EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
107. Cinta Pertama yang gagal


__ADS_3

Nadine menggeret kopernya dengan perasaan yang bercampur aduk. Bagaimanapun, jika saat ini dia sudah memilih untuk berpisah dengan Lucky maka hari ini adalah hari terakhirnya menginjakkan kaki di kediaman sang suami.


Nadine berhenti tepat di depan tangga yang melingkar megah. Disana ia membayangkan kilas balik cerita rumah tangganya selama 4 tahun bersama Lucky.


Di tangga inilah pertama kalinya Lucky menciumnya, menggendongnya dengan kedua tangan lalu membawanya naik ke lantai atas dimana kamar mereka berada.


Semuanya berawal dari sini. Love at the first sight. Cinta pertamanya yang berhasil menjadi suaminya. Ya, saat Lucky masih SMP, disinilah awal mula Nadine kenal dengannya. Pria itu dulunya adalah pemuda yang menjadi kakak kelasnya.


Tidak disangka, orangtua mereka saling mengenal dengan cukup akrab. Perkenalan itu harus terhenti sampai disana sebab Lucky mengikuti jejak sang Ayah yang memang berkewarganegaraan Singapura.


Sampai mereka dipertemukan lagi dalam sebuah momen perjodohan dan keduanya menyetujui itu tanpa paksaan.


Nadine tidak menyangka jika akhirnya dia berjodoh dengan cinta pertamanya, tapi begitulah jalan takdir, alurnya memang tidak dapat dia tebak lebih dulu.


Tadinya Nadine bersyukur, tapi hari ini dia merasa kecewa, bukan karena takdir mengantarkannya pada Lucky tapi karena dia tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk pria itu.


Dulu dia merasa bangga, dapat menikahi cinta pertamanya, tapi sekarang Nadine harus berlapang dada, sebab dia tau bahwa hidup adalah pelajaran.


Dan pelajaran yang dia dapatkan dalam beberapa bulan kebelakang adalah cinta pertama memang lebih cenderung menyakitkan.


Bukan berarti tidak ada, tapi begitu banyak cinta pertama yang pada kenyataannya-- tidak berhasil dijalani dengan baik.


Begitupula dengan dirinya yang kini justru kenyataan semacam itu akhirnya datang menghampirinya. Gagal. Cinta pertamanya harus berakhir tak baik.


Nadine memang harus tegar diri. Sebab, sekuat apapun dia mencoba, nyatanya ia telah kalah. Tak perlu dijabarkan, semua ini terasa sangat menyakitkan.


Dan Nadine memilih menyerah-- karena tidak mau memperjuangkan lagi sebab dia masih menyayangi dirinya sendiri serta menjunjung kewarasan yang nyaris hilang sebab keadaan.


Jujur saja, jika mengingat pengkhianatan Lucky rasanya Nadine hampir gila, tapi dia berpegang pada komitmen diri dan iman yang dia yakini. Hal itu yang membuatnya kuat sampai detik ini.


Jujur, cinta itu memang masih ada, justru karena hal itu semua jadi terasa semakin menyakitkan untuk tetap dijalani. Ya, ada baiknya mundur, kemudian berbalik pergi. Jauh, sejauh yang bisa dilalui, agar tidak ada sekalipun niat dan perasan ingin kembali.


"Nadine!" Lucky menghalangi kepergian Nadine yang tampak sudah beranjak menuju pintu keluar rumah.


Lucky bahkan berlarian, menuruni banyak anak tangga dengan tergesa-gesa.


Wanita itu berbalik, demi menatap sekali lagi pria yang dicintai--namun harus ditinggalkan. Mendung diwajahnya kian terpancar hingga akhirnya airmatanya pun berjatuhan bagai hujan yang turun dengan deras dan tak sabaran.


"Sekali kamu pergi maka kamu gak akan bisa untuk kembali, Nad!"


Lucky mencoba memperingatkan sang istri. Dia sengaja, agar Nadine berpikir dua kali, barangkali sang wanita mau mengurungkan niat dan tetap berada pada posisinya.


"Aku tau, Mas," kata Nadine dengan suara yang bergetar. "Aku udah tau konsekuensi dari setiap perbuatan yang aku pilih," tuturnya sambil mengepalkan kedua tangan disisi tubuh. Ini terasa berat dan menyesakkan.


"Jadi, kamu benar-benar ingin kita pisah? Kamu akan menyesalinya, Nadine. Kamu masih mencintai aku dan aku sangat meyakini itu!" tukas Lucky.


Nadine mengangguk, dia tidak menyanggah perkataan Lucky. Ya, dia memang masih mencintai. Sangat. Tapi karena rasa itu pula ia menjadi amat sakit.


"Kamu benar, Mas. Aku memang masih mencintai kamu, tapi menyesali---" Nadine menjeda kalimatnya, dia menggelengkan kepala dengan tampang yakin. "Gak, Mas! Aku gak akan menyesali semua ini. This is my choice!" ujarnya mantap.


"Nadine?"


"Aku tunggu kabar perceraian kita dalam sebulan ini, Mas. Kalau kamu enggak mengurusnya maka aku yang akan mengambil sikap. Yah, apapun yang kamu lakukan untuk menunda perpisahan kita, pada kenyataannya kita memang tetap harus berpisah," kata Nadine menekankan.

__ADS_1


Lucky menatap Nadine dengan nanar. Dia tak bisa mencegah lagi sebab dia tau disini dialah yang memiliki kesalahan.


"Aku gak akan menyalahkan kamu lagi, Mas. Termasuk semua perbuatan kamu dan semua yang aku terima selama Firda sudah menjadi istri kedua kamu. Aku tau dan aku sadar, letak kekurangan itu memang ada pada diri aku sendiri. Jadi, sudahi ini, Mas. Kita memang harus berhenti sampai disini."


Airmata Lucky pun ikut menetes. Merelakan Nadine-- sangat berat untuk dia lakukan, tapi ucapan Nadine ada benarnya. Ya, Lucky masih memikirkan percakapannya dengan Nadine beberapa waktu lalu.


Dimana wanita itu mengatakan jika-- definisi mencintai adalah membiarkan orang itu bahagia, bukan cuma memilikinya saja. Karena untuk apa memiliki jika nyatanya dia tidak bahagia.


Seperti itulah yang saat ini Nadine rasakan, tanpa perlu Lucky tanyakan ataupun Nadine utarakan, jelas pria itu sangat mengetahui jika Nadine sudah tidak bahagia dalam pernikahan ini--bersamanya.


"Kita harus berhenti, Mas, 'cause it's a toxic marriage. Udah gak sehat lagi!" pungkas Nadine.


"Baiklah, Nad. Karena ini adalah permintaan kamu. Tapi bisakah aku meminta satu hal sebelum kamu benar-benar pergi? Just only one."


"Apa?"


Tak menjawab, Lucky malah berderap ke arah Nadine sekarang.


Dalam sekali pergerakan, pria itu lantas membawa Nadine agar masuk kedalam dekapannya. Disitulah tangis Nadine semakin pecah, menyadari jika suaminya sebentar lagi bukan lagi menjadi kepunyaannya. Dia masih seorang istri, tapi selalu tersakiti. Jadi, lebih baik status itu benar-benar dia lepaskan sekarang.


"I miss you so much, you can't go..." Dekapan Lucky pada tubuh Nadine terasa semakin erat.


Jujur saja, Nadine juga sangat merindukan Lucky. Tapi, apa mau dikata jika pelukan ini bukan lagi hanya untuk dimiliki seorang diri, pikir Nadine.


"Cukup, Mas." Nadine mencoba mengurai pelukan sang suami, namun Lucky seperti tidak membiarkan itu terjadi.


"Mas Lucky!" pekik seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Firda. "Kalian apa-apaan, sih?" ujarnya bersungut-sungut dari arah atas kemudian menuruni tangga saat itu juga.


"Aku tau kalian emang masih suami istri, tapi apa kalian gak bisa hargai perasaan aku disini?" bentak Firda dengan wajah merah padam. Tampaknya dia terbakar cemburu dan sangat emosi sekarang.


Firda lupa bahwa suaminya bukan hanya miliknya saja.


Nadine dan Lucky bahkan belum menyahuti perkataan Firda, tapi wanita itu kembali bersuara untuk kesekian kalinya.


"Dan kamu Nadine, kalau kamu emang mau pergi, silahkan! Pintu rumah ini terbuka lebar untuk niat kamu itu! Tapi, gak usah pake drama meluk-meluk suami aku lah!"


Mendengar kalimat Firda, bukan cuma Nadine yang merasa terhakimi, tetapi Lucky pun langsung meradang karenanya.


"Firda! Aku juga suami Nadine kalau kamu lupa!" marah Lucky, tidak pernah dia membentak istri keduanya seperti saat ini, tapi ucapan Firda tadi jelas seperti memojokkan Nadine, padahal disini Nadine masih sah sebagai istrinya.


"Mas?" Firda tergugu tak percaya sebab Lucky memarahinya hanya karena Nadine. Apa Lucky lupa dia sedang mengandung sekarang? Hati Firda sangat sakit dengan kenyataan ini.


"Udah! Kamu gak usah campuri urusan aku sama Nadine. Karena disini aku kepala keluarganya!"


Lagi, Lucky berkata dengan keras membuat Firda sangat malu karena dia dimarahi didepan Nadine juga.


"Nad..." Sekarang Lucky kembali menatap pada Nadine. "Tolong, kasi aku waktu untuk ini, jangan pergi sekarang. Kita bicara lagi nanti dengan suasana yang lebih baik."


Nadine menggeleng tak percaya dengan permintaan Lucky. Bukankah tadi pria itu sudah setuju dengan keputusannya dan hanya meminta satu permintaan sebelum Nadine pergi? Kenapa dia masih berusaha menghalangi niat Nadine?


"Jangan membuat keputusan disaat emosi atau kamu akan menyesalinya, Sayang ..." Masih saja Lucky membujuk Nadine, semua itu dia lakukan sebab masih tak rela ditinggalkan istri pertamanya.


Mendengar kalimat yang tercetus dari bibir Lucky-- membuat Firda gemas sendiri. Seketika itu juga Firda memegangi perutnya yang mendadak terasa nyeri.

__ADS_1


"M-mas... perut aku," kata Firda dengan susah payah.


Lucky langsung menatap Firda yang tampak kesakitan. "Firda? Kamu kenapa?" tanyanya mulai panik.


"Perut aku nyeri, Mas. Kandungannya...."


Lucky sempat lupa jika Firda sedang hamil, sebab sejak tadi dia hanya berfokus pada Nadine yang ingin meninggalkan kediamannya.


"Firda, Fir... Sayang..." Lucky sigap mengangkat tubuh Firda ke dalam gendongannya sebelum wanita itu pingsan, kemudian dia pun langsung membawa Firda untuk naik ke kamar mereka yang ada di lantai atas.


Nadine yang ada disana, hanya bisa terdiam membeku dan menyaksikan pemandangan itu. Tampaknya, ia memang hanya seorang figuran atau justru cuma penonton yang ditakdirkan untuk melihat apa kelakuan dari kedua insan tersebut.


Tanpa ingin tau lebih lanjut mengenai keadaan Firda, Nadine pun kembali menarik kopernya dengan langkah mantap. Lucky telah sibuk dengan istri mudanya, jadi tak akan ada lagi yang mencegah kepergiannya.


"Sudahlah, Nad. Gak ada yang bisa diharapkan lagi dari rumah tangga ini." Nadine bergumam pada dirinya sendiri.


Di teras, rupanya Nadine dapat melihat keberadaan Sonya dan Bu Ruqaya yang ada disana.


Mereka menyunggingkan senyum tipis seolah menunjukan bahwa mereka juga telah tau segalanya.


Ya, pasti mereka mendengar apa yang baru saja terjadi tadi.


"Ingat ya, kalau nanti udah pergi, jangan balik-balik lagi," kata Sonya dengan pedasnya.


Nadine menghentikan langkah sejenak, dia menoleh pada Sonya dan mengulas senyum miring. Jangan kira dia akan diam begitu saja, dia bukan Upik abu yang diam saat ditindas. Meski dia memiliki attitude yang baik, tapi jika merasa diganggu--Nadine bisa berubah menjadi singa yang ganas namun tetap anggun dan elegan.


"Kakak tenang aja, aku gak akan kembali ke rumah ini lagi, kok. Karena aku punya rasa malu untuk menumpang terus-menerus di rumah orang lain."


Jelas saja ucapan Nadine itu menyindir Sonya, membuat Sonya meradang karenanya.


"Kamu...." Tangan Sonya sudah naik, untuk memberikan Nadine pelajaran agar tak sembarangan bicara, tapi dengan sigap Bu Ruqaya mencegah niat putrinya.


"Heh, Nadine! Sonya itu gak numpang disini. Ini rumah Lucky dan dia adalah adik Sonya, jadi itu tidak bisa dinamakan menumpang."


Bu Ruqaya ikut ambil peran demi membela anak gadisnya yang sudah berumur itu.


Nadine tertawa sumbang, terdengar sangat mengejek bagi dua wanita yang ada dihadapannya.


"Mama pikir aku gak tau kalau Kak Sonya ini bukan kakak kandungnya Mas Lucky? Dia orang lain, Ma.... tolong minta dia untuk sadar juga!" katanya masih dengan senyum mengejek. Sengaja Nadine melakukan hal itu demi membuat Sonya mati kutu. Biar saja, pikirnya.


Seketika itu juga kedua wanita itu langsung pias. Sebab yang dikatakan Nadine memang benar adanya.


Bersambung ....


****


Hai, jangan bosan sama update-an othor ya. Hari ini bakal up 3x lagi. Hihihi.


Jangan tanya keadaan jari othor sekarang. Soalnya udah keriting dan kesemutan.😁


Hari ini othor begadang buat tulis bab ini, jadi letakkan kopi di meja othor ya biar ngantuknya hilang✌️🤪


Makasih banyak yang masih lanjut membaca novel ini. Yang udah mampir juga, othor ucapkan banyak makasih dan semoga kalian lancar segala urusannya🥰🥰🙏🙏🙏💚💚

__ADS_1


__ADS_2