EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
18. Kepulangan


__ADS_3

Pukul 8 pagi, Sky keluar dari kamarnya sembari membawa barang-barangnya. Hari ini ia akan ikut bersama teman yang lain untuk pulang menggunakan bus.


Sky tidak begitu bersemangat karena kejadian malam tadi di kamar Yara. Ia berharap semoga perjalanan kali ini tidak akan membosankan dan segera mengantarkannya pulang ke rumah.


"Sky, lu pulang bareng kita, kan?"


Sampai di halaman Villa, Ilyas langsung menyapanya. Sky hanya mengangguki saja. Sebenarnya ia ingin naik pesawat saja karena ia merasa tidak punya semangat lagi. Akan tetapi, ia juga tidak enak pada teman-teman yang lain sebab ketika pergi ke Bali tempo hari, ia juga sudah tidak berangkat bersama-sama dengan mereka.


Semuanya sudah tampak berkumpul disana untuk bersiap-siap menuju pulang.


"Lu kenapa? Gak semangat gitu." Ilyas mendekati Sky.


"Gak apa-apa, kurang fit aja."


"Sky?"


Sky dan Ilyas langsung menoleh, rupanya Rina yang tampak memanggil.


"Ini..." Rina menyerahkan sebuah paperbag yang tidak asing di pandangan mata Sky.


"Apa ini?" tanya Sky.


"Lo pasti tau ini apa. Gue yakin lo belum pikun." Rina tersenyum tipis. "Sorry ya soal kejadian tadi malem," lanjutnya. Rina merasa bersalah juga karena permainan truth or dare semalam--ia sampai memberi pertanyaan konyol pada Sky didepan teman-temannya yang lain, terutama didepan Yara dan Juna.


Sky mengangguk. "Sorry juga gue jadi nyudutin lo," ujar Sky. Ia pun sudah berniat mengatakan maaf pada Rina terkait hal semalam.


"Hmm, ya udah, gue naik duluan ke bus." Rina bersiap untuk pergi.


"Rin?"


"Ya?" Wanita itu kembali menoleh.


"Videonya udah gue hapus. Sorry..."


Rina tersenyum lebar. "Beneran? Makasih ya Sky, gue janji gue bakal tutup mulut soal apapun yang pernah gue lihat dan gue ketahui," tuturnya langsung bersemangat.


Setelah mengucapkan hal itu Rina benar-benar masuk ke bus, sementara Ilyas yang berada disebelah Sky langsung menatap pria itu dengan tatapan kebingungan.


"Kalian bicara apa sih?" tanya Ilyas kemudian.


"Lu gak usah tau kalo gak mau ribet," jawab Sky acuh tak acuh.


"Yehh ni anak! Gua mau tau juga, apaan sih? Video apa? Terus si Rina tau soal apa?"


"Mau tau aja apa mau tau banget?"


"Banget!"


"Tanya aja sama rumput yang bergoyang," kelakar Sky membuat Ilyas mendengkus kasar.


Sky pun menaiki bus, diikuti oleh Ilyas. Tapi, Sky sadar jika ia tidak melihat Yara sejak tadi. Ia duduk di seat yang ada didalam bus kemudian kembali melihat pada paperbag yang tadi Rina berikan padanya.


"Kenapa, Ra? Kenapa harus dibalikin?" batin Sky merasa kecewa. Ia meletakkan paperbag disisinya sambil menghela nafas panjang.


Sky pun mengamati satu persatu orang yang menaiki bus. Benar saja ia tidak juga dapat melihat Yara maupun Juna. Apa mereka kesiangan bangun? Tapi jika iya, mana mungkin paperbag ini sudah Yara berikan kepada Rina? Pasti wanita itu sudah bangun dan meminta Rina untuk mengembalikannya, kan?


Kendati Sky sudah berjanji pada Yara untuk tidak lagi mengganggu rumah tangga wanita itu, tapi tetap saja ia masih ingin melihat wajah sang wanita. Biarlah ia hanya bisa mencintai Yara dari jauh tanpa bisa memilikinya. Itu semua karena Yara sudah menjatuhkan sebuah pilihan yaitu mempertahankan pernikahannya.


Tapi, tentu Sky masih ingin memperhatikannya dari jauh, pikirnya.

__ADS_1


"Udah semua?" Suara Yakub sebagai ketua perjalanan mulai terdengar bertanya.


"Udah!!" sahut yang lain serempak.


Sky semakin bertanya-tanya kemana Yara dan Juna?


"Yas?" Akhirnya Sky memanggil Ilyas yang duduk disebelahnya.


"Hummm?"


"Punya nomor Rina gak?"


Ilyas menatap Sky dengan tatapan penuh selidik. "Lu ada apa sih sama Rina? Bukannya dia udah punya cowok dan cowoknya juga ada disini ya?"


Sky memutar bola matanya. "Gak ada apa-apa. Gua minta nomornya kalo lu emang punya."


"Buat deketin dia? Selera lu udah berubah, Man," ujar Ilyas sambil terkekeh. Tapi kemudian ia mengambil ponsel di sakunya dan mengirimkan nomor Rina kepada Sky saat itu juga.


"Oke, udah. Makasih." Sky berujar setelah pesan Ilyas masuk ke ponselnya.


"Lu yakin mau deketin Rina?"


"Gila lu. Gua cuma ada urusan dikit sama dia. Pikiran lu jangan kemana-mana."


"Urusan apa?"


"Adalah..."


Sky langsung mengirimi Rina pesan, bagaimanapun hanya wanita itu yang mengetahui 'benang kusut' antara ia dan Yara.


Sky menanyakan keberadaan Yara pada Rina dan kapan Yara menyerahkan paperbag pada wanita itu.


[Yara pulang naik pesawat sama suaminya. Subuh banget dia udah ngetuk pintu kamar gue buat minta tolong balikin barang yang lo kasi.]


*****


Sementara itu, Yara dan Juna sedang menunggu jadwal penerbangan mereka di kursi tunggu Bandara.


"Mbak Shanum?" Yara bergumam diantara padatnya orang-orang yang berlalu lalang di tempat tersebut.


"Kenapa, Ra?" Juna menatap istrinya yang sepertinya baru saja mengucapkan sebuah kata.


"Enggak, Mas. Aku tadi kayak liat Mbak Shanum disini."


"M--Mbak Shanum?" Juna malah balik bertanya. Wajahnya tampak terkejut dengan ucapan Yara.


"Iya, apa Mbak Shanum lagi di Bali juga ya?"


"Mungkin juga." Juna langsung meraih tangan Yara. "Ya udah, ayo! Udah saatnya kita naik pesawat," ujarnya kemudian.


Yara pun mengangguk, mungkin ia yang salah melihat keberadaan kakak iparnya di Bandara Ngurah Rai. Lagipula, tidak mungkin Shanum di Bali, karena wanita itu tengah berbadan dua dan dalam masa trimester pertama yang sering sekali merasa kurang nyaman dalam hal apapun.


Perjalanan menggunakan pesawat memang lebih cepat sampai. Yara dan Juna pun tiba di kediamannya beberapa jam kemudian dengan keadaan tidak terlalu lelah.


"Untung deh naik pesawat, jam segini kita udah sampe, Mas."


Yara memijit tungkai kakinya yang cukup letih. Sementara Juna langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Baru saja Yara memasuki kamar setelah meletakkan pakaian kotor di keranjang baju, rupanya Juna telah siap-siap dengan setelan santainya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Mas?" tanya wanita itu keheranan.


"Aku ada urusan, dadakan...."


"Loh loh, kita kan baru sampai, Mas."


"Iya, ini penting... masalah usaha aku."


"Emang kamu gak capek, Mas?"


"Lumayan lah, tapi namanya juga mau usaha, gak boleh banyak mengeluh. Aku pergi dulu, ya."


Yara hanya bisa menatap kepergian Juna tanpa bisa mencegahnya lagi.


Dalam hati Yara, semoga apapun yang Juna kerjakan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana pria itu.


Yara sadar, ia banyak salah pada suaminya apalagi sejak acara reuni diadakan dan mempertemukannya lagi dengan sosok Sky. Meski ia dan Sky tidak sepakat untuk menjalin hubungan kembali, tapi tetap saja beberapa kesalahan sempat terjadi diantara mereka dan itu dibelakang Juna.


Mulai sekarang, Yara ingin mengubur tentang Sky. Ia tidak ingin ada pertemuan lagi dengan pria itu dan ia bertekad akan menjadi istri yang baik untuk Juna serta mendukung hal baik yang ingin Juna lakukan.


Yara memutuskan mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai, ponselnya terlihat bergetar dan itu adalah panggilan dari Kakak lelakinya.


"Dek? Udah pulang ke rumah?"


"Udah, Mas. Baru sejam yang lalu lah," jawab Yara.


"Syukurlah... Mas pikir pulangnya di tunda."


"Enggak lah, Mas. Kan Yara udah bilang kalau cuma tiga hari doang." Yara memang sempat berpamitan pada sang Kakak untuk pergi ke Bali selama tiga hari.


Mendadak, Yara jadi mengingat jika di Bandara tadi ia sempat melihat seseorang yang sangat mirip dengan istri kakaknya.


"Mas, Mbak Shanum apa kabarnya? Kandungannya gimana?"


"Oh, Mbak-mu lagi di kampung, dek. Sehat kok dia. Mungkin hari ini atau besok udah balik ke rumah."


"Di kampung? Ngapain? Kan, Mbak Shanum lagi mabuk karena ngidam, Mas?"


"Iya, rindu sama orangtuanya. Ya, Mas izinin aja. Namanya juga lagi hamil, kadang maunya ada-ada aja, dek."


"Mas Anton gak nemenin Mbak Shanum di kampung?"


"Gak bisa dek. Kerjaan Mas gak bisa ditinggal. Nanti kalau udah mau pulang, baru Mas jemput aja Mbak-mu."


"Oh gitu, ya, Mas. Mas udah makan belum?"


"Emang kenapa, dek? Mau ngirimin Mas makanan? Gak usahlah, kamu juga baru pulang dari Bali, kan?"


"Hehe... iya, Mas. Kasihan Mas pasti gak ada yang masakin. Gak kangen masakan adiknya apa?"


"Ya, kangen. Boleh deh kalau kamu gak capek."


"Oke, Mas. Nanti Yara kesana anter makanan ya."


"Boleh, boleh. Ajak Juna sekalian, Mas mau sekalian ngobrol sama suamimu."


"Siap, Mas."


Bersambung ....

__ADS_1


*****


Jangan lupa Vote, komen, love, like dan tekan bintangnya ⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2