EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
23. Pesta


__ADS_3

Yara tengah menimbang-nimbang untuk menghadiri undangan dari Rina atau tidak. Jika ia memilih untuk datang maka konsekuensinya adalah bertemu dengan Sky, tapi jika ia tidak datang maka ia harus memikirkan sebuah alasan yang logis, sehingga tidak membuat Rina kecewa atas ketidakhadirannya dalam acara tersebut.


"Ehm, Mas... Rabu malam, aku ada undangan dari Rina," celetuk Yara membuat Juna menoleh kepadanya.


"Undangan? Rina mau menikah?"


"Bukan, Rina ngadain pesta ulang tahunnya sekalian syukuran rumah baru."


"Oh," respon Juna.


"Aku boleh pergi gak, Mas?"


"Boleh, pergi aja. Tapi, Maaf, aku gak bisa nemenin kamu kesana kali ini."


"Kenapa, Mas?"


"Aku banyak kerjaan, Ra. Kemungkinan, Rabu malam aku lembur."


"Lagi?" Yara mengernyit.


"Iya, sekalian mau ngurusin tempat yang mau dibuat usaha konveksi itu lho, mau dibersihin Ruko nya."


"Ya udah, aku gak usah pergi ke pesta Rina aja deh."


"Loh, kenapa? Pergi ajalah. Nanti kamu gak enak sama Rina kalau gak datang."


"Iya, sih, Mas. Tapi kalau sendirian lebih baik gak usah, lah."


Yara kira Juna tidak akan mengizinkannya, sehingga ia punya alasan untuk tidak datang ke acara itu, ternyata dugaan Yara salah, justru Juna memintanya untuk pergi saja, sementara jika Yara datang ke sana sendirian itu sama saja dengan Yara sengaja mendatangi bahaya.


Jangan tanyakan apa bahaya itu. Sebab bahaya itu bernama Sky.


"Kamu minta temenin siapa gitu, jadi gak sendirian," saran Juna.


"Ehm, aku ajak siapa, ya?" Yara tampak berpikir, ia tak mungkin pergi sendirian ke pesta Rina. "Oh, aku ajak Mbak Shanum aja deh, Mas."


Juna langsung terkejut mendengar jawaban Yara. "Kok, tiba-tiba mau ajak Mbak Shanum?" tanyanya gugup.


"Mbak Shanum kan suka ikut ke acara pesta-pesta gitu, Mas."


"Sok tau kamu."


"Tau lah, aku udah kenal Mbak Shanum lama, sedari dia belum menikah sama Mas Anton. Bahkan dulu Mbak Shanum yang ngajarin dan sering ngajakin aku ke club' buat ikut pesta temen-temennya."


Wajah Juna mendadak pias. "Yang bener kamu? Jangan ngarang, ah!" paparnya. Ia tak mengetahui jika Shanum menyukai dunia gemerlap seperti itu.


"Iya, Mas. Pasti acara Rina meriah. Ngeliat gimana kehidupan Rina, mungkin pestanya bakal buat Mbak Shanum seneng, Mas!" kata Yara dengan polosnya.


"Tapi itu kan, dulu. Sekarang pasti Mbak Shanum udah berubah, Ra."


Yara mengendikkan bahu. "Mungkin aja sih, aku harap dia juga udah berubah, gak suka pesta-pesta lagi. Tapi, kalau aku ajakin sekali doang pasti Mbak Shanum mau deh."


"Hah? Gak usah lah, Ra. Cari temen yang lain. Itu aja tuh, Mbak Irna yang disebelah rumah kita. Nah, kamu ajak dia aja jangan Mbak Shanum."


"Emang kenapa, Mas?" Yara menatap sang suami dengan keheranan.


Juna menggosok tengkuknya sendiri. "Ya gak apa-apa, ntar Mas Anton marah kalau kamu ajak Mbak Shanum ke pesta-pesta gitu, apalagi mbak Shanum lagi hamil, kan?"


Yara berpikir ucapan Juna memang ada benarnya.


"Kamu... takut Mas Anton marah atau memang perhatian sama kehamilan Mbak Shanum, Mas?" goda Yara.


"Hah? A-apa? Kamu bilang apa?" Juna tampak salah tingkah.


"Hahaha, aku cuma bercanda kok, Mas. Kenapa jadi salting gitu."


Mendengar itu, barulah Juna bisa menghela nafas lega, ia pikir Yara mulai curiga dengannya dan Shanum.

__ADS_1


"Udah, intinya kamu ajak yang lain aja. Aku izinin kamu pergi kok."


"Iya deh, ntar aku ajakin Mbak Irna kalau dia mau."


*****


๐ŸŽถ๐ŸŽถSo take my hands up, seen me


(Genggamlah tanganku, tatap aku)


'Cause you've made me Into this man


(Karena kau membuatku menjadi pria ini)


I promise I'll treasure you girl


(Aku berjanji akan menghargaimu sayang)


You're all that I've needed


(Hanya kau yang aku butuhkan)


Completing my world


(Tuk melengkapi duniaku)


You,


(Kau)


You're my love, my life, my beginning


(Kaulah cintaku, hidupku, awalku)


And I'm just so stumped I got you


Girl, you are the piece of me missing


(Sayang, kaulah bagian diriku yang hilang)


Remember it now


(Ingatlah sekarang)


All the times I've been alone, shown me the way


(Setiap kali aku merasa sendiri, tunjukkan aku jalannya)๐ŸŽถ๐ŸŽถ


Sebuah tajuk indah 'It's You' milik Sezairi, menjadi nyanyian sambutan kedatangan Yara ke pesta di rumah baru milik Rina.


Awalnya Yara ingin datang bersama Irna, tetapi wanita satu anak itu meminta Yara untuk pergi lebih dulu dan mengatakan akan menyusul setelah pekerjaannya selesai. Sayangnya, setelah Yara sudah ditengah perjalanan, Irna justru mengirimi Yara pesan yang berisi permintaan maaf sebab tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


Jadilah mau tak mau Yara datang ke kediaman Rina seorang diri karena tak mungkin juga ia kembali pulang setelah hampir tiba di rumah baru sang teman.


"Ra? Makasih ya udah dateng." Rina menyambut Yara, mereka pun bercipika-cipiki.


"Selamat ulang tahun, ya, Rin." Yara memberikan bungkusan kado pada Rina.


Rina tertawa menerimanya. "Harusnya gak usah repot-repot, Ra. Kamu datang aku udah seneng lho," ujar wanita itu.


"Gak apa-apa, namanya juga pesta ulang tahun, kan gak salah kalau bawa hadiah."


"Makasih lho, eh... kamu sendirian aja? Mas Juna gak ikut?"


Yara menggeleng sembari menyunggingkan senyum tipis.


Rina langsung melipat bibirnya menjadi sebuah garis lurus, matanya memicing ke semua ruangan, seperti tengah mencari-cari sesuatu.

__ADS_1


"Kalau gitu, hati-hati deh, Ra. Sky udah disini soalnya," bisik Rina tepat ditelinga Yara.


Seketika itu juga tubuh Yara membeku. Tanpa jawaban ia memejamkan mata rapat-rapat.


"Kamu nikmatin pestanya, ya. Kebanyakan disini temen-temen kita juga, kok. Disana ada Yakub dan Nisa. Disitu ada Fera juga. Aku mau nyapa yang lainnya dulu ya, Ra."


"Ehm... iya, Rin," jawab Yara kaku.


"Jangan lupa makan hidangannya."


"Iya, iya."


Rina tertawa sebab dapat melihat raut khawatir diwajah Yara sejak ia mengatakan jika sudah ada Sky didalam pestanya.


Tapi kemudian Rina benar-benar meninggalkan Yara untuk menyapa tamunya yang lain.


Yara baru saja hendak menuju Fera, tetapi tangannya sudah dicekal oleh seseorang yang sangat dihindarinya.


"Ayara..."


"Aku mau ke Fera dulu, Sky."


Sky terdiam, ia menyorot mata Yara yang tampak memohon kepadanya. Apa Yara takut padanya? Seketika itu juga Sky melepas tangan wanita itu dan membiarkan Yara pergi menuju meja dimana Fera dan beberapa teman mereka yang lain sedang berbincang.


Seharusnya Sky memang tidak boleh mencekal lengan Yara begitu saja, bukankah ia sudah berjanji untuk tidak mengganggu wanita itu lagi? Tapi, melihat kedatangan Yara seorang diri ke pesta Rina hari ini, membuat Sky kehilangan kendali.


Seminggu ini pikirannya hanya dipenuhi oleh wanita itu. Jadi, salahkah ia jika langsung mendatangi Yara saat melihat sosoknya tiba dikediaman Rina?


"Mencintai istri orang emang menyakitkan." Seseorang dibelakang tubuh Sky langsung berceletuk sesaat setelah Yara pergi.


Sky menoleh dan mendapati Diandra disana.


"Jangan ikut campur," kata Sky dingin. Ia tidak mau tau darimana Diandra mengetahui hal ini.


Sky berlalu dan duduk disebuah kursi kosong yang tidak ada siapapun disana. Rupanya Diandra mengikutinya.


"Sky, kenapa kamu harus ngejar Ayara? Apa aku gak menarik dimata kamu?"


Sky hanya diam tanpa mau menjawab ujaran wanita itu.


Diandra telah menyadari jika Sky masih mencintai Yara, sebab sebuah dress yang dikenakan Yara saat acara makan malam terakhir mereka di Bali--sudah dapat menjelaskan segalanya.


Pertemuannya dengan Sky di Level 21 Mall waktu itu, membuat mata Diandra terbuka lebar. Rupanya, Sky membelikan Yara sebuah dress yang tadinya ingin Diandra beli juga.


Diandra menghela nafas dalam. "Oke, kalau kamu gak tertarik sama aku, cinta emang gak bisa dipaksain, termasuk rasa suka," katanya terdengar lapang dada.


"Tapi, aku juga mau kamu sadar, Sky. Ikatan Yara dengan suaminya itu bukan sebatas pacaran, mereka menikah. Menikah, Sky!" Diandra menekankan kata-katanya.


Tapi, tak satupun ucapan Diandra membuat Sky mau menyahutinya.


"Di dunia ini, gak cuma ada satu wanita aja. Buka mata kamu, kamu bakal lihat banyak wanita yang lebih segalanya dari Yara. Jadi, jangan sampai kamu dibutakan sama cinta lalu ngerusak rumah tangga Yara dan suaminya."


Sky akhirnya tersenyum miring mendengar pernyataan Diandra yang seperti angin lalu ditelinganya.


".... gimanapun juga, Yara itu temen kita, kan?"


Sky akhirnya terkekeh pelan. Yara mungkin teman bagi Diandra, tapi baginya, Yara bukanlah seorang teman.


"Aku yakin kamu gak serius, kamu hanya penasaran aja karena belum ngedapetin Yara. Aku harap kamu cepat sadar, Sky!" tukas Diandra.


"Kalau aku serius dan bukan hanya karena penasaran, gimana?" tanya Sky yang akhirnya bersuara, membuat mata Diandra membola saat itu juga.


Bersambung ....


*****


Jujurly, aku sedikit kecil hati karena semakin hari viewers dan like novel ini semakin menurun. Padahal nih, ya... baru aja aku mau ajukan kontrak. Wkwkwk.... Gak tau lah, intinya novel ini bakal ttp lanjut yah gaes๐Ÿ™

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya,๐Ÿ™


__ADS_2