EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
79. Nonton


__ADS_3

Yara tampak serius menonton film yang sedang ditayangkan di layar besar. Sementara disampingnya, Sky malah fokus menatapi ekspresi Yara yang sesekali memejam karena kaget dan takut akibat genre horor yang memang sudah mereka pilih.


"Aaaa...."


Bersamaan dengan teriakan penonton yang lain, Yara juga ikut memekik, ia memalingkan wajah dan mendapati sosok Sky yang tersenyum-senyum menatapinya.


Disitulah Yara tersadar bahwa sejak tadi Sky bukan menonton film melainkan memperhatikan gerak-geriknya saja.


"Kamu gak nonton?" tanya Yara pada pria itu.


Sky memangku tangan sambil tetap menatap Yara. "Nonton kok," katanya.


"Bohong," ujar Yara. Ekspresi Sky saja tampak biasa, sepertinya dia memang tidak mengikuti alur film sejak tadi.


"Beneran nonton kok, kan, nontonin kamu."


Seketika itu juga Yara memutar bola matanya, sementara Sky kembali mengulumm senyum melihat ekspresi wanita itu. Sky mengambil beberapa popcorn dari box, kemudian mengulurkan ke arah bibir Yara dengan niat menyuapi wanita itu.


"Buka mulutnya, aaa...." kata Sky memperagakan.


Yara menurut sampai akhirnya kemauan Sky untuk memasukkan popcorn ke dalam mulutnya itu pun berhasil.


Sky tidak menarik tangannya, ia membiarkan itu didalam mulut Yara hingga membuat wanita itu kesal lalu menggigit jari Sky tanpa pikir panjang.


"Auuuh ..." Sky meringis kesakitan. Jeritannya bahkan membuat orang lain yang ada disamping kursi mereka berdecak-decak kesal.


"Rasain." Yara menarik box popcorn dari tangan Sky kemudian melahap makanan itu dalam jumlah besar.


Sky akhirnya terkekeh miris, kesalahannya sendiri mau menggoda Yara, padahal ia tahu jika wanita itu terkadang sulit diprediksi dengan kelakuan yang jutek dan juga barbar.


"Sakit, Ra." Sky merintih, bahkan terkesan di lebih-lebihkan.


"Tauk, ah! Lanjut nonton aja." Yara pura-pura cuek, padahal ia juga merasa bersalah karena tadi memang menggigit jari Sky dengan cukup keras.


Sky akhirnya diam, ia menatap ke layar besar didepan sana. Tidak ada gangguan lagi membuat Yara akhirnya penasaran dan menoleh pada pria itu.


"Sky?" Yara merasa tak enak hati. Ia berniat meminta maaf atas tindakannya.


"Hmm?" Pria itu menyahut tanpa menatap Yara, matanya malah fokus ke depan sana.


"Maaf, ya. Jangan ngambek."


"Enggak, siapa yang ngambek," kata Sky acuh tak acuh.


"Jadi kok gak mau lihat aku?"


Yara menarik sisi wajah Sky agar menghadap kepadanya.


"Aku gak ngambek," kata Sky dengan ekspresi datar. Walau dalam keadaan remang cahaya, Yara bisa melihat wajah itu dengan cukup jelas.


"Terus? Kok diem?"


"Katanya tadi disuruh nonton, ya udah aku nonton. Salahnya dimana?"


Yara jadi semakin merasa bersalah karena Sky menjawabnya seperti itu. Ia lebih suka Sky yang biasanya meski rada menjengkelkan, daripada Sky yang berubah cuek tiba-tiba seperti sekarang.


"Aku minta maaf," kata Yara sungguh-sungguh.


"Aku gak marah, Sayang. Serius ...." Sky menatap Yara tapi wanita itu langsung mengambil jari jemari Sky untuk diperhatikan satu persatu.


"Kenapa?" Sky mengernyit heran dengan ulah Yara kali ini.


"Mana tadi yang aku gigit? Yang mana yang sakit?" periksa Yara.


Sky menarik sudut bibirnya sekilas. Awalnya ia memang tidak marah, tapi melihat Yara yang jadi bersikap begini ia jadi punya sebuah ide.


"Semuanya sakit...." keluh Sky tidak sepenuhnya jujur.


"Kok semua, sih? Perasaan tadi yang aku gigit cuma dua jari deh."


"Iya, tapi sakit semua. Kamu giginya gak pake perasaan."


"Iya, maaf, aku minta maaf ya."

__ADS_1


Yara sudah tidak tau lagi bagaimana jalan cerita film yang mereka tonton sebab sekarang ia malah berfokus pada jari-jemari Sky. Tentu saja itu menguntungkan pria itu, ia malah senang dengan perhatian Yara dan sentuhan tangan Yara di setiap jarinya.


Yara mengelus jari Sky dengan pelan.


"Kalau infeksi gimana?" tanya Sky kemudian.


Seketika itu juga Yara melotot. "Infeksi? Aku gak sekeras itu gigitnya, Sky. Lagipula kamu pikir aku binatang yang bisa buat kamu infeksi, gitu?" Yara merengut, tapi tidak berani melepaskan tangan Sky.


Sky membalas genggaman Yara. "Aku bercanda, Sayang, jangan dimasukin ke hati," katanya.


"Aku minta maaf...." Yara menatap Sky dengan tampang penuh penyesalan.


"Mau aku maafin?"


Yara mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Aku balas tapi," kata Sky membuat Yara terkejut.


Tanpa perhitungan dan perkiraan dari Yara, pria itu langsung mendekat dan mengigit pipi Yara. Memang itu hanya gigitan pelan, tapi tentu membuat mata Yara membulat sebab terkejut.


"Sky!" Yara memukul lengan Sky tapi pria itu malah terkekeh.


"Kalau ada yang ngeliat gimana?" protes Yara.


Sky mengendikkan bahu.


"Biarin, kan bukan me sum," katanya tanpa merasa berdosa.


Yara mengelus pipinya yang sempat digigit oleh pria itu. Akhirnya dia hanya geleng-geleng kepala saja.


Yara merasa mereka berdua yang paling ribut di studio bioskop ini. Entahlah, terkadang ulah Sky memang ada-ada saja.


Saat film selesai, Yara dan Sky keluar dari area bioskop masih dengan bergandengan tangan.


Sebuah deringan ponsel membuat Sky sadar bahwa itu adalah panggilan di hp nya.


"Aku angkat telepon bentar ya."


Yara mengangguk. "Oke, aku tunggu disini."


Yara pun menunggu Sky di sebuah kursi tunggu yang ada di sana. Ia memperhatikan gerak-gerik pria itu dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Sementara Yara menunggunya, Sky pun menerima panggilan teleponnya. Itu adalah panggilan dari sang Mama.


"Sky? Kamu dimana? Besok mama mau berangkat ke Singapore."


"Ah, iya, ma... aku masih diluar. Ada apa, ma?"


"Mama mau bicara sama kamu Sky, sebelum mama berangkat."


"Soal apa, ma? Apa penting?"


"Mama mau kamu ikut mama ke Singapore, besok."


"Aku kan kerja, Ma."


"Besok hari Minggu, Sky. Senin kamu udah bisa balik ke Indonesia lagi. Singapore itu gak jauh ..."


"Memangnya ada apa, Ma? Kenapa aku harus ikut ke sana?"


"Makanya kamu pulang dulu, biar Mama jelasin di rumah."


"Ya udah, ini aku udah mau pulang kok."


"Oke, mama tunggu ya."


Panggilan itu pun terputus, tapi Sky masih nampak keheranan dengan keinginan sang Mama yang mengajaknya ke Singapore.


Memang perusahaan mendiang ayahnya ada disana. Apa ini ada kaitannya dengan hal yang biasa ditangani sang Mama disana? Tapi, tidak biasanya mamanya melibatkan dia dalam bisnis sebab sejak awal Sky sudah menolak hal itu karena itu bukan kapasitasnya.


"Sky? Ada masalah?"


Sky tersentak saat Yara sudah berada disampingnya dan menepuk pundaknya pelan.

__ADS_1


Yara memang menyusul Sky karena melihat pria itu yang sepertinya sudah selesai menelepon.


"Ah, gak... gak ada masalah, kok."


Yara mengangguk namun ia masih merasa janggal dengan air wajah Sky yang berubah.


Yara menunggu Sky mengatakan padanya siapa yang tadi menelpon, ia enggan bertanya lebih dulu, tetapi agaknya pria itu belum mau menceritakan pada Yara terkait telepon yang tadi diterimanya.


Sampai mereka dalam perjalanan pulang, Yara melihat Sky tetap diam.


"Besok kamu kemana?" Tiba-tiba Sky menanyakan Yara padahal sejak tadi mereka dalam keadaan hening tanpa suara.


"Ke rumah Mbak Nadine."


Sky mengangguk-anggukkan kepalanya tampak misterius.


"Sky? Sebenarnya ada apa?"


Pria itu tersenyum kecut. "Tadi mama yang nelpon aku," paparnya.


"Terus?"


"Besok mama mau ke Singapore, dia ngajak aku ikut."


Yara terdiam mendengar hal itu, ia merasa tak tau harus berkomentar apa.


"Menurut kamu aku ikut atau enggak?" tanya Sky kemudian.


"Kok nanya aku?"


"Karena jujur aja, perasaan aku gak enak."


"Kenapa mesti gak enak? Itu mama kamu sendiri, kan?"


Sky ingin sekali menceritakan pada Yara terkait mamanya yang belum memberi lampu hijau terkait hubungan mereka, tapi Sky tidak kuasa mengatakannya.


"Mama .... gak pernah ngajakin aku secara dadakan seperti ini. Dia juga mau ngomong sama aku malam ini juga. Kalau masalah perusahaan papa di Singapore aku rasa itu gak mungkin, karena mama tau sejak awal itu bukan passion aku dan orangtuaku memang gak pernah memaksakan aku mengurusnya."


"Jadi?"


Sky menarik nafas dalam. Tak lama, ia menghentikan laju mobil dan berhenti di pinggiran jalan yang menurutnya aman.


"Ra, sebenarnya mama belum setuju sama hubungan kita." Akhirnya Sky mengakui hal itu.


Yara tidak terlalu terkejut. Ia sudah dapat memperkirakan hal ini.


"... jadi, perasaan aku mengatakan mama ada suatu rencana yang entah apa, karena ini sangat mendadak."


"Dan rencana itu ada hubungannya dengan kita?" tanya Yara.


"Mungkin, karena perasaan aku gak enak."


"Kamu gak boleh negatif thinking sama mama kamu sendiri Sky."


"Aku sangat mengenal mama, Ra. Dia memang menyayangi kamu, dia juga suka sama kamu tapi dia terlalu paranoid dengan status kamu. Maaf," akui Sky.


"Aku paham, Sky," ujar Yara lapang dada. Tidak semua orang mampu menerima status janda yang sekarang ia sandang.


Lalu, jika ternyata Yara harus berpisah dengan pria ini hanya karena status yang ia punya. Ia bisa apa?


"Aku gak mau kehilangan kamu lagi, Ra. Aku sayang banget sama kamu. Gak tau lagi gimana ngomongnya tapi kenyataannya memang begitu."


Yara tersenyum kecil, mencoba bijak menyikapi semua ini.


"Ya udah, sehabis kamu anterin aku malam ini, kamu pulang, kamu dengerin mama kamu ngomong dan turuti kemauan dia. Dia pasti mau yang terbaik untuk kamu, Sky."


Sky menghela nafas berat. Ia menatap Yara lama. Ia tidak mau kehilangan wanita itu lagi. Tapi apakah ia harus mendobrak benteng persetujuan sang Mama dan menikahi Yara tanpa restu dari wanita yang telah melahirkannya itu?


Tanpa pernah Yara sangka, tiba-tiba Sky mendekap tubuhnya. Dengan nafas yang terasa tersengal seperti penuh beban yang berat.


"Apapun yang terjadi, aku gak bakal ninggalin kamu, Ra. Aku udah janji sama diriku sendiri." Sky membatin dalam dekapannya pada wanita itu.


Bersambung ...

__ADS_1


****


Dukung karya ini terus yuk. vote, jempol, hadiah nya jangan lupa ya, sama komentarnya juga🙏🥰🥰🥰


__ADS_2