EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
181. Bonchap-5


__ADS_3

Sejak kejadian malam itu, Aura merasa sangat trauma. Dia semakin menutup diri, bahkan tidak keluar rumah selama setengah tahun lamanya.


Kendati setelah mengadukan hal itu pada Sang Papa, Sky langsung menjebloskan pemuda bernama Sandy itu ke balik jeruji besi.


Aura menjalani pengobatan di klinik milik Levina--Seorang psikiater yang dulu sempat di kenal Yara saat anak-anaknya masih kecil dan mereka menjalin pertemanan hingga sekarang ketika Aura dan Ivana--anak Levina--sudah remaja.


Nyaris setahun Aura berobat, hingga akhirnya gadis itu mau keluar rumah lagi.


Jangan tanyakan bagaimana nasib sekolah Aura, saat semua temannya sibuk melakukan ujian akhir sekolah, Aura bahkan sudah tidak pernah masuk kelas lagi di masa-masa tersebut. Alhasil, Aura harus mengulang di tahun berikutnya dan dia memilih home schooling di rumah.


Yara dan Sky juga sangat selektif dalam memilih guru untuk Aura. Gadis itu hanya memilih guru perempuan. Dan meski Aura sudah berobat dan dinyatakan sembuh oleh Levina sebagai dokter psikis-nya, tapi selama bertahun-tahun dia tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenis selain yang masih ada hubungan dengan keluarganya.


Hal ini pula yang membuat Aura memiliki lingkup kecil dalam pertemanan. Ya, dia tidak memiliki banyak teman selepas tragedi itu, terutama laki-laki.


Aura hanya berteman dengan anak perempuan saat dia kuliah. Dan ya, dia memilih kuliah di luar negeri meskipun yang dia ketahui saat itu adalah Sandy masih berada dalam penjara.


Setelah kuliah, Aura mulai menemukan jati dirinya yang dulu, dia mulai berbaur dengan teman-temannya yang lain tapi tetap membatasi diri dari pertemanan bersama laki-laki.


Aura tau, seberapa lama pun dia berobat, trauma itu akan tetap ada dan membuatnya semakin tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan siapapun.


...***...


"Kak Ella," Aura berlarian kecil, mengejar langkah Kakak sepupunya, Elara.


Elara menoleh dan melihat Aura yang sudah berdiri disisinya. Mereka memang kuliah di negara yang sama namun berbeda jurusan. Mereka juga tinggal di Apartmen yang sama selama kuliah di Jerman.


"Kamu udah pulang? Aku pikir kamu ada kelas lagi jadi tadi aku mau pulang duluan," kata Elara pada Aura yang kini berjalan disisinya.


"Aku gak ikut kelas Mr. Robert, Kak."


"Kenapa?"


Aura menggelengkan kepalanya tak mau memberi alasan.


"Kenapa, Ra? Ayo ngomong sama aku, apa ada masalah?"

__ADS_1


"Bukan, Kak." Aura menipiskan bibir, ada keraguan disana. Apa dia harus bercerita pada Elara mengenai apa yang dia rasakan. Apakah Elara akan mengerti dirinya atau justru memojokkannya seperti Sierra, teman sekelasnya.


"Aurora ... kamu bisa cerita semuanya sama aku. Aku yang paling tau kamu disini. Kita keluarga, harus saling terbuka. Ada masalah apa?"


Elara bukan mau mendesak Aura, tapi bagaimanapun dia tau mengenai trauma Aura di masa lalu sehingga dia tak mau Aura menyembunyikan sesuatu yang nantinya akan dia sesali jika dia sampai mengetahui di belakang hari.


"Mr. Robert, meminta aku menemuinya di apartmennya," kata Aura menggigiit bibirnya kemudian.


"Dosen muda itu? Meminta kamu menemui di apartmennya?" ulang Elara.


Aura mengangguk. "Dia bilang, ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambahku karena aku memang sering bolos di mata pelajarannya."


"Kenapa kau melakukan itu?"


"Aku tidak bisa terlalu lama ditatapi me sum oleh Mr. Robert, Kak. Jadi aku memilih menghindari kelasnya. Dan aku tidak menyangka dia justru memberiku syarat seperti ini untuk mendapat A plus."


Elara tampak kesal mendengar seorang Dosen yang dihormati seluruh mahasiswa justru mengambil kesempatan dalam kesempitan. Elara tau, tujuan Mr. Robert sebenarnya bukan semata-mata untuk nilai tambahan Aura melainkan ada niat terselubung.


"Aku harus gimana, Kak?" tanya Aura lagi.


"Tapi, nilaiku--"


"Biar nanti aku yang menemuinya," kata Elara dengan nada enteng. "Jangan mau dimanfaatkan oleh dosen sepertinya. Apalagi kau mempunyai trauma dimasa lalu, biar nanti aku yang bicara padanya soal nilaimu itu," kata Elara sembari menepuk pelan punggung tangan Aura.


...****...


Sementara di lain tempat, Cean juga sudah tenang kala Aura sudah memutuskan untuk berkuliah dan bersosialisasi lagi dengan banyak orang. Sedikit banyak, kejadian yang pernah menimpa Aura membuat Cean geram bukan kepalang.


Jujur, Cean sempat menyalahkan dirinya sendiri terkait hal ini, dia takut apa yang terjadi pada Aura adalah ganjaran atas prilakunya. Cean tidak mau Aura yang merasakan karma atas perbuatannya.


Karena rasa bersalah itulah, perlahan-lahan Cean mulai berubah menjadi lebih baik. Dia tidak mau lagi mempermainkan banyak gadis. Tapi, Cean tidak memungkiri jika circle pertemanannya yang dipenuhi gadis-gadis borjuis membuatnya tidak bisa lepas begitu saja dari mereka. Hanya saja sekarang Cean amat selektif memilih pasangan. Yang tidak membuatnya tertarik sama sekali, tidak akan Cean berikan harapan.


Cean memilih untuk berteman dengan gadis-gadis yang mengejar-ngejarnya. Semua dia lakukan demi dirinya dan demi Aura, saudarinya.


Kebiasaan Cean yang sering berganti pacar lambat laun menghilang, tapi sesekali dia jalan dengan teman-teman wanitanya sebagai pengalihan pikiran.

__ADS_1


Ah ya, meski Cean berganti-ganti pacar dan memiliki julukan Playboy, tapi dia tidak pernah mencicipi tubuh perempuan. Dia masih menjunjung norma ketimuran dan punya prinsip untuk tidak merusak gadis manapun kendati banyak yang menawarkan tubuh padanya secara cuma-cuma sebagai having s-e-k-s.


Akan tetapi, karena ke-playboy-an seorang Blue Ocean Lazuardi sudah terkenal seantero pertemanannya dan dalam lingkup keluarganya, mereka semua tetap saja menjudge Cean sebagai Cassanova kelas kakap. Tidak ada yang percaya jika dia mengaku single dan sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun.


Ada-ada saja. Tapi terkadang Cean tidak memedulikannya. Terserah orang mau menilainya apa. Dia yang paling tau dirinya sendiri dan seberapa kuat dia mencoba menjadi lebih baik.


Untuk saat ini Cean sudah kuliah di jenjang yang satu tingkat lebih tinggi dari Aura. Itu semua karena Aura harus mengulang kelas 12 karena trauma yang dideritanya.


Cean juga tidak kuliah di negara yang sama dengan Aura. Dia lebih dulu menjajal universitas di Singapore sekalian untuk bisa memantau perusahaan pusat milik sang Oma sebab nantinya dia dan Aura lah yang akan bertanggung jawab atas usaha di bidang kosmetik itu.


"Woi, bro!" Marko--sahabat Cean--menepuk pundaknya. Cean hanya menaikkan sebelah alis sebagai isyarat apa yang dimaui Marko saat ini.


"Pinjem duit, ya. Aku mau bayar uang semester."


Cean dan Marko sudah bersahabat sejak SMA. Dulunya Marko juga anak orang berada tapi sejak perusahaan sang Papa collaps di empat bulan terakhir, mau tak mau Marko harus bekerja serabutan demi melanjutkan kuliahnya yang sudah terlanjur mengikuti Cean sampai ke Singapore.


"Ya udah. Nanti ku transfer," jawab Cean dengan tenangnya.


"Makasih ya, Bro. Awal bulan pas aku gajian nanti ku ganti uangmu."


"Iya, santai aja."


Cean mendengar jika sekarang Marko harus bekerja sebagai CS di sebuah tempat wisata yang ada di Singapore. Pekerjaan yang mau tau mau dia jalani sebab tidak seorangpun di negara ini mampu menolongnya karena dia sendiri tak punya sanak saudara disini.


Marko pernah ingin pulang dan menghentikan study, tapi Cean menahannya.


"... aku udah bilang kan, kalau untuk kuliah pasti ku bantu," kata Cean melanjutkan.


Marko tersenyum cerah. Setidaknya Cean lah orang yang selalu membantunya dikala susah, tidak semua teman mau seperti Cean, kebanyakan hanya menganggapnya ketika dia masih berada.


"Thanks, bro. Kelak, kalau kau udah bener-bener jadi pengusaha, aku orang pertama yang melamar untuk jadi asistenmu."


*****


Masih mau lanjut gak tentang mereka?? Ntar di Novel Cean fokus sama romannya. Kalau disini tentang kehidupan mereka menuju dewasa.

__ADS_1


__ADS_2