
Cuaca sangat cerah saat Yara berjalan melewati koridor rumah sakit yang disalah satu sisinya terdapat taman kecil. Dia berhenti disana sejenak demi menghirup udara pagi yang masih diterpa embun segar.
Meski pagi ini Yara harus kembali menjalani kesehariannya di Rumah Sakit, tapi dia sedikit lega karena akhirnya satu persatu jawaban atas kekecewaannya sudah terjawab.
Salah satunya adalah foto editan yang menjadi momok pertengkarannya dengan Sky lebih dari seminggu yang lalu. Sekarang dia tinggal menunggu waktu sampai bukti dari blackbox mobil sudah dapat diketahui kebenarannya.
Merasa sudah cukup tenang, Yara melanjutkan langkahnya menuju ruang ICU berada. Berbeda dari kemarin, kali ini Yara mengunjungi Sky dengan rasa bersalah karena sempat mempercayai foto editan itu.
Yara meringsek masuk setelah mengenakan pakaian steril. Dia mendekati ranjang dimana suaminya terbaring koma.
"Sayang ..."
Yara melihat wajah tampan itu. Wajah yang biasa selalu mematut senyum manis padanya. Wajah yang selalu teduh saat menatapnya serta wajah yang selalu melindunginya dari hal apapun yang berbahaya.
Dari sekian banyak orang yang hadir dan pergi dari hidupnya, termasuk Sky yang juga pernah melakukan hal sama. Nyatanya tetap pria ini yang bertahan disamping Yara kendati mereka pernah terpisah oleh jarak, waktu dan keadaan.
Sekali lagi Yara mengesah panjang, tarikan nafasnya terasa berat. Bagaimana bisa dia mempercayai provokator yang mengiriminya foto editan itu? Kenapa dia bisa menuduh Sky dengan tega? Padahal hanya Sky yang mencintainya. Ya, Yara menyadari itu sekarang. Tidak pernah suaminya memperlakukan dia dengan buruk. Kenapa semuanya jadi begini hanya karena terkikisnya rasa percaya.
Yara benar-benar menyesal. Sedikit banyak, tangisannya yang jatuh saat ini bukan karena sedih melihat keadaan sang suami tetapi juga karena penyesalannya.
"Kamu tau, ini adalah hari ke enam kamu disini. Ayo sadar, aku mau kita pulang." Yara berusaha tersenyum kendati pipinya telah banjir oleh airmata.
"Aku minta maaf ya, aku nyesal udah menuduh kamu. Aku terlalu percaya sama foto itu. Maafin aku, Sayang." Yara bersimpuh memeluk sisi tubuh suaminya. Dia tersengguk disana.
"Kamu tau gak, beberapa saat lalu aku masih menunggu bukti dari blackbox mobil, tapi saat ini aku udah gak butuh itu, Sky. Aku udah percaya sama kamu sepenuhnya. Aku yakin kamu gak ada hubungan dengan Dian. Kamu cuma sayang sama aku, kan? Iya, kan?"
Yara terus mengajak suaminya berbicara meskipun dia tau tidak akan mendapat jawaban dari Sky. Jangankan kata-kata untuk menjawabnya, sedikit respon dari Sky saja sudah membuat Yara amat bersyukur dan bahagia.
"Aku sayang kamu. Aku masih butuh kamu dalam hidup aku. Aku mohon, kamu segera pulih, aku gak akan negatif thinking lagi sama kamu. Aku janji, sayang. Maafin aku ... maafin aku...."
Yara merasa sangat lemah saat melihat suaminya terbujur seperti saat ini. Biasanya pria ini yang dia andalkan, tapi sekarang dia hanya bisa menguatkan diri sendiri tanpa Sky yang selalu menjadi penopang hidupnya.
"... aku gak peduli, apapun isi dari blackbox itu. Yang terpenting cuma kamu. Yang aku butuhkan hanya kesembuhan kamu."
Tiba-tiba, Yara merindukan saat dimana dia tertidur dalam dekapan sang suami. Dia pun terduduk dengan kepala yang ditumpukan di sisi tempat tidur Sky.
Kilasan-kilasan masa lalu yang indah saat dia melewatinya bersama sang suami mulai terbayang. Awal pertemuan mereka di SMA. Perpisahan mereka. Hingga akhirnya menikah dan hidup bersama.
__ADS_1
Yara meneteskan airmatanya terus menerus kala mengingat Sky sudah berusaha menjadi suami paling siaga disaat Yara hamil dan melahirkan. Sedikitpun Yara tidak mau kehilangan pria ini. Pria yang selalu mengajaknya berdebat dan memenangkan perdebatan itu.
Jikapun kenyataan pahitnya adalah Sky sudah bosan dengannya, maka Yara lebih memilih bertahan. Yang terpenting Sky tetap dalam keadaan sehat dan tidak seperti saat ini yang hanya terbujur kaku tanpa bisa merespon apapun.
...*...
Yara mengedipkan mata tak percaya saat melihat jari jemari Sky merespon. Mata wanita itu melebar sempurna, senyuman terbit di bibirnya bersamaan dengan airmata haru yang terus mengalir di pipi.
"Sky? Kamu sadar?" Yara sangat bahagia, dia tau sebentar lagi Sky akan membuka matanya.
"Aku panggil dokter dulu."
Buru-buru Yara menekan tombol untuk menghubungi Dokter yang menangani suaminya.
Yara terus menggenggam tangan Sky dengan binar kebahagiaan. Dia harap-harap cemas menunggu Sky menyadari keadaan.
Bersamaan dengan itu, seorang Dokter dan dua orang perawat datang ke bilik dimana Sky dirawat.
"Dokter, tadi saya melihat dan merasakan jari suami saya bergerak," papar Yara menjelaskan.
Sang dokter pun sigap memeriksa pasiennya. Tampak sibuk dengan stetoskop dan sebuah senter kecil ditangannya untuk melihat pada bola mata Sky yang belum kunjung terbuka untuk mengerjap.
"Ibu, mohon maaf, silahkan tunggu di luar dulu ya. Kita akan segera memeriksa kondisi pasien dan memberikan tindakan yang terbaik."
Suara sang perawat menyadarkan Yara dari posisinya. Dengan gerak pelan, dan perasaan tak rela akhirnya dia meninggalkan ruangan itu, lalu keluar dari sana.
"Semoga suamiku benar-benar siuman, ya Allah." Yara berdoa dalam hati dengan penuh pengharapan.
Tak berapa lama, Anton dan Indri datang ke sana. Mereka pun menghampiri Yara.
"Dek, gimana keadaan Sky?"
"Mas, Mama ... Sky tadi udah ngerespon Yara. Jari-jarinya bergerak dan matanya hampir terbuka." Yara berujar senang, tapi entah kenapa airmatanya juga terus mengalir deras.
"Alhamdulillah, semoga Sky benar-benar siuman." Anton turut mendoakan adik iparnya itu.
Mereka menunggu selama beberapa menit didepan ruang ICU, sampai akhirnya para perawat dan dokter yang tadi masuk demi menangani Sky sudah keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Dengan keluarga Bapak Sky Lazuardi?"
Yara maju selangkah. "Saya istrinya, Dokter. Bagaimana keadaan suami saya? Dia sudah sadar, kan?" tanyanya.
Dokter itu tersenyum sendu, kemudian menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Maaf ibu, Bapak Sky mengembuskan nafas terakhirnya beberapa menit yang lalu. Beliau sudah berpulang."
"A-apa? D-dokter bercanda, kan?"
"Kita sudah mengusahakan yang terbaik. Tindakan kejut jantung juga sudah diberikan, tubuh almarhum sudah tidak dapat merespon sama sekali. Bapak sudah tidak ada, Bu. Saya pribadi mengucapkan turut berduka cita."
Jeder!
Rasanya dunia Yara runtuh seketika. Dia terduduk dilantai tanpa bisa dicegah. Suara tangisan Indri langsung menggema di koridor yang sunyi itu.
Sementara Anton, dia mematung ditempat tanpa bisa berkata-kata. Baru saja dia mendengar sang adik yang mengatakan bahwa Sky hampir sadar karena telah ada respon dari jari-jarinya, tapi berita yang baru saja mereka dengar dari dokter seakan berkebalikan dari cerita Yara?
"Ini gak bener, kan, Mas? Ini cuma bohong. Dokter bercanda. Hahaha, dokter bercanda kalo Sky udah meninggal." Yara mengerti sekarang kenapa airmatanya tidak berhenti mengalir sejak tadi.
"Lepas semua alat-alat bantu di tubuhnya dan pindahkan ke ruang khusus jenazah, ya, Sus." Terdengar suara Dokter yang berkata pada para suster yang menunggu di belakang tubuhnya.
"Baik, Dokter," sahut para perawat itu.
Hal itu turut menyadarkan Yara bahwa semua ini adalah nyata dan Dokter yang bicara menyampaikan kematian suaminya tadi sedang tidak bercanda.
"Sky ... kenapa kamu ninggalin Mama secepat ini? Kenapa gak Mama yang lebih dulu dipanggil Tuhan, Nak." Terdengar suara Indri yang meratap seolah menyesali kepergian Sky yang tiba-tiba.
"Dek, berdiri, dek. Kamu harus kuat. Harus tabah. Masih ada Mas. Ada anak-anak yang butuh kamu."
Anton tau bagaimana rasanya ditinggalkan untuk selama-lamanya. Dia teringat Shanum yang dulu juga meninggal usai melahirkan Elara. Tapi saat ini Yara pasti merasa jauh lebih sakit karena adiknya itu masih merasa bersalah dan belum meminta maaf secara jelas dengan Sky.
Apalagi, Anton jelas tau bahwa Yara amat mencintai suaminya. Berbeda saat dia kehilangan Shanum dulu, dia sudah melupakan wanita yang mengkhianatinya itu, jadi perasaan Yara saat ini pasti jauh lebih hancur ketimbang perasaan Anton saat Shanum meninggal.
"Pak, mohon dibantu untuk pengurusan kepulangan jenazahnya ya, Pak."
Karena melihat Yara dan Indri yang sangat terpukul, seorang perawat lebih memilih berbicara pada Anton yang terlihat lebih kuat ketimbang dua wanita itu.
__ADS_1
"Baik, Sus. Terima kasih."
Bersambung ....