
Author POV.
Yara hampir pingsan kalau saja dia menerima telepon tidak di rumah Anton. Sore itu dia kembali mengajak Aura dan Cean ke kediaman kakaknya. Tentu untuk mengajak kedua bocah itu bermain bersama Elara dan Liora, sekaligus untuk menghilangkan beban dikepalanya.
Sayangnya, baru beberapa menit mengobrol dengan Nadine, Yara dikejutkan oleh berita di televisi tentang sebuah kecelakaan di ruas jalan Tol.
Awalnya Yara terkejut saat melihat salah seorang korban yang diberitakan adalah teman SMA nya, Diandra Calista. Kabar itu menjadi heboh lantaran Diandra adalah seorang model yang cukup terkenal dipenjuru negeri. Akan tetapi, dia semakin syok kala mengetahui jika disana Diandra mengalami kecelakaan tidak seorang diri melainkan dengan seorang pria yang dikabarkan beridentitas Sky Lazuardi yang adalah suami Yara sendiri.
"Bukannya Sky di Surabaya? Berita apaan nih? Mana mungkin itu Sky suami kamu, Ra!" celetuk Nadine yang juga mendengar berita itu.
Yara tidak menyahut, dia menghubungkan kejadian ini dengan pesan-pesan yang diterimanya kemarin. Tidak, wanita dalam foto itu bukan Diandra, batin Yara.
Meski foto itu diambil dengan angel yang lebih jelas merujuk pada wajah Sky ketimbang wajah wanitanya, tapi Yara dapat menilai bentuk tubuh dan gaya berpakaian wanita dalam foto yang tidak seperti Diandra yang dia kenal selama ini.
Yara yakin foto itu bukan Diandra dan tidak mungkin wanita yang berselingkuh dengan suaminya adalah Diandra, meski Yara tau wanita itu sempat mengharapkan Sky sejak beberapa tahun silam.
"Coba kamu hubungi Sky sekarang, Ra."
Yara mencoba menghubungi suaminya tapi nomor itu tidak dapat dihubungi.
"Sky sama siapa ke Surabaya? Coba hubungi temannya."
Baru saja Yara mau mengikuti saran dari Nadine tatkala ponsel yang dipegangnya sudah bergetar tanda sebuah panggilan menghubunginya.
"Hallo?" Suara Yara bergetar, dia merasa perasaan yang tidak enak apalagi tadi sebelum ke kediaman Anton dia sempat menjatuhkan gelas hingga pecah berkeping-keping.
"Dengan ibu Ayara Yasmin?"
"Y-ya..."
"Maaf sebelumnya, Bu. Saya Arman dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan berita mengenai kecelakaan lalu lintas. Sampai disini, diduga suami Ibu yang bernama Sky Lazuardi mengalami kecelakaan mobil di ruas Tol pada pukul 18:13 wib---"
Yara tidak tau lagi apa kalimat sang aparat karena tiba-tiba pandangannya sudah abu-abu.
"Yara?" Nadine yang melihat Yara hampir pingsan, langsung menjerit nama suaminya. Untunglah Anton sudah berada di rumah sore itu.
"Dek? Kenapa, dek?" Anton sigap membantu Yara yang lunglai. Kakinya seperti tidak dapat menapak dengan baik.
Bukan hanya berita kecelakaan Sky yang mengguncang jiwanya, tetapi mengenai Sky yang mengalami kecelakaan itu bersama dengan Diandra seperti menampar bagian hati Yara yang terdalam.
__ADS_1
"M--mas?" Yara memanggil Anton yang menungguinya di bibir tempat tidur. Disana juga ada Nadine yang harap-harap cemas menunggu apa yang akan Yara sampaikan setelah menerima telepon tadi.
Sang kakak bergerak dan langsung melihat keadaan adiknya.
"Kamu mau ke Rumah Sakit?" tebak Anton.
Yara mengangguk. Dia sulit berkata-kata seakan lidahnya Kelu dan sulit untuk digerakkan.
...*...
Anton dan Yara akhirnya menuju Rumah Sakit dimana korban kecelakaan yang katanya adalah Sky Lazuardi sedang ditangani. Nadine tidak ikut sebab dia memilih menjaga anak-anak di rumah dan keadaannya yang hamil membuat Anton melarangnya untuk mengikuti.
"M--mas, aku harus gimana?" Yara tampak seperti orang bo doh. Dia terlihat linglung dan kebingungan. Syukurlah dia masih memiliki Anton yang mau repot dalam hal ini.
"Tenang ya, Dek. Tenang, banyak doa semoga Sky gak apa-apa."
Sejak dalam perjalanan, Yara sudah menguatkan hatinya. Dia harus mengesampingkan perasaan sakit hati akibat Sky yang akhirnya ketahuan sedang bersama Diandra.
Saat ini, yang terpenting bagi Yara adalah kesembuhan suaminya. Masalah dikhianati, Yara akan membahas ini jika nanti Sky benar-benar sudah pulih. Atau mungkin dia tak akan pernah menguliknya lagi, yang penting Sky tetap dalam keadaan baik-baik saja. Yara memilih masa bodoh dengan hal itu.
"Udah, Dek. Ayo di ruangan yang itu!" Tarikan tangan Anton menyadarkan Yara bahwa kini dia harus lebih kuat saat menyaksikan keadaan Sky disana.
Wanita itu berjalan mendekat pada ranjang pesakitan dimana suaminya terbaring. Air mata telah tumpah ruah sejak dia menerima telepon dari pihak kepolisian. Bahkan Yara tak tau bagaimana penampilannya saat ini yang sudah seperti orang kehilangan arah.
"Sayang..." Yara memanggil pria yang kepala, dada dan kakinya terbalut perban dan kain kasa. Airmata Yara semakin tak terbendung saat melihat jika itu benar-benar suaminya.
Yara meringsek, memeluk sisi tubuh Sky dengan hati-hati sebab takut menyakiti sang suami.
"Bilang ini mimpi, Sky! Ayo! Bilang! Ngomong sama aku!" Yara seperti orang yang patah semangat. Dia meraung melihat keadaan suaminya yang parah dan tidak baik-baik saja.
"Sky, Sayang ... ayo bangun! Katanya kamu rindu aku, kan? Maafin aku, maafin aku ..." Yara menangis tersedu-sedu, membuat Anton yang menyaksikan itu terenyuh merasa ironi, pria itu langsung membuang pandangan sangking tak tahan melihat keadaan ini.
"Kenapa kamu bisa ada disini, Sky? Bukannya kamu masih di Surabaya? Kamu lagi nge-frank aku, kan? Iya, kan?"
"Dek, udah dek..." Anton merangkul Yara hingga akhirnya sang adik memeluk Anton untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Mas, kenapa semuanya jadi begini? Kenapa, Mas? Aku pikir semuanya udah bahagia. Kenapa pernikahan aku harus diuji seperti ini, Mas?" tanya Yara dengan putus asa.
Anton mengelus surai hitam milik adiknya. "Sabar ya, Dek. Bukan berarti setelah menikah kita gak diuji. Bukan berarti setelah menikah semuanya akan langsung bahagia. Justru ujian setelah menikah itu lebih besar lagi, kamu dan Sky pasti bisa melewati semuanya, Dek."
__ADS_1
"Aku gak bisa, Mas. Aku gak bisa lihat Sky dengan kondisi begini." Yara menunjuk Sky yang terbaring tidak sadarkan diri itu, ditubuhnya banyak alat-alat kedokteran yang terpasang, belum lagi perban yang hampir menghiasi seluruh bagian tubuhnya.
"Kamu pasti kuat, dek. Kamu pasti kuat." Anton sendiri bingung bagaimana menguatkan adiknya. Hanya kata-kata semacam itu yang bisa dia berikan untuk mendorong kekuatan Yara.
...***...
Sky dinyatakan mengalami remuk tulang dada karena terjepit dashboard. Kakinya patah dan dia juga mengalami pendarahan kepala.
Akibat kecepatan tinggi dalam berkendara, Diandra sang pengemudi juga tewas ditempat. Berita meninggalnya sang model menjadi tajuk utama berita harian yang santer disiarkan di media dan televisi.
Yara akhirnya tau bahwa Sky pulang lebih cepat dari Surabaya. Tapi dia tidak tau kenapa sang suami bisa berakhir bersama Diandra dalam satu mobil.
Selentingan berita yang Yara dengar adalah Diandra yang memang menjemput Sky di Bandara pada hari itu.
Malam semakin larut, saat Yara kembali mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal.
[Gimana? Udah terbukti kan, kalau suami kamu ada main sama wanita lain? Harusnya kecelakaan ini bisa membuat kamu sadar dan meninggalkan dia. Bebasin dia sekalipun wanita itu udah meninggal. Karena apa? Karena Sky udah gak cinta sama kamu!]
Yara memejamkan mata rapat-rapat karena pesan yang baru saja dia terima. Dia tidak boleh lemah. Kembali dia memblokir nomor asing itu. Sepertinya orang yang sering memprovokasinya ini tidak lelah juga, bahkan memanfaatkan kecelakaan Sky dan Diandra dengan fakta perselingkuhan untuk mendoktrin Yara.
Yara memilih mengabaikan itu, dia harus fokus pada kesehatan Sky. Sekalipun banyak orang yang tidak senang dengan kebahagiaan rumah tangganya.
Yara harus menjadi istri yang baik disaat Sky seperti sekarang. Terlepas Sky memang berselingkuh atau tidak, setidaknya Yara sudah melakukan yang terbaik dan jikapun suatu saat nanti mereka harus berpisah karena Sky yang memang tidak mencintainya lagi, Yara akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga Sky hari ini.
"Sayang? Kamu kapan bangunnya?"
Yara mengusap pipinya yang basah oleh airmata, sejak tadi airmatanya terus mengalir, tidak berhenti seolah memiliki pasokan air yang sangat banyak.
"Kamu tau, kan? Aku nungguin kamu disini. Aura sama Cean juga nungguin kamu pulang. Kamu udah janji mau anterin mereka sekolah. Jadi, kamu pasti bangun, kan?" Yara tersenyum getir diujung kalimatnya.
Jangan tanyakan perasaannya, Yara seakan runtuh bersamaan dengan hujan yang terus mengguyur bumi sejak sehabis Maghrib tadi.
Tanpa sadar, Yara tertidur disisi suaminya dengan jari jemari yang tertaut. Entahlah, jika memang Sky telah mengkhianatinya mungkin dia adalah wanita terbodoh yang masih menangisi pria ini. Tapi terserah, dia tetap mau melakukannya karena dia amat mencintai suaminya.
Yara merasakan jika jemari tangan Sky bergerak. Dia buru-buru terbangun dan mengadahkan wajah saat itu juga. Yara sangat yakin jika tadi Sky sudah hampir membuka matanya. Sayangnya, Yara harus mendengar EKG (elektrokardiograf) yang berbunyi tidak beraturan hingga membuatnya panik.
Seketika itu juga Yara memanggil dokter dengan kepanikan yang luar biasa.
Yara hampir pingsan untuk kedua kalinya saat Dokter mengatakan jika saat ini kondisi Sky tengah mengalami koma.
__ADS_1
Bersambung ...