
Sementara itu, Juna kembali ke rumah yang sekarang juga di tempati oleh Shanum.
Sesampainya disana, ia tidak mendapati makanan untuk dimakan-- membuat Juna menatap Shanum dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu gak masak?" tanyanya.
Shanum menggeleng. "Enggak, aku kan gak tau kamu mau pulang ke sini, lagian, kamu aja belum belanja, kulkasnya kosong."
"Aku?" Juna menunjuk kearah dirinya sendiri. "Belanja? Maksud kamu apa?" tanyanya kemudian.
"Yang, aku gak pernah belanja ke pasar, bisa-bisa aku nyasar didalam sana. Kalau ke supermarket bisa sih cuma kan kamu belum kasi uang bulanan juga."
Juna menghela nafas panjang, ingin rasanya ia marah akan tetapi melihat perut Shanum yang membuncit kemarahan itu seakan teredam begitu saja.
"Aku pesenin online aja, ya," kata Shanum memberi opsi.
Jika boleh jujur, Juna lebih senang dengan masakan Yara. Meski Yara hanya memasak sederhana tapi ia selalu memakannya karena entah kenapa rasa masakan Yara sangat pas di lidahnya. Hal itu pula yang dulunya membuat ia cukup terikat dengan sang istri. Yara memiliki sesuatu hal yang tidak dimiliki oleh wanita lain, termasuk Shanum. Lalu, kenapa ia sanggup mengkhianati Yara padahal ia tidak siap dengan konsekuensinya?
Tidak mendapat menu makan malam saja sudah membuat Juna berhasil membandingkan Shanum dengan Yara. Bukankah seharusnya ia tak begitu? Inilah salah satu resiko atas pilihannya yang sudah memberi ruang untuk wanita lain di kehidupannya. Ia tak pantas membandingkan.
Tapi, untuk inilah Juna jadi mau keduanya. Yara melengkapinya dengan suatu hal yang berbeda. Begitupula Shanum yang menyempurnakan keinginannya dengan yang tak dapat Yara berikan kepadanya.
"Ya udah, terserah kamu aja, pastiin aku bisa makan makanannya..." kata Juna. Untuk makanan ia memang cukup memilih.
"Iya, iya." Shanum mulai membuka gadget dan membacakan daftar makanan yang mungkin bisa membuat Juna berselera.
Saat Shanum sedang sibuk memilih menu. Juna membuka sosial media miliknya. Ya, dia memantau Yara dari sana, siapa tau Yara meng-upload postingan--yang akan membuatnya dapat jawaban mengenai keberadaan wanita itu.
Sayangnya, Juna tidak dapat melihat apapun, sebab Yara tidak meng-update kegiatan terbaru atau status apapun disana.
Juna mengingat saat terakhir Yara pergi malam itu, tepatnya saat mereka bertengkar hebat sampai Juna menemukan tanda merah di leher Yara.
"Yang?"
"Hmmm?" Shanum menyahut tapi masih fokus pada gadgetnya.
"Waktu kemarin Yara datang ke rumah Mas Anton, siapa yang anterin dia kesana?"
Seketika itu juga Shanum mengadahkan wajah. "Kenapa? Kamu mau cari Yara, gitu? Buat ceraikan dia, ya?" tanyanya dengan tatapan senang.
Juna menggaruk dahinya sekilas. "Yah
... kamu jawab aja..."
"Waktu itu dia diantar temennya, katanya dia nginep dirumah temennya itu. Eh, tau gak, Yang... ternyata temennya itu Rina. Temen aku juga sih," katanya.
"Rina?"
__ADS_1
"Iya, Rina. Kamu kenal juga sama dia?"
"Kenal sekilas aja, aku tau sama dia. Kan waktu itu aku pernah ikut acara family gathering temen-temen Yara. Jadi, ya beberapa kali emang ketemu sama dia," kata Juna menjelaskan.
"Iya, katanya dia nginep di rumah Rina. Cuma aku sih gak yakin," papar Shanum kemudian.
"Gak yakin maksudnya?"
"Ya, bisa aja kan Rina itu cuma disuruh sama Yara. Mungkin Yara nginep di rumah selingkuhannya," kata Shanum mengendikkan bahu sesudah mengutarakan pendapatnya.
Juna terdiam. Jika itu adalah Shanum, mungkin dia akan percaya. Shanum memang bisa saja melakukan hal semacam itu dengan memanfaatkan Rina untuk membantunya. Tapi ini Yara. Rasanya Juna tak yakin jika istrinya seperti itu.
"Bukan apa-apa, Yang. Kan kamu sendiri yang bilang kalau Yara juga selingkuh. Malam itu dia gak pulang. Ya.... kali aja dia ambil kesempatan."
Juna tak mau mendengar perkataan Shanum yang seakan mendoktrinnya itu.
"Udah di pesan makanannya?" Buru-buru Juna mengalihkan pembicaraan, lagipula ia sudah dapat sebuah kata kunci. Rina. Mungkin besok ia akan mencari Yara lewat Rina. Barangkali Rina memang mengetahui keberadaan Yara, pikirnya.
"Udah nih. Aku pesan ayam Taliwang."
Juna akhirnya mengangguk dan memutuskan menahan sabar sebab harus kembali menunggu pesanan makanannya datang.
...~~~...
Anton mendatangi kediaman yang Irna katakan sebagai tempat kerja Yara. Beberapa kali ia menekan bel rumah besar itu namun sepertinya keadaan sangat senyap didalam sana.
Dari jauhpun, Anton sudah dapat mengenali siapa orang yang mulai mendekat ke pagar. Tetapi agaknya, orang itu belum menyadari jika Anton yang tengah berkunjung saat ini.
"Dek...."
Sepersekian detik berikutnya, Yara langsung menyadari jika itu adalah sang kakak.
"Mas Anton?" Yara menutup mulutnya sebab ternganga melihat keberadaan sang kakak yang sekarang jelas-jelas ada dihadapannya.
"Dek, Mas mau bicara sama kamu."
Yara menundukkan wajah, entah dari mana Anton mengetahui keberadaannya. Tapi yang tahu posisinya saat ini hanyalah Irna dan Sky. Apa jangan-jangan Sky telah bertemu dengan sang kakak?
"Ya udah, sebentar ya, Mas." Yara pun membukakan pagar rumah kemudian mempersilahkan Anton untuk duduk di teras.
"Maaf ya Mas, Yara gak ajak masuk soalnya gak enak sama majikan Yara nanti."
"Ya, Mas paham kok...."
"Mas mau ngomong apa? Kok bisa tau Yara disini?"
"Mas tadi ke kontrakan kamu. Ketemu sama yang namanya Irna."
__ADS_1
Yara menghela nafas sepenuh dada. Untunglah bukan Sky yang memberi tahu Anton, sebab jika begitu, itu tandanya kedua pria itu sudah bertemu. Ah, Yara tidak tau apa yang akan terjadi jika nanti mereka benar-benar bertemu.
"Mas cuma mau nanya sama kamu, apa kamu bener-bener mau bercerai sama Juna, dek?"
Yara mengangguk mantap. "Yara gak bisa lagi sama dia, Mas. Yara tetap pada keputusan Yara," tukasnya.
"Apa kamu udah gak ada perasaan cinta lagi sama suamimu?"
Walau bagaimanapun, Anton harus tau dulu bagaimana perasaan Yara terhadap Juna-- jadi ia tahu harus memulai kata darimana, memilah kalimat yang benar agar kenyataan mengenai Juna dan Shanum tidak akan membuat Yara pingsan, barangkali.
"Yara udah mati rasa sama Mas Juna, Mas."
Yara tak mau mengatakan pada sang kakak mengenai perasaannya yang sebenarnya tidak pernah mencintai Juna-- sebab dimata sang kakak, pastilah sosok Juna merupakan suami yang baik--selama ini, terlepas dari kesalahan Juna di belakang hari. Anton mengenal Juna dengan pribadi yang baik, kan?
Yara tak mau Anton kecewa atas jawabannya yang sebenarnya, sebab jika Anton tau selama ini ia tak bahagia dalam pernikahannya-- itu akan membuat Anton merasa bersalah sebab pernah mendukung mendiang Ayahnya dalam hal perjodohan Yara dan Juna.
"Bener dek? Kamu gak akan syok dengar fakta yang mau mas berikan? Karena.... mas udah tau siapa selingkuhan Juna, dek," lirih Anton.
Yara terperangah. "Mas menyelidiki mas Juna?" terkanya.
"Lebih tepatnya, Mas langsung curiga setelah ngelihat foto yang kamu tunjukkan tempo hari. Dari sanalah mas memutuskan untuk mencari tau."
"Jadi, siapa dia, Mas? Dari omongan Mas, sepertinya Yara juga kenal dengan perempuan itu karena Mas sampai takut Yara syok..."
Anton mengangguk. "Kamu emang kenal dek, bahkan mas lebih mengenal selingkuhan Juna itu. Mas mengenalnya luar dalam," tandasnya dengan senyuman miris.
"Siapa?"
"Shanum." Akhirnya nama itu terucap juga dari bibir Anton.
Seketika itu juga Yara tidak bisa berkata-kata, ia memang tidak memiliki perasaan pada Juna selain rasa tanggung jawab sebagai seorang istri. Akan tetapi, jawaban Anton benar-benar membuat Yara jadi seperti yang sudah kakaknya itu perkirakan. Yara syok. Benar-benar syok. Tentu saja.
Beberapa kali Yara ingin berkata-kata, tapi seakan tercekat, ia pun kembali terdiam.
"Ng ...." Yara bingung hendak mengucapkan apa, padahal kalimatnya sudah terkumpul di kepala.
Kendati Yara pun merasa syok atas perbuatan Juna, lalu bagaimana dengan perasaan kakaknya sekarang? Mungkin Yara bisa untuk tidak menggila karena hal ini--sebab Juna tidak ada dalam hatinya. Lantas, bagaimana dengan Anton? Yara memikirkan perasaan sang kakak yang ia ketahui sangat menyayangi istrinya, Shanum.
"Mas... mas gak apa-apa?" Akhirnya itulah pertanyaan yang terlontar dari bibir Yara setelah beberapa saat hening
Anton malah mengukir senyuman tipis.
"Mas khawatirin kamu, kok kamu malah nanyakin mas sih, dek..." ujarnya tenang.
Bersambung ...
****
__ADS_1