
Baru saja Nadine menginjakkan kaki di Singapore Changi Airport, sebuah lambaian tangan sudah dapat ia lihat dari kejauhan. Tidak perlu melihat dengan teliti, karena Nadine sudah langsung mengetahui jika Lucky yang berdiri menunggunya.
Seulas senyum terbit di bibir Nadine, ada rasa rindu yang sulit diutarakan. Hampir sebulan dia tidak melihat wajah tampan suaminya itu. Tapi, jika mengingat pengkhianatan Lucky bersama Firda dibelakangnya selama ini, selalu membuat Nadine sulit untuk tersenyum.
"You're so beautiful, always...." Lucky merangkul Nadine kedalam pelukannya, mengambil alih sebuah travel bag berukuran sedang yang Nadine bawa--seolah tidak pernah terjadi apapun, seakan tidak menyadari bahwa dia telah melukai hati Nadine yang paling dalam.
Sejatinya, Lucky memang tidak pernah tau bahwa Nadine sudah mengetahui pengkhianatannya dengan Firda. Yang pria itu ketahui adalah Nadine merestui pernikahan keduanya karena alasan Lucky menginginkan keturunan sebab Nadine tak bisa memberikannya.
Hal itulah yang membuat Lucky tidak merasa bersalah pada Nadine, sebab dia merasa pernikahannya dengan Firda terjadi karena persetujuan dari istrinya itu.
"Mas?"
Baru saja Nadine ingin menikmati masa kebersamaannya dengan Lucky dan melupakan sejenak kesalahan pria itu, rupanya seseorang hadir diantara mereka dan lantas membuat Lucky segera melepas rangkulan pada bahu Nadine saat itu juga.
Firda ada disana dengan memasang wajah tanpa dosanya.
"Kamu jemput aku kesini bareng Firda, Mas?" tanya Nadine dengan raut kekecewaan yang tercetak jelas.
"I'm so sorry, Firda mau ikut," kata Lucky mencoba meyakinkan Nadine dengan sorot matanya-- bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Hai, Nad. Welcome back. Tadi aku dari toilet. Maklum aja ya, kehamilan aku buat aku sering mual akhir-akhir ini." Firda tersenyum pada Nadine, membuat Nadine muak karena ucapan wanita itu jelas-jelas tengah mengejeknya.
Nadine tak menyahut, dia berjalan lebih dulu--meninggalkan Lucky yang sekarang justru merangkul Firda--dibelakangnya.
Nadine menghela nafas panjang, ia harus kuat, meski menyaksikan hal ini tepat dihadapannya membuatnya sangat jengah dan juga sakit hati.
Jujur saja, Nadine sangat merindukan Lucky. Tapi, apa mau dikata, kedatangannya kesini justru disambut dengan pemandangan yang getir dan menyedihkan baginya.
"Nad, kamu duduk di jok belakang ya," ucap Firda sembari melewati tubuh Nadine yang hampir berhasil menarik tuas pintu mobil untuk duduk di depan.
Tentu saja Nadine syok, Firda semakin berani dan terang-terangan tidak menghargainya.
"Aku didepan," kata Nadine yang langsung menyalip saat Firda sudah membuka pintu. Tentu ia tidak mau kalah atau mengalah.
Melihat itu, Firda langsung mencebik kesal. Baru beberapa menit Nadine tiba di Singapore, sudah mau merebut posisinya. Tidak akan dia biarkan.
"Mas, aku mau duduk didepan, disamping kamu," rengek Firda dari luar jendela mobil dimana Lucky sudah duduk di balik kemudi.
"Sayang, duduk di belakang juga gak apa-apa, ya? Ayo buruan naik."
Firda merengut. "Gak mau, itu kan posisi aku," kata Firda masih merengek.
Sumpah demi apapun, hal inilah yang membuat Nadine enggan pulang. Dia jengkel setengah mati melihat mantan sahabatnya ini. Seberapa besar pun kesabaran yang ada pada diri Nadine, seakan sirna jika melihat kelakuan manja Firda yang berlebihan.
"Nad, pindah, dong! Kamu duduk di belakang aja!" Kali ini Firda berucap pada Nadine, bahkan dia menghentakkan kaki disana.
"Lho, emang kenapa kalau aku duduk didepan?"
__ADS_1
"Itu posisi aku, kamu ambil posisi yang harusnya aku duduki!"
Nadine terkekeh sumbang. "Apa aku gak salah denger? Kamu bilang ini posisi kamu? Gak salah? Bukannya kamu yang ngambil posisiku?" cibirnya dengan senyuman miring.
"Mas, lihat Nadine, dia gak mau pindah!" Firda makin menjengkelkan saja kalau sudah mengadu pada Lucky.
Sekarang Lucky yang menatap Nadine. "Nad, kamu pindah dulu ya kebelakang. Biar aja Firda yang didepan, dia memang sering gak nyaman di belakang, kamu ngalah ya, Firda lagi hamil sekarang."
Memang ucapan Lucky itu terdengar halus dan lemah lembut, tapi entah kenapa itu sangat menusuk untuk didengar oleh Nadine.
"Hal kayak gini aja pake diributin!" gerutu Nadine sambil membuka seatbelt. "Udah mau punya anak, tapi tingkah masih kayak anak-anak!" omelnya sembari turun dari mobil kemudian mengisi jok belakang saat itu juga.
Senyum Firda mengembang seketika, ia mengitari mobil dan masuk di posisi yang dia inginkan.
"Nah, begini baru pas, disamping suamiku memang paling nyaman," oceh Firda seolah menunjukkan bahwa dialah yang sudah memenangkan hal yang tidak penting itu.
Nadine tersenyum masam di posisinya, malas meladeni Firda yang lebay.
"Udah dong, aku gak mau kalian berebut hal-hal gak penting kayak anak kecil," tanggap Lucky sambil menyalakan mesin mobilnya lantas mulai meninggalkan area parkir Bandara saat itu juga.
...~~~...
Tiba di kediaman Lucky, mau tak mau Nadine harus bertemu dengan mertua dan kakak iparnya yang juga tinggal disana.
Mama Lucky memutuskan untuk tinggal dirumah anak laki-lakinya sejak sang suami meninggal setahun yang lalu. Sementara kakak iparnya--memang tinggal disana karena tidak juga menikah sampai usia yang menginjak kepala 4. Sebagai anak lelaki yang juga terbilang sukses, membuat Lucky merasa bertanggung jawab pada kedua wanita itu hingga mengajak mereka tinggal bersama di kediamannya.
Tapi sejak tau Nadine tak bisa punya anak, dan kehadiran Firda dirumah itu, semua terasa seperti neraka.
"Eh, kamu balik lagi kesini, Nad? Kirain gak bakal kesini lagi lho," kata Sonya sang kakak Ipar.
Astaga, belum apa-apa, kepulangannya sudah disambut dengan sinis, batin Nadine.
"Iya, Kak. Gimanapun juga, aku kan istrinya Mas Lucky."
Sonya mengangguk-anggukkan kepala. "Ya, istri yang malang, ups ... kok aku keceplosan ya."
Firda ikut terkekeh akibat perkataan Sonya. Sepertinya dia satu suara dengan ucapan sang kakak ipar. Sementara Nadine harus membesarkan hati dan menganggap semua ucapan mereka hanya angin lalu.
Nadine menyalami takzim tangan mertuanya, meski tangannya disambut, tapi wajah masam Bu Ruqaya sudah memancarkan ketidaksukaannya.
"Nadine masuk dulu, Ma."
"Hmm..."
Nadine ingin masuk ke dalam kamarnya yang ada di rumah besar itu. Dulu hidupnya amat bahagia, suaminya pria tampan yang mapan, tapi sekarang semuanya tidak berarti saat semua harus terbagi.
Sekali lagi, Nadine pikir dia bisa kuat untuk berbagi sebab kekurangan itu ada padanya, sayangnya itu tidak semudah yang ia kira. Apalagi Lucky dan Firda sudah berkhianat jauh sebelum ia merestui hubungan keduanya.
__ADS_1
Sampai di kamarnya, Nadine hampir saja memekik keras.
Astaga apa lagi ini. Semua isi kamarnya berubah. Desain, warna, bahkan tempat tidur dan perkakasnya tampak berbeda.
"Mas???" Nadine tak bisa menahan diri yang semakin emosional.
Lucky datang dengan gerakan tenangnya. Padahal sekarang ia dapat melihat kemarahan dimata sang istri, tapi dia ingin menghadapi Nadine dengan perlahan dan tak mau membalasnya dengan kemarahan juga.
"Ada apa, Sayang?"
"Kenapa kamar kita berubah? Aku baru ninggalin rumah ini satu bulan, kenapa semuanya jadi berbeda?"
"Karena---" Kalimat Lucky terhenti sebab seseorang langsung menimpali.
"Karena ini bukan kamar kamu lagi, Nad." Firda yang menyahut dari belakang tubuh sang suami.
"Maksudnya?"
"Ya, ini sekarang kamar aku. Tepatnya, kamar aku bareng Mas Lucky." Firda mengembangkan senyum penuh kepuasan setelah kalimatnya tercetus.
"Apa?"
"Gak usah kaget gitu, Nad. Di rumah ini ada banyak kamar, kamu bisa memilih kamar mana yang paling cocok buat kamu. Tapi, kalau kamar yang ini udah jadi kamar aku sekarang."
Nadine menatap Lucky yang menundukkan pandangan, tatapan itu seolah menanyakan apa maksud dari semua ini?
"Nad, Firda paling cocok di kamar ini, karena pemandangan dari balkon sini pas sama matahari pagi, jadi itu cocok buat kesehatan Firda dan janin dalam kandungannya," kata Lucky mencoba menjelaskan dan memberi pengertian pada Nadine agar wanita itu mau memahami kondisinya.
"Oh my, God! What the hell! Keputusan aku pulang kesini emang sia-sia!" kata Nadine yang langsung menarik diri untuk keluar dari kamar utama itu. Bahkan suaminya tidak sekalipun membela dan memikirkan perasannya mengenai hal ini.
Kenyamanannya di rumah sudah dirampas, apa ini masih tempat aman untuk dia pulang? Bukankah rumah untuk tempat berlindung? Bukankah suami bertugas melindungi istri? Lalu siapa Nadine bagi Lucky sekarang?
"Kebetulan barang-barang kamu yang dulu di kamar ini udah aku minta sama ART buat dipindahin ke kamar bawah. Itu, kamar yang disebelah ruang fitness." Firda kembali menjelaskan.
Nadine menghentikan langkah dan menatap Lucky lagi. Kali ini, sorot matanya seolah bertanya, kenapa Lucky membiarkan saja semua ini terjadi? Kenapa Lucky tidak mencegahnya?
Pria itu akhirnya membalas tatapan Nadine. "So sorry, Nad..." ujarnya dengan tatapan sendu yang membuat Nadine sangat muak.
Nadine segera berlalu, menuruni tangga hingga akhirnya dia masuk ke dalam kamar yang dimaksudkan oleh Firda tadi.
Disana Nadine memang menemukan perkakasnya. Tapi, semua disusun asal dan tidak beraturan. Bahkan lantainya tidak disapu dan berdebu. Jelas saja, itu kamar yang tidak digunakan selama ini. Bahkan keadaan kamar tamu mungkin jauh lebih baik ketimbang kamar yang diberikan untuknya sekarang.
"Hahahaha..." Nadine tertawa sumbang. "Welcome to the hell, Nad," katanya berujar pada diri sendiri.
Bersambung ....
Berikan dukungan terus. Othor udah crazy up tiap hari loh ini. Kopi mana kopi? ✌️😅 Tungguin 2 bab lagi yukk🥰
__ADS_1