EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
35. Pelampiasan


__ADS_3

Yara tiba di kediamannya saat hari sudah menggelap. Ia menatap Sky yang masih duduk dibalik kemudi. Pria itu baru saja mematikan mesin mobilnya.


"Makasih ya, kamu udah bantuin aku."


Sky tersenyum tipis. Entah apa yang ada dipikiran pria itu.


Saat Yara ingin menekan handle pintu mobil dan mau keluar dari dalamnya, buru-buru Sky memegang pundak Yara sehingga wanita itu kembali berbalik untuk menoleh.


"Kamu .... baik-baik aja, kan?" tanya Sky.


Yara mengangguk, akan tetapi Sky bisa melihat raut lelah dan kekecewaan yang terpancar jelas dimata sang wanita.


Sebenarnya selain mencintai Yara, Sky juga cukup salut dan kagum pada wanita itu. Selama ini, Sky tidak pernah mendengar Yara mengeluhkan sikap ataupun tindakan tak mengenakkan Juna kepadanya. Itu artinya Yara benar-benar menjaga nama baik sang suami, meski yang Sky yakini-- Juna tidaklah sebaik apa yang terlihat dimata orang lain.


"Aku...." Yara menghela nafas pendek. "Aku gak apa-apa, Sky," lanjutnya kemudian.


Sky melemparkan senyuman sendu ke arah Yara. Ingin sekali ia merengkuh tubuh itu, membawanya kedalam dekapan, menenangkannya, bahkan melantunkannya dongeng pengantar tidur, serta memastikan jika Yara bisa tidur nyenyak malam ini.


Tapi, tak satupun hal itu dapat ia lakukan sekarang. Karena, Yara terlihat benar-benar menjaga jarak darinya bahkan sejak keluar dari Story' Cafe.


"Udah ya, aku masuk, kamu pulang aja. Sekali lagi, makasih," kata Yara.


Hal itu sekaligus menyadarkan Sky bahwa wanita ini benar-benar ingin menenangkan diri sendiri. Benar-benar sendiri, tanpa dirinya.


Sky mengangguk, ia meraih tangan Yara dan menggenggamnya. Sebuah tindakan yang mengartikan bahwa ia tengah menguatkan wanita itu.


"Aku beneran gak apa-apa, Sky." Kali ini Yara terlihat ingin meyakinkan Sky.


"Oh iya, tolong simpanin bukti-bukti itu, ya. Kalau nanti aku butuh, aku pasti hubungin kamu lagi. Jangan lupa, ini terakhir kalinya kita ketemu dan terakhir kalinya kamu nganterin aku," ujar Yara membuat Sky tertegun.


Jadi, keinginan Yara untuk memutus hubungan dengannya benar-benar harus terjadi sekarang? Bahkan semuanya belum benar-benar dimulai!


Sky sempat melupakan pembicaraan seriusnya dengan Yara saat di cafe tadi akibat mengikuti Juna di Argaduta Hotel. Tapi, ujaran Yara sekarang seakan mengingatkannya.


"Ra, kita gak harus lost contact," bujuk Sky mencoba menyadarkan Yara.


"Jadi, apa kamu mau kalau kita berteman aja?"


Sky mendengkus keras, hal itu juga tidak sudi ia lakukan.


"Enggak, kan? Makanya lebih baik kita gak usah berhubungan lagi, sama sekali."


"Tapi, Ra.... Juna juga mengkhianati kamu!" ketus Sky tidak dapat lagi menahan gemuruh dihatinya.


"Terus? Kamu mau aku membalas dia dengan hal yang sama?"

__ADS_1


"Iya, kenapa enggak?" senggak Sky emosional.


Yara menggeleng tegas. "Kalau itu aku lakuin, artinya aku sama Mas Juna gak ada bedanya, Sky!" tukasnya.


Sky memukul setir mobil dihadapannya. Tentu saja ia kesal dengan keputusan Yara.


"Terus, kamu mau menerima semua sikap Juna ini? Mau maafin dia, Ra? Mau tetap bersama dia?"


"Aku gak tau...."


"Bilang, Ra. Bilang apa yang kamu mau sekarang!"


Sky benar-benar tidak mengerti apa kemauan Yara saat ini. Ia hilang kendali memikirkan jika Yara akan memaafkan Juna setelah semua yang sudah mereka lihat secara langsung tadi. Padahal, Yara pun tidak pernah berkata akan memaafkan Juna, tapi Sky sudah ketakutan lebih dulu.


"Kamu tanya, apa yang aku mau?" tantang Yara.


"Iya!" tukas Sky.


"Aku mau tenang, Sky. Aku mau bahagia. Aku gak mau terus seperti ini, aku capek. Kalau kamu terus gini, aku memang bisa aja lari ke pelukan kamu. Tapi, apa kamu mau aku ngelakuin itu hanya karena pelampiasan? Kamu mau jadi pelampiasan rasa kecewaku, hah?"


Sky terdiam mendengar kemarahan Yara. Sampai akhirnya, Yara benar-benar keluar dari mobilnya namun Sky tidak juga pergi dari pekarangan rumah itu.


Sky merenung dan memikirkan ucapan Yara didalam mobilnya. Benar, ia memang bisa mengambil kesempatan dalam prahara rumah tangga Yara yang sudah tercipta karena tindakan perselingkuhan Juna.


Hal ini pun jelas menguntungkannya, Sky bisa menyelinap dan masuk kedalam rumah tangga mereka. Tapi itu sama saja dengan Yara yang akan menjadikannya pelampiasan. Dalam arti lain, Yara menerimanya karena ingin membalas perbuatan Juna dengan hal yang sama. Bukan karena Yara mencintainya? Dan pertanyaan Yara, apa ia mau menerima semua itu?


Yara terkesiap saat Sky memanggilnya lagi. Rupanya pria itu sudah berjalan sampai ambang teras rumah kontrakannya. Sementara Yara, ia baru saja menemukan kunci rumah di dalam tas yang ia kenakan.


"Apa lagi, Sky?"


Sky tertunduk dalam, kemudian mengadah pada Yara dengan tatapan yang tampak sangat sendu.


"Aku mau jadi pelampiasan kamu."


Yara tertegun untuk sesaat akibat kalimat Sky itu.


"Aku udah mikir. Gak apa-apa, Ra. Aku rela... asal itu kamu."


...*****...


"Juna sepertinya gak pulang, aku... nginep disini aja ya, nemenin kamu."


"Jangan ngelunjak, Sky."


Yara pun menyajikan segelas teh hangat ke atas meja dihadapan Sky.

__ADS_1


"Kamu, gak minum?" tanya Sky sembari mengangkat gelasnya dihadapan Yara.


"Udah, kamu minum aja."


Kehadiran Sky didalam rumahnya, membuat Yara serba salah, tapi jujur, ia pun tidak tahu harus bagaimana lagi memperlakukan pria ini. Bahkan dengan tenangnya, Sky mengaku rela jika ia jadikan pelampiasan. Ia sampai kehabisan kalimat untuk menolak pria itu.


Seharusnya Yara tengah bersedih sekarang, mendapati Juna bermesraan dengan wanita lain di rooftop hotel. Bahkan, saat Yara mencoba menghubunginya tadi, ponsel Juna dinyatakan sedang berada diluar jangkauan. Saat Yara dan Sky kembali mengikuti jejak Juna tanpa sepengatahuan pria itu, benar saja, jika Juna dan wanita selingkuhannya masuk pada sebuah kamar hotel.


Jangan tanya apa yang sepasang insan itu lakukan didalam sana, karena semua orang pasti tau apa jawabannya.


Yang jelas, tidak mungkin mereka sedang bermain ular tangga di dalam sebuah kamar hotel, kan?


Untuk itulah, kekecewaan Yara terhadap Juna sudah mencapai ambang batasnya, ia tidak melabrak Juna sesuai keinginan Sky. Mereka memutuskan pulang karena dua orang disana tidak juga keluar setelah Yara dan Sky menunggui hampir 2 jam lamanya. Lagipula, sudah ada beberapa bukti foto dan video yang menunjukkan jika Juna telah berselingkuh.


"Ya udah, aku mandi dulu ya..." pamit Yara pada Sky.


"Ikut, boleh?" celetuk pria itu dengan wajah tanpa dosanya.


Yara menggeleng pelan namun dengan tatapan menusuk seolah memprotes ucapan Sky.


"Iya, iya, aku disini aja."


Tampaknya pria itu sudah kembali pada mood baiknya. Kilatan tengil disudut matanya sudah dapat mengartikan segalanya. Sky sangat senang menjahili Yara. Hal itu terbukti saat Yara hendak berlalu dan Sky kembali bersuara.


"Kalau Juna tiba-tiba pulang, gimana?"


"Biarin," kata Yara acuh tak acuh.


Wah, Sky malah senang dengan jawaban Yara yang cuek. Entah kenapa.


"Jadi, kalau dia tanya aku ngapain disini, aku boleh jawab sesuka hati aku, gitu?" tanya Sky memastikan.


"Emang kamu mau jawab apa, Sky?"


"Ya aku jawab lagi ngelonin kamu...." Pria itu menyengir sampai Yara memutar bola matanya.


"Itu namanya kamu bohong!"


"Kalau gitu, kita realisasikan aja, biar aku gak bohong."


"Udah ah, aku mau mandi. Ingat, ya. Kamu disini aja!" kata Yara mewanti-wanti pria tengil itu.


"Serius, Ra... kalau Juna pulang, aku harus jawab apa?" pekiknya pada Yara yang sudah menjauh.


"Terserah. Kamu kan paling pinter ngejawab," kata Yara ikut memekik sebab ia sudah berada dalam kamarnya.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2