EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
121. Perhelatan


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Yara dan Sky akhirnya terlaksana.


Wajah-wajah yang tak asing mulai bermunculan disana.


Yara sendiri melakukan pemeriksaan dan diberikan obat anti mual oleh Dokter sebelum prosesi itu berlangsung. Bagaimanapun, kondisi fisik dan kandungannya adalah prioritas utama sekarang.


"Gua ya kaget pas dapat undangan nikah kalian berdua." Ilyas dengan wajah senang menjabat dan memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Beberapa kalimat yang menunjukkan keterkejutannya terkait pernikahan Sky dan Yara juga terucap terang-terangan didepan pasangan tersebut.


"Selamat guys. Aku ikut bahagia untuk kalian." Rina memeluk Yara cukup lama. Ia senang dan terharu akhirnya Semesta berpihak pada Sky dan Yara-- hingga merestui mereka dalam jalinan pernikahan yang resmi.


"Makasih ya, Rin. Aku banyak berhutang budi sama kamu," kata Yara membalas ucapan Rina.


"Yah, it's true! Bayar itu dengan kebahagiaan kalian. Aku gak mau denger kamu sedih lagi setelah ini, Ra."


Rina yang terbiasa bicara blak-blakan tak segan mengutarakan kalimatnya. Sekarang dia menatap Sky dengan sorot tajam.


"Lo ingat janji lo sama gue soal Yara?" tanya wanita itu.


Sky terkekeh pelan. "Iya, gue gak lupa."


Sky tau yang dimaksud Rina adalah janji untuk tidak membuat Yara merasakan sakit hati seperti yang dulu Juna berikan kepada sang istri. Pesan Rina itu memang ia ingat baik-baik, sebab ia tau mendapatkan Yara memang tak mudah. Ya, setidaknya ada ucapan Rina yang membekas dalam hati Sky dan akan dia jadikan pendirian hidup. Ia tak akan melakukan hal yang dilakukan Juna, ia tak akan menyakiti Yara dengan pengkhianatan, sebab ia sudah melihat sendiri bagaimana kecewanya wanita itu saat merasakan hal tersebut kala masih berstatus sebagai istri Juna.


"Nah, bagus." Rina menepuk-nepuk punggung tangan Sky dengan sikap akrabnya.


Selain teman-teman Sky dan Yara, mereka juga mendapat selamat dari sahabat Sky yang tidak lain adalah Beno.


"Sekai.... sahabatku ... akhirnya gak jomblo lagi. Udah tau enaknya menikah, kan? Gimana?" Beno memberi ucapan lebaynya didepan Yara, membuat istri Sky itu tergelak sebab sikap sahabat suaminya itu.


"Iye, udah tau aku. Ternyata nikah itu gini ya. Aku rada nyesal sih..." kata Sky membuat Yara, Beno dan Jennifer jadi menatap Sky dengan pandangan kaget.


"Hehe, maksudnya aku nyesal, kenapa gak dari dulu aja aku nikahnya ... kalau tau nikah enak, pasti udah dari dulu aku nikahin Yara," sambung Sky membuat Beno mendengkus, sementara Yara dan Jenifer memutar bola mata.


"Kalau dulu kau nikahi Yara, mana bisa. Kau dan Yara sama-sama masih bocah!"


"Bisa lah," kata Sky tak mau kalah.


"Iya, terserahmu aja. Malas aku berdebat sama kau!" kata Beno bersungut-sungut.

__ADS_1


Yara tampak sangat cantik hari ini. Dia tidak mengenakan gaun pengantin yang mewah, melainkan dia hanya mengenakan pakaian adat Sunda yang sangat cocok ditubuhnya. Meski tak terkesan glamour, tapi penampilan Yara hari ini sukses membuat semua mata memandangnya takjub. Tak terkecuali sang mantan yang juga hadir disana.


"Selamat untuk pernikahan kalian. Ternyata hubungan yang kalian sembunyikan sejak lama, akhirnya harus diumumkan juga, ya."


Sebenarnya, mengetahui kedatangan Juna ke pesta pernikahan mereka ini--membuat keduanya saling menatap heran sebab mereka tak merasa telah mengundang pria itu.


Juna tersenyum sinis ke arah Sky dan Yara yang memasang wajah bingung atas kehadirannya.


"Selamat, Pak Sky... akhirnya anda berhasil mendapatkan bekas istri saya."


Astaga, Yara sangat malu dengan ujaran Juna, apalagi dia menekankan setiap perkataannya itu dan lagi Yara takut ucapan Juna justru menyulut kemarahan Sky ditengah-tengah perhelatan ini.


"Mas, kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu harus datang kalau berniat untuk mengatakan hal sampah kayak gini?" omel Yara. Ia kesal, sebab akibat ucapan Juna itu--banyak tamu yang menatap kepada mereka. Juna seperti terang-terangan dan sengaja untuk mempermalukan kedua pengantin itu.


"Anda tenang saja, meskipun saya mendapatkan Yara setelah lebih dulu dinikahi oleh Anda, tetapi saya sangat percaya bahwa saya jauh lebih baik ketimbang anda dari segi manapun dan aspek apapun." Sky mengakhiri kalimatnya dengan senyuman smirk yang terkesan meremehkan Juna.


"Breng sek!" gumam Juna yang kali ini berucap pelan, namun dapat didengar kedua pengantin tersebut.


"Jangan membuat keributan di acara saya, karena saya tidak akan tinggal diam setelah ini," kata Sky mengancam, namun tetap dengan senyuman yang sama.


"Tolong kamu pergi dari sini, Mas!" pinta Yara sambil menatap Juna dengan tatapan memohon.


Sky menggeleng samar, orang seperti Juna tidak akan pergi semudah itu apalagi sudah ditampar dengan kenyataan seperti ini.


"Kenapa anda membuang waktu untuk hadir disini? Jika anda menyesal karena sudah membuang berlian, maaf, berlian nya sudah menjadi milik saya dan jangan harap bisa anda miliki kembali!" Sky menunjuk keras dada Juna dengan jarinya, menyebabkan tubuh Juna sedikit bergeming karena aksinya itu.


Sebelum Juna semakin emosional karena hal ini, Sky langsung memberi kode pada Security yang ada disana. Ia tak mau Yara syok jika ada adu jotos diantara mereka saat ini juga. Lebih baik Juna disingkirkan, meski Sky pun tak akan gentar jika memang mereka harus terlibat baku hantam.


Juna dibawa paksa oleh dua orang security disana, kejadian itu tak luput dari pandangan orang-orang sekitar. Banyak yang berbisik-bisik, tapi Sky lebih memilih untuk mengkhawatirkan keadaan istrinya-- ketimbang memikirkan opini publik yang tercipta akibat kejadian barusan.


"Kamu istirahat aja dulu di kamar. Oke?"


Yara mengangguk, jujur saja ia merasa pusing sekarang.


Sky mengantarkan Yara ke kamar hotel yang memang sudah dipersiapkan untuk mereka. Dibantu oleh Indri yang juga menyadari wajah pucat menantunya.


"Harusnya kalian gak undang pembuat keonaran kayak gitu," kata Indri.

__ADS_1


"Kita sama sekali gak ada yang mengundang dia, Ma."


Indri pun tak habis pikir-- bagaimana bisa Juna memasuki ballroom hotel-- padahal jika itu memang tamu--maka dia harus memiliki surat undangan sebagai akses masuk.


"Ya udah, kalian disini dulu, mama mau nyambut tamu yang lain ya."


Indri meninggalkan Yara dan Sky disana untuk kembali menjamu tamu-tamunya yang hadir dalam resepsi pernikahan sang putra.


"Pak Lucky... terima kasih sudah turut hadir dan datang jauh-jauh kesini." Indri menyambut hangat kedatangan rekan bisnisnya selama di Singapore, pria itu tak lain adalah Lucky.


Lucky sendiri, selain ingin menghadiri undangan dari rekan bisnisnya ini, dia juga terbang ke Indonesia dengan maksud lain. Tentu untuk menemui Nadine terkait permasalahan rumah tangga mereka.


Sejak awal, Lucky memang mau langsung menyusul Nadine, tetapi karena kondisi Firda yang tak memungkinkan untuk ditinggal, maka dia masih menundanya.


Belum lagi ponsel Lucky yang dikuasai oleh Firda, dengan alasan mengidam. Lucky tak bisa melarang keinginan aneh istri mudanya.


Bukan dia tak mau menghubungi Nadine lewat alternatif lain, tapi Lucky memang tak pernah menyalin atau menghafal kontak sang istri dan untuk ini dia sempat sangat merutuk diri, karena keteledorannya ini-- dia dan Nadine nyaris tak berkomunikasi hampir sebulan lamanya.


"Terima kasih, Bu Indri. Saya memang baru tiba di Indonesia beberapa saat lalu. Kebetulan saya juga menginap di hotel ini dan sekalian menghadiri undangan dari Bu Indri."


"Iya, iya, Pak. Wah, terima kasih banyak. Waktu Pak Lucky yang berharga-- harus dihabiskan untuk menghadiri pernikahan putra saya."


Lucky mengangguk, kemudian mereka berbincang sekilas mengenai kesibukan masing-masing, meski berbeda generasi tapi obrolan sesama pebisnis itu memang sangat nyambung.


Namun, atensi Lucky seketika teralihkan saat melihat sesosok wanita yang tak asing dalam acara pernikahan putra Indri. Dia adalah Nadine yang sedang menggendong bayi, tampak sangat keibuan dan menyejukkan perasaan Lucky--seketika itu juga.


"Nadine?" gumam Lucky membuat Indri terheran-heran.


"Ada apa, Pak?"


"Maaf, Bu Indri, saya kesana sebentar ya, kebetulan ada seseorang yang saya kenali disana."


"Oh, iya iya, silahkan Pak."


Bersambung ....


Tekan jempolnya. Berikan dukungan Like, vote dan gift. Jangan lupa berikan komentar dan bintang juga ya🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2