
Pagi harinya, Yara tersentak kaget. Kala matanya baru saja terbuka, ia langsung mendapati Juna yang menatapi wajahnya dari jarak yang dekat dengan tatapan yang terlihat tak senang.
"Ke-kenapa, Mas?" Yara memberanikan diri untuk bertanya.
Juna masih diam saja, tapi sekarang Yara sudah yakin jika sang suami tengah menaruh suatu amarah kepadanya.
Apa Juna marah karena semalam ia tinggal tidur dan kembali tak menepati janjinya?
"Mas?"
"Jawab aku dengan jujur, Ra!" Itu ucapan pertama yang akhirnya keluar dari bibir Juna di pagi ini.
Yara terkesiap mendengar intonasi suara Juna yang cukup meninggi itu. "Apa, mas?" tanyanya gugup.
"Darimana kamu dapatkan tanda itu?" tanya Juna seraya menunjuk ke arah dimana sebuah kissmark nampak tercetak pada bagian tubuh istrinya.
Yara meng-gigit bibir. Kemudian merundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak memiliki alasan untuk menutupi hal ini.
Bagaimana ini? Tuhan, beri ia Ilham untuk mengarang sebuah kebohongan. Astaga....
"Jawab aku, Yara!" sentak Juna yang sepertinya sudah sangat emosional.
Entah keberanian darimana, Yara justru kembali menegakkan wajah. Ia menatap Juna seakan menantang tatapan tajam pria itu.
"Apa sih, Mas? Ini cuma digigit semut. Aku kasi salep, rupanya kulit aku gak tahan sama salepnya, jadinya justru semakin parah. Kenapa berlebihan banget!" ketus Yara.
Yara sadar ia salah, tapi ia juga tidak mungkin mengakui dosanya didepan Juna, selagi ia masih bisa berkilah maka ia akan melakukan itu demi mempertahankan nama baiknya.
"Jangan bohong kamu, Ra! Aku gak bo doh, itu gak terlihat seperti digigit semut!" Kembali Juna menghardik.
"Jadi? Maksud Mas apa? Mau bilang ini kenapa?"
Seketika itu juga Juna terdiam. Ia tidak kuasa melontarkan isi pikirannya yang nantinya justru berakhir dengan sebuah tuduhan yang tidak-tidak kepada Yara.
"Udahlah, Mas. Masih pagi kamu udah buat aku senewen," kata Yara sambil bersungut-sungut.
Wanita itu pun beranjak dari tempat tidur, ia menuju kamar mandi. Sebenarnya ini adalah metode untuk menghindari pertanyaan Juna lebih lanjut.
Juna mengusap kasar wajahnya sendiri. Mungkin memang ia yang terlalu berpikiran kotor terhadap istrinya sendiri. Lagipula, ia menyangka demikian karena ia benar-benar takut jika Yara sampai membalas perbuatannya dengan hal yang sama.
Juna takut Yara mengkhianatinya. Ia tidak mau hal yang ia lakukan pada Yara, berimbas sama dengan yang Yara lakukan kepadanya. Ia tidak mau itu sampai terjadi.
"Kayaknya aku yang berpikir terlalu jauh. Yara gak mungkin begitu dia terlalu polos untuk hal-hal seperti itu," batin Juna mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Sampai pada Yara yang sudah menyiapkan sarapan sebelum Juna berangkat bekerja, wanita itu memilih mendiamkan Juna. Selain ia merasa bersalah telah mengkhianati, sekarang ia juga merasa berdosa karena telah membohongi sang suami.
Sementara Juna, mengira Yara mendiamkannya karena ia sempat hampir menuduh yang bukan-bukan pada wanita itu.
"Maafin aku, ya..." celetuk Juna ditengah-tengah kegiatan makan mereka pagi itu.
Yara tertegun. Kenapa pula Juna meminta maaf padanya? Bukankah disini ia yang salah? Apa Juna merasa bersalah karena pria itu sudah mempercayai alasan yang dibuat-buatnya tadi?
"Maafin aku, Ra. Aku udah berpikiran yang enggak-enggak sama kamu. Aku begitu karena aku takut kamu ada main dibelakang aku." Kembali Juna angkat suara.
"Kamu tau gak, Mas, siapa yang paling curiga itu.... biasanya, karena sebenarnya dia sendiri yang seperti itu," tukas Yara terdengar ambigu.
Yara tidak berniat menyindir Juna, karena iapun tak mengetahui kelakuan Juna dibelakangnya, tetapi ia berucap demikian karena belajar dari pengalaman orang lain dan asal menyebutkan saja didepan suaminya dan tentunya untuk membela diri.
Mendengar ucapan Yara, Juna jadi terbatuk-batuk. Ia sedikit merasa dan tersinggung.
"Uhuk... uhukk!"
Apa istrinya memang tengah menyindir kelakuannya sekarang? Juna pun langsung menandaskan air didalam gelas saat itu juga.
"Maksud kamu apa?" tanya Juna akhirnya.
__ADS_1
Yara tersenyum kecut. "Ya, gak maksud apa-apa sih, Mas. Aku cuma gak mau.... kamu nuduh aku yang enggak-enggak, nyatanya tuduhan kamu itu justru adalah kelakuan kamu sendiri," kata Yara random.
Mata Juna langsung terbelalak. Tapi, buru-buru ia menguasai keadaan sehingga terlihat kembali biasa-biasa saja.
"Aku kan, gak ada nuduh kamu, Ra!" Suara Juna terdengar sedikit melunak dari sebelumnya.
"Ya, kalau gak nuduh jadi tadi itu apa? Kamu buat badmood di pagi hari, tau gak!"
"Kan, aku udah minta maaf barusan. Lagian, aku gak bermaksud nuduh kamu yang enggak-enggak. Aku cuma tanya, di dada kamu itu tanda apa sampe merah ke biru-biruan kayak gitu."
"Memangnya pas kamu ngeliat, kamu mikirnya itu kenapa, mas?"
"Ya aku kira itu karena..." Juna memilih tak melanjutkan kalimatnya.
Yara tersenyum sinis. "Karena apa, Mas?" tanyanya malah menantang.
Juna langsung mendengkus dan berdiri dari duduknya. "Udahlah, gak usah di bahas lagi. Kalau emang tanda itu karena digigit semut, ya udah, kamu obati pake salep yang cocok, jangan sampai makin parah kalau udah tau kulit kamu sen si tif," tutup Juna mengakhiri kalimatnya.
Seperginya Juna, Yara terduduk dengan menghela nafas lega. Akan tetapi, ia juga merasa bahwa sikapnya pada Juna sudah keterlaluan.
"Udah aku yang salah, malah aku yang ngotot sama Mas Juna," gumam Yara sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
...~~~~...
Saat jam makan siang, Sky merasa bosan sendiri di kantornya. Ia pun memiliki sebuah ide yang akan membuatnya tidak kebosanan lagi.
Sky mengirimi Yara pesan. Ia sudah mengetahui nomor pribadi wanita itu dari grup SMA dimana ia dan Yara sudah menjadi anggotanya.
[Udah makan siang belum? Aku jemput ya, kita makan siang bareng.]
Terkirim, tapi belum terlihat dibaca.
Sky menunggu sembari menghitung dalam hatinya. Ia berharap di menit ketiga Yara sudah membalas pesannya, nyatanya pesan itu hanya menunjukkan tanda centang dua berwarna putih ke abu-abuan.
Kesal, tentu saja, tapi sejak ia memutuskan untuk mengejar Yara kembali, maka sejak itu pula mentalnya harus dibangun lebih kuat daripada baja sekalipun.
Tak sabar terus menanti balasan, akhirnya Sky memutuskan untuk menelpon ke nomor Yara.
Panggilan pertama tak terjawab, yang kedua juga sama.
"Kalau setelah ini pesan aku gak kamu balas juga, jangan salahin aku karena aku bakal datang lagi ke rumah kamu."
Sky mengirim pesan suara itu ke nomor Yara. Ia makin kesal, karena nyatanya ia sempat melihat notif bahwa wanita itu tengah 'online', tetapi sepertinya Yara memang sengaja mengabaikan segala pesan serta panggilan darinya.
Menunggu 2 menit, akhirnya Sky menyunggingkan senyum karena semua pesannya pada Yara akhirnya sudah bertanda centang biru. Yara juga pasti sudah mendengar voice note darinya.
[Jangan ngelunjak, Sky! Jangan berani-berani datang kesini lagi!!!!!]
Begitulah balasan pesan Yara-- yang bukannya membuat Sky takut, malah membuat pemuda itu terkekeh senang.
[Kalau aku nekat lagi? Gimana dong?]
[Aku marah sama kamu.] balas Yara.
Kembali Sky menyunggingkan senyum. Menggoda Yara sampai membuatnya marah justru sebuah hiburan tersendiri bagi pria itu.
[Aku seneng kalau kamu marah. Jadi pengen lihat langsung. Aku kesana ya.]
[Dasar sin ting!] Yara kembali membalas.
Sky yakin wanita itu benar-benar tengah kesal saat membalas pesannya kali ini.
[Tapi ngangenin, kan?]
[Udah, ya, aku sibuk.] Balasan Yara selanjutnya.
__ADS_1
"Uluh, juteknya...." gumam Sky sembari kembali mengetik pesan sambil senyum-senyum sendiri.
[Tunggu dulu dong, aku belum dikasi asupan.] Pesan Sky pun terkirim.
Yara tak membalas lagi, kendati demikian Sky tahu jika Yara sudah membaca pesannya yang terakhir.
Buru-buru Sky mengalihkan obrolan chat menjadi panggilan suara. Ia belum puas jika belum mendengar suara Ayara-nya.
Jika kali ini Yara tidak mau menerima panggilannya lagi, maka ia sudah berniat untuk benar-benar mendatangi lagi kediaman wanita itu, saat ini juga.
"Apa, Sky?"
Mendengar Yara menerima panggilannya, justru membuat Sky tergelak.
"Udah puas ketawanya?" sungut Yara dari seberang panggilannya.
"Belumlah. Apanya yang puas, belum juga dipuasin," kelakarnya.
"Gak waras!" kata Yara kemudian.
Sky kembali terbahak kencang. Mood baiknya langsung muncul jika mendengar suara omelan Yara.
"Tadi malam kamu kan janji mau ketemu aku. Ber-du-a." Sky menekankan kata 'Berdua' sebagai bentuk peringatan pada sang wanita.
"Iya, tapi sekarang aku lagi sibuk."
"Sibuk ngapain?"
"Lagi masak, Sky."
"Wah... calon istri idaman Sky..."
"Udah ya, aku matiin teleponnya."
"Iya deh, tapi kasi dulu asupannya." Sky mengulumm senyuman ditempatnya.
"Apa, sih? Dari tadi asupan asupan terus yang dibahas. Aku si---"
"Aku datang kesana sekarang, ya."
"Hah? Iya-iya, kamu mau asupan apa?"
"Asupan cinta dong," jawab Sky dengan pedenya.
"Tapi Sky? Kamu selalu aja aneh-aneh, uhsss!"
"Ayara, ayolah!"
Terdengar helaan nafas panjang dari Yara di seberang sana.
"I love you..." kata wanita itu pada akhirnya. Suaranya terdengar sangat lembut dan pelan namun Sky bisa mendengar itu dengan sangat jelas.
Seketika itu juga Sky langsung kesenangan, ingin rasanya ia berlonjak-lonjak sekarang.
"Sky juga cinta Ayara ...." balasnya, tetapi rupanya panggilan itu sudah dimatikan sebelah pihak oleh Yara. Sehingga wanita itu pasti tidak sempat mendengar ucapannya yang terakhir.
"Hmmm, gak apa-apa Yara gak denger. Kan, masih ada banyak waktu untuk kita berdua," batin Sky.
Bersambung ....
*****
Udah ya, udah othor buat mereka bucin-bucinan. Mau lanjut terbucin-bucin? Hahaha, tinggalkan komentar👇👇👇👇👇 beri vote, kopi dan kembang sekebon🤭
Othornya lama-lama kayak Sky, yekan? Ngelunjak🤭😅 Eh, tapi ngangenin juga🤣 wes pede banget.... aku udah ketularan Sky kayaknya.
__ADS_1