
"Kamu lagi masak apa? Aku laper, nih...."
"Sky?" Yara masih saja mengira jika sekarang ia tengah bermimpi. Kenapa bisa ada Sky dikediaman Rina?
Pria itu tersenyum simpul, satu tangannya dimasukkan kedalam saku celana kemudian berjalan santai mendekati posisi Yara.
"Mau aku bantuin, gak?"
"Huh?" Yara terkesiap saat melihat Sky yang sudah berada semakin dekat dengan dirinya.
Sepertinya ini bukan mimpi, melainkan pria itu benar-benar ada disini sekarang.
"Kamu... kok bisa disini?" tanya Yara akhirnya, seulas senyum kecil terbit disudut bibirnya.
"Rina ngabarin aku kalau kamu ada disini."
"Kok ngabarin kamu segala?"
Sky mengendikkan bahu acuh tak acuh. "Mungkin dia tau kalau aku kangen kamu," bisik Sky ditelinga Yara membuat wanita itu bergidik kegelian.
"Sky..." protesnya. Tapi Sky malah tertawa pelan karena tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat senang dapat bertemu Yara lagi malam ini.
"Kamu masak apa?"
"Mau tumis brokoli sama goreng ikan doang, sih. Kamu mau?"
"Hmm, aku ngikut kamu aja."
"Kita jadi numpang makan di rumah Rina, dong," canda Yara. Kedatangan Sky membuatnya sedikit melupakan pertengkarannya dengan Juna beberapa waktu lalu.
"Gak apa-apa, nanti kita ganti isi kulkasnya Rina."
"Emang bisa?"
"Bisa lah, kita tinggal belanja aja di supermarket."
"Kita?" tanggap Yara.
"Iya dong, kan kita berdua yang makan."
Mereka pun tertawa bersama. Yara lanjut menyelesaikan sesi memotong-motong bawang dan brokoli. Sementara Sky, hanya memperhatikan kegiatan memasak wanita itu dalam diamnya.
"Ayo makan," kata Yara menyadarkan sang pria dari lamunannya.
"Eh, iya ..."
"Kamu melamun? Ngelamunin apa?"
"Kamu ..."
"Kok aku?" Yara menyendokkan nasi kedalam piring milik Sky kemudian menyerahkannya pada pemuda itu.
"Udah, makan dulu ya, nanti kita bahas lagi soal hal apa yang aku lamunin."
Yara mengangguk. "Aku panggil Rina dulu ya ..." katanya.
"Oke."
__ADS_1
Setelah memanggil Rina dan mengajak makan malam bersama, ketiganya makan dalam senyap seakan larut dengan pemikiran masing-masing.
Saat suapan terakhirnya habis, bersamaan dengan Yara dan Sky yang juga telah meletakkan sendok. Rina mulai bersuara.
"Jadi, udah sejauh mana hubungan kalian? Terus terang ... gue kepo," akui Rina didepan kedua insan teman sekolahnya tersebut.
Yara menunduk dalam, sejujurnya ia malu harus mengakui tentang hal ini kepada Rina, tapi justru takdir mempertemukannya dengan wanita ini, sehingga mau tak mau Yara memang harus menceritakan pada Rina mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Toh, Rina juga yang telah menolongnya.
"Mas Juna selingkuh, aku gak bisa maafin dia. Aku mau berpisah," tutur Yara terus terang.
Rina terkejut, bukan karena keinginan Yara yang ingin berpisah dari suaminya, melainkan karena ternyata Juna yang telah menyelingkuhi Yara.
"Ra? Kamu serius? Ini bukan cuma alasan kamu supaya hubungan kamu dengan Sky gak disalahkan, kan?"
Yara menggeleng lemah sebagai jawabannya.
"Rin, sejak awal, Yara bahkan gak mau ninggalin Juna demi gue, padahal gue udah coba maksa dia berulang kali," kata Sky angkat bicara. "Tapi, dia langsung mau berpisah dari Juna, karena udah ngeliat sendiri bahwa suaminya memang berselingkuh," imbuhnya.
Rina menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi, meskipun Juna selingkuh, gak seharusnya kalian balas dia dengan jalin hubungan juga, kan?" tanyanya.
"Kita gak jalin hubungan. Cuma kita emang sama-sama nyaman. Perasaan kita masih sama seperti dulu," jelas Sky sementara Yara semakin menundukkan pandangannya.
"Oke, gue emang gak berhak nge-judge kalian berdua. Cuma gue disini sebagai teman yang menentang perselingkuhan. Gue gak suka sama yang namanya penghianatan."
Rina berujar pelan dan menusuk, ia mengatakan itu sebab ia adalah korban dari perceraian kedua orangtuanya akibat orang ketiga. Hal itu pula yang menyebabkannya harus menjadi anak broken home.
"Aku juga gak suka sama penghianat, Rin. Makanya aku langsung minta pisah sama Mas Juna," ujar Yara yang sudah kembali menyuarakan isi hatinya.
"Ya, kalau emang beneran gitu, aku dukung, Ra. Kamu gak boleh tinggal sama penghianat lagi."
"... dan lo, kalau lo beneran serius sama Yara, gue harap lo gak main-main dan mempertanggungjawabkan apa yang udah lo lakuin sampai saat ini."
"Emang gue ngelakuin apa?" tanya Sky bingung.
"Yang jelas, lo gak boleh berbuat hal yang sama dengan yang suami Yara lakuin sama dia. Lo harus ingat kalau ngedapatin Yara itu sulit, Sky! Kalau Juna gak selingkuh, mungkin lo gak akan pernah bisa balik sama Yara, selamanya," tandas Rina memperingatkan.
"Gue gak pernah main-main dengan semua hal yang udah gue yakini," kata Sky mantap.
"Ya bagus. Kalau gitu, gue masuk. Kalian bicara baik-baik. Jangan sampe kebablasan! Ntar yang ada kalian yang disalahkan!" Rina kembali mewanti-wanti Sky dan Yara.
Keduanya mengangguk setuju dengan penuturan Rina.
"Satu lagi, Sky... gue harap, lo bisa nenangin Yara yang udah kacau karena ulah suaminya."
Seperginya Rina, tinggallah Sky dan Yara di ruang makan itu.
"Kayaknya yang dibilang Rina bener, Sky."
"Yang mana?" sahut pria itu.
"Jangan sampai kita yang disalahkan, padahal Mas Juna lebih dulu berselingkuh."
"Ya, terus?"
"Untuk saat ini kita jaga jarak dulu, gak usah ketemu kalau perlu..."
"Ra?" Sky menatap Yara dengan tatapan bertanya-tanya. Kenapa harus dengan cara seperti itu? pikirnya.
__ADS_1
"Kalau kita terus ketemu, lama-lama Mas Juna bisa tau kalau pria itu adalah kamu."
Sky memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Kalau keadaannya mengharuskan dia tau, yaudah, gak apa-apa, Ra. Aku rela disalahkan."
Yara berdecak lidah. "Sky, permasalahannya bukan soal rela atau gak rela. Kita sama-sama punya keluarga, kan? Kamu punya Tante Indri dan aku masih punya Mas Anton. Kalau nanti Mas Juna membuat statement bahwa kesalahan itu lebih dulu dilakukan oleh kita berdua, maka selamanya mama kamu akan anggap aku wanita gak baik, begitu pula Mas Anton, dia gak akan mau merestui kita," papar Yara panjang lebar.
Sky mengakui bahwa ucapan Yara ada benarnya. Tapi, ia juga tidak akan sanggup untuk tidak menemui wanita itu lagi dan menjaga jarak dengannya.
"Ra, kita udah pisah terlalu lama, sekarang kita udah berada sangat dekat, apa kita juga harus pisah lagi karena keadaan?"
"Kalau memang itu yang terbaik, kenapa enggak? Semuanya perlu dilandasi dengan kesabaran. Kamu tau gak, buah dari kesabaran itu rasanya manis."
Sky tersenyum kecil mendengar perumpamaan yang Yara lontarkan. Tapi dalam dirinya juga mengiyakan perkataan sang wanita.
"Jadi kita bener-bener harus jaga jarak?"
Yara mengangguk, "Iya, seenggaknya sampai urusan aku sama Mas Juna benar-benar udah selesai."
"Tapi, Ra... kenapa kamu bisa ada dirumah Rina? Ini hal yang sempat aku lamunin tadi. Aku gak tau kenapa kamu bisa ada disini. Emang Rina bilang dia gak sengaja ketemu kamu dijalan. Tapi, kenapa? Ada apa?"
"Mas Juna udah ngelihat tanda yang kamu tinggalin di dada aku, Sky."
"Hah?" Sky terkesiap. Awalnya merasa kaget, tapi lambat laun seulas senyum miring tersulut diujung bibirnya. "Terus?" tanyanya.
"Ya dia marah, dia anggap aku juga punya selingkuhan."
"Kamu jawab apa?"
"Aku jawab aja... iya."
Sky malah tertawa pelan mendengar itu. "Apa dia nanya siapa yang buat?" tebak Sky.
"Tentu aja, Sky!"
"Kamu bilang itu aku?"
"Gi la, kamu! Gak mungkin lah!" kata Yara.
Sky mengulumm senyum. "Harusnya kamu bilang aja, Ra. Gak apa-apa... Kalau perlu kamu sebut nama aku berkali-kali."
Yara mendengkus melihat Sky yang selalu saja meng-enteng-kan permasalahan.
"Kamu selalu gitu... kalau aku langsung jujur, ngapain juga kita harus jaga jarak? Sekalian aja buat pengumuman kalau kita emang selingkuh."
Sky terbahak mendengar omelan Yara. Wanita ini selalu saja membuat moodnya membaik.
"Ya, iyalah. Aku kan udah bilang ngapain juga kita pake jaga jarak. Emang covid," kelakarnya.
Yara menarik nafas panjang. "Main-main aja terus, Sky. Kamu harus ingat, yang aku pikirin disini bukan cuma kita tapi tanggapan keluarga kita."
"Iya, aku tau, sayang ..." kata Sky selembut mungkin.
Yara menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban pria itu yang selalu tak pernah serius.
Bersambung ....
*****
__ADS_1