
Sementara itu, Sky benar-benar menuju Level 21 Mall. Disana, ia langsung menuju ke sebuah Jewelry atau toko perhiasan. Ia berniat membelikan sang Mama oleh-oleh sebelum benar-benar meninggalkan Bali.
Sky pun terlibat obrolan dengan pramuniaga yang bekerja di toko tersebut. Setelah menemukan satu set perhiasan yang cocok untuk sang Mama, Sky tidak langsung beranjak, sebab tanpa sengaja matanya melihat sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk Angsa.
Seketika itu juga, Sky langsung teringat pada Yara.
"Kalau aku paksa kasi ke Ayara, dia pasti ngomel," ujar Sky berdialog dengan dirinya sendiri. Ia terkekeh pelan, tanpa menunggu ia langsung tiba pada sebuah keputusan yaitu benar-benar membeli kalung tersebut.
Bukan tanpa sebab Sky memilih kalung dengan bandul berbentuk Angsa. Menurut penelitian, Angsa adalah hewan yang hidup berpasangan dan dikenal setia dengan satu pasangan selama hidupnya. Bahkan mereka tidak pernah mencari pasangan lain lagi setelah pasangannya mati. Hal itulah yang membuat Sky jadi mengingat Yara.
Bentuk kalungnya juga sederhana, sesuai dengan kepribadian sang wanita. Sky tidak sabar mendengar omelan Yara disaat nanti ia benar-benar memberikannya pada wanita itu.
Selain karena filosofi Angsa adalah hewan yang setia. Ada kebetulan lain yang menyebabkan Sky langsung memutuskan untuk membeli kalung tersebut. Jika bandulnya dibalik, maka bentuk Angsa nya akan menyerupai huruf S--inisial nama Sky. Sky terkekeh saat menyadari hal itu.
Setelah selesai dengan semua perhiasan yang dibelinya, Sky pun berlalu untuk tujuannya yang lain.
Sekali lagi tanpa sengaja Sky melihat sebuah dress yang ia kira akan cocok dikenakan oleh Yara.
Berhubung malam ini akan ada dinner terakhir di Hotel-- sebagai momen perpisahan seluruh alumni yang sudah melakukan family gathering, jadi, Sky berinisiatif untuk membelikan Yara. Siapa tahu wanita itu tidak keberatan mengenakannya malam ini, walau Sky tidak yakin dengan hal itu.
"Kalau gak dipake ya udah, sih..." gumam Sky dengan entengnya. Tidak ada salahnya mencoba. Jikapun Yara menolak semua pemberiannya, setidaknya ia sudah mencoba, kan?
"Lebih baik mencoba daripada gak sama sekali."
Sky pun memutuskan untuk membeli dress tersebut. Bersamaan dengan itu rupanya seseorang juga memegang baju yang sama.
"Sky?"
"Kamu..."
"Mau beli dress ini?"
Sky mengangguk. "Ya," ujarnya.
"Kok bisa sama ya selera kita." Wanita itu tertawa pelan, terlihat sangat elegan. "Kamu mau beli buat siapa, Sky?" tanyanya kemudian.
"Bukan urusan kamu," kata Sky dingin.
Sky langsung meminta seorang pramuniaga untuk membungkus dress pilihannya. Tapi, sayangnya dress itu hanya tersisa satu.
"Maaf, Pak. Baju yang ini tinggal display ini saja."
"Hah? Gak ada yang lain?" tanya Sky.
Sang pramuniaga dengan badan kurus tinggi itu langsung menggeleng sambil tersenyum sungkan pada Sky.
Wanita yang tadinya ingin membeli dress yang sama dengan pilihan Sky pun kembali berujar.
"Ya udah, buat kamu aja, Sky. Display-nya juga masih baru."
"Thanks," jawab Sky acuh tak acuh.
Wanita itu pun menatapi kepergian Sky yang sudah menuju kasir untuk membayar pesanannya.
"Sky beli bajunya buat siapa, ya? Kok aku jadi penasaran," gumam wanita itu sambil tersenyum samar.
*****
__ADS_1
Sky tiba di Villa menjelang malam. Rupanya teman-temannya belum kembali dari Pura untuk menyaksikan tari Kecak.
Sky pun masuk ke kamarnya, suasana terasa lengang dan ia memutuskan untuk menyiapkan kalung dan dress yang ia beli untuk Yara.
"Gimana ngasihnya, ya? Kalau suaminya tahu pasti Ayara marah."
Sky jadi merasa jika dia benar-benar sudah menjadi selingkuhan Yara. Sialnya, ia justru terkekeh karena hal itu.
"Nasibmu Sky...." tuturnya pada diri sendiri. Sekali lagi pria itu tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun menggabungkan semua benda pemberiannya kedalam sebuah kotak-- yang kemudian ia masukkan ke paperbag.
Tak lama, Sky mendengar suara-suara lain. Ia tahu jika semua teman-temannya sudah kembali ke villa, begitupun dengan Yara dan Juna.
Mereka semua pasti ingin segera bersiap untuk dinner terakhir malam ini.
Sky keluar dari kamarnya. Tiba-tiba sebuah ide melintas begitu saja dibenaknya. Ia langsung tahu siapa yang akan membantunya saat ini.
"Rin..." Sky memanggil Rina. Wanita itu pasti akan menurut padanya. Sebenarnya Sky paling anti memanfaatkan orang lain, tapi sekali ini tak ada salahnya mengambil kesempatan disaat Rina merasa terintimidasi olehnya.
"Apa, Sky?" sahut wanita itu sembari menghampiri Sky dengan wajah 12 pas alias tidak senang.
Sky terkekeh. "Biasa aja dong mukanya," cibirnya.
"Hapus dulu video gue, Sky."
"Gampang, itu gak akan nyebar kok."
Rina berdecak lidah. Susah memang jika berurusan dengan pria satu ini. Sky terkenal pantang menyerah, tak kenal takut dan juga selalu nekat, pikir Rina.
"Terus, mau apa manggil gue?"
"Kasih ke Ayara." Sky langsung memojokkan paperbagnya kepada Rina, seketika itu juga Rina terkejut sambil mau tak mau menahan benda pemberian Sky dengan kedua tangannya.
"Gue gak butuh dikomentari. Kasih aja, oke!"
Rina mendesis sebal pada sikap Sky yang terkesan meng-enteng-kan semua hal.
"Kalau gak mau, ya udah...." Sky berujar dengan nada yang membuat Rina langsung terkesiap kaget.
"Iya, iya, gue anter." Rina mendengkus.
"Nah, gitu." Sky menyeringai puas. "Pastiin juga dia mau makai itu malam ini," sambungnya.
"Kan, kan, lo ngelunjak sih Sky!" Rina kesal sekali Sky memanfaatkannya. Ia menyesal pernah berurusan dengan pria ini.
"Sorry, Rin. Gue gak punya pilihan lain selain manfaatin lo," papar Sky terus terang.
"Makanya lu incar yang lain lah, kayak gak ada yang gadis aja. Noh, Dian pasti mau sama lu!" kata Rina merujuk pada Diandra.
"Udah gue bilang, gue gak butuh komentar. Ini bukan fesbuk yang nyediain kolom komentar."
"Hah? Parah emang. Ya udah, capek emang debat sama lu. Seri aja susah, apalagi menang."
Sky terkekeh mendengar Rina menggerutu.
"Buru, Rin!"
"Iya, iya."
Mau tak mau Rina akhirnya beranjak dan mengetuk pintu kamar Yara.
__ADS_1
Yara terheran-heran melihat Rina yang mendatanginya lagi. Apa ini masih ada kaitannya dengan keinginan Rina agar Yara bisa membujuk Sky untuk menghapus videonya?
"Kenapa, Rin?"
"Nih..." Rina menyerahkan sebungkus paperbag yang berukuran cukup besar itu kepada Yara.
"Apa nih?"
"Pake buat malam ini."
"Hah?" Dahi Yara langsung mengernyit bingung.
"Ehm... pake, Ra. Ini dari Sky."
"Apa?" Yara terkejut mendengar penyataan Rina.
"Kalau kamu gak bisa bantu aku buat hapus video itu. Tolong kamu pake benda yang dikasi Sky ini. Demi aku, Ra. Please...." mohon Rina dengan wajah memelas.
"Sky ancem kamu lagi?" tanya Yara. Keterlaluan sekali Sky memanfaatkan Rina seperti ini, padahal videonya juga tidak pernah ada, pikir Yara.
"Iya. Tolong banget deh, Ra."
"Emang ini isinya apa?"
Rina mengendikkan bahu. "Tauk! Kamu pake aja ya. Gitu pesan Sky tadi."
"Kalau Mas Juna curiga darimana aku dapet barang-barang ini, gimana?"
"Ah, pusing deh, Ra. Bisa-bisa kamu aja lah gimana buat alasannya."
Yara menggigit bibirnya. "Enggak deh, kamu balikin aja barangnya sama Sky."
Rina langsung melotot. "Gak, gak mau. Kamu pake ini malam ini buat dinner, Ra. Kalau gak, aku gak mau temenan sama kamu lagi."
"Loh, Rin? Kok gitu, sih?"
"Aku gak mau tau, Ra. Harus pokoknya."
Yara mengembuskan nafas frustrasi. "Iya deh, aku bilang ke mas Juna kalau barang-barang ini aku pinjem dari kamu."
"Iya, iya, dilihat dulu barangnya apa." Rina pun berlalu dari hadapan Yara setelah negosiasi yang cukup alot tersebut.
Yara membuka paperbag, ia terkejut mendapati dress baru yang ia yakini ini bukanlah baju dengan harga yang murah.
"Astaga... kalau aku pake ini, Mas Juna pasti langsung nanya deh."
Yara semakin terbelalak saat mendapati satu bungkusan paperbag lagi didalam kotak yang sudah ia buka. Paperbag kecil itu berisikan sebuah kotak perhiasan.
Yara memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tahu Sky tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika Sky tidak benar-benar masih mempunyai perasaan padanya, pria itu tidak mungkin mengeluarkan uang untuk membelikannya perhiasan. Ini bukan barang murah, pikir Yara.
Saat Yara membuka kotak bludru itu, ia langsung terkesima melihat kalung dengan liontin berbentuk Angsa tersebut. Dugaan Sky tepat sasaran, Yara sangat menyukainya. Itu sederhana dan tidak berlebihan, sesuai selera Yara.
"Dia selalu tahu kesukaan aku." Yara pun menggeleng pelan. Sampai kapan ia harus menerima kebaikan Sky, sementara ia juga tidak mau memberikan harapan pada pemuda itu. Yara benar-benar takut terpikat lagi pada pria yang sama. Apalagi perasaannya pada Juna juga tidak terlalu kuat sejak awal pernikahan mereka.
Bersambung....
****
Berikan dukungan utk novel ini ya, bestie.... semoga kita sehat selalu❤️
__ADS_1
Tekan bintangnya ya. Kasih rate bintang 5 di halaman depan novel beserta komentar kalian mengenai novel ini. ⭐⭐⭐⭐⭐