku."


Yara membuang pandangan. Jelas sekali ia kecewa dengan tindakan yang Sky lakukan malam ini.


"Baik..." Sky menarik nafasnya dalam-dalam. "Kamu udah punya pilihan, kan? Aku hargai itu."


"... mulai sekarang, aku gak akan ganggu kamu lagi, Ra," lanjut Sky ditelinga Yara.


Yara tetap memilih bungkam, ia tak mengucapkan sepatah katapun lagi pada pemuda itu.


Kemudian, tanpa Yara duga, Sky malah mencium keningnya. Beberapa detik bertahan disana, kemudian melepaskan sembari menghela nafas panjang.


"Aku sayang kamu, Ayara. Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu. Sekali lagi, aku minta maaf."


Sky langsung berbalik pergi dan keluar dari kamar Yara saat itu juga--ia tidak sempat melihat bagaimana raut wajah wanita itu lagi.


Bersambung ....

__ADS_1


*****



__ADS_2