EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
15. Membuat Alasan


__ADS_3

"Siapa yang datang, Ra?"


Yara menoleh pada Juna yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu tampak menggosok rambutnya yang basah dengan secarik handuk kecil.


"Itu tadi.... Rina, Mas."


Juna mengangguk, kemudian melirik pada sisi Yara. Sadar ada sesuatu, ia pun langsung mempertanyakan apa yang sedang Yara bongkar dari sebuah paperbag yang tampak dipenglihatannya.


"Itu apa?"


"Oh ini, tadi ini yang Rina anterin kesini, Mas." Yara menggigit bibir, kebiasaan yang sering ia lakukan jika sedang gugup dan bingung saat memikirkan sebuah alasan.


Juna mendekat, aroma shampo yang ia gunakan langsung menyeruak ke indera penciuman Yara.


"Emang itu isinya apa, Ra?" tanya pria itu.


"Ini ... ini .... dress, Mas. Aku pinjem punya Rina. Ehm... ehmm, aku kan gak tau bakal ada acara dinner beginian, jadi aku emang gak bawa dress formal dari rumah. Ya udah, Rina mau minjemin, gitu," alibi Yara dengan sangat gugup. Entahlah Juna akan percaya atau tidak dengan alasan yang dibuat-buatnya itu.


"Kayaknya itu dress mahal, Ra." Juna melihat sekilas isi dalam box tersebut. "Kalau yang itu apa?" tanyanya menunjuk kotak bludru yang juga masih berada ditempat yang sama.


"Oh ini.... Rina pinjemin ini juga, Mas."


Juna pun langsung mengambil kotak perhiasan itu lalu membuka isinya saat itu juga.


"Kok bisa?" tanya pria itu kemudian.


"Bisa apanya?"


"Dia pinjemin kamu baju sekalian kalungnya juga. Kayaknya ini kalung asli, Ra?"


"Enggak lah, Mas. Itu imitasi, kok." Yara mere mat sisi tempat tidur yang ia duduki.


"Emang kamu minjem sama kalungnya juga, gitu?"


"Namanya juga cewek, Mas. Kalau dandan gak pakai aksesoris terasa ada yang janggal. Rina nawarin, ya udah aku iyain aja." Yara benar-benar gugup menjawab pertanyaan Juna. Tapi, wajar saja jika suaminya itu menanyakan hal ini, kan?


Juna pun memicing pada Yara, tatapannya terlihat penuh selidik. Ditangannya masih juga memegangi kalung dengan bandul berbentuk Angsa tersebut.


"Kayak asli, loh! Kotaknya juga ada brand-nya."


"Bener itu imitasi kok, Mas. Sekarang banyak imitasi yang mirip banget kayak aslinya. Lagian, mana mungkin Rina kasih aku pinjem perhiasan asli." Untung saja perhiasan itu tidak dilengkapi dengan sertifikat aslinya. Jika Sky melampirkannya disana, Yara pasti akan kehabisan alasan.


Gara-gara Sky aku jadi bohong sama Mas Juna, batin Yara. Ia sangat merasa bersalah. Tapi ia juga berada dalam posisi yang serba salah.


Yara berniat akan mengembalikan semua pemberian Sky itu nantinya. Yara tidak mau itu menjadi kepunyaannya. Anggaplah ia memang meminjam untuk acara dinner malam ini, sebab, ia tidak bercanda soal dirinya yang tidak memiliki pakaian formal. Alasan yang ia berikan pada Juna tidak semuanya bohong meski ia tahu hampir seluruhnya adalah dusta.


Juna tertawa pelan. Ia memikirkan ucapan Yara. Benar juga, mana mungkin Rina meminjamkan Yara perhiasan asli.


"Ya udah, kamu siap-siap sekarang." Juna bicara sambil memegang kedua pundak istrinya.


Yara pun mengangguk. Ia berlalu dari hadapan sang suami saat itu juga.


Hampir setengah jam, akhirnya Yara siap dengan dress yang Sky berikan untuknya. Entah ajaib atau Sky memang pandai menerka-nerka ukuran tubuh Yara-- sehingga baju itu terlihat sangat pas ketika melekat ditubuh ramping sang wanita.

__ADS_1



"Udah siap?" Juna menatap penampilan istrinya dengan tidak berkedip. Yara tampak sangat cantik dan anggun malam ini.


"Ayo, Mas." Yara ingin segera mengajak Juna beranjak meninggalkan kamar tetapi pria itu menahan lengan sang istri.


"Kenapa lagi, Mas?"


"Kita di kamar aja, ya. Gak usah jadi ke hotel."


"Loh, kenapa?" Yara terkejut dengan ucapan suaminya itu.


Juna mengelus pipi Yara dengan sangat lembut. "Tiba-tiba aku maunya dekat kamu, Sayang."


Yara memutar bola matanya. Jika sudah begini Juna pasti ada maunya. Sudah dapat Yara tebak luar kepala.


"Janganlah, Mas. Gak enak sama temen-temen. Ini kan momen terakhir di Bali."


"Tapi aku mau habisin waktu sama kamu malam ini. Ini juga terakhir kita di Bali, waktu kita disini enggak banyak, tinggal malam ini doang, kita gak ada waktu lagi, Sayang."


"Kemarin-kemarin kamu kemana aja, Mas? Kenapa baru sekarang mau deket aku dan sadar kalau waktu kita di Bali enggak banyak?"


"Kemarin kan kamu gak enak badan."


Yara menggeleng samar. Bisa-bisanya keadaan Yara yang dijadikan Juna sebagai alasan.


Juna memeluk Yara, mau tak mau Yara menyambut hal itu namun dengan setengah hati.


"Nolak suami itu dosa, tau!" Juna memperingati Yara.


"Habisnya kamu cantik banget, aku jadi gak rela ngebiarin kamu dilihat orang lain."


Yara tak menyahut lagi mendengar ucapan pria itu. Tak lama Juna mendekatkan wajah ke arah Yara, tapi disaat itu justru wajah Sky yang muncul dihadapan wanita itu.


Secara refleks, Yara langsung mendorong dada Juna. "Mas, aku laper, kita makan malam dulu, kalau kamu mau ini bisa dilanjutin sepulang dari Hotel," ujarnya langsung beranjak menghindar. Bayangan Sky benar-benar datang seperti memperingatinya untuk tidak melanjutkan aktivitas itu bersama Juna. Sky memang meresahkan, pikir Yara.


"Ra?" lirih Juna.


"Aku gak bisa, Mas. Kita pergi sekarang."


Juna mengusap kasar wajahnya sendiri. "Ya udah, janji ya, sepulang dari hotel kita lanjutin lagi."


"Iya, Mas." Yara pun menekan kenop pintu saat itu juga.


****


Sesampainya di hotel, Sky mencari sosok Yara ke seluruh penjuru Ballroom.


Namun, sejauh mata memandang, ia belum menemukan wanita yang dicarinya itu.


"Kamu dimana Ayara?" batin Sky. Ia tidak sabar melihat Yara mengenakan gaun pemberiannya.


Tepat saat Sky memandang kearah pintu masuk, disaat yang sama pula Yara terlihat baru memasuki area hotel bersama Juna yang menggandengnya dengan posesif.

__ADS_1


Yara memang cantik, tapi kecantikannya selalu tertutupi dengan penampilannya yang biasa saja. Berbeda dengan malam ini, tubuh rampingnya dibalut dengan long dress mahal yang membuat aura Yara terlihat berbeda bahkan bisa mengundang banyak mata untuk menatapnya.



Juna pun baru menyadari hal itu, sepertinya selama ini ia terlalu lama menyimpan isi dompetnya dalam-dalam. Andai ia mau memodali istrinya untuk tampil cantik, pasti ia sudah melihat keanggunan Yara jauh sebelum hari ini.


Sky memandangi Yara dari tempatnya. Ia tersenyum simpul menyadari Yara mengenakan semua pemberiannya. Jika ada kata diatas kata 'senang' atau 'bahagia' maka itulah yang dirasakan Sky saat ini.


Dengan langkahnya yang percaya diri, Sky menghampiri Yara dan Juna disana.


"Pak Sky?" Juna menyapa pria itu.


"Iya, Pak Juna... kenapa baru datang?" Sky bertanya pada Juna tetapi matanya melirik pada Yara.


Yara hanya bisa menunduk, tidak mau bertemu pandang dengan mantan kekasihnya yang sudah mensponsori penampilannya malam ini tanpa sepengatahuan Juna tentunya.


"Biasalah, ada meeting penting dulu tadi bareng istri," kelakar Juna yang membuat Sky tersenyum miris saat mencerna kalimat pria itu. Sky kembali melirik pada Yara yang tidak juga mengadahkan wajah padanya.


"Gimana kalau gabung di kursi kosong dekat tempat duduk saya, Pak?" tawar Sky dengan senyum licik.


"Boleh juga. Sekalian ada yang mau saya tanyakan ke Pak Sky."


"Boleh, kita bisa ngobrol disana nanti."


Yara merutuk didalam hati. Kenapa pria-pria ini tidak memikirkan perasaannya. Seharusnya Juna juga menanyakan dulu pendapatnya mengenai tempat duduk yang dekat dengan Sky. Apakah ia setuju? Kenapa Juna langsung menyetujui saja tanpa bertanya dulu?


Akhirnya Yara mengangkat wajah dan tatapan matanya bersirobok dengan iris mata hitam pekat milik Sky. Pria itu melempar senyuman tipis seolah menggoda Yara. Yara menghela nafas dalam-dalam menahan rasa sabarnya.


Mereka bertiga pun berjalan menuju meja yang Sky maksudkan. Yara duduk di sebelah Juna, sementara Sky, ikut mendudukkan diri disebelah Yara. Jadilah Yara berada ditengah-tengah kedua pria tersebut.


Ingin ku berkata kasar.... batin Yara kesal sekali dengan keadaan ini.


Dan entah ada angin apa yang membuat Juna terus menggenggam jemarinya tanpa sekalipun melepaskan. Mungkin Juna sedang kemasukan angin pantai selatan atau jin penghuni villa. Rasanya Yara sudah ingin marah, apalagi melihat tatapan Sky yang terus mengarah padanya tanpa takut jika suatu waktu ada yang menyadari arti tatapan pria tersebut.


"Saya dan Yara ada rencana untuk membangun rumah, Pak. Apa bapak ada desain yang bagus untuk rumah kami nanti?"


Rupanya Juna ingin membicarakan soal rumah dengan Sky, memang itu terdengar nyambung karena Sky adalah seorang Arsitek--meski seharusnya Sky tidak menangani rumah-rumah milik sekalangan Juna dan Yara, dikarenakan pekerjaan Sky biasanya merujuk pada bangunan yang lebih besar seperti Hotel dan rancangan bangunan lain yang memiliki nilai artistik lebih.


"Desain rumah, ya?" Sky tersenyum kecil. "Ada, dong. Pak Juna maunya yang tipe seperti apa?" sambungnya meladeni pertanyaan Juna.


Yara yang berada ditengah-tengah mereka hanya bisa diam dan mendengarkan, sebab acara dinner memang belum dimulai.


"Saya kurang ngerti, kalau soal tipe ya, Pak. Tapi kalau refrensi fotonya saya sudah punya."


"Boleh saya lihat nanti?" Sky terus meladeni ucapan Juna. Siapa tahu dengan hal ini ia punya kesempatan untuk mendekati Yara nanti, pikirnya.


"Boleh sekali, pak. Kalau perlu, kapan bapak ada waktu kita bisa ketemu sesudah acara hari ini," kata Juna antusias.


Binggo.... setelah hari ini berarti ada alasan untuk menemui Yara lagi, batin Sky pun terkekeh. Tak ada usaha yang sia-sia, kan? Usahanya meladeni Juna sudah membuahkan hasil.


Bersambung ....


*****

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹🌹☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕👍👍👍👍👍👍👍💭💭💭💭💭💭💭


__ADS_2