
Yara terkesiap dari tidurnya. Ia menatap jam yang tersemat di dinding. Sudah pukul 7 pagi. Ia kesiangan.
Tapi, seakan sadar dengan posisinya sekarang, Yara langsung terhenyak dan bangun.
"Sky .... bangun!" seru wanita itu. Rupanya semalaman ia tertidur di pangkuan pria itu dan parahnya mereka sedang berada di kediaman Rina sekarang.
"Sky..."
"Sky..."
Sky tampak mengucek matanya, lalu menggeliat pelan. Pria itu menguap sekejap sebelum akhirnya menatap Yara yang beberapa kali telah memanggil namanya.
"Ra?"
"Pulang sekarang, gak enak sama Rina nanti," serobot Yara langsung.
"Kita kan gak ngapa-ngapain, cuma numpang mojok di ruang tv."
"Masih pagi, jangan buat aku sebel. Sekarang, kamu pulang, sebelum Rina tau kamu nginep disini semalaman."
"Males ah, masih ngantuk." Bibir pria itu mencebik. Ingin rasanya Yara menariknya.
Yara berpikir singkat, kemudian menanyakan hal yang mungkin akan membuat Sky berubah pikiran hingga mau untuk segera pulang.
"Emang kamu gak kerja?"
"Jam berapa sih?"
"Udah jam 10," bohong Yara.
Sky langsung terkesiap dan terduduk tegak. "Aku telat ke kantor, Ra. Aku balik ya. Kamu baik-baik disini, kalau udah ada tujuan lain atau ada keinginan mau pulang ke rumah Juna, kabari aku. Oke?"
Yara mengangguk pelan. Tangan Sky pun terulur ke sisi wajahnya, bersamaan dengan wajah pria itu yang mendekat. Sebuah kecupan ringan berlabuh di dahi Yara membuatnya menyunggingkan senyum tipis.
"Love you, aku pergi. Jangan lupa makan."
Yara berdehem menyahuti ucapan Sky kemudian benar-benar mengamati kepergian pria itu sampai ambang pintu.
Sky tampak terburu-buru, Yara jadi merasa bersalah telah membohonginya.
"Sky!!!" seru Yara saat Sky hampir menekan handle pintu mobilnya di pekarangan rumah Rina.
Sky menoleh dan menatap Yara yang memberinya kode sambil menunjuk ke arah pergelangan tangan.
Seketika itu juga Sky menatap waktu di arloji yang ia kenakan. Terkekeh pelan sebab sadar Yara telah mengerjainya.
"Awas kamu nanti," jawab Sky dari posisinya yang tak terlalu jauh.
Yara hanya tertawa pelan sembari melambai-lambaikan tangannya pada sang pria.
Sky menyunggingkan senyum manis khas-nya, lalu benar-benar beranjak dari rumah Rina saat itu juga.
Seperginya Sky, Yara mendapati ponselnya yang dalam keadaan 'mati' di atas meja. Sebenarnya itu bukan karena kehabisan baterai, tetapi Sky yang mengambil alih ponselnya lalu menonaktifkan begitu saja. Katanya, dia tidak mau mendengar bujuk rayu Juna lagi saat dia tengah bersama Yara.
Yara ingin mandi tetapi ia sadar ia sudah tak memiliki baju ganti. Rina hanya memberinya satu setel piyama malam tadi.
__ADS_1
"Rin, kamu udah bangun belum? Aku pinjam baju kamu lagi ya..." Yara memanggil Rina.
Beberapa saat menunggu akhirnya Rina membuka pintu sambil mengucek-ngucek matanya. "Apa, Ra? Masih jam segini emang mau mandi?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
"Ini udah hampir setengah 8, udah siang tau."
"Buat aku ini masih subuh. Ntar jam 11 aku baru dibangunin," keluh wanita berambut cokelat itu.
"Iya deh, maaf ya, aku mau pinjam baju lagi."
"Oh, baju... Itu di ruangan ujung juga ada baju aku, Ra. Kamu pilih aja yang mana yang mau kamu pake."
"Oke deh. Kamu mau lanjut tidur?" tanya Yara.
"Iya, masih ngantuk." Rina menguap panjang.
"Ya udah, aku mau masak sarapan, boleh?"
"Boleh, Ra... kan udah aku bilang anggap aja rumah sendiri."
"Makasih banyak ya, Rin."
"Hmm...." sahut Rina sembari kembali menutup pintu kamarnya.
Yara pun mencari pakaian di tempat yang Rina maksud. Memilih yang cocok untuknya, sebab baju Rina kebanyakan terlalu terbuka. Yara sampai heran, kapan dan kemana Rina mengenakannya?
Setelah mendapat pilihannya, barulah Yara mandi dan membersihkan diri.
Sekilas, ia mengingat saat semalam bersama Sky. Mereka membahas hal-hal konyol yang menggelikan. Menonton drama Korea dari ponsel pintar milik pria itu kemudian tanpa sadar tertidur dalam keadaan Sky yang memangku kepala Yara. Sedikit banyak, Yara mengerti kenapa ia bisa sangat nyaman dengan pria itu.
Sky selalu mengerti kemauannya. Menurutinya lebih dulu ketimbang keinginan pria itu sendiri.
Begitupun soal makanan, Yara senang makan seafood dan pria itu selalu telaten saat membarenginya menikmati menu yang sama.
"Sky... kenapa aku ngerasa sangat beruntung dicintai sama kamu? Kenapa kamu harus milih aku? Padahal ada banyak gadis yang pasti merelakan diri untuk kamu," batin Yara masih tak habis pikir dengan pria itu.
Bersamaan dengan itu, Yara harus pasrah saat mengaktifkan ponsel dan serbuan pesan memasuki benda pipih tersebut.
[Kamu dimana? Kenapa enggak pulang?]
Ada sekitar tujuh pesan dari pemilik nama sama yaitu 'Mas Juna'. Yara tak menghiraukan pesan lainnya, tapi ia justru terkesiap saat melihat notifikasi bahwa sang Kakak sempat menghubunginya hari ini sampai beberapa kali.
"Apa Mas Juna ngaduin aku ke Mas Anton?" gumam Yara.
Disaat yang sama, ponsel yang telah aktif itu pun kembali berdering. Menahan gugup perasaannya, akhirnya Yara menerima panggilan dari sang kakak.
"Hallo, Mas."
"Kamu dimana, dek?"
"Aku di rumah temen, Mas," kata Yara mengaku.
"Temen? Temen siapa? Cewek atau cowok?"
Mendengar kalimat Anton, Yara menebak jika Juna sudah mengadukan perbuatannya pada sang kakak. Yara juga menebak jika Juna hanya melapor tentang kesalahan Yara tanpa menceritakan kesalahannya sendiri.
__ADS_1
"Cewek, Mas. Aku di rumah Rina."
"Ya udah, Mas mau ketemu kamu sama temenmu itu," kata Anton terdengar dingin.
Nada suara Anton semakin memperkuat keyakinan Yara bahwa kakaknya sudah tau mengenai dirinya. "Iya, Mas. Entar siang Yara ke rumah Mas, ya," tuturnya hati-hati.
"Oke, Mas tunggu."
Yara menghela nafas berat setelah panggilan itu berakhir.
"Pasti Mas Juna ceritanya setengah-setengah, mana mungkin dia berani ngadu tentang kesalahannya sendiri sama Mas Anton," terka Yara sambil bermonolog pada dirinya sendiri.
Yara pun berkemas. Bagaimanapun ia menghindar, sejauh apapun ia pergi, kenyataannya ia harus menghadapi ini cepat atau lambat.
"Yara, kamu pasti bisa menghadapi ini. Ayo, kamu harus kuat." Yara berujar menyemangati dirinya sendiri.
Tuduhan Juna, kemarahan, bahkan cacian dan umpatan pria itu sudah ia terima semalam. Jadi, jikapun ia harus menerima itu lagi nanti seharusnya ia sudah tak terlalu takut dan terkejut.
Tapi, Yara sangat berharap jika Anton dapat membelanya dan mempercayainya, sebab bagaimanapun Anton adalah kakaknya.
Yara berderap menuju dapur, ia sudah berniat mengisi tenaga dengan sarapan lebih banyak. Tak lupa ia juga membuatkan makanan untuk Rina.
Kebetulan Anton juga menginginkan Yara mengajak Rina, mungkin sang kakak tidak percaya bahwa ia tengah menginap dirumah teman perempuannya.
Biarlah, nanti ia akan meminta tolong pada Rina untuk ikut, itupun jika Rina tak keberatan.
Menjelang siang, Rina tampak baru selesai mandi dan duduk menikmati makanan yang tadi sempat Yara masak.
"Kamu rajin banget masak ya, Ra. Aku jadi gak susah pesan online lagi dan gak repot masak sendiri," canda Rina sambil tertawa renyah.
"Mumpung di tumpangin ya harus rajin lah. Aku kan harus sadar diri," kelakar Yara yang dibalas Rina masih dengan tawanya.
Melihat Rina dengan mood baik, Yara langsung mengatakan keinginan nya untuk mengajak Rina ke rumah sang kakak.
"Siang ini kamu sibuk gak, Rin?"
"Enggak, kenapa?"
"Aku tadi ditelepon kakakku, Mas Anton. Beliau meminta supaya aku ke rumahnya dan ngajak kamu."
"Aku?" Rina menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kayaknya mas Juna udah nyeritain sama Mas Anton soal masalah kami. Dia pasti nggak bilang kalau dia yang selingkuh. Jadi, karena tadi malam aku gak pulang, mas Anton pasti jadi ngira yang enggak-enggak ke aku. Ya kamu paham kan?"
"Oke, gak masalah, kok."
"Serius kamu mau?"
"Iya, aku juga mau lihat wajah suami kamu yang udah tega banget itu," kata Rina kesal.
"Maaf ya, aku jadi ngelibatin kamu dalam masalah aku."
"Gak apa-apa, Ra. Aku paham kok. Lagian kan kamu emang nginep di rumahku."
Bersambung ....
__ADS_1
****
Tinggalkan Komentar, Like, vote, bunga, kopi di meja Author... supaya makin semangat ngetiknya🙏🙏🙏🙏