EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
105. Meminta Kesempatan


__ADS_3

Nadine tiba dikediaman Lucky dengan menggunakan Taksi. Sampai disana, ia langsung disambut dengan wajah Firda yang tak bersahabat.


"Mana Mas Lucky?"


Nadine lebih memilih diam dan berlalu begitu saja daripada menyahuti pertanyaan Firda.


"Nad, kamu tuli, ya? Aku lagi nanya sama kamu."


Nadine tetap tak menggubris Firda karena tujuannya sekarang adalah mengemas semua barang-barangnya ke dalam sebuh koper sebab ia sudah memilih untuk kembali ke Indonesia saja.


"Oh, ternyata selain tuli, kamu juga bisu ya? Gak bisa jawab pertanyaan aku!"


Rupanya Firda mengikuti jejak Nadine sampai ke ambang pintu kamar wanita itu yang memang terletak di lantai dasar--sekarang.


"Aku gak tau Mas Lucky dimana." Nadine akhirnya menjawab Firda namun tidak melihat pada wajah wanita itu.


"Gimana bisa kamu gak tau, Mas Lucky tadi pergi bareng kamu, kan? Sampai dia gak jadi jemput aku. Aku tau kok, jadi kamu gak usah ngeles, Nad."


Firda memang mendapat pesan dari Sonya yang mengatakan bahwa Lucky pergi bersama dengan Nadine--hal itu pula yang membuatnya meradang saat membaca pesan tersebut.


"Memangnya kalau Mas Lucky pergi bareng aku, ada masalah buat kamu? Kamu lupa kalau aku masih istrinya Mas Lucky juga?"


Firda tersenyum sinis. "Aku emang lupa, Nad. Karena nama kamu udah gak pernah terdengar lagi sih selama ini," ucapnya bersungut-sungut.


Nadine menghela nafas panjang, ia tak mau menyulut kemarahannya sendiri karena meladeni sikap Firda yang selalu menjengkelkan.


"Kenapa, Nad? Kenapa kamu harus kembali kesini? Kenapa kamu gak menetap aja di Indonesia selama-lamanya," gumam Firda yang selanjutnya membuat Nadine tertegun saat mendengarnya, lebih tepatnya, Nadine tak habis pikir dengan ucapan mantan sahabatnya itu.


"... udah tau kehadiran kamu disini itu gak diharapin. Ya, emang sih ada keinginan aku buat kamu tetap disini, tapi itu semata-mata hanya untuk membantu aku aja."


Sekarang Nadine menatap wajah Firda dengan sorot mata yang tajam dan menantang. Jangan kira dia takut pada wanita ini, bahkan dia sangat tau kelemahannya.


"Jadi mau kamu apa, Fir? Kalau kamu berharap aku dan Mas Lucky bakal berpisah dan kamu mau memiliki Mas Lucky seutuhnya, oke... aku juga bakal pergi kok dari kehidupan kalian."


Wajah Firda langsung berubah antusias. "Jadi, kamu mau meninggalkan Mas Lucky demi aku?" tanyanya senang.


"Iya, aku mau ninggalin Mas Lucky. Aku mau cerai. Tapi aku ngelakuin itu bukan untuk kamu, Fir. Tapi untuk kewarasan aku sendiri."


Firda tertawa sumbang seakan mengolok Nadine, dia melipat tangan di dada kemudian merentangkan satu tangan ke depan sembari menatapi kuku di jemarinya yang lentik. "Bagus, deh. Kalau kamu pergi itu juga sumber kewarasan buat aku. Aku gak mau sampai badmood terus karena ada kamu, lagian aku lagi hamil, perlu suasana yang tenang dan damai," tuturnya.


Nadine menarik koper disisi lemari, kemudian dia berujar pelan.


"Iya, kamu tenang aja, aku bakal pergi secepatnya karena aku gak mau ketularan orang gila," tukasnya.


Mata Firda langsung terbelalak. Dia tak senang dengan ucapan Nadine kali ini.

__ADS_1


"Nad, kamu ngejengkelin banget, ya!"


Firda maju satu langkah, menarik kencang rambut Nadine yang kebetulan memang sedang membungkuk demi membuka zipper di kopernya.


"Argh! Firdaaa...." Nadine memekik. Ia menangkap tangan Firda yang menjambak rambutnya. "Lepasin!" kata Nadine.


Dengan sigap, Nadine memelintir tangan Firda membuat wanita itu ikut mengaduh.


"Kamu nantangin aku buat berkelahi, Fir?" tanya Nadine menatap Firda dengan tatapan tajam.


Firda meringis, tangannya masih dalam cengkraman Nadine.


"Apa-apaan kalian!" Disaat yang sama, Lucky tiba disana dan mendapati keadaan dua istrinya yang sedang bertikai.


Seketika itu juga Nadine melepas tangannya yang mencengkram tangan Firda.


Tentu saja Firda tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, Dia langsung memasang wajah yang memelas dan menyedihkan.


"Mas, lihat tangan aku sampai merah dipelintir sama Nadine, Mas." Seperti yang sudah-sudah, wanita itu mengadu pada Lucky, membuat Nadine memutar bola matanya jengah.


Nadine menggeleng samar, dia tidak mau menguras energi untuk membuat sebuah pembelaan sebab ini bukan sinetron seperti yang sering di tonton Firda--hingga membuat wanita itu selalu bersikap dramatis.


Firda kesal sendiri karena Lucky hanya diam dan tidak memarahi Nadine, begitupun Nadine tetap tidak menjawab tuduhannya dengan sebuah pembelaan diri.


"Mas? Kamu denger aku gak, sih? Nadine buat tangan aku sampe merah kayak begini." Lagi-lagi Firda mengadu, seperti anak kecil, bahkan menunjukkan tangannya yang memerah karena tindakan yang memang sempat Nadine lakukan kepadanya--tadi.


"Aku denger kamu, kok, Fir. Ya udah, sekarang kamu kembali ke kamar kamu sendiri, biar aku yang bicara sama Nadine."


Firda pun mengulas senyum, dia pikir Lucky pasti akan memarahi Nadine setelah ini. Hatinya bersorak gembira.


"Ya udah, aku balik ke kamar duluan ya, Mas. Bilangin sama Nadine jangan suka pake kekerasan, aku ini sedang hamil anak kamu," kata Firda menekankan kata-kata terakhirnya sambil melirik Nadine dengan seringaian sinis.


Seperginya Firda, Lucky menutup pintu kamar bahkan menguncinya. Dia duduk di pinggiran tempat tidur dan memperhatikan kegiatan Nadine yang menyusun barang-barang kedalam koper.


"Kenapa kamu ngelakuin itu sama Firda, Nad?"


"Apa aku harus jawab pertanyaan bodoh kamu itu, Mas?" sarkas Nadine. "Kamu orang yang paling tau aku gimana. Seharusnya kamu bisa memahami, bahwa aku gak akan pernah memakai kekerasan kalau orang lain tidak melakukan hal itu juga sama aku."


Lucky pun menghela nafasnya. Dia memegang pundak Nadine yang berguncang. Ya, wanita itu menangis sekarang. Sekuat apapun Nadine mencoba bersabar, tapi nyatanya dia tidak kuat lagi.


"Firda ngapain kamu? Mana yang sakit, Sayang?" tanya Lucky selembut mungkin.


Lucky sendiri merasa serba salah sekarang, entahlah siapa yang harus dia percaya, tapi dia memang sangat tau attitude Nadine yang sangat baik selama ini. Nadine bahkan tidak pernah melakukan kekerasan pada orang lain, hati istri pertamanya ini amat sangat lembut-- bahkan untuk membunuh seekor semut pun Nadine tidak tega melakukannya.


"Kamu gak perlu menanyakan itu, Mas. Yang paling sakit itu adalah hati aku," akui Nadine dengan linangan air matanya.

__ADS_1


"Maaf, maaf, aku gak akan bosan mengucap maaf sama kamu, Nad." Lucky mengelus pundak Nadine secara berulang-ulang.


"Tapi aku yang bosan mendengarnya, Mas. Kalau kamu masih mau melihat aku keluar dari rumah ini dalam keadaan waras, sebaiknya kamu kabulkan permintaan aku untuk segera bercerai dari kamu."


Lucky memasang wajah sendu. Matanya pun ikut berair. Ia tidak menyangka perbuatannya sangat melukai hati Nadine sampai seperti ini. Bisakah dia diberi kesempatan lagi? Paling tidak, sampai anaknya lahir dan dia bisa memutuskan siapa yang terbaik diantara mereka berdua.


"Nad, kamu tau gak, kalau kamu keluar dari rumah ini dan kita bercerai, itu sama aja dengan kamu kalah sama cobaan pernikahan kita. Aku suami kamu, Nad... apa kamu gak mau bertahan sedikit lagi demi aku?"


"Maksud kamu apa, Mas?"


"Bertahanlah, Sayang. Kita lewati ini sama-sama. Aku udah memikirkannya, aku akan melepaskan Firda setelah dia melahirkan anak untuk kita. Aku siap kehilangan dia, tapi aku gak siap kehilangan kamu, Nad."


Mata Nadine terbelalak mendengar pernyataan Lucky kali ini.


"Mas? Are you crazy? Jadi maksud kamu sekarang, kamu mau menganggap Firda hanya sebatas wanita yang akan melahirkan bayi untuk kamu aja? Gitu?" tanyanya.


"Ya, aku gak pernah mencintai dia."


"Tapi kalian berkhianat dibelakang aku selama ini, Mas."


"Kesalahan terbesarku adalah menyimpan Firda selama ini hanya karena n@fsu semata."


Nadine menggeleng keras. "Enggak, Mas. Apapun alasannya kamu udah mengkhianati pernikahan kita, kan?" tukasnya menohok.


"Ya, maka dari itu beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini. Hanya beberapa bulan sampai Firda melahirkan. Aku akan menuntut hak asuh anak. Kita bisa asuh anak itu sama-sama, Sayang."


Nadine tau, kekuasaan Lucky memang bisa mengambil semua hak itu dan mendepak Firda seperti pernyataan pria itu saat ini. Tapi, nurani dan bagian terdalam dari hati seorang Nadine tidak bisa membenarkan tujuan Lucky-- sekalipun Nadine juga sangat menginginkan kehadiran seorang anak.


"Aku gak bisa, Mas."


"Berarti kamu mau mengalah?" Lucky menggelengkan kepala, tak percaya.


"Ya, aku siap kalah karena aku gak perlu memenangkan sesuatu yang tidak layak. Ini bukan tentang pertarungan ataupun ujian, tapi ini tentang kewarasanku."


Bersamaan dengan kalimat itu, Nadine pun mengancingkan kembali kopernya sebab semua barang termasuk belanjaannya di babyshop tadi-- sudah masuk seutuhnya ke dalam sana.


"Nad?"


"Aku gak mau mengikuti kegilaan kamu lagi, Mas. Aku gak sanggup terus membersamai pria yang egois seperti kamu. Apa kamu pikir aku mau memisahkan Firda dengan bayinya, nanti? Gak, Mas! Aku masih punya nurani dan empati--meski Firda gak punya hal itu untuk aku!"


Bersambung ....


****


Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes. Nadine bakal balik ke Indonesia segera. Siapa yang udah nungguin?

__ADS_1


Kirim Vote Senin kesini yah. Yang udah vote makasih banyak, moga rezekinya lancar,🙏🙏💚


__ADS_2