
Sky akhirnya kembali di rawat intensif pada hari itu. Meski tidak ada tanda-tanda kerusakan pada organ vitaalnya, juga dia sudah kembali sadar, tetapi dia dianjurkan untuk memulihkan kondisi sambil menunggu beberapa bagian luka ditubuhnya sedikit membaik.
Bersamaan dengan itu, berita mengenai isi blackbox juga turut dirilis di media massa. Hal itu diharap dapat membuat nama baik Sky kembali pulih seperti sedia kala tanpa dibarengi gosip perselingkuhannya dengan Diandra.
Kabar meninggalnya Sky juga terlanjur disiarkan. Untuk hal ini, Sky membiarkannya tanpa berusaha protes. Hanya saja, dia bingung apabila nanti orang-orang akan bertemu dengannya terutama dari kalangan rekan kerjanya.
"Apa gak sebaiknya kabar mengenai kamu meninggal itu di hapus aja, Sky? Biar ini jadi urusan Mama." Indri ingin menghubungi pihak humas dari perusahaannya, mereka bisa menghapus jejak berita sampai ke akarnya, meski bagi sebagian orang yang sudah terlanjur mendengar berita ini akan menganggap Sky benar-benar sudah meninggal.
"Aku rasa gak usah, Ma. Biarkan saja. Jika nanti ada yang menganggap aku benar-benar meninggal, itu urusan mereka. Selama gak ada kepentingan, mereka gak akan tau bahwa aku masih hidup," jawab Sky datar.
"Maksud kamu?" Indri terkejut dengan respon sang putra. Sky terdengar tak keberatan jika orang-orang menganggapnya telah meninggal.
"Jika nanti aku diharuskan bertemu dengan orang lain, mereka akan menanyaiku secara pribadi dan aku akan menjawabnya. Tapi, biar saja orang-orang yang tidak bisa menemuiku akan berpikir bahwa aku sudah meninggal." Sky mengendikkan bahu acuh tak acuh.
"Kamu yakin?"
Sky mengangguk dalam posisinya. "Lambat laun, berita ini akan menghilang. Semuanya heboh membahas kematian aku karena sebelumnya sudah ramai memperbincangkan hubungan aku dengan Diandra. Kalau nanti khalayak udah masa bodoh, semuanya gak akan begitu ribut seperti saat ini."
"Ya udah, deh, terserah kamu aja. Mama cuma gak mau hal ini mempengaruhi kinerja kamu di kantor nanti."
"Hmm, orang-orang kantor biar jadi urusan aku, Ma. Aku yang bakal ngejelasin ke mereka karena mereka orang-orang yang akan bersinggungan langsung dengan aku sedangkan orang diluar lingkup itu, gak perlu mengetahui seluk-beluk mengenai aku terlalu dalam."
"Jadi, kamu mau memanfaatkan berita ini untuk membuat nama kamu tenggelam, begitu?"
"Bisa dikatakan begitu, Ma. Supaya anak-anak aku nanti bisa hidup dengan tenang, low profile tanpa membuat kehidupan pribadi menjadi konsumsi publik."
"It's oke, kali ini mama setuju dengan hal itu. Jadi, kita cuma buat klarifikasi sama orang-orang yang terdekat saja. Begitu kan maksud kamu?"
"Yup." Sky menyahut singkat.
Sky rasa, kehidupannya tidak layak untuk diminati orang lain menjadi bahan gunjingan. Lagipula, dia merasa tidak setenar itu untuk digosipkan. Namanya menjadi trending topik hanya karena terlibat kecelakaan maut bersama Diandra, padahal Sky tidak mau terkenal karena jalur itu. Dia lebih berminat tenar karena jerih payah dan usahanya sendiri. Itupun, jika dia dikenal khalayak, Sky memilih untuk diingat hanya sebagai Arsitek, bukan sebagai teman mendiang Diandra ataupun partner affair dari sang model.
Sky berharap, lambat laun berita ini akan surut dan tenggelam. Orang-orang akan melupakan tragedi ini seiring dengan kematiannya yang sudah terlanjur menjadi konsumsi publik.
Sky tidak mau berita ini akan diungkit lagi suatu saat nanti. Dia tidak mau hal jelek akan berimbas pada kehidupan anak-anaknya.
Dan satu lagi, Sky masih mencari tau dalang dibalik pertengkarannya dengan Yara waktu itu. Barangkali, jika berita kematiannya mencuat, orang itu akan muncul dengan sendirinya. Anggap saja ini sebagai pancingan agar sang provokator berbicara.
__ADS_1
Sky sudah berpesan pada Anton dan Beno untuk tetap merahasiakan kondisinya, karena nanti dia sendiri yang akan menjelaskan pada orang-orang yang dirasa perlu mengetahui tentang keadaannya. Untuk hal ini, Beno pun berjanji untuk menutup mulut rapat-rapat, sebelum Sky mengizinkannya membuka suara.
"Sayang, kamu kemana aja?" Sky menatap Yara yang baru saja memasuki lagi ruang perawatannya. Wanita itu tampak lebih segar dari sebelumnya, membuat Sky jatuh cinta berkali-kali lipat dengan kadar rasa yang tidak pernah surut.
"Maaf, lama ya? Tadi aku mandi dulu di rumah." Yara memasang cengiran. "Hhh, lega deh udah mandi, udah ketemu sama anak-anak juga sebentar," pungkasnya.
"Pantes udah kelihatan lebih segar, meskipun matanya masih bengkak," goda Sky kemudian.
Yara terkekeh pelan. Kekehan pertamanya setelah tragedi yang menimpa Sky tempo hari.
"Ya udah, karena Yara udah balik kesini dan udah ada yang jagain kamu. Sekarang giliran Mama yang pulang ya, Sky."
Indri pun bangkit dari posisinya.
"Banyak yang harus Mama urus dirumah. Apalagi, di rumah udah banyak banget kiriman karangan bunga atas meninggalnya kamu." Indri menghela nafas panjang. "Haduh, mulai pusing lagi kepala Mama," keluhnya sambil terkekeh.
"Maaf ya, Ma." Sky menyahut dengan tak enak hati.
"Ya gak apa-apa. Ini jauh lebih baik ketimbang Mama harus ngelepasin kamu selamanya, Nak."
Raut wajah Indri kembali tampak sendu, tapi tak dipungkiri jika keadaan Sky sekarang justru membuatnya amat sangat bersyukur.
"Iya, Sky." Indri mendekat pada Sky dan mencium kedua pipi putranya seperti yang sering dia lakukan saat Sky masih kecil dulu.
Sky tertawa karena hal ini, apalagi Yara yang ada disana, dia terharu dengan interaksi Indri dan Sky yang tampak hangat.
"Kenapa kamu ketawa? Mama udah takut kehilangan kamu lho ini."
"Ya, aku tau," kata Sky dengan kulumman senyumnya. "Cuma gak enak dilihat Yara, Ma," tambahnya.
"Lho, emang kenapa? Lha Mama cuma cium anak mama sendiri, kok. Emang Yara bakal cemburu, gitu?"
Yara langsung mengibas-ngibaskan tangannya, mana mungkin dia sepicik itu cemburu pada mertuanya sendiri, justru dia merasa ikut senang dengan keadaan dimana Indri terlihat sebagai ibu yang bersahaja karena masih mau melakukan hal tersebut pada Sky yang sudah kolot.
"Bukan gitu, Ma. Yara emang gak cemburu, cuma kali aja dia jadi ikutan mau nyium aku kayak yang Mama lakuin ini."
"Wuih, itu mah bukan Yara yang mau, tapi kamu yang ngarep!" kata Indri melengos.
__ADS_1
Kepergian Indri dari ruang perawatan, disertai gelak tawa lega dari ibu dan anak itu. Yara juga menimpali dengan kekehan yang serupa.
Seperginya Indri, Yara menatap Sky dengan pandangan manja. Ada rindu yang terpancar jelas dalam mata lentiknya. Dia mendekati Sky dan menciumi pipi pria itu berulang kali.
"Tuh, kan, bener ... jadi pengen nyium juga, ketularan Mama nih aku," kata Yara beralasan. Padahal dia memang sudah mau melakukan itu sejak dari rumah tadi.
"Alasan, bilang aja mau nyium aku, gak perlu setel-setel kalimat ngeles kayak gitu," kekeh Sky.
Yara mengelus rambut Sky, kemudian mengambil sisir dari laci nakas. Dia menyisir rambut suaminya yang beberapa hari ini tampak tidak teratur.
Sky menikmati kegiatan itu tanpa ada kata-kata protes. Dia tau kepergiannya selama beberapa saat dan diagnosa kematiannya sudah membuat Yara syok terapi.
"Kamu gak apa-apa?"
"Hmm, aku udah merasa sangat baik sekarang," tutur Yara.
"Beneran?" Sky mengambil jari jemari istrinya yang tadinya ditangkupkaan di pipinya.
"Aku masih merasa bersalah sama kamu. Aku udah nuduh kamu yang enggak-enggak. Aku bersyukur karena akhirnya kamu kembali, ini membuat aku punya kesempatan untuk meminta maaf secara benar sama kamu."
Sky menghentikan kegiatan mengelus-elus jemari Yara. Tangan lembut itu dibawanya ke depan bibir, menciumi setiap buku-buku jari istrinya satu persatu.
"Listen to me ... aku paham bahkan sangat paham kenapa kamu bisa bertindak dengan menuduh aku seperti itu, ini semua karena ada bukti foto itu. Ya, meskipun pada akhirnya kita sama-sama tau kalau itu foto editan, tapi awalnya kamu kan gak tau kalau yang ada difoto itu bukan aku."
"..."
"Dan, ya ... aku rasa aku juga bakal melakukan hal yang sama jika posisinya dibalik. Misal, ada orang yang ngirimin foto kamu dengan pria lain. Aku juga pasti jadi sedih dan gusar. Ya, meskipun aku gak bakal nuduh kamu secara langsung karena aku bakal menyelidikinya lebih dulu," imbuh Sky kemudian.
"Tuh, kan, harusnya aku menyelidiki dulu baru nuduh kamu yang enggak-enggak." Yara menjatuhkan kepalanya disamping rahang sang suami. Perasaan bersalah kembali menelusup relung hatinya.
"It's oke, kecemburuan wanita memang lebih sering meletup-letup. Aku ngerti karena kamu selalu pakai perasaan lebih dulu, sedangkan aku mungkin lebih mengandalkan logika. Jadi, semuanya masih dalam tahap wajar, Sayang. Aku paham posisi kamu." Sky membelai rambut Yara disisinya.
"Jadi ... sekarang, apa rencana kamu?"
"Kita tunggu Mas Anton selesai mencari tau siapa pengirim foto itu. Lagipula, yang terpenting buat aku sekarang adalah segera pulih, aku mau cepat pulang, aku rindu anak-anak dan juga ..."
Yara bergerak demi membenarkan posisinya, dia melihat pada Sky yang menjeda kalimatnya. "Dan juga apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Dan juga aku sangat merindukan istriku ..."
Bersambung ...