
Elara termasuk mahasiswi yang pintar dan dapat diandalkan. Dia bahkan mendapat jalur khusus akselerasi hingga akhirnya menyelesaikan kuliah dalam waktu yang cukup singkat.
Setelah lulus kuliah, Elara menjadi Asdos alias Asisten Dosen Sementara di Universitas yang sama dengan tempatnya menggali ilmu.
Elara menganggap pekerjaannya saat ini adalah pengalaman yang berarti, sebelum nantinya dia akan kembali ke negara kelahirannya untuk memanfaatkan ilmu yang dia dapat.
Elara mempunyai cita-cita untuk mengajar di sekolah-sekolah yang ada di pedalaman dan pelosok. Tak mengapa jika nanti ijazahnya yang lulusan luar negeri justru tidak terpakai, sebab jiwa sosial yang ada pada dirinya lebih tinggi ketimbang sebuah gelar yang dia sandang.
Tadinya, Elara bahkan tidak berniat untuk kuliah sampai ke Jerman, tetapi dia justru mendapatkan jalur undangan untuk terus melanjutkan study dan hal itu mendapat dukungan penuh oleh keluarga besarnya. Tentu Anton dan Nadine sangat mensupport segala hal yang positif untuk putri sulung mereka itu.
"Ela ..."
Gadis dengan dimple di dagu itu tersenyum pada Kyle--yang menghampirinya. Dia dan Kyle sudah bersahabat sejak masih sama-sama menjadi mahasiswa baru di Universitas tersebut.
"Kau menjemputku?" tanya Elara pada pria berkulit putih itu.
"Hmm, Mama ingin bertemu denganmu."
"Apakah Aunty Sarah sudah kembali dari Norwegia?"
Kyle mengangguk. "Mamaku rindu bercerita panjang lebar denganmu, Ela," paparnya.
"Baiklah, setelah ini aku akan ikut ke rumahmu untuk bertemu dengan Aunty Sarah."
"Memangnya kau masih ada kelas untuk menggantikan Mrs. Jesika?"
"No. Aku hanya ingin ke ruangan Mr. Robert sebentar"
"Kau mau bertemu dengan Mr. Robert?"
"Ya, apa kau bisa menunggu?" tanya Elara pada Kyle.
"Sure, aku akan menunggu. Atau perlu ku temani?"
"Tidak usah, aku bisa menemuinya sendiri. Mumpung masih sore."
Elara hampir beranjak ketika Kyle justru menahan pergelangan tangannya hingga menyebabkan gadis itu menoleh kembali pada sang sahabat.
"Kalau boleh tau, untuk apa kau bertemu dosen muda itu? Jangan bilang kalian menjalin hubungan setelah sama-sama menjadi Dosen? Aku tau Robert adalah teman satu stambuk kita dulu."
Elara terkekeh mendengar perkataan Kyle.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin bicara dengannya karena sepertinya dia ada maksud tertentu dengan sepupuku."
"Aurora?" tebak Kyle yang pernah mendengar cerita Elara bahwa sepupunya juga berkuliah di kampus yang sama.
"Yup. Jika Robert berani macam-macam pada Aura, maka aku akan membuat perhitungan dengannya," kelakar Elara.
Kyle manggut-manggut, kemudian dia menyahuti ucapan Elara.
"Dan jika dia macam-macam denganmu, maka dia akan berhadapan denganku."
...***...
Elara menemui Robert di dalam ruangannya setelah mendapat isyarat persetujuan masuk dari pria itu.
"Ela?"
"Yah, aku senang kau masih mengingat namaku."
Robert menyeringai, kemudian melipat tangannya di dada. Tentu dia mengingat mahasiswi pintar yang dulu satu stambuk dengannya dan kini menjadi Asdos di Universitas yang sama. Dia bahkan pernah mengajak Elara berkencan saat kuliah dulu, hanya saja tawaran itu ditolak oleh Elara secara mentah-mentah.
"Ada keperluan apa kau menemuiku, Elara?" tanya Robert dengan senyum yang dikulumm.
"Oke, langsung saja. Jangan ganggu Aura dan memanfaatkan jabatanmu sebagai dosen untuk memerangkapnya," tuding Elara.
"Hah?" Elara melongo sekilas. "Dengar, Rob. Aku dan Aura adalah sepupu. Dia itu adikku. Jangan mengganggunya terutama dia memiliki trauma dimasa lalu. Jika kau mau memberinya nilai tambahan untuk melengkapi kekurangan nilainya, kau bisa memberikannya tugas diluar mata kuliahmu, tidak perlu memintanya mendatangi apartmenmu!" tukas Elara tegas.
Robert menipiskan bibir, dia bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan sambil memasukkan satu tangan ke dalam saku celana bahannya. Gestur dan gelagat pria itu tampak sangat tenang. Sampai akhirnya, dia mencondongkan badan ke arah Elara kemudian mulai berbisik,
"Kau tau, itu permintaan yang mudah ku kabulkan, asal ... semua ada pertukaran yang sebanding," katanya tepat disamping Elara.
Elara terbelalak. Dia menatap Robert dengan tatapan mematikan. Elara bukan gadis yang pantang menyerah dan mudah ditindas. Dia pintar melawan sesuatu yang dirasa tidak cocok dengan pemikirannya.
"Apa maksudmu? Sudah ku bilang kau bisa memberinya tugas diluar mata kuliahmu, kan? Pertukaran macam apa yang kau inginkan?"
Robert kembali menyeringai. Tatapannya terlihat menggoda Elara dan gadis itu langsung memutar bola mata jengah. Jangan bilang Robert mau menggantikan Aura dengan dirinya. Jika iya, maka Elara tidak segan-segan untuk meninju perut Robert sekarang juga.
"Jika Aura tidak datang ke Apartemenku, itu tak masalah. Tapi, gantikan lah dia. Kau ... datang dan temuilah aku disana, maka kau tidak akan menyesalinya." Robert kembali bicara disamping Aura, tapi kali ini dia berbisik seduktif sebab ada makna lain dibalik kata-katanya itu.
"Apa? Yang benar saja!" Aura melebarkan kelopak matanya. Ternyata dugaannya tak meleset.
Dengan tangan yang sudah terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, Aura lantas meninju perut Robert. Ya, pantang baginya untuk mengingkari tekad yang sudah terbentuk dalam pemikirannya sendiri. Maka Elara harus merealisasikan itu.
__ADS_1
"Elara?" Robert sedikit meringis, tapi sedetik kemudian dia tertawa kencang. "Kau memukulku? Bahkan pukulanmu itu terasa menggelitik perutku. Kau mau menggodaku, ya?" Robert menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan yang terang-terangan menggoda Elara.
Sontak saja, Elara langsung melotot. Sejak kapan dia berniat menggoda Robert? Ya, memang tinjuannya tadi pasti tidak berarti apa-apa bagi perut Robert yang justru terasa sangat liat dan keras saat tangannya berhenti disana tadi.
"Dasar dosen me sum! Kau tidak pantas menjadi staf pengajar disini!" umpat Elara.
Robert kembali tertawa, seolah kedatangan Elara ke dalam ruangannya seperti hiburan yang lucu ditengah kejenuhannya dengan aktivitas yang dijalani setiap hari.
Elara gadis yang berani dan Robert menyukai hal itu. Robert lebih senang dengan gadis bar-bar dan blak-blakan seperti Elara, ketimbang yang malu-malu tapi ketika didekati menjadi lebih agresif daripada dirinya sendiri.
"Ingat ya! Aura tidak akan datang ke Apartmenmu! Jangan menggodanya lagi!" tandas Elara memperingatkan pria bermata biru itu.
Robert hanya merespon ucapan Elara dengan mencebikkan bibir sembari menaikkan kedua bahunya dengan acuh tak acuh.
Elara pun berbalik pergi, dia mendengkus sebelum akhirnya menutup pintu ruangan Robert dengan cukup keras.
Robert menatapi kepergian Elara dengan senyum yang terkembang.
"Ya, aku tidak akan mengganggu sepupumu lagi, Ela. Tapi, karena kau sudah ikut campur dalam urusanku, maka ku pastikan kau yang akan menjadi pertukaran sebanding untuk menerima gangguanku," katanya terkekeh senang.
Robert tidak menyangka, umpannya pada Aura justru menghadirkan Elara yang mendatanginya lebih dulu seperti ini.
"Tidak dapat hiu, aku malah dapat paus," kelakar Robert pada dirinya sendiri. Dia berubah haluan. Atau lebih tepatnya berbalik arah pada Elara yang sejatinya sejak dulu dia incar saat mereka masih sama-sama menjadi mahasiswa.
...****...
Yang suka sama kisah Elara, bakal ada lanjutannya nanti. Tapi nanti ya. Ntar kalau udah rilis bakal othor kabari.
Kisah Aura juga bakal rilis. Dalam bulan ini kalau gak ada halangan.
Dan, untuk sementara nikmati dulu kisah Cean, Neska dan Rion di TETANGGA MERESAHKAN. Disana juga ada diceritakan sedikit clue mengenai novel Aura. Semua Novel ini akan berkaitan ya, gaes. Doain othor bisa nulis dengan rapi dan teratur sesuai alurnya.
Makasih banyak yang udah baca novel EX sampai di bonus Chapter yang ini. Insha Allah karya selanjutnya akan berkaitan dengan novel ini ya🙏
yuk dukung othor di novel baru. Karena novel ini udah othor stop sampai bonchap 6 yaitu di bab ini. Semoga kita sehat selalu. Ntar kalau ada update novel terbaru, othor infoin lagi disini.🎉
Salam sayang buat Readers semua,❤️🎉🥰🤗
By Author Retjeh : Chyntia Rizky.
IG : @cintiarizky
__ADS_1
FB : Chyntia Rizky