EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
117. Memberi oleh-oleh


__ADS_3

Yara dan Sky memutuskan untuk mengunjungi kediaman sang kakak-- sebab sejak kepulangan mereka kemarin, keduanya belum sempat mengantarkan oleh-oleh yang mereka belikan untuk Elara dan Anton.


Yara juga mau mengabarkan berita kehamilannya pada Anton, agar pria itu turut merasakan kebahagiaannya.


Sesampainya mereka di pekarangan rumah Anton, Yara dan Sky saling menatap heran satu sama lain, pasalnya mereka melihat mobil milik Nadine yang juga terparkir disana pada sore ini.


"Mbak Nadine disini?" tanya Yara dengan gumaman.


"Sepertinya gitu, Sayang." Sky menyahut sembari membuka seatbeltnya.


Keduanya pun menuruni mobil, lantas melihat pada Anton yang tak lama juga keluar dari dalam rumah demi menyambut kedatangan mereka.


"Mas? Sehat, kan?"


Anton mengangguk dan tersenyum.


"Gimana? Apa hasil dari bulan madunya?" tanya Anton menatap Sky dan Yara bergantian. "Jangan bilang belum ada hasilnya, ya," lanjutnya sambil terkekeh.


"Oh ada dong, Mas. Tokcer!" kata Yara mengacungkan jempolnya, tapi jawabannya itu membuat Sky terkekeh.


"Serius?" tanya Anton tak percaya.


"Iya, berhasil cetak 2 gol," timpal Sky.


"2 gol apa, nih? Kalau 2 gol gak ada hasil sama dengan bohong..."


Yara terkekeh. "Berhasil lah, kan udah dibilang tadi... TOKCER!" katanya menekankan.


Anton dan Sky saling terkekeh geli melihat Yara yang mengulangi kata itu lagi.


"Ya udah, ayo masuk."


"Mas, tunggu..." Yara menarik tangan Anton, hingga sang kakak menghentikan langkah. "Mbak Nadine disini, ya?" tanyanya.


Anton menghela nafas panjang, kemudian barulah dia menjawab pertanyaan sang adik.


"Iya, dek."


Sekali lagi Sky dan Yara saling menatap satu sama lain.


"Elara gak mau pisah sama Nadine, bahkan kemarin dia demam karena gak dijenguk Nadine."


"Hah? Sampai segitunya?"


Anton mengangguk. "Mas harus gimana, dek?" tanyanya berbisik, dia takut Nadine yang ada didalam rumah ikut mendengar keluhannya ini.


"Memangnya Mas maunya gimana?" tanya Sky ikut menimpali.


Mereka bertiga tidak jadi masuk ke rumah dan malah membahas hal ini di teras.

__ADS_1


"Mas gak tega misahin Elara sama Nadine, tapi dia kan istri orang, lain hal nya kalau dia single..." papar Anton.


"Emang kalau Mbak Nadine single kenapa?" tanya Sky kemudian.


Yara langsung memutar bola matanya. "Kalau single ya pasti dinikahin mas Anton, ya kan, Mas?" sahutnya kemudian menatap Anton yang mulai pening sekarang.


"Udahlah, Mas. Kamu tunggu aja, pasti bakal cerai mbak Nadine sama suaminya--sebentar lagi." Yara berusaha meyakinkan, sementara Anton yang tak mengetahui apapun tentang rumah tangga Nadine langsung menatap heran dan tak percaya pada ujaran sang adik.


"Kenapa gitu?" tanya Anton akhirnya. Ucapan Yara tadi terdengar sangat tega seolah mendoakan rumah tangga Nadine segera berakhir.


"Iya, karena masalah rumah tangga mereka itu sangat rumit. Mas gak bakal ngerti deh kalau aku yang ceritain. Ada baiknya mas tanya sama mbak Nadine aja, sesekali ajak dia ngobrol dari hati ke hati."


Sky mengulumm senyum, dia tau niat istrinya yang sejak awal memang berniat menjodohkan Anton dan Nadine. Dan sekarang sepertinya Yara mulai melancarkan aksinya untuk merubah pandangan Anton terhadap kandidat yang Yara inginkan--siapa lagi wanita itu jika bukan Nadine.


"Mbak Nadine itu mungkin merasa lengkap dengan adanya Elara. Yakin deh, pasti dia bakal terpesona sama Mas, makanya Mas harus tunjukan pesona Mas yang sebenarnya," kata Yara meyakinkan.


Kali ini Anton yang memutar bola matanya akibat perkataan lebay sang adik. "Apaan sih kamu," protes pria itu sembari mengacak rambut Yara.


Bersamaan dengan itu, rupanya terdengar suara seseorang yang menginterupsi aksi bisik-bisik ketiganya.


"Sky, Yara, kalian udah balik dari Bali? Kok gak masuk?" Nadine berdiri diambang pintu dan cukup heran melihat Sky, Yara dan Anton yang sepertinya tengah membahas sesuatu disana.


"Mbak, apa kabar?" Yara menghampiri posisi Nadine. "Katanya Mbak ke Singapore, kok udah di rumah Mas aku, sih?" goda Yara.


Nadine menyengir. "Udah pulang dari Singapore kok," katanya.


"Oh, kapan, mbak??"


"Lho, kok cepat? Berapa lama Mbak disana?"


"Dua hari aja, Ra. Abis itu langsung balik kesini."


"Oh, jadi Mbak ke Singapore cuma dua hari, tapi dirumah Mas Anton udah setiap hari, nih? Berarti kerasan disini ya, ketimbang disana?" Lagi-lagi Yara menggoda Nadine.


"Ra..." Anton mencoba menengahi hal ini, dia tak mau Yara terus menerus menggoda Nadine.


"Hehe, bercanda ya, Mbak Nad." Yara langsung menepuk-nepuk punggung tangan Nadine.


"Ya udah, ayo masuk."


Mereka kemudian memasuki kediaman Anton dan mulai membongkar oleh-oleh yang Sky dan Yara belikan.


"Ini buat Mbak Nadine, tadinya abis dari sini, kita emang mau mampir ke rumah Mbak buat ngasihin oleh-olehnya, tapi mumpung mbak juga ada disini--ya udah sekarang aja aku ngasihnya."


"Wah, mbak dapat juga, Ra? Makasih lho." Nadine pun menerima paperbag dari Yara.


"Iya, dong, Mbak kan calon is--emmphh..." Yara tak melanjutkan kata sebab mulutnya langsung dibungkam dengan telapak tangan Anton yang sudah dapat menebak isi kepala sang adik.


Nadine hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah akrab Yara dan Anton itu.

__ADS_1


"Nah, ini buat Mas Anton sama Elara."


"Banyak banget dek?"


"Tenang, Mas. Yang banyak itu punya Elara kok, bukan punya Mas."


Sekarang Sky yang tergelak melihat ekspresi Anton yang cemberut karena ujaran Yara.


"Ntar kalau mas mau barang-barang dari Bali atau Labuan Bajo, mas aja yang kesana... siapa tau mau bulan madu lagi, kan."


"Yara...." tegur Anton dan Yara menyengir sembari menunjukkan dua jari pertanda damai.


"Jadi, keadaan Elara sekarang gimana, Mas? Udah gak panas lagi kan suhu tubuhnya?" tanya Sky pada Anton. Sky juga merasa iba pada nasib bayi mungil itu. Dia tak akan sanggup jika menjadi Anton, pikirnya.


"Syukurnya udah sehat, kemarin mas aja yang panik. Anak demam dikit langsung mas bawa ke klinik, harusnya mas sediain obat penurun panas dirumah."


"Ya, makanya Mas harus lebih banyak belajar lagi. Kan udah Yara bilang tadi, sesekali mas harus bisa bicara dari hati ke hati."


Apa hubungannya? Pikir Anton, memang Yara kalau sudah ngawur suka sekali bicara yang nyerempet kemana-mana, pasti dia berniat mengingatkan Anton agar nanti mau menuruti ucapannya itu.


Haruskah Anton benar-benar mengajak Nadine bicara dari hati ke hati nanti? Tentu bukan ingin membahas tentang rumah tangga wanita itu, melainkan tentang perasaan Nadine yang memang mudah tertebak jika dia tengah menahan kepedihan.


Tapi, haruskah Anton mengetahui tentang hal itu? Kenapa rasanya tidak pantas.


"Eh, kalian udah makan belum?" Nadine bersuara.


"Belum sih, Mbak." Sky menyahut jujur, mereka memang belum sempat mengisi perut.


"Ayok makan sama-sama. Mbak tadi udah masak lho," kata Nadine akrab.


Mendengar itu Yara langsung menatap pada wanita bersurai panjang tersebut.


"Mbak Nadine? Masak? Mbak yang masak?"


"Iya, kenapa, Ra?"


Jujur saja, dalam hati Yara sangat terkejut, bagaimana tidak, dulu dia bekerja dirumah Nadine dan memasakkan wanita itu hampir setiap hari. Tapi sekarang Nadine memasakkan mereka? Bahkan Yara tak yakin jika wanita ini bisa memasak. Bukan meremehkan tetapi Yara memang tak tau jika Nadine bisa melakukan itu.


"Kenapa, Ra? Kamu heran denger mbak masak?"


Yara mengangguk secara otomatis dan Nadine terkekeh.


"Mbak bukan gak bisa masak, dulu mempekerjakan kamu ya karena mbak sibuk dan gak sempat. Tapi kalau gak ada pilihan lain ya mbak masak sendiri, Ra. Kamu kan tau terkadang mbak lebih suka masakan rumahan ketimbang beli di luar."


"Daebak ..." kata Yara spontan.


Bersambung ....


Tinggalkan jejak, ntar othor kasi up sekali lagi kalau dukungannya banyak😍😍😍😍😍

__ADS_1


Selamat hari Jumat. Semoga urusan kita dipermudah ya. Sehat selalu buat kita semua .... Aamiin


__ADS_2