
Sementara di lain sisi, Sky dan Yara amat menikmati peran baru mereka menjadi orangtua.
Aurora dan Ocean tidak bisa dipisahkan. Sejujurnya, Yara sampai kewalahan saat memberi mereka ASI sebab tidak ada yang mau bergantian. Terkadang, Sky ikut membantu memberi mereka ASI dengan botol tapi keduanya seakan kompak dan menolak. Mereka lebih senang melalui metode DBF atau Direct breastfeeding.
DBF adalah proses menyu-sui langsung dari payud@ra ibu ke bayi. Memang itu sangat disarankan dan dianjurkan oleh Dokter, terutama pada bulan-bulan pertama setelah bayi lahir. Tapi, berhubung bayi Yara dua orang yang keduanya selalu tidak sabar dan enggan bergantian, hal itu membuat Yara sering bingung mau mendahulukan yang mana, terpaksa dia menyusui keduanya secara bersamaan meski posisi itu menyulitkannya.
Apalagi Ocean, bayi laki-laki itu lebih lahap ketimbang Aurora, sehingga durasi menyu-sui Ocean terkadang lebih lama.
Sky sendiri berusaha menjaga mood baik istrinya, ia takut Yara mengalami baby blues dan akan mempengaruhi ASI yang diproduksi dalam tubuh wanita itu karena bayi-bayi mereka tidak mau dibantu dengan sufor. Sky juga berusaha untuk menuruti semua kemauan Yara, serta memastikan sang istri agar mengonsumsi makanan terbaik.
"Cean udah tidur?" Sky bertanya pada Yara yang tampak masih menggendong Baby Ocean.
Yara mengangguk, ia sebenarnya kasihan juga pada Sky yang tidak bisa ia urus sepenuhnya seperti dulu, kehadiran dua bayi dalam hidupnya langsung menyita perhatiannya sekaligus, membuatnya jarang memperhatikan suaminya sendiri.
"Aku mandi bentar, ya. Nanti aku bantu pindahin Cean," kata Sky sembari melirik Aurora yang sudah lebih dulu nyenyak dalam box bayinya.
Syukurnya Sky adalah suami yang sangat pengertian, Yara selalu bersyukur memiliki pria itu dalam hidupnya. Sky tak berubah sejak dulu--sejak mereka memulai kisah diantara mereka.
Sky memasuki kamar mandi, pria itu memang enggan menyentuh bayi-bayinya sebelum dalam keadaan bersih.
Sesudahnya, Sky membantu Yara untuk memindahkan Ocean secara hati-hati ke dalam Box bayi--disebelah Aurora. Sebenarnya Yara bisa melakukannya, tapi Sky memang berniat membantu istrinya meski dalam hal-hal kecil sebab dia tak bisa menyamai apa yang sudah istrinya korbankan-- untuknya dan demi kedua buah hati mereka.
Yara tampak membenarkan posisi duduknya, sejak tadi dia menyu-sui dua bayi secara bersamaan, kemudian memindahkan Aurora ke box dengan susah payah setelah bayi itu kenyang dan tertidur nyenyak. Disusul Ocean yang kemudian baru nyenyak setelah kakaknya.
Sekarang, barulah Yara merasa tubuhnya pegal-pegal. Ia meluruskan tangan dan kaki yang terasa kaku dan sedikit kesemutan.
"Maaf ya, kamu pindah dulu, karena mama tetap milik papa jadi kamu boboknya disini, ya, biar papa tetap bisa bobok berdua sama mama."
Yara terkekeh singkat mendengar Sky yang berceloteh pelan pada Baby Ocean yang dia pindahkan secara hati-hati.
Sky kembali ke tempat tidur mereka dan melihat Yara yang tampak lelah.
"Pijat?" Sky menawari Yara dengan tulus.
Yara menggeleng, ia takut Sky kebablasan, karena selama Yara menikah dengan pria itu, sesi pijat akan berujung dengan hal lain. Sementara Yara baru saja selesai melahirkan dan dia menjaga diri kendati itu godaan dari suaminya sendiri.
"Aku janji gak lebih-lebih. Aku cuma khawatir kamu capek dan butuh pijat, Sayang."
__ADS_1
Yara akhirnya mengangguk, dia menunjuk pundaknya. "Yang ini aja..." katanya.
Sky mengiyakan, ia mengambil posisi duduk dibelakang punggung istrinya, kemudian mulai memijat pundak Yara dengan ritme perlahan.
"Maaf, ya, aku gak bisa gantiin posisi kamu. Kalau aja bisa aku pasti mau, Sayang."
"Gak apa-apa, kamu kerja aja yang giat, ingat udah ada tanggung jawab lain dalam hidup kamu," tutur Yara sembari menikmati pijatan Sky yang lembut dan melenakan.
"Gimana anak-anak hari ini?" tanya Sky. Sejak Yara melahirkan, ia memang mengambil cuti selama lima hari dan baru hari ini dia kembali bekerja jadi dia melewatkan perkembangan kedua bayinya.
"Ya gitu, masih sama kayak kemarin, namanya juga bayi, Sayang... aktivitasnya gitu-gitu terus. Kalo gak nangis karena lapar, nangis karena pup dan nangis karena ngantuk. Pokoknya rame," kata Yara dengan kekehan kecil.
Sky menyunggingkan senyum tipis dalam posisinya. "Pasti kamu capek banget, ya?" tanyanya.
"Ya, gitu, tapi aku menikmati momen ini. Lagian ada Mama dan Bi Sri juga kok yang bantuin aku."
Sky menghentikan aktivitas memijatnya. Pria itu mendekap Yara dari belakang kemudian menjatuhkan dagu di pundak sang istri.
"Sayang ..." Yara tersentak saat Sky mengendus lehernya, hal itu memercikkan sesuatu dalam diri Yara, tentu dia merasa geli dan alarm waspada dalam diri langsung menyala.
"Aku cuma mau hirup aroma keibuan kamu, Sayang ...." kilah Sky.
"Kok gitu, sih? Aku kangen banget, Sayang..."
"Kan, kan, apa tadi aku bilang. Udah awas." Yara mengendikkan bahu agar Sky menyingkir dari ceruk lehernya.
Sky mencebik berlagak merajuk. Yara menoleh ke belakang dan mendapati wajah suram suaminya.
"Biasanya kamu pengertian. Masak hari ini gini, sih? Jangan lupain kalo aku baru ngelahirin. Itu ada dua anak kamu yang jadi bukti nyatanya. Kamu lupa gimana sakitnya aku waktu ngelahirin mereka? Kamu mau aku---"
Sky langsung menutup mulut Yara dengan tangannya, agar ocehan Yara tak dilanjutkan sebab dia sudah tau perkataan Yara akan terus mengingatkannya pada saat proses melahirkan itu. Sky bukan tak mau mengingatnya tapi dia akan jadi membayangkan hal itu dan kembali merasa terenyuh, jadi dia tak mau Yara melanjutkan kalimatnya lagi.
"Ya udah, sekarang kita tidur, ya. Kamu pasti udah capek. Ayo tidur, aku tungguin sampe kamu nyenyak." Sky menangkup sisi wajah istrinya dan menatapnya lekat.
Senyum Yara terkembang dan dia mengangguki usul dari sang suami.
Yara membiarkan Sky memeluknya dalam tidur, ia tau pria itu sudah menjadikan itu kebiasaan sejak mereka menikah.
__ADS_1
"Semoga hari-hari cepat berlalu, aku merindukan istriku," gumam Sky dengan mata yang terpejam. Yara terkekeh pelan dalam posisinya, ia juga kasihan pada pria itu tapi mau bagaimana lagi.
...~~~...
Pemandangan langit begitu cerah, ribuan bintang tampak menghiasi malam, disertai dengan hembusan angin yang terasa pelan.
Nadine dan Anton duduk berhadapan dalam sebuah momen makan malam. Pria itu sengaja menitipkan Baby Elara dalam pengasuhan Sharla sebab dia memiliki tujuan.
Melamar Nadine secara romantis. Ya, meski sejak awal dia sudah sering menyinggung hal ini dan Nadine selalu menolak dengan alasan terlalu cepat tapi kali ini Anton ingin kembali mencoba peruntungannya.
"Nad, aku bukan laki-laki romantis. Tapi, aku mau menyatakan ini secara terus terang. Kalau biasanya aku cuma ngomong biasa dan mungkin kamu anggap hanya asal bicara, tapi kali ini aku mau membuktikan sama kamu-- kalau aku sungguh-sungguh."
Nadine cukup terpana akan kata-kata yang Anton utarakan. Dia menatap kedalam netra pria dihadapannya, ya Anton memang tampak serius sekarang.
"Aku pernah ngerasa gak pantas buat kamu, Nad. Aku pesimis sebelum memulai. Ada rasa insecure dalam diri untuk mendekati dan membersamai kamu," akui Anton terus terang.
"Mas?" Nadine sulit berkata-kata, kini ia tau jika Anton merasa rendah diri terhadapnya. Apa ini alasannya kenapa Anton diam saja ketika dia menyatakan cinta pada pria itu 10 bulan yang lalu?
Anton mengeluarkan sekotak kecil dari dalam saku bajunya. Dia membuka itu dihadapan Nadine.
"Nad, jika perasaan kamu terhadap aku masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, jika cinta itu masih ada, jika kamu menyayangiku dan Elara, apa kamu bersedia menikah denganku? Kali ini aku sungguh-sungguh ..."
Nadine speechless, cincin bermata berlian itu cukup membuatnya yakin dengan kesungguhan pria ini. Anton benar-benar mengusahakan yang terbaik untuk dia, Nadine jadi merasa tak enak padahal jika Anton melamarnya tanpa berlian pun perasaan Nadine masih tetap sama, dia menolak lamaran Anton selama ini bukan karena waktu yang terlalu cepat. Bukan pula karena dia baru bercerai dari Lucky dua bulan yang lalu, tapi karena satu hal yang tidak bisa dia utarakan. Tapi, bisakah dia menanyakannya pada Anton malam ini?
"Kamu tau, kenapa selama ini aku selalu menghindar dari lamaran kamu, Mas?" respon Nadine akhirnya.
"Karena kamu baru bercerai? Karena trauma dengan pernikahan?" tebak Anton.
Nadine menggeleng, tak membenarkan tebakan pria itu.
"Lalu?"
"Karena kamu hanya melamarku, tanpa pernah menyatakan apa yang kamu rasakan padaku. Aku tidak tau apa kamu cinta aku, atau justru hanya mau bersamaku karena aku menyayangi Elara dan sebaliknya."
Disitulah hati Anton merasa tersentil, ia memang bersungguh-sungguh dengan lamarannya, tapi ia lupa bahwa seorang wanita butuh pernyataan cinta yang memang belum pernah ia nyatakan pada wanita itu.
Bersambung ....
__ADS_1
Next? Vote dulu🤭🤭🤭 Othornya malak readers sesekali. 🤣🤣🤣🤣