EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
170. Berkat di waktu yang tepat


__ADS_3

Nadine tengah sibuk membuatkan su-su untuk kedua anaknya ketika sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang.


"Mas ..."


"Biarin dulu gini, lima menit ... aja," kata Anton yang mulai menyandarkan wajah ke ceruk leher istrinya.


"Tapi, aku lagi buatin su-su buat anak-anak, Mas. Lagian mereka juga belum tidur."


"Sebentar aja, Sayang. Tiga menit juga gak apa-apa."


Nadine mau menyetujuinya, namun saat Anton selesai dengan kalimatnya, tiba-tiba suara seseorang menginterupsi kegiatan mereka.


"Ayah? Bunda?"


Refleks Anton segera melerai pelukannya di tubuh Nadine dan keduanya sontak menoleh ke sumber suara. Disana tampak Elara yang memasang wajah cemberut.


"Tuh, kan, apa aku bilang," kata Nadine yang kini menahan gelak. Dia sudah bisa menebak keadaannya.


Elara selalu cemburu jika Anton memperlakukan Nadine dengan mesra, padahal Nadine adalah istrinya tapi Elara seolah tidak mau berbagi kasih sayang wanita itu dengannya.


"Huppp ..." Anton menghela nafas panjang. Beberapa kali dia memberi Elara pengertian, nyatanya gadis kecil itu tetap selalu marah jika melihat Anton dan Nadine terpergok sedang intens didepan matanya.


"Udah ya, aku anterin su-su dulu buat mereka," kata Nadine sembari mencoel pipi Anton sekilas.


Anton hanya bisa garuk-garuk kepala tak jelas.


Jika Elara mencemburui Nadine, beda halnya dengan Liora yang mencemburui Anton. Intinya tetap sama, mereka tidak boleh melakukan interaksi mesra didepan anak-anak itu kalau tidak mau terjadi kecemburuan yang nyeleneh diantara kedua putri mereka.


Liora selalu menuntut Anton untuk lebih perhatian kepadanya. Sedangkan Nadine, selalu dikuasai oleh Elara-- bahkan sejak gadis kecil itu masih bayi, iya kan?


"Nih, bunda udah buatin su-su buat Kakak Ela sama adik Lio. Minum dulu ya," kata Nadine yang memasuki kamar putrinya.


Elara tampak masih marah, dia melipat tangan di dada dan membuang pandangan ke arah jendela.


Nadine tersenyum karena sikap yang ditunjukkan sang putri. "Kakak Ela, Bunda boleh tanya sesuatu, gak?" katanya dengan sangat lembut dan hati-hati, Nadine tau Elara sedang dalam mood yang tak baik sejak melihat Anton memeluknya saat di dapur tadi.


Lambat laun, gadis kecil itu pun mengangguki pertanyaan sang ibu,sebab dia juga tidak bisa mendiamkan Nadine terlalu lama. Elara selalu luluh pada wanita itu.


"Kenapa Kakak Ela selalu marah kalau Ayah deket sama Bunda? Memangnya, gak boleh, ya?"

__ADS_1


"Ya Bunda kan bundanya Ela, Ayah gak boleh ambil bundanya Ela, dong!" sahut gadis yang belum genap berusia 6 tahun itu.


"Tapi kan, Bunda istrinya Ayah. Ayah gak akan ambil Bunda dari Kakak Ela, kok. Apa itu tetap gak boleh juga, ya?"


"Enggak," kata Elara mantap.


"Kakak Ela tau gak, kenapa Ayah begitu sama Bunda?"


Elara menggeleng dalam posisinya, namun dengan ekspresi wajah yang masih sama. Ditekuk.


"Itu karena Ayah sayang sama Bunda. Sama kayak Ayah sayang sama Kakak Ela juga. Makanya, kadang Ayah cium dan peluk Kakak Ela dan Adek Lio juga. Itu tandanya Ayah sayang sama kita bertiga."


Mata bulat Elara menatap Nadine dengan pancaran rasa ingin tahu yang tinggi. Berkedip-kedip seakan mencerna ucapan yang Nadine sampaikan.


"Ayah kan orangtua Kakak Ela, jadi kalau gak ada Ayah, Kakak sama Adek gak bakalan ada disini sama Bunda. Kedepannya, Kakak gak boleh marah sama Ayah lagi, ya?"


Elara tidak menyahuti ucapan Nadine, dia masih saja mencerna ucapan wanita itu.


"... Ayah juga bagian dari keluarga, bukan cuma Bunda, Kakak Ela dan adik Lio aja. Malah Ayah adalah kepala keluarganya, lho. Ayah yang susah-payah cari uang untuk sekolahin Kakak, beli su-su Kakak. Jadi, Kakak gak boleh cemburu lagi sama Ayah."


"Cemburu itu apa, Bund?" celetuk Elara kemudian.


"Cemburu itu, ya kayak yang tadi Kakak Ela lakuin. Ayah peluk bunda, dan Kakak gak nerima. Kakak marah sama Ayah. Padahal kan, Ayah mau menyayangi Bunda. Boleh kan, kalau Ayah sayang sama Bunda? Emang Kakak gak senang kalau banyak yang menyayangi Bunda juga?"


"Nah, kalau gitu, mulai sekarang Ayah, Kakak dan Adek yang ngakunya sayang sama Bunda ... harus sama-sama jagain Bunda. Bisa dong, ya?"


"Bisa, Bund!" jawab Elara yang kembali bersemangat.


Diam-diam, Anton memperhatikan interaksi Elara dan Nadine dari ambang pintu kamar anaknya. Dia bersyukur teramat sangat karena Tuhan menghadirkan sosok ibu seperti Nadine untuk Elara. Wanita itu seperti berkat yang dikirimkan diwaktu yang tepat. Tidak salah Anton jatuh hati padanya dulu--sampai pria itu merasa beruntung setiap mengingat perjuangan Nadine dalam membesarkan Elara, meski nyatanya dia bukan ibu kandung yang melahirkan putri pertamanya itu.


"Jadi, kalau kita sayang sama orang lain, kita boleh peluk orang itu? Sama kayak yang Ayah lakuin ke Bunda?"


Nadine meringis mendengar pertanyaan Elara kali ini. Gadis kecilnya memang sangat kritis sehingga kadang dia takut salah berujar dan menyebabkan Elara akan membuat sebuah pertanyaan jebakan seperti yang saat ini dia lontarkan dihadapan Nadine.


"Elara boleh peluk Ayah, Bunda dan Adek, karena kita adalah keluarga. Tapi, diluar lingkup itu, Elara gak boleh meluk orang sembarangan." Anton masuk dan dialah yang menjawab pertanyaan sang putri.


"Kalau peluk temen, boleh, yah? Elara sayang sama Lala, Chikita dan Giva. Boleh kan, yah?" Gadis kecil itu kini menatap Anton dengan tatapan polosnya.


"Boleh. Tapi, gak boleh berlebihan dan keseringan, hanya boleh disaat tertentu, misal Elara mau memberi dukungan pada mereka dan menghibur saat mereka sedang sedih."

__ADS_1


"Tapi lebih baiknya, untuk saat ini Kakak Ela hanya boleh peluk keluarga aja," tambah Nadine, dia takut putrinya menyalahartikan sebuah pelukan dan akan mempraktekkan pada orang yang salah dan tidak sesuai porsinya.


"Gitu ya, Bund? Yah?"


Kedua orangtua itu lantas mengangguk dan Elara akhirnya memahami ujaran Nadine dan Anton sebab dia menyunggingkan senyum puas.


"Nah, sekarang Elara minum su-sunya ya. Abis itu, gosok gigi dan tidur." Anton melirik ke arah Liora yang terlihat sudah terlelap. "Lihat, Adek Lio aja udah tidur duluan, wah ... gak keminum deh su-sunya, padahal udah dibuatin Bunda."


Mereka sontak melihat pada Liora yang dimaksudkan oleh Anton. Elara tertawa singkat, kemudian buru-buru meminum cairan yang bernutrisi yang tadi dibuatkan sang Bunda.


"Nah, sekarang gosok gigi, abis itu tidur ya, Nak."


Anton mengecup pipi Elara bergantian kiri dan kanan. Kemudian mendatangi posisi Liora dan melakukan hal serupa. Setelah itu, dia memutuskan beranjak lebih dulu untuk memasuki kamar pribadinya.


"Sayang, aku tunggu di kamar ya," pamit Anton kepada sang istri. Nadine mengangguk dengan senyuman hangatnya, dia akan memastikan Elara selesai menggosok gigi dulu dan tidur, barulah dia akan menyusul sang suami ke kamar mereka.


Suara deritan pintu yang dibuka, membuat Anton menoleh, Nadine sudah selesai dengan anak-anak mereka dan kembalinya sang istri ke dalam kamar merupakan kelegaan yang membuat Anton menghela nafas ringan.


"Udah tidur Elara-nya?"


Nadine mengangguk sembari menutup pintu kembali. Dia membuka kimono yang sejak tadi dia gunakan, hingga menyisakan baju tidur tipis yang menutupi tubuhnya yang tengah berbadan dua.


Nadine naik ke tempat tidur dan mengambil posisi ternyaman yaitu dibawah lengan suaminya yang sudah terbentang. Dia menghidu aroma khas suaminya yang belakangan hari sangat dia rindukan.


"Maaf ya, beberapa hari ini aku sibuk ngurusin Yara dan Sky di Rumah Sakit."


Meski tiap malam Anton tetap pulang ke rumah setelah menyelesaikan urusan adiknya, tapi baru malam ini dia dapat mengobrol ringan dengan istrinya lagi, sebab biasanya saat dia pulang sang istri sudah terlelap dan mereka baru bertemu keesokan harinya, begitu seterusnya selama beberapa hari terakhir.


"Gak apa-apa, Mas. Aku ngerti. Aku mau ketemu Yara nanti. Aku tau dia pasti syok karena beberapa masalah yang datang terutama saat Sky dinyatakan meninggal."


Anton menatap pada netra sang istri. "Kejadian ini buat aku belajar, Sayang. Aku gak mau ninggalin kamu lebih dulu. Pasti kamu bakalan kocar-kacir dan bingung kalau sendirian," katanya sembari semakin mengeratkan pelukan pada bahu sang istri.


"Jadi, kamu mau aku yang lebih dulu meninggalkan kamu?" tanya Nadine kemudian.


Anton menipiskan bibir. "Itu juga aku gak bisa. Aku bahkan gak mau ngebayanginnya."


"Lho? Jadi ini maksudnya gimana? gak mau ninggalin dan gak mau ditinggalin? Emang kita manusia abadi? Kelak kita juga bakal ngerasain kehilangan itu, Mas. Terlepas siapa yang lebih dulu, aku atau kamu."


"Ya, memang. Untuk itu aku akan berusaha ngejaga kamu dan anak-anak sebaik mungkin. Jadi, jikapun nanti aku yang lebih dulu pergi, kalian udah siap menerimanya dan gak merasa linglung lagi."

__ADS_1


"Aku juga gak bisa kehilangan kamu, Mas. Kayaknya lebih baik aku yang duluan pergi."


Bersambung ...


__ADS_2