
Hari ini Yara ke pasar. Berbelanja bahan makanan dengan sisa uang yang pas-pasan. Ini adalah salah satu bentuk hiburan tersendiri bagi wanita itu. Mau bagaimana lagi, ingin shopping di Mall atau healing ke tempat yang jauh-- tidak mungkin ia lakukan sebab tidak memiliki tabungan.
Jadi, ke pasar saja sudah sangat menyenangkan bagi seorang Ayara Yasmin.
Padahal, hari ini adalah hari Minggu, seharusnya Juna juga ada dirumah, tapi kenyataannya semalam Juna kembali tidak pulang, dan sampai sekarang pun pria itu belum tiba di rumah bahkan sampai Yara kembali dari pasar.
"Bener-bener keterlaluan kamu, Mas," kesal Yara dalam hatinya.
Ingin mengabaikan, tapi statusnya masihlah seorang istri. Yara berniat meminta pisah, jika nanti Juna tidak dapat menunjukkan usaha konveksi yang selama ini di jadikan alasan oleh pria itu.
Didalam hati Yara, sudah sangat yakin jika usaha itu tidak pernah ada-- sejak ia melihat Juna bersama seorang wanita di Argaduta Hotel kemarin.
"Mas Juna keterlaluan banget, selama ini dia kasih aku uang pas-pasan, ternyata gajinya untuk senang-senang sama perempuan lain."
Yara menghela nafas panjang, segelas teh hangat tidak bisa menenangkan pikirannya.
"Maafkan Yara, Pak. Yara gak bisa terus sama Mas Juna sesuai dengan keinginan Bapak ...." Tanpa sadar, Yara menangis, bukan karena mengingat Juna tetapi karena ia merasa telah mengecewakan mendiang Ayahnya.
"Kalau Bapak masih hidup, apa Mas Juna tetap tega ngelakuin ini sama Yara, Pak?" isak wanita itu.
Yara merasa ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk menjalani rumah tangganya bersama Juna. Ia bertahan, meski terkadang merasa kekurangan. Ia memahami meski sering diabaikan. Ia tidak tahu letak kesalahannya dimana meski Yara sadar bahwa hingga saat ini ia belum bisa membuka hatinya untuk sang suami.
"Apa ini hukuman buat Yara, Pak? Karena Yara gak bener-bener bisa mencintai Mas Juna?"
Yara memijat pelipisnya sendiri. Ia tertunduk dengan airmata yang terus berlinang. Lelah, tentu saja. Bukan hanya lelah fisik karena menjadi istri yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan perut dan has rat Juna, tetapi ia juga lelah batin karena harus menghadapi sikap buruk suaminya yang mulai terbuka satu persatu.
Yara merasa Juna hanya datang padanya disaat pria itu susah dan butuh sesuatu. Akan tetapi, jika Juna senang, pria itu tidak pernah membagi kesenangannya dengan Yara karena ternyata Juna sibuk bersenang-senang dengan perempuan lainnya.
"Apa lagi yang kamu lakuin di belakang aku selain main perempuan, Mas?" batin Yara terasa berkecamuk.
Disaat seperti itu, kedatangan seseorang ke kediaman Yara membuat tangisan Yara terhenti seketika.
"Kamu kenapa, Ra?" Irna--tetangga Yara--menatap wanita yang berusia lebih muda darinya itu dengan tatapan ingin tahu.
"Gak apa-apa, kok, Mbak..." kilah Yara.
"Beneran? Kok kayak abis nangis?"
"Oh, ini tadi abis mengupas bawang di belakang."
Irna pun manggut-manggut.
"Ada perlu apa, Mbak?"
"Kamu jadi mau kerja, gak? Ada kerjaan nih, yang gak nginep. Kemarin kan kamu mau kerja, Ra."
"Kerjanya ngapain, Mbak?"
"Beres-beres rumah orang," ujar Ibu dengan satu anak itu.
Sebenarnya Yara ingin sekali bekerja, memanfaatkan ijazah terakhirnya yang adalah lulusan S1 bidang ekonomi, tetapi Yara tidak memiliki pengalaman dan di umurnya yang sudah menginjak 28 tahun apa ada perusahaan yang mau menerimanya?
Mendengar lowongan pekerjaan dari Irna memang terkesan jauh dari latar belakang pendidikan terakhirnya, tetapi jika nanti ia memang harus berpisah dari Juna, bukankah ia harus memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri?
"Gimana, Ra? Mau enggak? Kalau mau aku bilangin sama yang punya rumah..."
"Ehm, kerjanya mulai kapan, Mbak?"
"Kamu bisanya kapan? Dia butuh secepatnya."
"Kalau lusa, boleh gak, mbak?"
__ADS_1
"Ehm.... ya udah, nanti aku bilangin, intinya kamu mau, kan?"
"Boleh deh, mbak."
Yara mau mencoba dulu, mungkin ini adalah langkah awal ia harus terlepas dari Juna dan tidak bergantung terus dengan pria itu.
Setelah Irna pergi, Yara pun memutuskan untuk memasak bahan-bahan yang tadi sempat ia belanjakan. Tapi sebelum itu terjadi, matanya terbelalak melihat sebuah benda yang ada didekat sofa.
"Ya ampun, Sky... Ini sengaja ditinggalin disini atau gak sengaja tertinggal?" batin Yara melihat kotak jam yang sudah ia kembalikan pada Sky-- justru kini berada di rumahnya.
Disaat Yara masih memegang kotak jam itu, rupanya Juna sudah pulang ke rumah.
"Jam punya siapa, Ra?" tanyanya memicing melihat benda mahal itu ada ditangan sang istri.
Yara langsung menoleh. "Kamu... pulang juga, Mas?" sinisnya. "Aku gak denger suara mobil kamu," katanya lagi.
"Mobilnya lagi di carwash... nanti aku jemput," kata Juna tenang tanpa rasa berdosa baru pulang di siang hari ini.
"Oh, di carwash, bukan dijual, kan?" sindir Yara.
"Kamu kenapa sih? Gak senang gitu aku pulang?"
"Aku pikir kamu udah lupa alamat rumah ini, Mas." Kembali Yara menyindir.
Juna mendengkus. Ternyata Yara masih bersikap sama seperti kemarin. Menjengkelkan.
"Udahlah, aku mau mandi."
Yara tak menggubris Juna lagi, ia ingin berlalu tapi Juna kembali memanggilnya.
"Eh iya, itu jam siapa? Kayaknya jam mahal. Gak mungkin itu punya kamu, kan?"
"Ini punya aku, Mas." Yara tak takut mengakui hal itu terang-terangan didepan Juna, biar saja, pikirnya.
"Punya kamu?" Juna terkejut, darimana Yara mendapatkan jam mahal seperti itu?
"Iya, kenapa? Mau kamu pinjem buat dijual lagi?"
Juna melotot. "Kamu kalau ditanya jawab serius, Ra! Itu bukan jam murah."
"Memang ini punya aku," kata Yara. Karena kesal, Yara mengeluarkan jam dari kotaknya dan memakai benda itu dihadapan Juna saat itu juga.
"Darimana kamu dapat uang buat beli jam itu, Ra?"
"Yang jelas bukan dari uang kamu, Mas!"
...~~~~...
"Mama? Kapan balik, Ma? Kok gak ngabarin aku?" tanya Sky pada sang Mama.
"Kamu tuh sibuk terus, mama telepon gak dijawab."
Sky hanya menyengir, tak menyadari jika sang Mama sempat meneleponnya. Ponselnya dalam keadaan silent dan sejak Yara memblokir nomornya waktu itu, Sky memang jarang memegang ponsel lagi. Soal urusan pekerjaan, Sky memiliki ponsel lain untuk hal itu.
"Udah makan malam, kamu?"
"Belum lah, Ma. Baru juga pulang."
"Kapan kamu menikah, Sky?"
"Ma...."
__ADS_1
"Kamu bilang udah punya pacar, mana? Gak pernah dikenalin ke Mama juga. Minimal fotonya lah, biar Mama tau," kata Indri.
"Nanti lah, Ma... dia belum punya waktu."
"Sibuk banget pacar kamu tuh? Dia kerja dimana memangnya?"
"Udahlah, Ma... jangan bahas ini dulu, Sky mau mandi. Dahhh..."
Indri mencebik kesal, selalu saja putranya itu mengelak dan menghindar jika ia sudah membahas mengenai pacar, menikah, ataupun masalah serius semacam itu.
Umur Sky sudah menginjak 29 tahun, tapi tidak memikirkan untuk menikah. Padahal Indri sudah sangat ingin memomong cucu.
Setelah mandi, Sky turun ke bawah dan mendapati sang Mama yang menunggunya di meja makan.
"Nih," kata Indri mengulurkan sebuah paperbag ke arah Sky.
"Apa ini, Ma?"
"Oleh-oleh..."
Sky terkekeh. "Aku gak perlu oleh-oleh, Ma," ujarnya. Tak biasanya mamanya membelikan dia oleh-oleh jika kembali dari Singapore sebab negara itu sudah seperti rumah bagi mereka berdua alias terlalu sering kesana, jadi rasanya biasa saja dan tak ada sesuatu yang khas.
"Yang bilang buat kamu siapa, ini buat pacar kamu."
"Hah?" Untuk sesaat, Sky tercengang.
"Kenapa kaget gitu? Awas lho kalau gak dikasi ke dia."
Akhirnya Sky pun mengangguki permintaan sang Mama.
"Mama tuh pengen kamu cepat menikah, biar Mama cepat momong cucu. Mama ini udah hidup sendiri. Kesepian, Sky..."
"Kalau memang kesepian ya Mama nikah aja lagi, aku gak pernah ngelarang," ujar Sky dengan entengnya.
"Kamu gak usah nyuruh-nyuruh Mama nikah, Sky!" sebal Indri mendengar ucapan anaknya yang terkadang suka asal sebut saja.
"Ya, abisnya Mama nyuruh-nyuruh aku nikah," kata Sky tenang.
"Ngomong sama kamu tuh buat capek, ya...." desis Indri dan Sky terkekeh melihatnya.
Kadang, Sky merasa sikap sang Mama mirip sekali dengan Yara. Atau Yara yang mirip mamanya, maka dari itu Sky menyukai dua wanita itu. Termasuk suka menjahilinya.
"Abisnya Mama selalu ngerasa hidup sendiri, jadi aku gak dianggap ada, gitu?"
"Kamu kan sibuk terus... bangun rumah, gedung, semua di bangun. Bangun rumah tangga dong, Sky!"
"Iya, Ma... doain aja ya, semoga usaha aku gak sia-sia."
"Emang kamu lagi usaha apa sekarang?"
Sky mengendikkan bahu, tidak mungkin dia mengatakan pada sang Mama jika dia sedang usaha merebut istri orang, kan?
"Lihat Beno, dia udah nikah dan punya anak satu. Kamu mau kapan lagi?"
"Mama tenang aja, nanti pas aku nikah aku langsung buat anak banyak.... cucu mama langsung tiga sekaligus, Beno aja kalah, lewat," kata Sky jumawa.
Mendengar itu, Indri jadi terkikik. "Beneran, ya? Aamiin.... semoga cucuku nanti langsung tiga sekaligus," ujarnya sungguh-sungguh mendoakan.
Bersambung ....
****
__ADS_1