
Nadine harus memendam kekesalannya-- saat dia tiba dikediamannya dan harus mendapati Lucky sudah berada disana.
Pria itu bahkan tampak mengenakan pakaian rumahan dan menonton televisi dengan santai.
Nadine menghela nafas panjang, ini memanglah rumah milik Lucky. Tapi, tidak seharusnya Lucky disini saat hubungan mereka telah berada diujung jurang pemisah.
"Kamu disini, Mas?" sarkas Nadine.
Pria itu mengangguk dan menyunggingkan seulas senyum hangat ke arah Nadine.
"Tapi kamu tau, kan, gak seharusnya kamu disini...."
"Hmm, ini rumahku juga."
Nadine mendengkus pelan. "Iya, ya, ini rumah kamu. Seharusnya emang aku yang gak lagi tinggal disini," sahut Nadine sinis.
Lucky beranjak dari duduknya. Dia menghadang jalan Nadine yang ingin memasuki kamar.
"Apa lagi, Mas? Mau ngelarang aku masuk kamar karena rumah ini punya kamu?"
"Nad, kamu harus ingat kalau kita belum resmi berpisah."
Lucky menatap Nadine dengan tatapan dalam. Sorot mata itu masih sama teduhnya seperti dulu, iris mata kehitaman yang mampu menghipnotis seorang Nadine. Tapi sekarang ada yang berbeda, yaitu rasa. Entah kenapa ada rasa lain yang membuat Nadine tidak merasakan getaran yang sama seperti dulu-- saat mendapat tatapan seperti ini dari pria yang sama.
Lucky memegang kedua pundak Nadine, mencoba memangkas jarak diantara mereka. Jika ia terus bersikap keras dan memaksa Nadine agar tetap bersamanya--namun tak akan menghasilkan apa-apa--maka sekarang ia ingin membujuk wanita itu dengan cara yang lebih lembut dan perlahan-- mungkin Nadine akan melunak dan menerima kenyataan mengenai pernikahan mereka yang memang harus begini jalannya. Dan Nadine mau berbesar hati dengan keinginannya.
Nadine sendiri, dia sangat tau apa yang hendak Lucky lakukan sekarang terhadapnya, namun tindakan ini membuat Nadine semakin muak, ia memalingkan wajah--membuat Lucky harus menelan asa kecewa--sebab tak bisa melabuhkan sebuah ciuman kerinduan pada bibir wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Aku benar-benar rindu sama kamu, Nadine." Intonasi suara Lucky bahkan terdengar ditekankan, agar Nadine dapat memahami kerinduan yang memang terkandung jelas dalam kalimat pria itu.
Tapi, Nadine menolak, ia bahkan mendorong keras dada Lucky yang ingin menghimpiytnya.
"Aku udah lupa caranya merindukan kamu, Mas. Jadi, ada baiknya kamu gak usah bicarain hal semacam itu didepan aku."
Nadine berlalu meninggalkan Lucky. Selalu sikap yang sama dia tunjukkan pada pria itu--agar Lucky sadar bahwa Nadine tak lagi membutuhkan.
"Apa orangtua kamu udah tau soal ini, Nad?"
Nadine menoleh dan menatap wajah sendu pria yang baru saja ia tolak itu.
"Orangtuaku adalah urusanku, Mas. Kamu gak perlu menghawatirkan mereka."
"Tapi mereka juga orangtua buat aku, Nad. Tentu aku khawatir, aku memikirkan perasaan mereka jika tau kita akan berpisah. Lebih tepatnya, kamu yang menuntut perpisahan dariku, Nad!"
__ADS_1
Nadine tertawa keras mendengar penuturan Lucky.
"Kamu lagi ngelawak ya, Mas? Sejak kapan kamu mikirin perasaan orangtua aku? Waktu kamu selingkuh sama Firda kamu lupa segala-galanya, kok! Jangankan perasaan orangtuaku, perasaan aku aja gak pernah kamu pikirkan!"
"Nad---"
"Udah, cukup! Cukup Mas. Aku capek berantem sama kamu. Please! Kasi aku kewarasan. Bebaskan aku dari pernikahan ini."
Nadine kembali melangkahkan kaki untuk masuk ke kamarnya, tapi dia ingat jika itu juga kamar yang biasa ditempati oleh Lucky jika berada di Indonesia. Nadine langsung memutar arah, dia hendak menuju kamar tamu saja.
"Kamu mau kemana, Nad?"
"Ini udah bukan kamar aku lagi, Mas."
"Ini kamar kita, Sayang."
Nadine menggeleng keras. "Kamar kamu adalah kamar yang ditempati Firda, Mas," tukasnya menohok.
Sekarang Lucky mengurut pelipisnya sendiri. Dengan cara apalagi dia meluluhkan Nadine? Apa ia memang harus melepaskan wanita yang dicintainya ini? Kenapa rasanya tidak rela, apalagi membayangkan Nadine bersama dengan orang lain. Lucky tidak akan sanggup.
"Aku gak bisa kalau kita berpisah, Nad. Aku gak bisa kehilangan kamu. Bahkan hanya membayangkan kamu bersama pria lain saja aku gak akan sanggup."
"Egois kamu, Mas! Kamu sendiri mempertontonkan kemesraan kamu dengan Firda didepan aku. Apa kamu pernah mikir gimana perasaan aku?"
Ah, seharusnya Nadine pergi saja. Tak seharusnya dia berada disini dan tetap berada bersama Lucky dalam satu atap yang sama-- apalagi mereka hanya berdua saja.
Tapi, Nadine pikir dia akan aman karena pintu kamar pun sudah ia kunci sekarang. Memangnya Lucky mau berbuat apa? Tidak mungkin pria itu melakukan tindakan yang diluar batas kewajaran, pikir Nadine.
Wanita itu pun mencoba berpikiran positif.
Nadine memutuskan untuk membersihkan tubuh, ia juga merasa lelah sebab hampir seharian membantu menjaga Elara.
Ah, lagi-lagi Nadine mengingat bayi itu, andai saja Nadine juga bisa tidur bersamanya malam ini. Ternyata ia sudah merindukan Baby Elara sekarang, bagaimana, ya?
Setelah bersiap, Nadine pun berbaring untuk menuju alam tidur. Tapi, tangannya justru meraih ponsel lebih dulu.
Nadine membuka aplikasi hijau, ia menatap nama kontak seseorang disana yang ternyata dalam keadaan masih 'online'.
Mas Anton masih online? Batin Nadine.
"Kamu chatting sama siapa sih, Mas? Jam segini kok masih online dan belum tidur?" kata Nadine bergumam. Ingin mengirim pesan tapi rasanya ragu.
"Kalau aku kirim pesan duluan, malu gak, ya?" Nadine kembali bermonolog pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Jujur, Nadine tidak pandai dan tak tau bagaimana tata cara mendekati seorang pria. Baru kali ini dia merasakan hal semacam ini.
"Ah, gak deh, ntar dikira genit lagi." Nadine menghapus lagi pesan yang tadi sudah sempat ia ketik di layar ponselnya untuk dikirimkan pada Anton.
Baru saja Nadine ingin mengunci layar ponselnya saat tiba-tiba masuk pesan dari pria yang tadi ingin dia chat lebih dulu.
[Kok belum tidur? Tadi kamu ngetik apa? Kenapa gak jadi dikirim?]
Nadine tertawa membaca pesan itu, apa tadi Anton sempat melihat notifikasi bahwa dia sedang mengetik sesuatu untuk dikirimkan pada pria itu? Astaga ....
Nadine memejamkan matanya rapat-rapat, kenapa ia seperti remaja ABG yang baru saja berbunga-bunga karena dikirimkan pesan oleh pujaan hati?
Apa? Pujaan Hati? Ah, Nadine...
Tapi, buru-buru Nadine menetralkan detak jantungnya sendiri dan berusaha sebisa mungkin untuk kemudian membalas pesan dari Anton.
[Ehm, tadi aku cuma mau nanya kamu, Elara udah tidur nyenyak atau belum. Tapi pas mau dikirim kok takutnya malah ganggu kamu]
Itulah pesan yang Nadine kirimkan dan tampak langsung dibaca oleh Anton.
[Elara udah nyenyak, mungkin dia juga capek ikut ke pesta Yara tadi. Lagipula, siapa yang bilang kamu ganggu? Aku gak lagi ngapa-ngapain kok jadi gak akan merasa di ganggu.]
Good job, Nadine. Tak biasanya Anton mau berbicara panjang lebar begini apalagi dalam bentuk pesan singkat.
Nadine merasa girang bukan kepalang saat membaca pesan yang lagi-lagi Anton kirim kepadanya.
[Yah, siapa tau kamu lagi chat sama orang lain ... jadi aku takut gangguin gitu, Mas. Soalnya ini kan udah malam, tapi kamu masih online.]
[Oh, aku bukan online karena lagi chat sama orang kok. Kenapa kamu menyimpulkan begitu?]
[Gak ada sih, Mas. Cuma perasaan aku aja. Ya udah, kamu gak tidur, Mas?]
[Tidur, tapi nunggu kamu tidur dulu.]
Nadine menggigit bibirnya sendiri saat membaca pesan terakhir dari Anton. Kenapa rasanya jadi melting begini?
Jika saja Anton mengucapkan kalimat itu secara langsung didepan Nadine, harusnya ia menjawab apa, ya? Dia sendiri bingung harus merespon perkataan Anton dengan kata apa. Sekarang Nadine malah sibuk merangkai kata untuk membalas pesan yang Anton kirimkan.
Bersambung ....
Jangan lupa terus dukung novel ini karena othor udah up 3x hari ini... ini maksa, karena othornya ngelunjak🤣🤣🤣🤣
Dah ya, othor udah up lagi meski harus curi-curi ngetik pas lagi repot banget hari ini🙏🙏🙏
__ADS_1